Mujahadah ( Optimalisasi Diri )
Artikel Asatidzah - 1 Comment » - Posted on July, 3 at 10:27 am
Oleh: Ust. Ahmad Tirmidzi, Lc.
Kehidupan dunia ini sesunggunya adalah pentas perlombaan. Start perlombaan di mulai sejak kita berstatus mukallaf (tahap orang yang terbebani kewajiban syariat) hingga garis finis ketika kematian menjemput. Ibarat perlombaan panjat pinang, misalnya, hanya peserta yang mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya yang dapat merebut piala yang digantung di pucuk pohon. Demikian halnya, derajat takwa, tidak akan bisa diraih seseorang sebelum seluruh tenaganya untuk meraih derajat mulia itu. Prediket takwa yang didambakan oleh setiap mukmin tidak akan bisa diraih secara instant. Ia membutuhkan upaya pikiran dan tenaga dikerahkan berkesinambungan untuk mencapainya atau lebih dikenal dengan mujahadah.
Makna ini secara kuat ditegaskan oleh Allah:
“وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ”
“dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)
Maksud ayat ini; orang-orang yang memerangi orang kafir kerena mencari ridla Allah, meninggikan kalimat-Nya, menolong agama-Nya, maka Dia akan memberikan taufiq (mengarahkan) kepada jalan yang lurus yaitu Islam. Di akhir ayat Allah menegaskan bahwa mereka yang melakukan mujahadah adalah orang yang muhsin (orang baik).
Mujahadah berasal dari kata jaahada artinya bersungguh-sungguh. Akar katanya adalah juhdun, kesungguhan dan jahdun, lelah dan cape. Maksudnya di sini adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Dari akar kata yang diambil, mujahadah harus ada upaya keras dan memaksa diri untuk mencapai tujuan. Dalam banyak tempat Al-Quran menyebutkan berkali-kali kata yang bernada memaksimalkan dan optimalisasi diri. Di antara kata, mujahadah itu sendiri, qital (perang).
Mujahadah mutlak diperlukan dalam menjalankan ajaran Islam secara penuh. Hal ini dibutuhkan karena sejumlah alasan. Secara logika, tidak ada sebuah keberhasilan di dunia ini yang bisa dicapai tanpa ada upaya sungguh-sungguh dalam mencapainya. Jika urusan dunia yang selesai ketika orang meninggal dunia dibutuhkan kesungguhan, maka urusan akhirat lebih membutuhkan lagi.
Di sisi lain, aturan-aturan syariat Islam dari sisi akumulasinya sebagiannya relatif berat bagi ukuran kemampuan sebagian manusia. Kewajiban shalat misalnya, dengan lima waktu dan dalam kondisi berbeda bagi sebagian bagian orang membutuhkan upaya dan kesungguhan. Apalagi sampai mengorbankan kepentingan pribadi, misalnya puasa dan infaq. Sebab secara manusiawi orang cenderung ingin menikmati dunia.
Selain itu terkadang dalam menjalankan ajaran-ajaran syariat, seorang mukmin terseret dalam kemalasan, santai, cinta dunia dan tidak lagi melaksanakan amal-amal sunnah serta ketaatan yang lainya tepat pada waktunya. Dalam kondisi ini, ia harus memaksa dirinya melakukan amal-amal sunnah lebih banyak dari sebelunnya. Dalam hal ini harus tegas, serius dan penuh semangat sehingga pada akhirnya ketaatan merupakan kebiasaan yang mulia bagi dirinya dan menjadi sikap yang melekat pada dirinya.
Dalam hal ini cukuplah Rosulullah menjadi qudwah yang patut di teladani sebagaimana diriwayatkan oleh aisyah r.a:
Rasulullah saw melaksanakan sholat malam hingga kedua tumitnya bengkak. Ketika Aisya r.a. bertanya, “mengapa engkau lakukan hal itu? Bukankah Allah sudah mengampuni dosamu yang suda lalu dan akan datang?” Rasullah menjawab:” bukankah sepantasnya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?!” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Bukhari dan muslim, Aisyah r.a. berkata;
“Apabila Rasulullah memasuki sepuluh hari terahir di bulan Ramadhan, beliau menghidupkan malam (dengan ibadah), membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dan mengencangkan ikat pinggang”. (HR. Bukhari)
Dalam beberapa hadits, Rasulullah menyurunh dan menyokong pelaksanaan mujahadah dalam amal ibadah. Dari itu, hendaklah para da’i, para ulama pewaris Nabi menjadi orang-orang pertama yang bergegas menyebut dan melaksanakan perintah tersebut.
