buka | tutup

  •    Online : 1
       Today : 137
       Total : 31442

       Your IP : 38.107.179.232
       Your OS :
       Your Browser :
  • Mau Disayang Allah?

    Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh lebih sempurna. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [QS:At Tiin: 4]

    Dilengkapi dengan akal yang bisa berfikir, bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Diperindah dengan mata yang bisa melihat, lisan dan bibir untuk berbicara, telinga untuk mendengar. Mahabesar Allah yang telah menciptakan makhlukNya dengan sempurna.

    Bukankah kami Telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [QS: Al Balad: 8-10]

    Hidup sebagai ujian

    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS: Al Mulk: 2] Bagi mereka yang sukses disediakan surge yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya terdapat kenikmatan yang sempurna, mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terbersit dalam hati.

    Bagi mereka yang gagal tempatnya adalah neraka, di dalamnya terdapat siksa yang amat pedih, api yang sangat panas, minumannya nanah yang sangat bau, dan segala macam siksa yang belum pernah terbayangkan. Allah sangat menyayangi kita dan masih memberikan kesempatan untuk memilih.

    Mensyukuri ni’mat Allah

    Bersyukur kepada Allah merupakan hal utama yang harus kita lakukan. Kesempatan hidup ini hanya sekali yang tidak boleh disia-siakan.

    Menggunakan semua anggota tubuh sesuai dengan amanah yang diembankan Allah kepada kita. Lisan banyak berdzikir, mata digunakan melihat hal-hal yang disukai Allah, telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan hati untuk tadabbur dan merenungkan keagungan ayat qauliyah [al Qur’an] dan alam semesta.

    Allah sangat menyayangi kita, panca indra kita lengkap, dan bisa digunakan untuk bersyukur kepada Allah.

    Manajemen waktu

    Aplikasi syukur nikmat haruslah dimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Pesan Allah begitu banyak untuk memanfaatkan waktu dengan optimal. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain. [QS; As Syarh: 7]

    Tugas dan amanah yang harus dikerjakan terkadang lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Menentukan skala prioritas adalah tugas setiap muslim. Supaya dapat mengerjakan hal yang wajib dan juga yang sunnah. Betapa banyak orang yang gagal karena kurang cermat dalam menggunakan kesempatan. Membuat peta hidup atau jadwal aktifitas adalah gambaran yang rapi dari kehidupan seorang muslim.

    Pelajaran ini kita dapati dari waktu-waktu yang disebutkan Allah dalam al Qur’an. Demi waktu, Demi waktu malam, Demi waktu duha, dll. Dari semua itu akan bermuara kepada optimalisasi waktu yang indah, semuanya bernilai pahala, dan tidak ada yang sia-sia.

    Karena memang karakter orang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. {Al Mu’minun: 3]

    Saat ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memenej waktu dengan baik.

    Istiqomah

    Sebentuk syukur kita kepada Allah adalah komitmen beribadah dengan kontinyu dan terus menerus. Kita berpacu dengan iblis dan pasukannnya, kita berpacu untuk mengendalikan hawa nafsu. Jangan sampai menjadi tentara iblis yang pasti menjadi penghuni neraka. Istiqomah mengaplikasikan peta hidup yang telah dirancang, disertai doa supaya diberikan kekuatan untuk istiqomah.

    Jalan panjang ujian dalam hidup harus ditempuh dengan penuh semangat. Jangan lemah dan putus asa untuk menyongsong surge Allah. Berjuang dengan giat untuk menjauhi neraka dan siksa Allah. Rasulullah Saw berpesan

    kepada kita untuk menguatkan keimanan dengan istiqomah. “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah. Kemudian beristiqomahlah”. Jalan istiqomah masih membentang di hadapan kita.

    Menggapai Ridho Allah

    Ketika Allah memilih kita dan memberikan hidayah Islam semenjak kita lahir, sungguh merupakan karunia yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang sampai meninggal tidak mendapatkan hidayah Islam. Ada juga yang tergelincir dan murtad dari jalan Islam. Maka hanya ada satu cara yang harus kita tempuh, yaitu mencari keridhoan Allah dalam kehidupan sementara ini.

    Kelompok yang diridhoi Allah adalah golongan Muttaqin. Ini beberapa karakternya yang dicatat Al Qur’an: Orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dalam setiap lingkup kehidupannya.

    Meyakini dan beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dalam kehidupan kesehariannya yang berimplikasi terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar. Membayarkan zakat sebagai kewajiban harta dan juga sosial.

    Beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al Qur’an, yaitu Taurat, Zabur dan Injil. Kita masih bisa menggapai Ridho Allah dan menjadikannya sebagai tujuan hidup

    Mengambil pelajaran dari sifat Allah

    Ruh yang menjadi inti jiwa kita berasal dari Allah SWT. Sejatinya kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa sifat Allah SWT.

    Sifat Penyayang

    Setiap kita dalam kapasitas masing-masing bisa menjadi seorang yang penyayang terhadap sesama. Dimulai dari lingkup keluarga, menyayangi orang tua, istri, anak, kakak, adik, kerabat dan saudaranya seagama. Sifat sayang ini akan melahirkan rasa cinta yang ikhlas karena Allah.

    Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana halnya ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai bukti rasa sayang, maka seorang muslim senang untuk berbagi, tidak rela melihat saudaranya kelaparan sementara dirinya kenyang. Oleh karena itu dalam hal muamalah ia lebih mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Sungguh indah apa yang digambarkan Allah tentang sifat orang-orang Anshor yang lebih mendahulukan kebutuhan orang muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri padahal sesungguhnya mereka pun membutuhkan.

    Sifat Pemaaf

    Allah Maha pemaaf terhadap kesalahan hambaNya. Kita sebagai orang yang tunduk kepada Allah hendaknya meniru sifat ini, kemudian diaplikasikan dalam keseharian ketika berinteraksi dengan sesama. Memaafkan orang lain yang mempunyai salah terhadap kita adalah akhlaq seorang muslim. Allah menggambarkan karakter orang bertakwa sebagai orang yang suka memaafkan manusia. Seperti halnya kita ingin dimaafkan oleh Allah, maka sudah seharusnya kita suka memaafkan orang lain.

    Jangan sampai kita menjadi penghalang bagi kebaikan orang lain yang ingin meminta maaf dari kita. Sebuah pelajaran berharga dapat kita ambil dari kisah seorang sahabat yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.

    Ketika diteliti ternyata tidak ada hal yang luar biasa dari ibadah ritualnya. Tetapi ternyata ada satu kebiasaan baik yang ia lakukan yaitu memaafkan orang lain sebelum ia tidur. Masih ada kesempatan untuk menjadi penyayang dan pemaaf

    Supaya Allah tetap menyayangikita

    Ada beberapa perbuatan yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang senantiasa disayangi Allah:

    Rajin Berdo’a

    Allah menyukai orang-orang yang suka berdoa kepadaNya. Orang yang menumpahkan keluh kesahnya kepada Allah. Memohonkan solusi untuk persoalan hidupnya. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. {QS: Al Baqarah: 186]

    Doa yang disertai dengan ketaatan kepada perintah Allah dan dilandasi dengan keimanan yang sempurna akan menghasilkan doa yang terkabul. Dan bukan doa yang hanya sekadar permohonan lisan sementara hatinya lalai.

    Rajin menebar kebaikan

    Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kebaikan yang mencakup perbuatan lisan, tutur kata yang baik, tidak menyakiti orang lain, saling memberikan taushiyah dalam kesabaran dan kebenaran. Perkataan yang meneduhkan dan tidak memancing amarah orang lain. Berlandaskan kepada sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” [HR. Muslim]

    Juga pergaulan yang baik dengan sesama. Menghormati dan menghargai orang lain, memuliakan tamu, tetangga dan saudara-saudaranya. Menjaga sifat toleransi dalam bermasyarakat. Menjauhi sikap egois dan sombong yang membawa kepada kondisi yang tidak harmonis dalam pergaulan hidup.

    Selagi usia masih di kandung badan, selalu ada kesempatan untuk berdoa dan berbuat baik.

    Berhias diri dengan sifat sabar

    Saat kita yakin bahwa keimanan akan mengalami ujian, maka bekal yang kita siapkan adalah sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Kesabaran yang berlipat ganda.

    Kesabaran yang ujungnya adalah kesuksesan. Ujian dunia seperti rasa cemas, takut, kekurangan harta benda dan kematian adalah hal biasa yang pasti dilalui. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orangorang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[QS; Al Baqarah: 155-156].

    Kesenangan yang kita peroleh atau penderitaan yang kita terima termasuk ujian. Jangan sampai melalaikan kita dari jalan Allah. Harta yang banyak dan anak-anak juga jangan sampai melalaikan kita dari mengingat Allah.

    Kita dituntut bersabar dalam beribadah kepada Allah, dalam menjauhi larangan Allah dan dalam menerima sesuatu yang kurang sesuai dengan selera kita. Sungguh, di sisi Allah ada pahala yang besar bagi mereka yang bersabar.

    Ya Allah, Rahmati kami, sayangi kami dan

    berkahi hidup kami. Amin

    Pengaruh Dosa Dalam Kehidupan

    I. Mukadimah

    Setiap ada pelanggaran sekecil apa pun,  pelanggaran itu pasti akan diberikan sanksi dan hukuman oleh Allah SWT. Tidak ada pelanggaran yang dilakukan manusia yang luput dari pantauan Allah dan pengawasann-Nya. Akan tetapi, hukuman yang Allah akan berikan dan timpakan kepada setiap pelanggar ketentuannya bisa dipercepat. Hal ini berarti hukumannya bisa didapatkan di dunia dalam bentuk yang ditentukan dan dikehendaki-Nya. Dari kebanyakan hukuman itu, ada yang ditangguhkan sampai datang hari pembalasan. Namun, pengaruh negatif dari segala bentuk dosa itu bisa dirasakan dan didapatkan oleh pelaku secara khusus, dan mungkin berimbas kepada masayarakat yang ada disekelilingnya secara umum.

