Komitmen Cinta Dihadapan Penguasa
Artikel Asatidzah - No Comments » - Posted on June, 19 at 5:48 pm
Salah satu kewajiban seorang muslim adalah taat kepada penguasa. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam surat An-Nisa’ ayat 59:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. ………..”. (Q.S. An-Nisa’ 3:59)
Menurut ayat di atas wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kemaksiyatan, meskipun mereka berbuat zhalim. Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah wajib. Ketaatan kepada pemimpin inilah realisasi dari cinta pada pemimpin. Sebagai tanda cinta pada penguasa maka dibarengi dengan adanya komitmen mentaati orang yang menjadi penguasa atasnya.
Para ulama memandang bahwa maksiat kepada seorang amir (pemimpin) yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah SAW, sebagaimana sabda Beliau SAW: “Artinya : Barangsiapa yang taat kepadaku berarti ia telah taat kepada Allah dan barangsiapa yang durhaka kepadaku berarti ia telah durhaka kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada amirku (yang muslim) maka ia taat kepadaku dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku, maka ia maksiat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari (no. 7137).
Imam al-Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abi al-‘Izz ad-Dimasqy rahimahullah berkata: “Hukum mentaati ulil amri adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan) meskipun mereka berbuat zhalim, karena kalau keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerusakan yang berlipat ganda dibanding dengan kezhaliman penguasa itu sendiri. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur dosa-dosa dan dapat melipatgandakan pahala. Karena Allah SWT tak akan menguasakan mereka atas diri kita melainkan disebabkan kerusakan amal perbuatan kita juga.
Namun demikian ketaatan tersebut harus diikuti dengan menjalankan perintah Allah SWT yang lain yaitu saling menasehati. Setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa saling menasehati sesama saudara dalam hal kebaikan dan dalam hal kesabaran, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadits, diantaranya dalam surat al-Ashr’:
"1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Jika seorang pemimpin berlaku dzalim maka kewajiban seorang muslim adalah mengingatkan dan menasehatinya. Kewajiban dakwah kepada penguasa harus memperhatikan batasan-batasan syariat. Mengingatkan pemimpin tidaklah dengan cara-cara yang merusak citra dakwah. Agar dakwah kepada penguasa diterima maka harus delakukan dengan cara yang baik, bijak dan santun, bukan dengan kekarasan. Bahkan dianjurkan untuk mendoakan mereka semoga Allah memberi hidayah dan pertolongan serta agar senantiasa menegakkan kebenaran kepada mereka. Mendoakan pemimpin sangat dianjurkan dalam syariat kita. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.” Kita diperintahkan untuk mendo’akan mereka dengan kebaikan bukan keburukan meskipun ia seorang pemimpin yang zhalim lagi jahat karena kezhaliman dan kejahatan akan kembali kepada diri mereka sendiri sementara apabila mereka baik, maka mereka dan seluruh kaum Muslimin akan merasakan manfaat dari do’anya.” (Syarh Sunnah : 136)
Allah SWT memerintahkan kepada para da’i agar menumpuh jalan yang lembut dalam menasehati penguasa. Dalam surat Thaaha ayat 44 Allah SWT memerintahkan kepada Musa as dan Harun as agar menasehati Fir’aun dengan jalan yang santun.
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut". (Q.S. Thaaha (20): 44)
Menurut ayat di atas menegaskan Allah SWT tidak menginginkan kekerasan dalam menasehati penguasa yang dzalim. Padahal Fir’aun adalah raja yang sangat dzalim lagi sombong. Kesombongannya sudah melampaui batas hingga dia sudah mengaku menjadi tuhan. Walaupun demikian Allah SWT memerintahkan kepada Musa as dan Harun as agar menasehatinya dengan jalan yang baik. Bukankah menurut pemikiran kita, Fir’aun itu pantas untuk langsung dibinasakan, bukan untuk dinasehati. Namun Allah SWT yang Maha Rahman dan Rahim berkendak lebih baik.
Dakwah ramah yang dilakukan kepada Fir’aun dibuktikan oleh Musa as dan Harun as. Allah SWT menceritakan kisah Musa dan Harus as dalam Al-Qur’an. Suatu ketika Musa dan Harun menemui Fir’aun yang menyatakan dirinya sebagai tuhan. Fir’aun bertanya kepada mereka berdua:: "Siapakah kamu berdua ini?" Musa menjawab: "Kami, Musa dan Harun adalah utusan Allah kepadamu agar engkau membebaskan Bani Isra’il dari penindasanmu dan menyerahkan mereka kepada kami agar menyebah Allah SWT. “
Fir’aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya: "Bukankah engkau adalah Musa yang dahulu kami asuh sejak masa bayi dan tinggal bersama kami dalam istana sampai mencapai usia remaja serta mendapat pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai? Dan bukankah engkau yang melakukan pembunuhan terhadap seorang penduduk? Sudahkah engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa kami kepadamu?"
