Terapi Penyakit Hati
Artikel, Artikel Asatidzah - 2 Comments » - Posted on July, 20 at 1:46 pm
Sangat banyak ayat Allah Taala dan hadits Rasulullah saw. yang menyinggung tentang hati yang semua itu tentu saja mengisyaratkan besarnya perhatian Allah dan Rasul-Nya terhadap hati manusia yang menjadi inti dan pusat kendali seluruh gerak dan aktivitasnya. Bersih dan kotornya hati seseorang akan segera berdampak pada perilaku dan perbuatannya. Maka dalam salah satu hadits Rasulullah saw. bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)
Ada beberapa penafsiran terkait dengan ‘hati’ pada hadits di atas. Apakah yang dimaksud adalah gumpalan daging dengan makna sebenarnya yang juga merupakan salah satu organ penting dalam tubuh manusia, sehingga dada Rasulullah saw. dibedah oleh malaikat dan dibersihkan hatinya sebelum beliau di-isra’ mi’rajkan, ataukah ‘hati’ dengan makna implicit; sesuatu yang dapat kita rasakan kehadirannya dalam diri kita.
Terlepas dari semua itu, kita yakin bahwa pada diri setiap kita ada hati yang menjadi pusat control perilaku dan tindakan, serta memberi pengaruh sangat besar terhadap apapun yang kita lakukan. Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha agar hati kita bersih dari titik-titik hitam yang akan selalu menodainya seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, sehingga hati itu menjadi hitam pekat karenanya.
Demikianlah makna salah satu sabda Rasulullah saw., bahwa tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa kecuali ada noda hitam pada hatinya, bila ia segera beristighfar seraya bertaubat nasuha maka noda hitam itu pun sirna dan hatinya jadi bersih kembali. Tapi bila dosa dan kemaksiatan semakin bertambah maka noktah hitam pun akan semakin bertambah hingga hitamnya hitam pekat.
Inilah yang dimaksud oleh firman Allah Taala dalam Al-Qur’an, “Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit itu atas mereka dan bagi mereka siksa yang pedih perih.
Dahsyatnya Penyakit Hati
Menterapi penyakit fisik jauh lebih mudah daripada menterapi penyakit hati, karena penyakit yang menimpa fisik dapat dirasakan dampaknya secara langsung, atau melalui proses diagnosa dan setelah itu dokter akan memberikan jenis pengobatan yang tepat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Berbeda dengan penyakit hati yang terkadang tidak dapat diketahui
dan dirasakan oleh yang mengidapnya, dan kalau pun orang tersebut mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut, maka ia butuh perjuangan besar untuk mengatasinya.
Bila seseorang mengidap penyakit hati maka dampaknya sungguh sangat dahsyat. Ia tidak hanya tak mampu merasakan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidupnya, tapi penyakit hati itu secara perlahan akan menggerogoti fisiknya hingga membuatnya didera berbagai penyakit. Karena itu, terkadang ada korelasi kuat antara penyakit hati dan penyakit fisik yang menimpa seseorang.
Maksiat Pangkal Penyakit Hati
Berbagai jenis penyakit hati akan dengan mudah bersarang dalam hati seseorang yang kerap melakukan kemaksiatan. Karena itu akan membuat hatinya gelap hingga tak dapat menyaksikan kebenaran dan kebaikan yang ada di sekelilingnya. Sehingga berbagai jenis penyakit pun bermunculan dan menampak dalam tindakan dan perilaku sehari-hari.
Bukan hanya itu, kemaksiatan juga membuat seseorang merasakan kehampaan jiwa, melemahkan hati, fisik dan kemauan, menghalanginya melakukan ketaatan, kehilangan rasa malu, hati menjadi gelap dan kehinaan dari Allah Taala, dan masihkah ada makna kehidupan bila Allah Taala telah menghinakannya? Masih banyak dampak buruk bagi hati dan jiwa seseorang disebabkan kemaksiatan yang dilakukan. Allah Taala sendiri menambahkan penyakit dalam hati sakit namun enggan membersihkannya dan bertaubat kepada-Nya.
Beberapa jenis Penyakit Hati:
Ujub
Tak satu pun yang kita miliki di dunia kecuali bahwa itu milik Allah Taala. Apa yang ia anugerahkan kepada kita berupa keindahan rupa yang dapat membuat orang lain terpesona, jangan sampai membuat kita ujub, ge-er dan bangga diri yang hanya akan melahirkan sifat angkuh dan sombong. Nikmat kesempurnaan fisik yang Allah berikan ini bahkan membuat banyak orang lupa daratan dan bermaksiat kepada Sang Pencipta. Ia tak menyadari bahwa suatu saat nanti tubuhnya akan renta dan rupanya menjadi buruk.
Oleh karena itu, Rasulullah saw. Mengajarkan kepada kita sebuah do’a saat bercermin: “Ya Allah, sebagaimana Engkau ciptakan aku dengan bentuk yang sempurna, maka perbaiki pula akhlakku, dan haramkan wajahku dari siksa api neraka.”
Dengan doa ini kita berharap Allah Taala juga memperbaiki akhlak dan perilaku kita, karena itulah sesungguhnya yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah, dengan itu pula kita mampu meraih cinta manusia yang ada di sekeliling kita.