    II. Pengaruh Dosa

    Segala bentuk kemaksiatan memiliki  pengaruh negatif dan berbahaya bagi hati dan jasmani,  baik di dunia maupun di akhirat. Kebanyakaan dari  pengaruh dosa itu tidak diketahui, kecuali oleh Allah SWT. Adapun pengaruh dari dosa itu adalah sebagai berikut.

    1. Terhalang dari Cahaya Ilmu

    Pelangaran atas setiap ketentuan Allah merupakan sebuah kebodohan. Ilmu adalah cahaya Allah yang disimpan di dalam hati seseorang yang dikehendaki-Nya, dan kemaksiatan bisa memadamkan cahaya ilmu.

    Suatu ketika Imam Syafi’i duduk dihadapan Imam Malik dan membacakan sesuatu kepadanya, maka Imam Malik merasa kagum dengan apa yang ia lihat dari kesempurnaan kecerdasan, kepandaian yang gemilang, dan pemahaman Imam Syafi’i atas ilmu yang paripurna. Imam Malik lalu berkata, ”Aku berkeyakinan bahwa Allah telah meletakkan cahaya di dalam hatimu, maka jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan kemaksiatan.”

    Adapun Imam Syafi’i  berkata dalam lantunan bait syairnya.

    Aku mengadukan kekurangmantapan hapalanku kepada Imam Waki’i

    Maka, dia memberi nasehat untuk meninggalkan segala bentuk maksiat

    Dan dia berkata, “Ketahuilah,  bahwasanya  ilmu adalah anugerah Ilahi

    Dan anugerah Ilahi itu tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.

    2. Kegalauan Menyelimuti Hati

    Pelaku kemaksiatan akan menemukan kegalauan, ketakutan, dan kegundahan jiwa di salam hatinya. Pelaku dosa tidak akan menemukan kelezatan hati, walaupun segala bentuk keindahan dan saran hidup yang berbentuk materi dia miliki. Akan tetapi, kegundahan itu tidak akan hilang. Sebab, kelezatan hati  dan ketenangan jiwa hanya akan didapatkan oleh orang yang memiliki hati yang hidup, yang selalu disiram oleh iman dan keta’atan. Sebuah peribahasa Arab melukiskan, ”Sakit karena luka tidak dirasakan oleh orang telah mati”, dan  kemaksiatan merupakan sebab kematian hati seseorang.

    Dikisahkan oleh para ulama bahwa seseorang pernah mengadu kepada salah seorang dari mereka. Ia merasa dirinya menemukan kegalauan, kegundahan hidup, dan kengerian dalam hatinya. Maka, dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya dosa–dosa telah membuat hatimu gundah gulana, maka tinggalkanlah dosa-dosa itu. Jika kamu menginginkan untuk melakukannya dan hiduplah dalam ketenangan.”

    Tidak ada dalam hidup ini yang paling menyakitkan hati, kecuali kegalauan dan  kegundahan hati yang diakibatkan oleh dosa yang menimpa pelakunya. Semoga Allah menolong kita dari hal tersebut.

    3. Ketakutan untuk Berinteraksi dengan Orang Lain

    Ada ketakutan yang dirasakan oleh pelaku dosa untuk melakukan hubungan dengan orang lain, terutama dengan para pelaku kebaikan dan orang-orang soleh. Seolah  ada penghalang dan jurang yang sangat dalam, yang memisahkan antara dirinya dengan orang-orang yang baik dan soleh. Ketika kekhawatiran itu semakin kuat, maka semakin jauh pula hubungan dirinya dengan mereka. Akibatnya, dia tidak akan mendapatkan manfaat dan keberkahan dan kebaikan dari mereka. Oleh karena itu, dia akan semakin dekat dengan tentara syetan (hizbusysyaithan) sesuai dengan kejauhan dirinya dari wali-wali Allah (hizbullah), dan sekaligus jauh dari Allah  Yang Maha Rahman, dikarenakan kemaksiatan yang dia lakukan. Akhirnya, dia merasa terisolasi dari kehidupan bermasayarakat terutama dengan orang-orang soleh, bahkan sampai terhadap istri, orang tua, anak, dan keluarga secara luas.

    Salah seorang ulama soleh terdahulu mengatakan, “Aku bisa melihat akibat perbuatan maksiatku  pada perilaku kendaran dan istriku.”

    4. Kesulitan dalam Setiap Urusan

    Pelaku kemaksiatan akan menemukan segala bentuk kesulitan dalam setiap urusannya. Apabila dia dihadapkan dengan sebuah urusan, maka seolah semua pintu penyelesaiannya tertutup dan terkunci rapat. Hal ini kebalikan orang yang dekat dengan Allah (orang bertaqwa), karena orang seperti itu akan selalu diberikan jalan keluar dari setiap permalasannya.

    “…Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi dirinya.” (ath-Thalaaq:  2)

    Adapun barangsiapa yang mematikan ketakwaannya dan menggantikannya  dengan kemaksiatan terhadap Rabb-nya, maka Allah akan menjadikan segala urusannya sulit. Sungguh mengherankan, bagaimana kehidupan seorang hamba—yang semua pintu kebaikan dan ketakwaan tertutup rapat bagi dirinya serta seluruh jalan menujunya sulit ditempuh dan ditelusuri, tetapi dirinya tidak mengetahui penyebab semua itu. Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahwa kemaksiatanlah penyebabnya.

    5. Kegelapan yang Hakiki di dalam Hati

    Pelanggaran terhadap ketentuan Allah adalah kedzaliman, dan kedzaliman adalah kegelapan bagi pelakunya. Pelaku maksiat akan merasakan kegelapan hati, sebagaimana dirinya merasakan gelap gulita di malam hari. Seorang pendosa akan menemukan kegelapan hati seperti kenyataan keseharian dikala malam tiba dengan gelap gulita yang menakutkan, sehingga dirinya tidak bisa melihat kebenaran yang semestinya dia lakukan. Cahaya ketaatan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan sudah ditutupi oleh kelamnya kemaksiatan. Bahkan ketika kegelapan bertambah, maka bertambah pula kebingungan, dan ia akhirnya terjerumus pada bid’ah, kesesatan, dan  hal-hal yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Perumpamannya seperti orang buta yang keluar sendirian dimalam hari. Kekuatan kegelapan maksiat ini bisa tampak pada sorot mata serta raut muka dan setiap orang bisa melihatnya.

    Abdullah bin Abbas ra berkata,  “Sesungguhnya kebaikan itu memberikan cahaya pada wajah pelakunya, menjadi pelita bagi hati, memberi kelapangan rizqi, membentuk kekuatan jasad, dan membuat orang-orang mencintainya. Adapun sesungguhnya kejahatan itu membuat muka carut marut, memberi kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, mengurangi pintu rizqi, dan membuat orang lain membencinya.

    6. Memperlemah Hati dan Jasad

    Pengaruh kemaksiatan terhadap hati merupakan hal yang sangat mudah kita temukan. Hal ini disebabkan karena  kelemahan hati itulah seseorang bisa terjerumus dan berani melanggar aturan Allah dengan melakukan kemaksiatan. Adapun bila kemaksiatan  terus menerus dilakukan, maka ia bisa mematikan hati secara keseluruhan. Artinya, hati tidak akan memiliki saluran untuk program kebaikan sedikit pun. Maksiat mempunyai  pengaruh terhadap daya tahan tubuh, dikarenakan kekuatan tubuh tertumpu pada kekuatan hati. Dikala hati memiliki kekuatan, maka tubuh secara spontan akan memiliki daya tahan yang kokoh. Inilah hati dan badan hamba-hamba Allah yang taat an soleh. Adapun orang jahat, walaupun tubuhnya kekar, pada hakekatnya dirinya adalah orang yang paling lemah dikala dihadapkan dengan kebutuhan. Cukuplah sejarah menjadi bukti kongkrit yang bisa dijadikan dalil atas hal dia atas. Betapa kuatnya Bangsa Romawi dan Persia secara fisik, namun mereka dikalahkan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan tubuh, terutama kekuatan hati.

    7. Menjauhkan Seseorang dari Ketaatan

    Keta’atan dan kemaksiatan adalah dua hal yang saling bersebrangan. Tidak akan terjadi perkumpulan diantara keduanya, bahkan yang akan terjadi adalah pergumulan yang saling mengalahkan. Maka, apabila seseorang terjerumus dengan kemaksiatan berarti dirinya sudah mengalahkan ketaatan. Seandainya kemaksiatan tidak memiliki hukuman—kecuali terhalangnya seseorang dari ketaatan, maka sebagai pengganti dosa itu adalah menghalangi ketaatan selanjutnya, kemudian dari ketaatan yang ketiga, dan terus seperti itu, sehingga tidak ada ketaatan lagi, kecuali terputus dan terhalang oleh kemaksiatan yang sudah dilakukannya. Dengan demikian, kemaksiatan itu akan menghalangi dari ketaatan yang demikian banyak jumlahnya, padahal setiap bentuk kebaikan yang terhalang itu memiliki pahala yang lebih baik dari dunia beserta isinya ini. Perumpamaan dosa yang menghalangi ketaatan itu persis seperti seseorang yang memakan satu hidangan  yang menimbulkan penyakit yang cukup lama, sehingga memaksa dirinya untuk tidak makan hidangan-hidangan selanjutnya, padahal kualitas hidangan itu lebih enak dan lezat dari yang ia makan.

    8. Melakukan Kemaksiatan Memberikan Celah Kemaksiatan Lain.

    Sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan merupakan  satu proyek yang dibangun oleh iblis dengan seluruh bala tentaranya. Oleh sebab itu, melakukan satu kemaksiatan merupakan bibit unggul yang akan melahirkan kemaksiatan lainnya, sehingga apabila seseorang sudah tertawan oleh kemaksiatan, maka sulit kiranya untuk melepaskan dari genggamannya. Sebagian ulama salaf mengatakan, ”Sesungguhnya sebagian dari hukuman kejahatan adalah timbulnya kejahatan  lainnya.” Demikianlah seterusnya.