Musa menjawab: "Memang engkau telah memeliharaku sejak masa bayiku, namun hal itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau banggakan. Karena jatuhnya diriku ke dalam tanganmu adalah akibat kekejaman dan kezalimanmu, tatkala engkau memerintahkan agar pasukanmu menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir, sehingga ibuku terpaksa membiarkan aku terapung di permukaan sungai Nil dalam sebuah peti yang kemudian dipungut oleh isterimu. Lalu selamatlah dirikku dari penyembelihan yang engkau perintahkan. Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang terselubung bagiku. Sebab dalam perantauanku setelah aku melarikan diri dari negerimu, Allah menganugerahkan kepadaku hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku sebagai Rasul, saya dating menemuimu atas perintah Allah SWT untuk mengajak engkau dan kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan penindasanmu terhadap Bani Isra’il."
Kemudian Fir’aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut-sebut itu, hai Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini selain aku yang patut di sembah dan dipuja?"
Musa menjawab: "Ya, Dia-lah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seluruh alam."
Tanya Fir’aun: "Siapakah Tuhan seluruh alam itu?"
Musa menjawab: "Dia adalahTuhan langit dan bumi dan segala apa yang ada antara langit dan bumi."
Fir’aun berkata kepada para penasihatnya dan pembesar-pembesar kerajaan yang berada disekitarnya. Sesungguhnya Rasul yang diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila. Kemudia ia balik bertanya kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu berdua?"
Musa menjawab: "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk kepadanya."
Fir’aun bertanya: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan malahan menyembah berhala dan patung-patung?"
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan siksanya di atas mereka maka itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan siksa atas mereka hingga hari kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum mengetahuinya. Allah SWT telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan siksanya adalah benar."
Fir’aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa yang diucapkan secara tegas dan berani itu merasa tersinggung. Kehormatannya telah diinjak-injak. Sebagai raja yang telah mengaku dirinya tuhan, lalu dia menujukan amarahnya dan berkata kepada Musa secara mengancam: "Hai Musa! jika engkau mengakui tuhan selain aku, maka pasti engkau akan aku masukkan ke dalam penjara."
Musa menjawab: "Apakah engkau akan memenjarakanku walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda yang membuktikan kebenaran dakwahku?"
Kemudian Fir’aun menghardik: "Tunjukkanlah tanda-tanda dan bukti-bukti nyata yang dapat membuktikan kebenaran kata-katamu jika engkau benar-benar tiak berdusta."
Jika kita perhatikan dialog Musa dan Fir’aun tersebut mengajarkan kita bahwa betapun bencinya kepada penguasa yang zalim, namun penegakkan kebenaran harus ditempuh dengan jalan yang tidak merusak syariat. Kisah di atas telah diceritakan Allah SWT dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 18-31.
Menasehati penguasa adalah syariat yang dianjurkan oleh Nabi SAW. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إن الدين نصيحة » ثلاث مرات ، قالوا : لمن يا رسول الله ؟ قال : « لله ولكتابه ورسوله وأئمة المؤمنين » (رواه البيهقي في شعب الإيمان)
“Sesungguhnya agama itu adalah nasehat, diulang tiga kali. Lalu para sahabat bertanya: Bagi siapa , ya Rasulullah? Beliau menjawab: Bagi Allah, Kitabnya, Rasulnya dan Para pemimpin kaum mukmin.”(H.R Baihaqi dalam Syu’bul iman).
Dalam memahami makna hadits di atas, bahwa agama adalah nasehat bagi para pemimpin, perlu kita mengkaji pendapat para ulama. Imam Nawawi berkomentar: "Sedangkan nasehat kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan menolong mereka di atas kebenaran dan taat kepada mereka dalam hal kebenaran, dan mengajak, memperingatkan dan mengingatkan mereka dengan lemah lembut kepada kebenaran dan memberi tahu mereka akan kelalaian mereka, dan barangkali belum sampai berita kepada mereka akan kelalaian mereka yang berkenaan dengan hak-hak kaum muslimin, dan tidak keluar dari ketaatan kepada mereka dan melunakkan hati-hati manusia untuk taat kepada mereka.Al-Khaththabi rahimahullah berkata. "Dan termasuk dari menasehati kepada mereka adalah dengan shalat di belakang mereka dan berjihad bersama mereka, dan menunaikan zakat kepada mereka, dan tidak keluar mengangkat senjata melawan mereka, meskipun mereka berbuat zalim, dan agar tidak menipu mereka dengan puji-pujian yang penuh kedustaan, dan dengan mendoakan mereka agar mendapatkan kebaikan. (Syarh Sahih Muslim 2: 33-34).
Dari penjelasan di atas kita bisa mengambil pelajaran bahwa menasehati penguasa harus dengan jalan yang santun. Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan agar ketika menyampaikan sesuatu perkara kepada penguasa hendaknya disampaikan pada kesempatan yang tepat, tidak sembarangan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang hendak menasehati penguasa dengan suatu perkara maka janganlah ia menyampaikannya secara terbuka (di hadapan umum -pen) akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan sang penguasa dan berdua-duaan dengannya (empat mata). Jika sang penguasa menerima (nasehat) darinya maka itulah (yang diharapkan), dan jika tidak (menerima) maka ia telah menunaikan apa yang menjadi kewajibannya.” (H.R. Ahmad)
Posted in Artikel Asatidzah | No Comments »


