buka | tutup

  •    Online : 1
       Today : 36
       Total : 31435

       Your IP : 38.107.179.233
       Your OS :
       Your Browser :
  • Muhammad SAW Sang Idola

    Artikel Asatidzah - 2 Comments » - Posted on January, 26 at 11:40 pm

    Muqadimah

    Saat dunia dilanda keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan; aturan ilahiah dipalsukan, nafsu duniawi menguasai pandangan, pikiran dan perasan manusia, nilai kemanusiaan lenyap bahkan berubah menjadi nafsu kebinatangan, pembunuhan merajalela, bahkan anak sendiri dikubur hidup-hidup, saat itulah Muhammad SAW lahir bagai oase di tengah sahara, yang kelak mempersembahkan energi kehidupan bagi kebangkitan peradaban manusia.

    Kehadiran Muhammad SAW di atas panggung kehidupan mengusung tugas sebagai penyelamat, seperti yang dijelaskan oleh beliau sendiri dalam sabdanya, “Saya bagaikan seorang yang menyalakan api. Ketika api itu menerangi ruangan sekitarnya, maka serangga dan binatang-binatang melata yang berada disekitar api itu nyaris terjatuh kedalam api, lalu orang tersebut berusaha menahan binatang-binatang tadi, tetapi mereka (binatang-binatang) itu justru menyerangnya, maka terjatuhlah. Demikianlah, aku berusaha menahan kalian agar tidak terjerumus ke dalam neraka, tetapi kalian justeru menjerumuskan diri kedalamnya.” (HR. Bukhari Muslim).

    Dengan keluhuran pribadi Nabi Muhammad SAW, kebersihan jiwanya, kemuliaan akhlaq dan ketinggian moralitasnya (QS. 68:4), tidak dapat dipungkiri telah mampu membangkitkan dunia dari keterpurukan. Menuntun manusia ke jalan yang lurus, mewujudkan keadilan, menumpas segala bentuk kezaliman, menyebarkan kedamaian Islam dan memerangi berbagai penyelewengan. Allah SWT berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam ” (QS. 21: 107). Maka maulid Nabi Muhammad SAW adalah kelahiran peradaban unik (Islam).

    Sang Idola Itu Adalah Muhammad SAW

    Satu bentuk dari kasih sayang Allah SWT kepada manusia adalah ketika mengutus Rasul dari golongan manusia (QS. 25: 20), dan bukan dari golongan malaikat (QS. 17: 95). Karena manusia adalah tidak dapat menemukan jalan hidupnya sendiri kecuali melalui petunjuk seorang Rasul yang bisa diikuti dan diteladani. Maka bagi orang-orang beriman, Rasulullah SAW merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukiri.

    Oleh karena itu, mencontoh, meneladani dan mencintai Rasulullah SAW dengan kecintaan mendalam merupakan kelaziman bagi setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah, tidak beriman seseorang diantara kalian sehingga mencintaiku lebih dari orang tuanya, anaknya dan semua manusia”. (HR. Bukhari Muslim)

    Abdullah bin Hisyam bercerita, “Suatu ketika kami (sahabat) bejalan bersama Rasulullah, lalu Umar bin Khathab berkata, “Wahai Rasulullah aku mencintaimu lebih dari segala sesuatu selain diriku”. Rasulullah bersabda, “Tidak begitu wahai Umar!”  Umar ra berkata: “Jika demikian, aku sekarang mencintaimu lebih dari segalanya sampai dari diriku”. Rasulullah pun bersabda, “Sekarang (benar) wahai Umar “.

    Cinta kepada Rasulullah SAW adalah cinta imani, yaitu cinta yang motivasinya keimanan dan kecintaan kepada Allah SWT. Sedangkan mengikuti, meneladani dan mentaati ajaran Rasulullah adalah konsekwensi dari pengakuan dan perasaan cinta. Bukankah Allah SWT berfirman, “Katakanlah jika kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku”. (QS.3: 31).