    Hal ini disebabkan segala bentuk ketaatan dan kemaksiatan itu laksana karakter yang sudah mendarah daging dan menempel pada setiap pelakunya. Apabila orang soleh yang taat meninggalkan ketaatan, maka dirinya akan merasa tersiksa dikarenakan hilangnya satu kesempatan untuk mendapatkan kebaikan, seolah dirinya adalah ikan yang berpisah dengan air yang merupakan tempat hidupnya. Demikian pulalah orang yang jahat, apabila dirinya tidak melaksanakan kemaksiatan, maka dadanya merasa sesak. Semua jalan kebaikan yang ada dihadapannya buntu dan tetutup, karena kemaksiatan sudah menjadi makanan dan minuman kesehariannya. Apabila seseorang terbiasa dengan kemaksiatan, maka setan akan datang memberikan bantuan, sekaligus mengangkatnya menjadi prajurit yang siap diperintah untuk menyesatkan manusia lainnya.

    9. Kemaksiatan memperpendek umur dan menghapus kebarakahannya

    Para ulama berbeda pendapat tentang pengaruh maksiat terhadap perpendekan umur pelakunya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur adalah hilangnya kebarakahan dari umur yang Allah berikan kepadanya. Sebab, pada dasarnya umur sebagai amanat Allah apabila dipergunakan untuk melakukan pengabdian dan ketaatan, maka walaupun umurnya pendek, dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda seolah-olah dia hidup lebih dari itu. Sebagian lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud memperpendek umur memiliki makna yang sebenarnya, sebagaimana kemaksiatan mengurangi rezeki pelakunya.

    Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur akibat maksiat adalah kematian hati. Sebab, hakikat kehidupan menurut mereka adalah kehidupan hati. Oleh sebab itu, Allah menganggap orang kafir sebagai orang mati. Setidaknya, demikian yang Allah SWT firmankan dalam surah an-Nahl ayat 21.

    Secara keseluruhan, pendapat para ulama di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berpaling dari Allah dan sibuk dengan kemaksiatan akan hilang hari-hari kehidupannya yang sebenarnya, dan kelak dirinya akan menyesali perilaku yang dipertontonkannya tatkala berada di dunia. Dari gambaran ekspresi penyesalan itu, Allah berfirman,

    “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya, Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (al-Munaafiquun: 10)

    “…dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” (an-Naba`: 40)

    Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan ekspresi penyesalan itu.

    “Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” (al-Fajr: 24)

    Rahasia permasalahan ini adalah bahwasanya umur manusia selama hayatnya—dan tidak ada kehidupan melainkan untuk menghadap Allah dengan segala yang ada pada dirinya, dan merasa nikmat dengan mencintai dan mengingat-Nya, serta mendahulukan keridhaan-Nya.

    10. Kemaksiatan penyebab kehinaan pelakunya di hadapan Allah dan manusia

    Berkata Al-Hasan al-Bashri, ”Mereka menghinakan Allah, maka mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka memuliakan-Nya, niscaya Dia akan menjaga mereka. Dan apabila seseorang menghinakan Allah dengan bermaksiat kepada-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang memuliakannya.”

    Allah berfirman,

    “…Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya….” (al-Hajj: 18)

    11. Meremehkan dosa pertanda kehancuran

    Apabila seseorang tidak henti-hentinya melakukan dosa hingga dirinya menganggap kecil dosa yang dilakukannya, maka hal tersebut merupakan tanda kehancuran dirinya oleh karena dosa, manakala dianggap kecil oleh manusia, justru semakin besar di hadapan Allah SWT. Rasulullah saw. Bersabda,

    “Sesungguhnya, orang mukmin melihat dosa seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia merasa ngeri apabila gunung itu menimpanya. Adapun orang jahat melihat dosa seolah-olah lalat yang hinggap di batang hidungnya. Maka, dia mengatakan dengannya demikian hingga lalat itu terbang.” (HR Bukhari)

    12. Dosa membuat pelakunya dilaknat Allah dan Rasul-Nya

    Sesungguhnya, dosa memaksa pelakunya untuk masuk dalam laknat Allah dan Rasul-Nya. Allah melaknat pencuri, peminum khamar, pemberinya, pemerasnya, penjualnya, pembeli, pemakan harga, pembawanya, dan setiap pihak yang membantu terjadinya kemaksiatan khamar. Allah juga melaknat orang yang menghardik kedua orang tuanya dan pelaku dosa-dosa lainnya. Rasulullah saw. pun telah melaknat pelaku dosa seperti melaknat laki-laki yang menggunakan pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian lakai-laki, pemberi suap dan yang menerima suap, serta perantara yang menimbulkan pelanggaran berupa suap-menyuap, dan lain sebagainya.

    13. Terhalang dari doa Rasulullah saw. dan doa para malaikat yang mulia

    Sesungguhnya, Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memintakan ampun bagi orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah berfirman,

    “(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), ‘Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya, Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara  bapak-bapak  mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Mahaperkasa  lagi Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang- orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.’” (al-Mukmin: 7-9)

    Inilah doa para malaikat Allah bagi orang-orang mukmin yang bertobat dan mengikuti kitab-Nya dan sunnah Rasulullah, yang tidak ada petunjuk selain keduanya. Maka, orang-orang yang tidak memiliki sifat yang didoakan di atas, termasuk pelaku kemaksiatan, tidak berhak mendapatkan kebaikan doa para makhluk Allah yang mulia itu.

    14. Terjadinya kehancuran di muka bumi

    Apabila skala pembangkangan semakin meluas, maka skala akibat yang akan terjadi dari pembangkangan itu pun menjadi luas. Lihatlah, betapa banyak bencana yang terjadi di darat, di laut, dan di udara. Kita pun ikut merasakan itu semua sebagai pengaruh dan akibat para pelaku kejahatan yang sudah memperluas radius kejahatannya. Oleh sebab itu, Allah SWT menjelaskan semua kehancuran yang ada di atas planet bumi ini akibat ketidakcocokan perilaku pengurusnya dengan keinginan Allah SWT. Allah berfirman,

    “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Ruum: 41)

    Rasulullah saw. bersabda,

    “Wahai, kaum Muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemukannya. Tidaklah perzinaan merajalela dalam suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali mereka akan ditimpa oleh bermacam-macam penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum pendahulu mereka. Dan tidak ada suatu kaum melakukan kecurangan dengan mengurangi ukuran dan timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka keadaan paceklik dan mahalnya harga kehidupan, dan akan diangkatnya pemimpin yang zalim. Dan tidaklah suatu kaum menahan kewajiban harta mereka, kecuali mereka tidak akan diberi curah hujan dari langit. Seandainya saja tidak ada binatang ternak, niscaya tidak akan ada curah hujan. Dan tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan mengirim musuh dari selain mereka dan merampas sebagian yang mereka miliki. Seandainya para pemimpin mereka tidak mau berhukum dengan apa yang diturunkan Allah di dalam kitab-Nya, kecuali Allah akan menjadikan perseteruan dan pertempuran di antara mereka sendiri.” (HR Ibnu Majah)

    Itulah beberapa akibat pelanggaran yang sangat mengerikan dan menakutkan dikarenakan sifatnya luas menjangkau seluruh manusia.

    15. Kemaksiatan memadamkan api cemburu serta menghilangkan rasa malu

    Kecemburuan laksana pemanas insting bagi kehidupan seluruh badan. Cemburu adalah panasnya tubuh yang bisa menimbulkan sifat busuk dan tercela, sebagaimana menghilangkan kotoran dari emas perak dan tembaga. Adapun orang yang paling mulia dan paling tinggi keinginannya adalah orang yang paling memiliki kecemburuan terhadap dirinya dan umumnya manusia. Oleh sebab itu, Nabi adalah orang yang paling cemburu atas umatnya, dan Allah SWT lebih pencemburu lagi daripada Nabi-Nya. Rasulullah saw. bersabda,

    “Apakah kalian terkejut melihat kecemburuan Sa’ad? Sesungguhnya aku lebih pencemburu darinya dan Allah lebih pencemburu daripada aku.”

    Dalam hadits sahih lainnya, Rasulullah saw. bersabda,

    “Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah SWT ketika hamba-Nya laki-laki berzina dan hamba-Nya yang wanita berzina.”

    Adapun sifat malu adalah sesuatu yang inheren dengan keimanan. Di kala keimanan masih menempel pada diri seseorang, maka yakinlah rasa malunya masih bisa ditemukan. Akan tetapi, di kala salah satu dari keduanya hilang, maka jangan diharapkan yang lainnya bisa ditemukan. Rasulullah saw. bersabda,

    “Dari sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah, ‘Apabila kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuai dengan keinginanmu.’”

    III. Penutup

      Semoga Allah memberikan pertolongan dan kekuatan  kepada kita untuk senantiasa mampu melawan setan dan kemaksiatan: dengan memberikan ilmu, ketenangan jiwa, kekuatan hati dan menyinari dengan cahaya-Nya yang tak pernah redup. Semoga taufiq dan hidayah-Nya juga senantiasa melimpah, agar kita mampu untuk melakukan segala bentuk ketaatan demi memperoleh kebaikan, keberkahan, dan keridhaan Allah Rabbul ’Alamin. Amiin.

      Waallahu a’lam bish-shawwab.

      IBLIS, SETAN, DAN PERTARUNGAN IMAN

      I. Mukadimah

      Kata pertarungan bermakna pertempuran dan peperangan. Satu kata yang siapapun juga pasti tidak menyukainya. Namun manusia mau tidakmau harus melakukannya, paling tidak ia harus menghadapi serangan dan godaan musuh utama hidupnya yaitu Iblis dan setan yang senantiasa berusaha untuk menyesat dan menghancurkannya. Karena itulah Al-Qur’an meanyatakan kepada kita, bahwa kita harus berperang.

      “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu Benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah (2) : 216)

      II. Iblis, Setan, dan Pasukannya

      Iblis adalah satu makhluk dari bangsa jin yang diciptakan oleh Allah dari api yang sangat panas. Penciptaannya lebih dahulu dari manusia (Adam). Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur`an.

      “Dan  Kami telah  menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (al-Hjir (15) : 27)

      “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi (18) : 50)

      Awalnya, ia hidup bersama-sama dengan satu komunitas malaikat. Namun akhirnya ia terusir, disebabkan kesombongannya untuk menaati perintah Allah agar sujud kepada Nabi Adam. Ia merasa lebih baik dan lebih senior sehingga tidak laik bagi dirinya untuk tunduk kepada perintah tersebut. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala.

