buka | tutup

  •    Online : 3
       Today : 34
       Total : 14385

       Your IP : 38.107.191.97
       Your OS :
       Your Browser :
  • Konsisten Terhadap Keimanan

    Artikel Asatidzah, Mutiara Hadits - No Comments » - Posted on August, 19 at 1:00 pm

    عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قُلْ لِى فِى الإِسْلاَمِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ قَالَ “قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ” رواه مسلم

    Dari Abi Amr atau Abi Umrah Sofyan bin Abdillah telah berkata; Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, sesuatu perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang lain selain kepadamu”. Rasulullah menjawab: “Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah.” ( HR. Muslim )

    Iman adalah pengetahuan, pemahaman serta keyakinan yang mengkristal dalam segenap jiwa raga seseorang. Keimanan kepada Allah swt yang ada pada dirinya akan menjadi pondasi, pilar, alasan serta pembingkai setiap aktivitas yang digelutinya, sedang keimanannya kepada hari akhirlah yang akan menjadi pendorong terkuat bagi dirinya untuk melakukan aktivitas keshalihan. Oleh karenanya sering kali kita mendapati dalam Al-Qur’an bahasan keimanan kepada Allah beriringan dengan iman kepada hari akhir.

    Iman itu memang menuntut pembuktian dengan amal-amal shalih, dimana di saat yang sama iman itu bersifat fluktuatif, ‘yaziid wa yanqus’ -bertambah dan berkurang, menguat dan melemah, maka untuk tetap menstabilkan dan menjaga kebugaran iman, dibutuhkan adanya keistiqamahan. Istiqamah yang pada hakikatnya adalah tetapnya kondisi seseorang dalam jalur kebenaran, baik dalam aktivitas hati -termasuk di dalamnya keyakinan-, dalam aktivitas lisan dan aktivitas raga.

    Iman dan istiqamah adalah dua hal yang paling dibutuhkan bagi setiap muslim untuk mengarungi perjalanan di muka bumi ini, sehingga dapat pulang ke kampung halaman akhirat dengan selamat.

    Pelajaran
    Pertanyaan yang sangat serius itu hanya dijawab Rasulullah dengan dua hal, ini menggambarkan betapa pentingnya dua hal tersebut.

    Rasul tidak langsung menyuruhnya dengan “Berimanlah “, melainkan memintanya mengatakan “Aku beriman.” Metode penanaman nilai yang sangat jitu ini dapat kita rasakan, jika ada orang datang kepada kita meminta nasihat karena dia sedang dirundung sedih misalnya, makna yang mana yang akan lebih mempengaruhi dirinya..? Dengan kita mengatakan “Janganlah terlalu bersedih”, atau ketika kita minta dia mengatakan “Aku tidak akan bersedih lagi.” Tentu cara yang kedua akan lebih mempengaruhi dirinya untuk menghilangkan kesedihannya.

    Antara iman dan istiqamah, Rasulullah memilih kata ‘tsumma’ yang berarti kemudian bukan ’fa’ yang berarti maka, dalam kaidah bahasa, kata tsumma mengandung makna ’tarakhi’ (jeda waktu), sedang “Fa” (berurutan). Ini menunjukkan bahwa ketika orang telah beriman, tidak serta merta ia bisa menggapai istiqamah, ia butuh jeda waktu yang mungkin sangat panjang untuk melatih dirinya hingga dapat beristiqamah dengan baik.

    Posted in Artikel Asatidzah, Mutiara Hadits | No Comments »

    Leave a Reply