    Jadi, apalagi yang menghalangi kita untuk mencintai, mentaati, meneladani dan mengidolakan Rasulullah SAW, kalau bukan kebodohan, kekufuran dan keangkuhan. Maka jangan malu-malu dan ragu meyakini dan menyatakan: “ar Rasul Qudwatuna (Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan dan idola kami ). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (QS.33: 21)

    Ibnu Katsir Berkata, “Untaian ayat yang mulia ini menjadi dasar utama   kewajiban berqudwah kepada Rasulullah SAW dalam tindakan dan perkataannya”.

    Muhammad SAW Seorang Yang Berakhlak Mulia

    Siapakah kiranya sosok laki- laki berbudi pekerti amat mulia, yang lahir dari rahim sejarah? Dialah Muhammad SAW. Ia produk ta’dib Rabbani (didikan Tuhan). Ummul Mu’minin A’isyah ra. Pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, maka ia menjawab, “Sesungguhnya akhlak Rasulullah  adalah Al Qur’an”.

    Bagaimana tidak? Jika tujuan dari misi besar da’wahnya adalah seperti yang beliau tegaskan dalam sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. (HR.Malik). Dan bagaimana tidak? Jika orang yang paling beliau cintai adalah, ” Orang yang paling baik akhlaknya”. (HR.Ahmad).

    Rasulullah SAW memiliki sifat sabar dengan segala ma’na yang dikandungnya; sabar menghadapi tekanan, penyiksaan dan hinaan musuh, sabar menghadapi musibah kematian kerabat dan sahabatnya, sabar menghadapi sakit, kelaparan dan kemiskinan. Beliau juga lembut, murah hati, penyayang, pemaaf disaat kuasa membalas.

    Ketika masyarakat Tho’if menyiksa dan menghinakannya, malaikat penjaga bukit menawarkan untuk menghancurkan mereka dengan bukit, tapi beliau menolak seraya bersabda, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”, sembari terus berharap keislaman mereka dan anak cucunya. Ketika fathu Makkah, beliau bersikap diluar dugaan musuh yang sedang ketakutan. Beliau hanya mengatakan apa yang pernah dikatakan Nabi Yusuf kepada saudara- saudaranya, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, mudah- mudahan Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang diantara para penyayang” (QS.12:92).

    Rasulullah SAW juga pemberani yang penuh patriotisme. Ali ra.berkata, “Dahulu kalau pertempuran menghebat, maka kami berlindung di belakang Rasulullah, sehingga tak seorang pun yang lebih dekat dengan musuh ketimbang beliau”.

    Di puncak kebesaran dan kekuasaannya yang pernah membuat iri raja-raja dunia, Rasulullah sangat tawadhu’, jauh dari sifat sombong. A’isyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, mengerjakan sesuatu dengan tangannya sendiri seperti seorang diantara kalian dalam rumahnya, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.”

    Jika umat dan bangsa ini ingin merajut kembali simpul- simpul moralitasnya yang sudah pudar, maka kepribadian Rasululla SAW adalah cermin yang paling bening. Beliaulah gudangnya sift-sifat kesempurnaan.”Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS.68:4).

    Muhammad SAW Seorang Kepala Rumah Tangga

    Di saat banyak bahtera rumah tangga hancur dihantam badai kekerasan, percekcokan dan perceraian, maka rumah tangga Rasulullah SAW adalah cerminan “surga dunia.” Beliau adil kepada semua istrinya dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, juga waktu tinggal, ziarah dan kebutuhan biologis lainnya. Bahkan ketika dalam sakit menjelang wafat harus tinggal di salah satu rumah istrinya, hal itu tidak beliau lakukan kecuali setelah mendapat ridha dari semua istrinya. Begitu besar perhatian dan kehati- hatian RasulullahSAW dalam bersikap adil. Meski demikian beliau selalu memohon ampun kepada Allah SWT atas keterbatasannya dalam hal yang hanya menjadi kuasaNya seraya berucap, “Ya Allah, inilah pembagian yang hamba mampu lakukan, maka ampunilah atas apa yang hamba tidak mampu lakukan”. (HR. Ashabus Sunan)