      “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab iblis, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (al-A’raaf (7) : 11-12)

      Saat iblis diusir dari surga, ia mendapat jaminan usia hidup sampai hari kiamat dan kebebasan menggoda untuk menyesatkan Adam dan keturunannya.

      “Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’ Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (al-A’raaf (7) : 13-17)

      Adam dan istrinya adalah dua orang pertama yang berhasil digoda oleh Iblis yang menyebabkan keduanya harus keluar dari surga dan turun ke bumi.

      “Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang  kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Lalu keduanya digelincirkan oleh seitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.’” (al-Baqarah (2) : 35-36)

      Sejak saat itu dimulailah pertarungan abadi antara umat manusia melawan iblis dan balatentaranya. Hal  ini dijelaskan oleh Al-Qur`an.

      “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf (7) : 27)

      Selama pertarungan itu, selain berusaha untuk menyesatkan manusia, iblis juga melakukan rekruitmen dari bangsanya sendiri (jin) dan manusia.  Mereka yang berhasil direkrut itu disebut setan. Jadi, dalam hal ini setan bukanlah sejenis makhluk, melainkan sifat-sifat buruk yang tidak ada kebaikannya sama sekali pada bangsa jin dan manusia yang menjadi anak buah iblis atau paling tidak dipengaruhinya (al-An’aam: 112 dan al-Anfaal: 48). Kelompok ini di dalam Al-Qur`an disebut hizbusy-syaithan yang berarti “Partai Setan” (al-Mujaadilah: 19). Lawannya adalah hizbullah atau “Partai Allah” (al-Mujaadilah: 22 dan al-Maa`idah: 56).

      Kelompok setan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelewengkan anak manusia yang beriman agar berpaling dari ajaran Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sabrah bin Fakih, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

      “Sesungguhnya setan itu duduk untuk menghadang manusia di beberapa jalan. Ia duduk di jalan keislaman. Ia berkata kepada orang yang hendak memeluk agama Islam, ‘Apakah engkau akan masuk agama Islam? Apakah engkau akan meninggalkan agamamu sendiri dan agama nenek moyangmu?’ Orang itu tidak mempedulikannya lalu terus saja memeluk Islam. Lalu ia duduk di jalan hijrah. Ia berkata di jalan hijrah, ‘Apakah engkau hendak berhijrah? Apakah engkau akan meninggalkan bumi dan langitmu?’ Orang itu tidak memperhatikan seruannya dan terus saja berhijrah. Ia duduk di jalan jihad. Ia berkata kepada orang yang hendak berjihad, ‘Apakah engkau hendak berjihad?’ Padah jihad itu adalah kebinasaan harta dan jiwa. Apakah engkau hendak berperang lalu engkau dibunuh, istrimu lalu kawin lagi dan hartamu dibagi-bagi?’ Orang itu tidak mempedulikannya dan terus saja berjihad. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda, ‘Maka, barangsiapa yang melakukan demikian (yakni tidak mengikuti ajakan setan) kemudian meninggal dunia, maka haknyalah bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.’” [1]

      Adapun beberapa hal yang harus kita ketahui mengenai setan dan iblis adalah sebagai berikut.

      1. Setan identik dengan iblis

      Setan identik dengan iblis. Namun, dengan menyandang nama setan, ia bukan hanya membangkang atas perintah Allah SWT, tetapi sebagaimana iblis, ia juga sebagai penggoda manusia. Kegiatan setan menggoda itu adalah tugas iblis, setelah manusia diciptakan. Hal ini tercantum dalam firman Allah.

      “Hai  iblis, apa  sebabnya kamu  tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata  Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang  Engkau telah  menciptakannya dari  tanah  liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” Allah     berfirman:  “Keluarlah  dari  surga,  karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. Berkata  iblis: “Ya  Tuhanku, (kalau  begitu) maka  beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan  Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya  kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. Iblis   berkata:  “Ya  Tuhanku,  oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik  (perbuatan ma’siat)  di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,  kecuali  hamba-hamba Engkau  yang mukhlis  di antara mereka.” (al Hjir (15) : 32-40)

      2. Diantara jin dan manusia, ada yang menjadi setan.

      “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.  Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (an-Naas (114) : 1-6)

      Menurut keterangan ahli hadits dari kalangan tabi’in, antara lain Abu Qatadah ( 61-118 H) dan Hasan al Bashri (21-110 H), di antara jin dan manusia ada yang menjadi setan. Pendapat ini diperkuat oleh dialog Abu Dar dengan Nabi Muhammad saw.

      Rasulullah saw. bertanya, “Wahai, Abu Dar, apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan setan yang berasal dari jin dan manusia?” Abu Dar bertanya, ” Ya Rasulullah, adakah setan-setan berasal dari manusia ?” Nabi saw. bersabda, “Ya, benar-benar ada.” (HR Ahmad bin Hambal) [2]

      3. Dalam diri setiap manusia ada setan yang berjalan sesuai dengan aliran darah.

      Diriwayatkan dari Aisyah r.a., istri Rasulullah, ia berkata, ”Pada suatu malam Rasulullah keluar dari rumahku dan aku cemburu kepadanya. Maka, aku pun mengikutinya. Rasulullah mengetahui apa yang aku perbuat, hingga ia bersabda, ‘Apa yang terjadi denganmu, apakah engkau cemburu.?’ Maka, aku menjawab, ’Bagaimana orang seperti aku tidak cemburu kepada orang seperti engkau, ya Rasulullah?’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Atau telah datang kepadamu setanmu?’ Maka, Aku berkata, ’Ya Rasulullah, apakah bersamaku ada setan?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata lagi, ‘Dan apakah bersama setiap manusia ada setan?’ Rasulullah  menjawab, ‘Ya.’ Aku pun brertanya lagi kepadanya, ‘Apakah beramamu jua ada setan?’ Dia menjawab, ‘Ya. Akan tetapi, Allah  menolongku untuk mengalahkannya hingga setan itu menyerah.’” (HR. Muslim) [3]

      Setan yang ada bersama manusia itu bejalan sesuai dengan aliran darah dalam tubuh. Diriwayatkan dari Shafiyah, istri Rasulullah saw., ia berkata, ”Pernah Rasulullah beri’tikaf, dan aku pun datang mengunjunginya di malam hari. Maka, aku berbincang bersamanya, kemudian aku bangkit untuk pulang, dan beliau pun mengikutiku bangkit untuk menemaniku pulang. Konon, rumah Shafiyah itu berada di perkampungan Usamah bin Zaid. Saat itu, lewatlah dua orang dari Kaum Anshor. Ketika mereka melihat Rasulullah, keduanya bergegas, maka Nabi pun berkata, ‘Kalian jangan terburu-buru, sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyay. Maka, keduanya berkata, ‘Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!’ Rasulullah lalu bersabda, ‘Sesungguhnya setan berjalan pada manusia  dalam aliran darah, dan Aku khawatir setan itu telah meletakan kejahatan pada hati kalian.’” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]

      I. LANGKAH-LANGKAH SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA

      Dalam operasinya menjerumuskan manusia pada jurang kesesatan dan kejahatan, setan mengunakan strategi dan langkah yang sesuai dengan obyek yang akan disesatkannya. Apabila level manusia dari sisi keimanannya lemah, maka strateginya berbeda dengan orang-orang yang memiliki keimanan dan keyakinan yang tinggi kepada Allah. Untuk orang yang memiliki keimanan dan keyakinan yang tinggi, setan akan mengunakan metode yang jitu, dan apabila yang dihadapi setan adalah  orang level tinggi dari orang yang beriman, maka dia akan mengerahkan segala kemampuan dan segala sarananya untuk bisa menggoda dan menyesatkan sehingga berhasil mengalahkannya. Adapun dalil yang menjelaskan bahwa setan memilki strategi dalam menyesatkan anak cucu Adam adalah firman Allah.

      “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah (2) : 208)

      Adapun langkah-langkah setan dalam menyesatkan manusia adalah sebagai berikut.

      1. Menimbulkan rasa was-was.

      Was-was adalah sebuah  strategi  yang  dihembuskan setan pada hati manusia, sehingga apabila sifat was-was ini menguasai hati sesorang, maka akan lahir rasa ragu-ragu atas setiap perbuatan, perkataan, keyakinan. Akhirnya, rasa was-was itu akan merasuk pada tingkat keimanan kepada Allah, serta segala sesuatu yang berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah tersebut. Apabila was-was sudah sampai pada tingkat tersebut, maka orang yang terjangkitnya mudah untuk tergelincir pada kekufuran, pembangkangan, dan akhirnya jadi pengikut setan. Strategi was-was ini Allah jelaskan dalam ayat-Nya.

      Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.  Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (al-Naas (114) : 1-6)

      2. Menghilangkan ingatan (lupa).

      Setan berusaha menjauhkan manusia dari Allah SWT dari semua aktifitasnya. Salah satu cara yang paling ampuh yang dilakukan setan adalah menghilangkan keterkaitan  manusia dengan Allah dalam semua keadaan dan situasi. Dengan demikian, rasa kebersamaan dengan Allah dan rasa dipantau oleh-Nya lenyap dari kehidupan manusia. Karenanya, manusia yang lupa Allah akan mudah melakukan pelanggaran, kejahatan,dan kemaksiatan. Hal itu dikarenakan nama Allah dan keagungan-Nya hilang dari dirinya. Hal  itu merupakan ulah setan dengan cara membuat manusia lupa.

      “Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua,  ”Beritahukanlah keadaanku kepada tuanmu.”  Maka, syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya.  Karena itu, tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf (12) : 42)

      Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

      “Muridnya menjawab, “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu  dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya, kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (al-Kahfi (18) : 63)

      3. Memanjangkan angan-angan.

      Kehidupan dunia ini sangatlah pendek dan singkat. Maka, kerugian lah bagi orang yang memperpanjang hidup ini dengan angan-angan. Karena, dengan panjang angan-angan, seseorang akan terbuai dengan indahnya kata seandainya. Sementara, dirinya lupa bahwa ajal selalu mengintainya. Karenanya, sementara dirinya dalam keadaan lalai dan santai, ia tidak akan bersegera mempersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang  lebih menentukan dan abadi, yaitu kehidupan ukhrawi. Setan sangatlah cerdik dan  licik, ia selalu mencari kelemahan manusia, dan diantaranya adalah suka menikmati indahnya angan-angan. Dari titik itu lah, setan memyesatkan manusia.