Diantara bimbingan Rasulullah saw, mengenai mujahadah Imam Bukhari meriwayatkan: Dari Abu Hurairah bahwa beliau berkata: Rasulullah bersabda; “sesunggunya Allah berfirman: Tidaklah seorang hamba-Ku mendekat kepada-ku dengan sesuatu yang lebih kusukai selain dari amalan-amalan wajib dan seorang hamba- Ku senantiasa mendekatkan kepada-Ku dengan melaksanakan amalan-amalan sunnat, sehingga Aku mencintainya. Apabilah aku telah mencintahinya, maka Aku-lah yang menjadi pendengarnya, dan sebagai tangan yang di gunakanya untuk memegang dan kaki yang dia pakai untuk berjalan, dan apabila ia memohon kepada-ku pasti kukabulkan, dan jika berlindung kepadaku pasti kulindungi.
Imam Muslim meriwayatkan dari ruba’i bin ka’b beliau berkata; “Suatu malam saya bersama Rasulullah saw lalu mengambil air wudlu nya dan kebutuhan-kebutuhannya. Kemudian beliau bersabda; “mintalah padaku”. Saya katakana, “saya memohon agar bisa menyertai anda di sorga”. Nabi saw berkata;” tidakkah engkau minta yang lain?” ,saya katakana ; “itulah permintaan saya”. Nabi berkata, “kalau begitu tolonglah saya untuk (menyelamatkan ) dirimi dengan banyak bersujut (melaksanakan sholat)”.
Imam Turmudzi meriwayatkan dari Abu Sofwan, beliau berkata, Rasulullah saw, bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatanya.”
Berpijak dari bimbingan Nabi mengenai mujahadah dan bagaimana memaksakan diri dari taat serta taqarrub kepada Allah, maka generasi salaf yang saleh telah menapaki jalan mujahadah dan melatih diri agar terus bisa mujahadah. Setiap kali mereka menemukan kemalasan atau kelalaian dalam melaksanakan hak-hak Allah walau hanya berupa sunah, mereka bangkit dari kelalaiannya dengan serius dan tekat yang bulat kemudian kembali kejalan Allah dengan penuh kekhusyu’an sehingga mereka sampai ke puncak derajat yakin, hati mereka merasakan hembusan keimanan dan di relung hati mereka mereka terasakan manisnya ibadah dan nikmatnya munajat.
Sejumlah kisah beberapa kisah tentang mereka di bawah ini:
Di riwayatkan bahwa Umar r.a. pernah ketinggalan sholat berjamaah lalu malam harinya beliau isi dengan ibadah dan tidak tidur.
Salah seorang ulamak salaf berkata; kalau saya merasa malas dalam ibadah maka saya perhatikan wajah Muhammad bin Wasi (seorang alim yang banyak beribadah) dan bagaimana sesungguhnya dalam beribadah, kemudian saya ikuti cara ibadah nya salama satu minggu”.
Amir bin Abdi Qois selalu sholat seribu raka’at setiap harinya. Al-Aswad bin yazid berpuasa sampai kelihatann pucat. Masruq ketika melaksanakan ibadah haji tidak pernah tidur kecuali sambil sujud.
Karz bin Wabrah selalu menghatamkan al-Qur’an tiga kali setiap hari.
Abu muhammad al-jahiri bermukim di mekah selama satu tahun. Beliau tidak tidur, tidak berbicara,tidak bersender ke dinding dan tidak duduk melonjorkan kaki. Abu Bakar al-Kitani bertanya kepada beliau; “bagaimana anda bisa kuat sepertihini?” Beliau menjawab; “Allah maha mengetahui ketulusan hati saya sehingga dengan demikian Dia menolong kekuatan lahiriyah saya”.
Ketika orang-orang mengunjungi Zahla al-Abidah, mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kesehatan dirinya. Tetapi zahlah berkata; “Hidup ini hanyalah hari-hari untuk bersegera melakukan amal. Barang siapa ketinggalan hari ini maka dia tidak bisa menyusulnya di hari esok.demi Allah wahai saudara-saudaraku, saya akan terus sholat selama badan saya terus bertahan, saya akan terus berpuasa seumur hidup dan saya akan terus menangis selama mata saya bisa menangis”.
Itulah beberapa kisah di antara sekian banyak kisah yang menggambarkan betapa luhurnya mujahadah mereka dan betapa banyaknya ibadah dan ketaatan yang mereka lakukan.
Seandainya generasi salaf yang sholih hanya memiliki sifat-sifat yang kita sebutkan di atas rasanya sudah cukup membuat mereka punya wibawa, mulia dan tetap berjaya.