Riya
Setiap amal shalih yang kita lakukan hanya akan diterima Allah bila dilakukan dengan penuh keikhlasan. Betapapun sangat banyak amal kebaikan yang dilakukan bila disertai dengan sifat riya dan mengharap pujian manusia, maka semua itu hanya sia-sia belaka. Maka Allah senantiasa memerintahkan kita agar selalu ikhlas dalam beribadah kepada-Nya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Allah Taala juga mengingatkan kita agar tidak membatalkan amal kebaikan kita dengan mengungkitnya kembali agar manusia tahu bahwa kita seorang dermawan.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya “ (QS. Al-Baqarah: 264)
Kikir
Munculnya sifat ini dalam diri seseorang sesungguhnya berpangkal dari ketidaktahuannya bahwa nikmat yang ia peroleh segalanya dari Allah. Demikian pula dengan harta yang dimilikinya. Ia hanya tahu bahwa sepanjang hari ia habiskan untuk bekerja, peras keringat, banting tulang, berangkat pagi pulang petang untuk mendapatkan harta dunia.
Perlahan tapi pasti ia rengkuh segala yang diidamkannya; rumah besar, kendaraan mewah dan sebagainya. Ia tidak menyadari bahwa pada harta yang ia miliki ada hak orang miskin dan tidak berpunya yang harus ia keluarkan dalam bentuk zakat, infak dan sadaqah.
Kesadaran bahwa apa yang diperoleh adalah titipan sementara dari Allah, akan menjadikannya sebagai muslim yang dermawan, dan itu juga adalah aplikasi dari nilai-nilai syukur atas curahan nikmat-Nya.
Kesadaran inilah yang harus dibangun dalam diri setiap muslim, khususnya yang mereka yang diberi keluasan rizki. Karena Allah niscaya menambahkan untuknya nikmat-Nya bila ia pandai bersyukur: “Apabila kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat itu untuk kalian.” (QS. Ibrahim: 7)
Dengan demikian, tidak layak bagi kita memiliki sifat pelit alias kikir bin bakhil. Karena harta yang dimiliki pada akhirnya akan menyeret kita ke dalam neraka atau melapangkan jalan kita menuju surga Allah.
Angkuh
Ini adalah penyakit hati yang akan mengundang murka Allah Taala. Karena sifat ini hanya berhak jadi milik Allah. Manusia sebagai makhluk yang memiliki sangat banyak kelemahan dan ketidakmampuan membuatnya tidak berhak secuil pun atas sifat ini.
Adanya berbagai kelebihan dan keutamaan yang dimiliki kerap membuat seseorang menjadi angkuh dan sombong, membuatnya memandang enteng orang lain. Padahal seharusnya ia sadar bahwa kelebihan dan keutamaan tersebut adalah pemberian Allah Taala, sekaligus juga sebagai ujian baginya. Hal ini digambarkan Allah dalam firman-Nya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (QS. Al-Fajr: 15)
Bila kemuliaan dan keutamaan itu memunculkan kesombongan dan keangkuhandalam diri, maka itu hanya akan mengundang murka dan siksa Allah. Tapi bila itu membuat pemiliknya tetap rendah hati, maka ia akan meraih cinta Allah dan manusia.
Dan masih sangat banyak jenis penyakit hati yang dapat mengidap dalam diri kita. Semoga kita terhindar dari semua itu.
Terapi Penyakit Hati
Ikhlas
Ikhlas adalah salah satu amal hati dan berada pada bagian pertama dari rangkaian seluruh amal-amal hati. Kesempurnaan sebuah amal, diterima atau ditolaknya ia tergantung pada amal hati ini; ikhlas atau tidak. Ketika ada niat lain mengiringi amal yang dilakukan maka itu telah menodai kesempurnaan amal tersebut, hingga membuatnya ditolak oleh Allah Taala. Karena itu, landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata.
Mukmin yang lurus mampu menjadikan dorongan agama di dalam hatinya mengalahkan dorongan hawa nafsunya, motivasi akhiratnya sanggup menaklukkan motivasi dunianya, mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada yang ada di sisi manusia, menjadikan niat, ucapan, dan seluruh amalnya bagi Allah, dan menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya hanya untuk Allah semata.
Tawakal
Tak ada sesuatu pun yang menimpa kita di dunia ini; besar atau kecil, kecuali bahwa Allah telah menetapkannya sebelum kita lahir. Maka setelah kita berikhtiar dan berusaha secara maksimal, akhir dari itu adalah kepasrahan diri dan tawakal atas apa yang ditakdirkan bagi kita. Sifat inilah yang membuat seorang muslim ikhlas dan ridha menerima segala yang terjadi pada dirinya.
Allah berfirman: “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung
kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal..” (QS. At-Taubah: 51)
Dzikir dan Istighfar
Karena dengan dzikir ini kita dapat menghadirkan Allah dalam diri kita, kapan
pun dan dimana pun kita berada. Ketika muraqabah (pengawasan) Allah melekat dalam diri kita, maka selalu ada usaha agar berbagai aktivitas yang dilakukan senantiasa berada dalam bingkai syariat dan sunnah Rasul-Nya.
Kita juga tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, sehingga lantunan istighfar harus diperbanyak. Bahkan Rasulullah saw. Beristighfar 100 kali setiap hari, padahal beliau telah dijamin masuk surga. Maka kita yang tidak mendapatkan jaminan tersebut selayaknya lebih banyak dari jumlah istighfar
Rasulullah saw.
Wallahu a’lam.
Posted in Artikel, Artikel Asatidzah | 2 Comments »



Assalamu’alaikum wr wb,
Alhamdulillah ini satu tulisan yang bagus sekali.
Bolehkah saya kutip untuk dimuat di situs http://media-islam.or.id ?
Insya Allah ini untuk dakwah dan nanti dicantumkan sumbernya diberikan referensinya ke situs ini.
Jazakumullah sebelumnya.
Wassalam
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Silahkan mengutip artikel yang ada di web ini selama untuk kepentingan dakwah dengan menyebutkan sumber aslinya dan mohon jangan disalah gunakan. Terima kasih
والسلام عليكم