      “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan  membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya , dan akan aku suruh mereka (mengubah  ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya “.Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’ (4) : 119)

      Dalam ayat yang lain, Allah menjelaskan,

      “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad (47) : 25)

      4. Memperindah perbuatan maksiat.

      Tabiat manusia adalah sangat mencintai kehidupan dunia. Wanita, anak, binatang ternak, emas perak, dan sebagainya adalah hal-hal yang sangat mereka cintai. Akan tetapi, bagi Allah, kehidupan dunia yang kelihatan gemerlap ini—yang membuat terperangah bagi siapa yang terpedaya olehnya, tidak memiliki nilai apabila dibandingkan dengan kehidupan surgawi yang ada di sisi-Nya di hari akhirat nanti. Namun, setan tidak rela apabila manusia meninggalkan kehidupan dunia dan  berbondong-bondong menuju kebahagiaan yang hakiki yang ada di sisi Allah kelak. Oleh karenanya,  setan berusaha memperdaya manusia dengan cara menampilkan wajah dunia yang mereka cintai seolah-olah dunia ini akhir segala-galanya, tidak ada sesuatu yang lain yang seindah kehidupan dunia yang ada, dan kegemerlapan dunia hanyalah satu-satunya tujuan hidup. Sementara itu,  mereka melupakan sebuah kehidupan yang  sangat berbeda dengan kehidupan ada. Itulah cara setan untuk menyesatkan manusia. Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam kitab-Nya.

      “Iblis   berkata, “Ya  Tuhanku,  oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik  (perbuatan ma’siat)  di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al-Hijr (15) : 39)

      5. Memberikan janji-janji palsu.

      Apabila jiwa manusia sudah dirasuki setan, maka dirinya akan mudah untuk melakukan pelanggaran. Ketika dia melakukan pelanggaran tersebut, maka setan akan kembali datang untuk mendukung perbuatan tersebut dengan membawa janji-janji. Setan akan membisikan janji-janji itu kepada segenap pelaku kemaksiatan. Dia akan datang kepada penjudi dengan mengatakan teruskan perjudianmu, karena hanya dengan judi kamu bisa kaya. Setan pun akan datang kepada peminum khamr dan mengatakan  minumlah sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin, karena dengan hal itu  kamu akan mendapatkan ketenangan hidup. Setan juga akan datang kepada perampok, pezina, pembunuh, dan sebagainya dengan janji palsu sebagai pembenaran dan dukungan atas aksinya, sehingga mereka betul-betul menjadi pengikutnya yang setia dan menjadi temannya kelak di neraka.

      “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun  telah  menjanjikan  kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak  dapat menolongmu dan kamupun  sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Ibrahim (14) : 22)

      6. Membuat tipu daya.

      Setan adalah makhluk jahat. Dalam melakukan aksi kejahatannya, setiap penjahat selalu melakukan tipu daya yang licik untuk mengelabui mangsanya. Setan memasang ranjau-ranjau tipu dayanya agar manusia terpedaya dengannya, sehingga ia tergelincir ke dalam jebakannya. Akhirnya,  ia bertekuk lutut dihadapannya dan men jadi pengikut setia setan, bahkan menjadi tentaranya. Jauh dari Allah serta melangar aturan-aturan-Nya.

      “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin- pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf (7) : 27)

      7. Menghalang-halangi manusia untuk melakukan kebajikan.

      Setan sangatlah komitmen dengan tekadnya untuk  menyesatkan manusia. Seandainya dia tidak bisa  menjuerumuskan manusia kejurang kenistaan dan kemaksiatan, maka dia berusaha dengan sekuat tenaga dan strategi yang canggih agar manusia tidak melakukan kebajikan samaa sekali. Setan menghalangi hamba Allah untuk shalat, berdzikir, bersedekah, berjihad, dan dari segala bentuk kebajikan yang Allah perintahkan dan anjurkan. Sekecil apa pun kebaikan itu,  setan pasti  akan merintangi hamba Allah melakukannya.

      “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan  sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (an-Nisaa’ (4) : 61)

      8. Menyulut api permusuhan.

      Visi setan adalah menjadikan seluruh anak cucu Adam pengikutnya. Maka, apabila hal itu tidak terealisasi secara keseluruhan, perlu ada langkah agar manusia hancur berantakan. Cara yang dilakukannya adalah mengadu domba manusia. Langkah ini diprogram sehebat mungkin, baik personil  yang memprovokasi maupun  programnya yang berbentuk fitnah-fitah, yang disebar diantara manusia atau program-program yang lainnya yang rentan terhadap pertikaian, seperti perjudian, program minuman keras, dan sebagainya. Langkah setan ini Allah jelaskan dalam firman-Nya.

      Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya  syaitan   itu adalah   musuh  yang nyata bagi manusia.” (al-Israa’ (17) : 53)

      9. Menyuruh manusia berbuat keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak ia ketahui.

      Allah SWT. selalu memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, dan untuk selalu berkata berdasarkan ilmu. Akan tetapi, setan ingin menyesatkan manusia. Maka, ia  memutarbalikkan perintah Allah itu dengan  menyuruh manusia berbuat keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang ia tidak ketahui. Oleh karenanya, Allah mengingatkan hamba-Nya akan langkah setan itu dengan firman-Nya.

      “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah (2) : 169)

      II. AKIBAT YANG TIMBUL DARI LANGKAH-LANGKAH SETAN

      Adapun akibat dari langkah-langkah setan yang bersifat  terus menerus dan fariatif adalah penyesetan manusia dari jalan Allah.

      “Yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan, “Saya benar- benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)  dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan  membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya , dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya]”. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka  sesungguhnya  ia  menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa` (4) : 118-119 )

      Apabila usaha penyesatan ini berhasil, maka ia berakibat pada penyamaran kebenaran.

      “Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu.  Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah (2) : 85)

      Pada saat keberadaan kebenaran sudah disamarkan  melalui aksi setan, maka pada akhirnya akan terjadi percampuradukan antara kebenaran dan kebathilan.

      “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

      (al-Baqarah (2) : 42 )

      Ketika kebenaran menjadi samar—hingga terjadi percampuradukan dengan kebathilan, maka orang yang terpedaya oleh setan tidak akan memiliki pegangan kuat. Oleh karenanya, dia mudah untuk ditakut-takuti, sehingga timbul ketakutan yang sifatnya syar’i kepada selain Allah. Efeknya adalah hilang keberanian untuk mengungkapkan kebenaran dan lebih memilih untuk menyembunyikannya. Adapun korban dari program setan yang berupa penyesatan dan menakut-nakuti adalah pribadi-pribadi yang tidak memilki prinsip. Sifat yang paling menonjol adalah pengecut, stagnan (jumud), serta penakut. Apabila pribadi-pribadi tersebut bersatu, maka terbentuk sebuah komunitas yang kita sebut partai setan (hizbusysyaithan), yang berkarakter setan dalam segala halnya, baik pemikiran, kejiwaan, penampilan, gagasan, keilmuan, maupun metode hidupnya. Semuanya bersumber dari konstitusi setan.

      III. SOLUSI

      Allah SWT. menciptakan manusia dilengkapi dengan dua macam nafsu. Pertama, nafsu tinggi, ia menyadarkan manusia akan kehidupan yang tinggi atau kehidupan rohani. Kedua, nafsu rendah, ia berhubungan dengan kehidupan jasmani. Berhubungan dengan dua nafsu itu lah,  Allah SWT. menciptakan dua makhluk, malaikat dan setan. Nafsu rendah sangat penting bagi manusia. Akan tetapi, selama nafsu rendah itu tidak terkendalikan dan dibiarkan berbuat semau-maunya, nafsu itu akan menjadi rintangan bagi manusia untuk mencapai tingkat kehidupan yang tinggi. Manusia harus mampu mengekang nafsu rendah ini. Dalam pengertian ini lah, kisah Nabi Adam as, dituangkan dalam Al-Qur`an. Mula-mula iblis menolak untuk bersujud, dan akhirnya ia mencoba segala macam jalan untuk menyesatkan Adam untuk membangkitkan nafsu rendahnya. :

      yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan : “Saya benar- benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)  dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan  membangkitkan angan-angan kosong pada mereka….” (an-Nisaa’ (4) : 118-119)

      Namun, setan dapat dikalahkan dengan bantuan wahyu Allah SWT. Barangsiapa yang mengikuti wahyu ilahi, maka ia tidak akan merasa  takut terhadap  godaan setan.

      “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Kami berfirman: “Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah (2): 37-38)

      IV.  PENUTUP

      Dengan kembali kepada wahyu ilahi, dengan perngertiannya yang luas, kita memahami bahwa kebenaran yang mutlak datang dari Allah semata. Kita mentaatinya dengan melakukan segala perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, selalu meminta perlindungan-Nya, dan tidak ada yang kita takuti, kecuali dzat Allah SWT.


      [1]. Imam Ahmad. Musnad. Juz 3, hlm.483

      [2] . Ibid, Juz 5 hlm. 178

      [3] . Shahih Muslim. Juz 2, hlm. 632 No Hadist  2815

      [4] . Al-Bukhari. Bi Hasyiyatis Sindi. Juz 1, hlm. 523. No Hadist 2038

      I. Iblis, Setan, dan Pasukannya

      Iblis adalah satu makhluk dari bangsa jin yang diciptakan oleh Allah dari api yang sangat panas. Penciptaannya lebih dahulu dari manusia (Adam). Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur`an.