Selanjutnya bagi orang yang ingin bersungguh-sungguh dalam ibadah dan membawa dirinya untuk bermujahadah harus memperhatikan dua sisi penting dalam amal-amalnya:
Pertama: Hendaklah amal-amal yang sunnah tidak membuatnya lupa akan kewajiba-kewajiban yang lainya. Misalnya ia mengerjakan suatu sunnah tertentu sementara ia mengabaikan hak keluarga berupa nafkah, atau mengabaikan hak dirinya. Hal ini berdasarkan pelajaran Rosulullah SAW. dalam sabdanya:
“Sesunggunya Allah mempunyai hak yang harus kamu patuhi. Dirimupun punya hak yang harus kamu penuhi, dan keluargamu juga punya hak yang harus kamu penuhi. Penuhilah setiap hak mereka”.(HR. Bukhari)
kedua: tidak memksakan diri dengan amal-amal sunnah yang di luar kemampuanya, sebagaimana sabda Nabi SAW dalam sebuah hadits yang di riwayatkan oleh Imam bukhari dan Muslim: hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah tidak akan bosan sehingga kalian merasa bosan”.
Apabila ada diantara orang salaf melaksanakan amal-amal nafilah (sunnah) di luar batas ukuran biasa, maka bisa ditakwilkan dengan beberapa kemungkinan.
Mungkin hanya untuk menentang hawa nafsunya yang telah terjerat dengan kelalaian dan kemalasan, atau mungkin untuk menyongsong pertolongan Allah dan keridhaan-Nya di waktu-waktu tertentu yang penuh berkah, atau mungkin karena Allah memberikan kekuatan untuk bisa melakukan amal-amal seperti itu, atau mungkin meereka diberi taufiq untuk bisa mujahadah memenuhi semua hak tersebut. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lainya.
Jika anda –wahai saudara da’i- sudah berusaha melakukan mujahadah, mencontoh Rosulullah SAW dan mengikuti jejak generasi salaf maka saya yakin anda telah melangkah menuju taqwa, menapaki perjalanan rohani dan akan sampai ke derajat para muttaqin.
Itulah -wahai para da’i- beberapa cara untuk menumbuh suburkan taqwa dalam hati dan ruh setiap mu’min serta menyatukanya dengan perasaanya.
Dengan mu’ahadah anda dapat beristiqomah diatas syari’at Allah dan dengan muroqobah anda dapat merasakan keagunggan Allah baik di kala sembunyi atau pun di kala ramai.
Dengan muhasabah andah bisa terbebas dari kebusukan hawa nafsu yang selalu berontak, dan bisa memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia. Dengan mu’aqobah anda bisa memisahkan diri anda dari penyimpangan dan muhasabah.
Dengan mujahadah anda dapat memperbaiki aktifitas diri anda sekaligus menumpas kemalasan dan kelalaian.dengan cara-cara tersebut taqwa akan menjadi suatu hal yang biasa bagi anda, sebagaimana hal-hal lainya yang biasa menurut anda dan akan menjadi akhlaq anda yang sebenarnya.
Bahkan anda akan sampai ke puncak kemuliaan dan keutamaan, anda akan sampai ke derajat yang paling tinggi…anda akan mampu memberi suri tauladan kepada orang lain dalam ucapan, perbuatan dan kemantapan rohani.
Walhasil, mujahadah adalah salah satu dari lima anak tangga untuk mencapai derajat ketakwaan. Empat cara lainnya adalah muahadah (berjanji), muraqabah (merasa diawasi), muhasabah (menghitung-hitung), muaqabah (memberikan sanksi). Artinya, derajat ketakwaan tidak akan bisa dicapai kecuali dengan melalui kelima anak tangga tersebut; pertama, dengan senantiasa mengingat janjinya kepada Allah ketika belum dilahirkan ke dunia untuk tetap konsisten kepada Allah atau ia senantiasa berjanji kepada Allah untuk tetap konsisten dalam jalan kebenaran. Kedua, dengan tetap merasa diawasi oleh Allah dalam kondisi apapun dan dimanapun. Ketiga, dengan menghitung-hitung amalnya antara yang baik dan buruk kemudian memperbaikinya atau meninggalkan yang buruk. Keempat, dengan memberikan sanksi kepada dirinya sendiri ketika melakukan penyimpangan dan kesalahan. Tentu sanksi yang dimaksud adalah sanksi berupa melakukan kebaikan bukan menyiksa diri. Kemudian kelima, dengan bersungguh-sungguh melakukan kebaikan dan meninggalkan larangan-larangan Allah.
- Wallahu A’lam –
Posted in Artikel Asatidzah |






