Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.
(Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)
Banyak orang yang salah pahamakan kegunaan terapi ruqyah. Mereka mengira bahwa ruqyah hanya untuk terapi gangguan jin, penyakit non medis atau sakit jiwa. Padahal ruqyah itu adalah bagian dari do’a. Sebagaimana kita berdo’a kepada Allah, kita memohon kepada-Nya tidak hanya masalah akhirat, tapi juga masalah dunia. Selamat dari petaka dan bencana, lancar rizki, badan sehat, sukses dalam bekerja dan berkarir, lancar dalam usaha dan bisnis, serta hajat duniawi lainnya. Semua itu kita mohonkan kepada Allah melalui do’a-do’a.
Begitu juga terapi ruqyah syar’iyah, dengan terapi tersebut kita memohon kepada Allah akan kesembuhan dari penyakit-penyakit yang kita derita, baik itu penyakit rohani atau jasmani, penyakit fisik atau non fisik, penyakit medis atau non medis, penyakit akibat ganbgguan jin (syetan) atau akibat gangguan makhluk lainnya. Karena segala macam penyakit itu terjadi karena kehendak (taqdir) Allah, dan dengan memohon kepada-Nya kita berobat dan mengharap turunnya kesembuhan, karena Dialah yang Maha Penyembuh.
Dalam Kitab Tuhfatul Maridh (Anugerah Terindah bagi Orang yang Sakit), Syekh Abdullah bin Ali al-Ju’aitsin hafizhoholloh berkata, “Termasuk sebab datangnya kesembuhan adalah berobat dengan Ruqyah Ilahiyah dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dan do’a-do’a. karena ruqyah itu punya pengaruh yang sangat kuat untuk kesembuhan orang yang sakit atau menghilangkan penyakitnya. Jika seseorang berobat dengan ruqyah syar’iyah secara benar, maka ia akan melihat pengaruh ruqyah yang dahsyat dalam kesembuhannya dari segala macam penyakit, baik itu sakit fisik, jiwa atau hati.” (Kitab Tuhfatul Maridh: 80-81).
Ruqyah Terapi Holistik
Allah berfirman, “Dan Kami al-Qur’an suatu yang jadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Al-Isra’: 82). Di surat lain, “Katakanlah, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan kesembuhan bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Fushshilat: 44).
Imam as-Syinqithi rahimahulloh berkata, “Kesembuhan yang dikandung al-Qur’an meliputi kesembuhan hati dari penyakit-penyakitnya seperti keraguan dan kemunafikan serta yang lainnya. Dan ia juga meliputi kesembuhan untuk badan apabila al-Qur’an itu dipakai untuk meruqyahnya, sebagaimana disebut dalam hadits shahih yang mengisahkan seorang shahabat Rasulullah meruqyah orang yang tersengat kalajengking dengan membaca surat al-Fatihah.” (Kitab Tafsir Adhwa-ul Bayan: 3/ 624).
Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahulloh berkata, “Sebagaimana diketahui banyak orang, bahwa sebagian ucapan (perkataan) punya kekhususan dan bermanfaat secara nyata. Lalu bagaimana dengan ucapan Allah, Rabb semesta alam. Yang notabene keutamaannya dibanding dengan ucapan selain-Nya seperti keutamaan Allah dibanding para makhluk ciptaan-Nya. Al-Qur’an merupakan obat yang sempurna, perlindungan yang kuat, cahaya yang terang benderang, dan rahmat yang menyeluruh.
Yang mana kalau diturunkan pada gunung, niscaya gunung itu akan runtuh karena keagungan dan kebesaran-Nya. Allah berfirman, “Dan Kami al-Qur’an suatu yang jadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Al-Isra’: 82). Dan kata “Min” dalam ayat tersebut berfungsi untuk menjelaskan jenis (lil jinsi), bukan bermakna memparsialkan (lit tab’idh). Itulah pendapat yang paling valid.” (Kitab Zadul Ma’ad: 4/ 177).
Rasulullah Berobat dengan Ruqyah
Orang yang paling faham akan hakikat ruqyah, manfaat dan keguanaannya adalah Rasulullah. Beliau telah mencontohkan secara nyata bagaimana berobat dengan terapi ruqyah secara benar. Tidak hanya teori atau retorika, tapi dibuktikan dengan praktik dan tindakan nyata. Beliau meruqyah dirinya saat sedang sakit, beliau juga meruqyah keluarganya saat mereka sakit. Beliau juga meruqyah shahabatnya saat mereka datang kepadanya dan mengeluh sakit, sebagaimana beliau mengajarkan shahabatnya untuk melakukan terapi ruqyah mandiri. Bahkan malaikat Jibril turun dari langit hanya untuk meruqyah Rasulullah. Dan tidaklah malaikat Jibril turun, kecuali telah mendapatkan perintah dari Allah.
Simaklah hadits-hadits shahih berikut, agar kita tidak ragu untuk menjadikan terapi ruqyah sebagai bagian dari pengobatan atau mencari kesembuhan atas penyakit yang ada. Kita berusaha berobat dengan ruqyah, dan Allahlah yang menyembuhkannya.
Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, beliau meruqyah dirinya sendiri dengan membaca ayat-ayat perlindungan lalu meniupnya.” (HR. Ahmad, no. 24308).
Aisyah berkata, “Rasulullah, apabila ada keluarganya yang sakit, maka ia meniupnya dengan membaca al-Mu’awwidzat (surat-surat perlindungan). Dan ketika beliau sakit saat menjelang kematiannya, maka akulah yang meruqyahnya (meniupnya) dan aku usap dengan tangan beliau sendiri, karena tangannya lebih besar berkahnya daripada tanganku. (HR. Muslim).
Aisyah, istri Rasulullah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan membaca, “Dengan nama Allah yang menciptakanmu, dan Dia menyembuhkanmu dari segala macam penyakit, dan dari kejahatan orang yang dengki saat ia dengki, dan dari kejahatan setiap orang yang bermata jahat.” (HR. Muslim).
Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Rasulullah pernah datang kepadaku, dan waktu itu saya lagi sakit yang sangat parah. Maka Rasulullah bersabda, ‘Usaplah (badanmu yang terasa sakit) dengan tangan kananmu sebanyak tujuh kali, seraya membaca, ‘Aku berlindung kepada Kemuliaan Allah dan Kekuasaan serta Kerajaan-Nya dari kejahatan yang aku temui.’ Lalu aku melakukan resep itu, dan Allah menghilangkan sakit yang ada pada diriku. Dan sejak itu aku selalu memerintahkan keluargaku untuk melakukannya juga begitu juga orang-orang lainnya.” (HR. Ahmad, no. 15677. Abu Daud, no. 3393. Tirmidzi, no. 2006 dan ia menyatakannya sebagai hadits hasan shahih).
Riwayat-riwayat shahih tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah dan para shahabatnya menggunakan terapi ruqyah syar’iyah sebagai obat penyakit fisik dan non fisik. Siapa yang beranggapan bahwa ruqyah tidak bisa dipakai untuk pengobatan penyakit medis (fisik), berarti anggapan itu menyalahi dalil yang shahih dan praktik nyata yang dilakukan oleh sang guru ruqyah syar’iyah, yaitu Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah dan para shahabatnya telah membuktikan dahsyatnya terapi RUQYAH SYAR’IYYAH. Kini giliran Anda untuk membuktikannya.
Wallohu a’lam.