      “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (al-Hjir (15) : 27)

      “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi (18) : 50)

      Awalnya, ia hidup bersama-sama dengan satu komunitas malaikat. Namun akhirnya ia terusir, disebabkan kesombongannya untuk menaati perintah Allah agar sujud kepada Nabi Adam. Ia merasa lebih baik dan lebih senior sehingga tidak laik bagi dirinya untuk tunduk kepada perintah tersebut. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala.

      “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam”, maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Menjawab iblis, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’” (al-A’raaf (7) : 11-12)

      Saat iblis diusir dari surga, ia mendapat jaminan usia hidup sampai hari kiamat dan kebebasan menggoda untuk menyesatkan Adam dan keturunannya.

      “Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’ Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (al-A’raaf (7) : 13-17)

      Adam dan istrinya adalah dua orang pertama yang berhasil digoda oleh Iblis yang menyebabkan keduanya harus keluar dari surga dan turun ke bumi.

      “Dan Kami berfirman, ‘Hai Adam, diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.’ Lalu keduanya digelincirkan oleh seitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.’” (al-Baqarah (2) : 35-36)

      Sejak saat itu dimulailah pertarungan abadi antara umat manusia melawan iblis dan balatentaranya. Hal ini dijelaskan oleh Al-Qur`an.

      “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf (7) : 27)

      Selama pertarungan itu, selain berusaha untuk menyesatkan manusia, iblis juga melakukan rekruitmen dari bangsanya sendiri (jin) dan manusia. Mereka yang berhasil direkrut itu disebut setan. Jadi, dalam hal ini setan bukanlah sejenis makhluk, melainkan sifat-sifat buruk yang tidak ada kebaikannya sama sekali pada bangsa jin dan manusia yang menjadi anak buah iblis atau paling tidak dipengaruhinya (al-An’aam: 112 dan al-Anfaal: 48). Kelompok ini di dalam Al-Qur`an disebut hizbusy-syaithan yang berarti “Partai Setan” (al-Mujaadilah: 19). Lawannya adalah hizbullah atau “Partai Allah” (al-Mujaadilah: 22 dan al-Maa`idah: 56).

      Kelompok setan berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelewengkan anak manusia yang beriman agar berpaling dari ajaran Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sabrah bin Fakih, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda,

      “Sesungguhnya setan itu duduk untuk menghadang manusia di beberapa jalan. Ia duduk di jalan keislaman. Ia berkata kepada orang yang hendak memeluk agama Islam, ‘Apakah engkau akan masuk agama Islam? Apakah engkau akan meninggalkan agamamu sendiri dan agama nenek moyangmu?’ Orang itu tidak mempedulikannya lalu terus saja memeluk Islam. Lalu ia duduk di jalan hijrah. Ia berkata di jalan hijrah, ‘Apakah engkau hendak berhijrah? Apakah engkau akan meninggalkan bumi dan langitmu?’ Orang itu tidak memperhatikan seruannya dan terus saja berhijrah. Ia duduk di jalan jihad. Ia berkata kepada orang yang hendak berjihad, ‘Apakah engkau hendak berjihad?’ Padah jihad itu adalah kebinasaan harta dan jiwa. Apakah engkau hendak berperang lalu engkau dibunuh, istrimu lalu kawin lagi dan hartamu dibagi-bagi?’ Orang itu tidak mempedulikannya dan terus saja berjihad. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda, ‘Maka, barangsiapa yang melakukan demikian (yakni tidak mengikuti ajakan setan) kemudian meninggal dunia, maka haknyalah bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.’” [1]

      Adapun beberapa hal yang harus kita ketahui mengenai setan dan iblis adalah sebagai berikut.

      1. Setan identik dengan iblis

      Setan identik dengan iblis. Namun, dengan menyandang nama setan, ia bukan hanya membangkang atas perintah Allah SWT, tetapi sebagaimana iblis, ia juga sebagai penggoda manusia. Kegiatan setan menggoda itu adalah tugas iblis, setelah manusia diciptakan. Hal ini tercantum dalam firman Allah.

      “Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Berkata Iblis: “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk” Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan. Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” (al Hjir (15) : 32-40)

      2. Diantara jin dan manusia, ada yang menjadi setan.

      “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (an-Naas (114) : 1-6)

      Menurut keterangan ahli hadits dari kalangan tabi’in, antara lain Abu Qatadah ( 61-118 H) dan Hasan al Bashri (21-110 H), di antara jin dan manusia ada yang menjadi setan. Pendapat ini diperkuat oleh dialog Abu Dar dengan Nabi Muhammad saw.

      Rasulullah saw. bertanya, “Wahai, Abu Dar, apakah kamu telah memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan setan yang berasal dari jin dan manusia?” Abu Dar bertanya, ” Ya Rasulullah, adakah setan-setan berasal dari manusia ?” Nabi saw. bersabda, “Ya, benar-benar ada.” (HR Ahmad bin Hambal) [2]

      3. Dalam diri setiap manusia ada setan yang berjalan sesuai dengan aliran darah.

      Diriwayatkan dari Aisyah r.a., istri Rasulullah, ia berkata, ”Pada suatu malam Rasulullah keluar dari rumahku dan aku cemburu kepadanya. Maka, aku pun mengikutinya. Rasulullah mengetahui apa yang aku perbuat, hingga ia bersabda, ‘Apa yang terjadi denganmu, apakah engkau cemburu.?’ Maka, aku menjawab, ’Bagaimana orang seperti aku tidak cemburu kepada orang seperti engkau, ya Rasulullah?’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Atau telah datang kepadamu setanmu?’ Maka, Aku berkata, ’Ya Rasulullah, apakah bersamaku ada setan?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ Aku berkata lagi, ‘Dan apakah bersama setiap manusia ada setan?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya.’ Aku pun brertanya lagi kepadanya, ‘Apakah beramamu jua ada setan?’ Dia menjawab, ‘Ya. Akan tetapi, Allah menolongku untuk mengalahkannya hingga setan itu menyerah.’” (HR. Muslim) [3]

      Setan yang ada bersama manusia itu bejalan sesuai dengan aliran darah dalam tubuh. Diriwayatkan dari Shafiyah, istri Rasulullah saw., ia berkata, ”Pernah Rasulullah beri’tikaf, dan aku pun datang mengunjunginya di malam hari. Maka, aku berbincang bersamanya, kemudian aku bangkit untuk pulang, dan beliau pun mengikutiku bangkit untuk menemaniku pulang. Konon, rumah Shafiyah itu berada di perkampungan Usamah bin Zaid. Saat itu, lewatlah dua orang dari Kaum Anshor. Ketika mereka melihat Rasulullah, keduanya bergegas, maka Nabi pun berkata, ‘Kalian jangan terburu-buru, sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyay. Maka, keduanya berkata, ‘Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!’ Rasulullah lalu bersabda, ‘Sesungguhnya setan berjalan pada manusia dalam aliran darah, dan Aku khawatir setan itu telah meletakan kejahatan pada hati kalian.’” (HR. Bukhari dan Muslim) [4]

      I. LANGKAH-LANGKAH SETAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA

      Dalam operasinya menjerumuskan manusia pada jurang kesesatan dan kejahatan, setan mengunakan strategi dan langkah yang sesuai dengan obyek yang akan disesatkannya. Apabila level manusia dari sisi keimanannya lemah, maka strateginya berbeda dengan orang-orang yang memiliki keimanan dan keyakinan yang tinggi kepada Allah. Untuk orang yang memiliki keimanan dan keyakinan yang tinggi, setan akan mengunakan metode yang jitu, dan apabila yang dihadapi setan adalah orang level tinggi dari orang yang beriman, maka dia akan mengerahkan segala kemampuan dan segala sarananya untuk bisa menggoda dan menyesatkan sehingga berhasil mengalahkannya. Adapun dalil yang menjelaskan bahwa setan memilki strategi dalam menyesatkan anak cucu Adam adalah firman Allah.

      “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah (2) : 208)

      Adapun langkah-langkah setan dalam menyesatkan manusia adalah sebagai berikut.

      1. Menimbulkan rasa was-was.

      Was-was adalah sebuah strategi yang dihembuskan setan pada hati manusia, sehingga apabila sifat was-was ini menguasai hati sesorang, maka akan lahir rasa ragu-ragu atas setiap perbuatan, perkataan, keyakinan. Akhirnya, rasa was-was itu akan merasuk pada tingkat keimanan kepada Allah, serta segala sesuatu yang berkaitan erat dengan keimanan kepada Allah tersebut. Apabila was-was sudah sampai pada tingkat tersebut, maka orang yang terjangkitnya mudah untuk tergelincir pada kekufuran, pembangkangan, dan akhirnya jadi pengikut setan. Strategi was-was ini Allah jelaskan dalam ayat-Nya.

      Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (al-Naas (114) : 1-6)

      1. Menghilangkan ingatan (lupa).

      Setan berusaha menjauhkan manusia dari Allah SWT dari semua aktifitasnya. Salah satu cara yang paling ampuh yang dilakukan setan adalah menghilangkan keterkaitan manusia dengan Allah dalam semua keadaan dan situasi. Dengan demikian, rasa kebersamaan dengan Allah dan rasa dipantau oleh-Nya lenyap dari kehidupan manusia. Karenanya, manusia yang lupa Allah akan mudah melakukan pelanggaran, kejahatan,dan kemaksiatan. Hal itu dikarenakan nama Allah dan keagungan-Nya hilang dari dirinya. Hal itu merupakan ulah setan dengan cara membuat manusia lupa.

      “Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua, “Beritahukanlah keadaanku kepada tuanmu.” Maka, syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.” (Yusuf (12) : 42)

      Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

      “Muridnya menjawab, “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya, kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.” (al-Kahfi (18) : 63)

      1. Memanjangkan angan-angan.

      Kehidupan dunia ini sangatlah pendek dan singkat. Maka, kerugian lah bagi orang yang memperpanjang hidup ini dengan angan-angan. Karena, dengan panjang angan-angan, seseorang akan terbuai dengan indahnya kata seandainya. Sementara, dirinya lupa bahwa ajal selalu mengintainya. Karenanya, sementara dirinya dalam keadaan lalai dan santai, ia tidak akan bersegera mempersiapkan untuk menghadapi kehidupan yang lebih menentukan dan abadi, yaitu kehidupan ukhrawi. Setan sangatlah cerdik dan licik, ia selalu mencari kelemahan manusia, dan diantaranya adalah suka menikmati indahnya angan-angan. Dari titik itu lah, setan memyesatkan manusia.