    Rasulullah SAW telah memposisikan wanita di tempat terhormat di saat semua peradaban menghinakannya, memberikan hak-haknya dikala dunia merampasnya. Beliau benar-benar telah membumikan firman Allah, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.2: 228)

    Rasulullah SAW siap bermusyawarah, berdiskusi dan mengambil pendapat istri- istrinya jika kebenaran di pihak mereka. Beliau tidak segan ketika di rumah harus memenuhi kebutuhannya sendiri, bahkan kebutuhan istrinya sebagai bentuk bakti suami kepada istri.RasulullahSAW bersabda, “Baktimu kepada istrimu adalah sadaqah.” (HR.    )

    Sebagai seorang suami, di mata istri- istrinya beliau sosok yang berparas menarik, murah senyum, murah hati, pandai bercanda dengan berkata benar. Tetapi beliau juga bijak dalam meredam api kecemburuan diantara istri- istrinya, bahkan tegas menghadapi tuntutan mereka dalam hal materi seperti  ditegaskan dalam firman Allah. (QS.33: 28-29).

    Begitulah sikap beliau di mata anak-anak dan pembantunya. Rasulullah bersabda, “Sebaik- baik kalian ialah yang terbaik terhadap keluarganya dan akulah orang terbaik diantara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).

    Muhammad SAW Seorang Pendidik

    Mengajar dan mendidik adalah tugas asasi Rasulullah SAW, seperti beliau tegaskan sendiri dalam sabdanya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik. Bahkan Al Qur’an sejak awal telah menjelaskan hal itu secara gamblang dalam firman Allah SWT, “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mareka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar- benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS.62: 2).

    Sehingga tidak mengherankan jika Rasulullah SAW menghabiskan sebahagian besar kehidupannya untuk mengajarkan Kitab Allah dan As Sunnah serta mendidik kaum muslimin berdasarkan kedua sumber tersebut. Karena hanya dengan proses ta’lim dan tarbiyah (mengajar dan mendidik) pesan-pesan langit itu membumi, kebaikan dan kebenaran mengakar dalam kehidupan masyarakat. Hanya dengan ta’lim dan tarbiyah seluruh aspek kehidupan manusia menjadi mapan; aspek social, politik, ekonomi, keamanan dan aspek moralitas sekalipun.

    Satu dari sekian banyak indikator keberhasilan  ta’lim dan tarbiyah Rasulullah SAW adalah kemampuan beliau mencetak manusia-manusia unggul dalam kebaikan dan kesolehan dengan cara Islam.Beliau mampu menggali potensi yang dimiliki oleh masing- masing sahabat, sehingga pada kepribadian mereka terjadi perubahan yang signifikan bila dibandingkan dengan sebelum mereka berada dibawah naungan ajaran dan didikan Rasulullah SAW. Sebut saja Umar bin Khattab ra. dimasa jahiliyah; pola pikir, karakter dan perasaanya terbelakang, wawasannya terbatas, hobinya santai dan mabuk- mabukan.

    Selain meneguk air kesegaran Islam dari Rasulullah SAW, beliau juga dikenal sebagai sosok yang cerdas, negarawan ulung, simbol keadilan, berwawasan luas dan berfirasat tajam. Lihatlah Abdullah bin Mas’ud ra., seorang pengembala yang tidak dikenal kecuali oleh tuannya. Setelah mendapat ta’dib nabawi (didikan Nabi), beliau dikenal sebagai peletak dasar mazhab fiqih Islam, yang pendapat-pendapatnya banyak diadopsi oleh Imam Abu Hanifah An Nu’man. Kiranya benar apa yang pernah diungkapkan oleh salah seorang panglima perang Persia ketika melihat kaum muslimin, “Sungguh Umar memakan jantung hatiku karena telah mengajarkan kepada mereka akhlak mulia. Sebenarnya bukan Umar yang mengajarkannya, tetapi Muhammadlah yang mengajarkannya kepada Umar dan mereka.” (ar Rosul hal.160-165). Sungguh, kepribadian Rasulullah SAW adalah ayat Allah yang tidak akan pernah habis. (QS.18: 109).

    Posted in Artikel Asatidzah |