      “Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar- benar memotongnya , dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya “.Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’ (4) : 119)

      Dalam ayat yang lain, Allah menjelaskan,

      “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad (47) : 25)

      1. Memperindah perbuatan maksiat.

      Tabiat manusia adalah sangat mencintai kehidupan dunia. Wanita, anak, binatang ternak, emas perak, dan sebagainya adalah hal-hal yang sangat mereka cintai. Akan tetapi, bagi Allah, kehidupan dunia yang kelihatan gemerlap ini—yang membuat terperangah bagi siapa yang terpedaya olehnya, tidak memiliki nilai apabila dibandingkan dengan kehidupan surgawi yang ada di sisi-Nya di hari akhirat nanti. Namun, setan tidak rela apabila manusia meninggalkan kehidupan dunia dan berbondong-bondong menuju kebahagiaan yang hakiki yang ada di sisi Allah kelak. Oleh karenanya, setan berusaha memperdaya manusia dengan cara menampilkan wajah dunia yang mereka cintai seolah-olah dunia ini akhir segala-galanya, tidak ada sesuatu yang lain yang seindah kehidupan dunia yang ada, dan kegemerlapan dunia hanyalah satu-satunya tujuan hidup. Sementara itu, mereka melupakan sebuah kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupan ada. Itulah cara setan untuk menyesatkan manusia. Dalam hal ini, Allah menjelaskan dalam kitab-Nya.

      “Iblis berkata, “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al-Hijr (15) : 39)

      1. Memberikan janji-janji palsu.

      Apabila jiwa manusia sudah dirasuki setan, maka dirinya akan mudah untuk melakukan pelanggaran. Ketika dia melakukan pelanggaran tersebut, maka setan akan kembali datang untuk mendukung perbuatan tersebut dengan membawa janji-janji. Setan akan membisikan janji-janji itu kepada segenap pelaku kemaksiatan. Dia akan datang kepada penjudi dengan mengatakan teruskan perjudianmu, karena hanya dengan judi kamu bisa kaya. Setan pun akan datang kepada peminum khamr dan mengatakan minumlah sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin, karena dengan hal itu kamu akan mendapatkan ketenangan hidup. Setan juga akan datang kepada perampok, pezina, pembunuh, dan sebagainya dengan janji palsu sebagai pembenaran dan dukungan atas aksinya, sehingga mereka betul-betul menjadi pengikutnya yang setia dan menjadi temannya kelak di neraka.

      “Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Ibrahim (14) : 22)

      1. Membuat tipu daya.

      Setan adalah makhluk jahat. Dalam melakukan aksi kejahatannya, setiap penjahat selalu melakukan tipu daya yang licik untuk mengelabui mangsanya. Setan memasang ranjau-ranjau tipu dayanya agar manusia terpedaya dengannya, sehingga ia tergelincir ke dalam jebakannya. Akhirnya, ia bertekuk lutut dihadapannya dan men jadi pengikut setia setan, bahkan menjadi tentaranya. Jauh dari Allah serta melangar aturan-aturan-Nya.

      “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin- pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf (7) : 27)

      1. Menghalang-halangi manusia untuk melakukan kebajikan.

      Setan sangatlah komitmen dengan tekadnya untuk menyesatkan manusia. Seandainya dia tidak bisa menjuerumuskan manusia kejurang kenistaan dan kemaksiatan, maka dia berusaha dengan sekuat tenaga dan strategi yang canggih agar manusia tidak melakukan kebajikan samaa sekali. Setan menghalangi hamba Allah untuk shalat, berdzikir, bersedekah, berjihad, dan dari segala bentuk kebajikan yang Allah perintahkan dan anjurkan. Sekecil apa pun kebaikan itu, setan pasti akan merintangi hamba Allah melakukannya.

      “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (an-Nisaa’ (4) : 61)

      1. Menyulut api permusuhan.

      Visi setan adalah menjadikan seluruh anak cucu Adam pengikutnya. Maka, apabila hal itu tidak terealisasi secara keseluruhan, perlu ada langkah agar manusia hancur berantakan. Cara yang dilakukannya adalah mengadu domba manusia. Langkah ini diprogram sehebat mungkin, baik personil yang memprovokasi maupun programnya yang berbentuk fitnah-fitah, yang disebar diantara manusia atau program-program yang lainnya yang rentan terhadap pertikaian, seperti perjudian, program minuman keras, dan sebagainya. Langkah setan ini Allah jelaskan dalam firman-Nya.

      Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (al-Israa’ (17) : 53)

      9. Menyuruh manusia berbuat keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak ia ketahui.

      Allah SWT. selalu memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, dan untuk selalu berkata berdasarkan ilmu. Akan tetapi, setan ingin menyesatkan manusia. Maka, ia memutarbalikkan perintah Allah itu dengan menyuruh manusia berbuat keji dan mengatakan terhadap Allah apa yang ia tidak ketahui. Oleh karenanya, Allah mengingatkan hamba-Nya akan langkah setan itu dengan firman-Nya.

      “Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al-Baqarah (2) : 169)

      II. AKIBAT YANG TIMBUL DARI LANGKAH-LANGKAH SETAN

      Adapun akibat dari langkah-langkah setan yang be

      Sinergikan Kata & Amal

      Berbicara, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang mengasyikkan bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Padahal orang yang diam, belum tentutidak mengetahui permasalahan yang dibicarakan. Malah bisa jadi orang yang diam sesungguhnya lebih memahami persoalan yang diperbincangkan tersebut. Jika kita perhatikan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang mengobral pembicaraan, mulai para tokoh dan pakar, pejabat hingga rakyat kecil. Para pakar sangat pandai berkomentar mengenai suatu peristiwa, namun sedikit sekali memberikan solusi atas persoalan tersebut.

      Mereka sering berkomentar dan berdebat di televisi, namun kenyataannya tidak ada aksi yang diperbuatnya. Para pakar dan ahli sering diminta gagasan dan ide-ide terhadap suatu permasalahan masyarakat, bahkan mereka sering berdebat dan berbantah-bantahan me ngadu argumen masing-masing untuk memberikan komentar dan pendapat mereka namun hanya sedikit dari komentar mereka dibuktikan dengan perbuatan. Para pejabat juga demikian, mereka banyak mengobral berbagai macam janji kepada rakyat, mulai perbaikan sarana dan prasarana, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, peningkatan pelayanan publik, kesempatan kerja yang lebih banyak, peningkatan pendapatan dan sebagainya. Namun ternyata janji-janji itu sangat sedikit yang direalisasikan. Para pejabat nampaknya lebih senang untuk banyak bicara daripada banyak berbuat.

      Demikian pula masyarakat lapis bawah, mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di warung-warung, di pangkalan ojek, dan dimana saja, tempat mereka nongkrong sering kita jumpai mereka sedang berdebat tentang berbagai macam tema. Mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masalah-masalah politik serta ngrasani orang lain. Padahal mereka adalah orang awam yang tidak ada keterkaiatnnya dengan persoalan persoalan yang mereka debatkan.

      Sering kali kita mendengar mereka berdebat sengit tentang politik, padahal pembicaraan mereka hanyalah debat kusir belaka.

      Sistem demokrasi, dimana kebebasan untuk berpendapat dilindungi oleh undang-undang dijadikan alasan untuk mengobral komentar dan berdebat mengadu argumen bagi para ahli dan pakar, atau mengobral janji-janji bagi para pejabat atau pun mengobral ucapan dan debat kusir bagi masyarakat awam. Sehingga mereka kelihatannya lebih senang dan merasa akan dianggap hebat kalau komentarnya lebih banyak atau merasa hebat jika dia menang dalam berdebat.

      Akibatnya adalah para ahli tersebut kurang disegani oleh rakyat, para pejabat tidak memiliki kewibawaan dan masyarakat awam tidak punya harga diri, karena mereka semua terlalu banyak bicara dari pada berbuat yang konkret.

      Bisa jadi, permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa kita tercinta ini seperti maraknya KKN, suap-menyuap, penipuan, dan meningkatnya kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, serta kemusyrikan disebabkan karena banyak pemimpin bangsa ini hanya sekadar mengumbar janji tanpa dibarengi dengan perbuatan nyata, atau karena banyak para ahli dan pakar hanya bisa mengobral ide dan gagasan namun tidak membuktikannya dengan perbuatan, ataupun masyarakat awam yang bergaya seperti para pakar dan ahli, sehingga mereka senang ngrasani dan juga memang kebiasaan masyarakat suka nongkrong dan berdebat padahal bukan urusan mereka.

      Berani Berbicara Berani Berbuat
      Islam mengajarkan kepada umatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara tetapi sedikit beramal (berbuat). Karena sikap seperti ini, banyak bicara sedikit berbuat sangat dibenci oleh Allah SWT. Firman Nya, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf : 2-3).

      Ayat ini diturunkan Allah SWT. Ketika ada sekelompok orang meminta kepada Rasul SAW agar diberitahukan tentang amal perbuatan yang paling dicintai Allah SWT. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berisi tentang perintah untuk berjihad, namun kenyataannya mereka yang menawarkan diri akan melakukan amal perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau berangkat untuk jihad membela agama Allah SWT. Mereka enggan berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari jihad. Padahal mereka sendiri yang meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik. Namun tidak mau mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah SWT dan tentu hal itu adalah benar-benar suatu keburukan.

      Orang Islam dituntut agar setiap kata yang diucapkan dari bibirnya sesuai dengan perbuatannya. Tidaklah patut seorang muslim hanya pandai bicara tapi tidak mau beramal. Lebih tidak patut lagi jika seseorang hanya bisa menyuruh tapi tidak bisa memberi contoh. Banyak orang merasa bahwa lebih tinggi kedudukannya sehingga dia lebih senang menyuruh dari pada memberi contoh.

      Jika kita bercermin kepada pribadi Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan pada diri Beliau sebuah teladan yang sangat sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah maka beliaulah yang memulai pekerjaan tersebut. Rasulullah SAW selalu berbuat terlebih dahulu sebelum memerintahkan sahabat-sahabatnya, Beliau selalu memberi contoh sebelum sahabatnya melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga tidak ada suatu amal apapun yang dikerjakan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

      Pernah pada suatu ketika, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing setelah melakukan ibadah melempar jumrah di Mina. Namun para sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut. Hingga Rasulullah SAW nampak agak kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para sahabatnya. Kemudian ada salah satu Istri Rasul mengusulkan agar Beliau memberi
      contoh terlebih dahulu sebelum sahabat. Kemudian Beliau menuruti usulan tersebut, lalu Beliau mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu, para sahabat menirukan apa yang telah dicontohkan Rasul.

      Dari kejadian tersebut, maka kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata. Jangan sampai kita hanya bisa bicara tapi tidak bisa berbuat. Janganlah kita seperti sebuah pepatah yang mengatakan ’Tong kosong nyaring bunyinya’. Dimana orang yang banyak bicara, pandai berdebat dan senang ngrumpi itu biasanya tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya pandai bicara namun sedikit berbuat. Seorang muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatannya. Jika dia berani berbicara maka dia harus juga berani berbuat.

      Sedikit Bicara
      Setiap kita, hendaknya mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan saatnya harus diam. Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui persoalan apa yang akan dibicarakannya. Selain itu, yang juga lebih harus diperhatikan adalah apakah yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu itu baik dan dirasa perlu untuk menyampaikan (mengkomunikasikan), maka sampaikanlah dengan penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu yang ingin disampaikan itu suatu keburukan dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu dibicarakan dengan jelas, tepat dan apa adanya.

      Berbicara yang baik atau diam adalah suatu kebaikan yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang melakukannya. Terkait dengan hal itu Rasulullah SAW pernah menyampaikan dalam sebuah haditsnya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat), hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).

      Lidah secara fisik hanya pendek dan lunak. Bahkan sudah ditutup rapat dalam mulut dan dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun begitu, masih saja lidah ini sewaktuwaktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia bisa lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut diterbangkan ke mana-mana. Terkadang masih terus diabadikan, bahkan hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan, meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan orang-orang yang sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa dari ular yang lebih berbisa sekalipun.

      Betapa banyak orang tidak menyadari, alangkah banyak dosa yang telah dikoleksi melalui lisannya. Lebih dari itu, tak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya dalam menyusun kata-kata di atas lidahnya, karena terlalu banyak bicara akan mengakibatkan kemampuan otak menurun, membuatnya lemah, sehingga kata-katanya keluar begitu saja tanpa kontrol dari si pembicaranya. Padahal, ucapan apa pun yang kita ucapkan, baik yang diucapkannya itu baik ataupun busuk, semuanya tercatat, semuanya terekam oleh malaikat pencatat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT dalam firmanNya : “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar (82) : 10-12). “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS.Al-Jatsiyah (45) : 29).

      Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallah ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi). Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795H) mengatakan: “Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung di antara pondasi-pondasi adab.” Dia mengatakan pula tentang pengertian hadits ini: “Sesungguhnya barang siapa yang baik keislamannya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatannya terbatas dalam hal yang penting baginya.” (Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

      Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio/ akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan tuntunan syari’at Islam. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal yang haram, atau hal yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah sekalipun, sedangkan apabila tidak dibutuhkan maka termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.

      Imam Ibnu Rajab rahimahullah menambahkan pula: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :

      “Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (Qaaf: 18).

      Dahsyatnya Pengobatan Ruqyah dan Bekam

      Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

      (Ketua Yayasan ad-Dawa’ Senen, Jakarta Pusat)


      Muqoddimah

      Pengobatan dengan metode Ruqyah Syar’iyyah belum banyak dikenal oleh masyarakat luas, bahkan kaum muslimin sendiri masih merasa asing dengan kata ruqyah syar’iyyah. Padahal itu adalah pengobatan yang telah diajarkan Rasulullah dan diwariskan ke kita sebagai ummatnya. Begitu pula bekam. Namun akhir-akhir ini pengobatan metode bekam sudah mulai dikenal masyarakat, sehingga klinik-klinik bekam bisa kita jumpai di mana-mana, terutama di tengah masyarakat kota seperti jabodetabek. Kedua metode pengobatan itu sangat direkomendasikan oleh Rasulullah sebagai solusi pengobatan bagi ummatnya. baca selengkapnya

      Belajar Dari Musibah

      Hidup di dunia adalah ujian, Allah swt berfirman: “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia lebih perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al- Mulk/67:2). Maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini adakalanya terasa manis, atau sebaliknya ada yang terasa pahit. Ada kejadian-kejadiannya yang tampak indah dan menyenangkan, atau sebaliknya ada yang tampak jelek dan menakutkan. baca selengkapnya

      Ruqyah untuk Segala Penyakit

      Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

      (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)


      Banyak orang yang salah pahamakan kegunaan terapi ruqyah. Mereka mengira bahwa ruqyah hanya untuk terapi gangguan jin, penyakit non medis atau sakit jiwa. Padahal ruqyah itu adalah bagian dari do’a. Sebagaimana kita berdo’a kepada Allah, kita memohon kepada-Nya tidak hanya masalah akhirat, tapi juga masalah dunia. Selamat dari petaka dan bencana, lancar rizki, badan sehat, sukses dalam bekerja dan berkarir, lancar dalam usaha dan bisnis, serta hajat duniawi lainnya. Semua itu kita mohonkan kepada Allah melalui do’a-do’a.

      Begitu juga terapi ruqyah syar’iyah, dengan terapi tersebut kita memohon kepada Allah akan kesembuhan dari penyakit-penyakit yang kita derita, baik itu penyakit rohani atau jasmani, penyakit fisik atau non fisik, penyakit medis atau non medis, penyakit akibat ganbgguan jin (syetan) atau akibat gangguan makhluk lainnya. Karena segala macam penyakit itu terjadi karena kehendak (taqdir) Allah, dan dengan memohon kepada-Nya kita berobat dan mengharap turunnya kesembuhan, karena Dialah yang Maha Penyembuh.

      Dalam Kitab Tuhfatul Maridh (Anugerah Terindah bagi Orang yang Sakit), Syekh Abdullah bin Ali al-Ju’aitsin hafizhoholloh berkata, “Termasuk sebab datangnya kesembuhan adalah berobat dengan Ruqyah Ilahiyah dengan bacaan ayat-ayat al-Qur’an dan do’a-do’a. karena ruqyah itu punya pengaruh yang sangat kuat untuk kesembuhan orang yang sakit atau menghilangkan penyakitnya. Jika seseorang berobat dengan ruqyah syar’iyah secara benar, maka ia akan melihat pengaruh ruqyah yang dahsyat dalam kesembuhannya dari segala macam penyakit, baik itu sakit fisik, jiwa atau hati.” (Kitab Tuhfatul Maridh: 80-81).

      Ruqyah Terapi Holistik
      Allah berfirman, “Dan Kami al-Qur’an suatu yang jadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Al-Isra’: 82). Di surat lain, “Katakanlah, al-Qur’an itu adalah petunjuk dan kesembuhan bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Fushshilat: 44).

      Imam as-Syinqithi rahimahulloh berkata, “Kesembuhan yang dikandung al-Qur’an meliputi kesembuhan hati dari penyakit-penyakitnya seperti keraguan dan kemunafikan serta yang lainnya. Dan ia juga meliputi kesembuhan untuk badan apabila al-Qur’an itu dipakai untuk meruqyahnya, sebagaimana disebut dalam hadits shahih yang mengisahkan seorang shahabat Rasulullah meruqyah orang yang tersengat kalajengking dengan membaca surat al-Fatihah.” (Kitab Tafsir Adhwa-ul Bayan: 3/ 624).

      Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahulloh berkata, “Sebagaimana diketahui banyak orang, bahwa sebagian ucapan (perkataan) punya kekhususan dan bermanfaat secara nyata. Lalu bagaimana dengan ucapan Allah, Rabb semesta alam. Yang notabene keutamaannya dibanding dengan ucapan selain-Nya seperti keutamaan Allah dibanding para makhluk ciptaan-Nya. Al-Qur’an merupakan obat yang sempurna, perlindungan yang kuat, cahaya yang terang benderang, dan rahmat yang menyeluruh.

      Yang mana kalau diturunkan pada gunung, niscaya gunung itu akan runtuh karena keagungan dan kebesaran-Nya. Allah berfirman, “Dan Kami al-Qur’an suatu yang jadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…”. (QS. Al-Isra’: 82). Dan kata “Min” dalam ayat tersebut berfungsi untuk menjelaskan jenis (lil jinsi), bukan bermakna memparsialkan (lit tab’idh). Itulah pendapat yang paling valid.” (Kitab Zadul Ma’ad: 4/ 177).

      Rasulullah Berobat dengan Ruqyah
      Orang yang paling faham akan hakikat ruqyah, manfaat dan keguanaannya adalah Rasulullah. Beliau telah mencontohkan secara nyata bagaimana berobat dengan terapi ruqyah secara benar. Tidak hanya teori atau retorika, tapi dibuktikan dengan praktik dan tindakan nyata. Beliau meruqyah dirinya saat sedang sakit, beliau juga meruqyah keluarganya saat mereka sakit. Beliau juga meruqyah shahabatnya saat mereka datang kepadanya dan mengeluh sakit, sebagaimana beliau mengajarkan shahabatnya untuk melakukan terapi ruqyah mandiri. Bahkan malaikat Jibril turun dari langit hanya untuk meruqyah Rasulullah. Dan tidaklah malaikat Jibril turun, kecuali telah mendapatkan perintah dari Allah.

      Simaklah hadits-hadits shahih berikut, agar kita tidak ragu untuk menjadikan terapi ruqyah sebagai bagian dari pengobatan atau mencari kesembuhan atas penyakit yang ada. Kita berusaha berobat dengan ruqyah, dan Allahlah yang menyembuhkannya.

      Aisyah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, beliau meruqyah dirinya sendiri dengan membaca ayat-ayat perlindungan lalu meniupnya.” (HR. Ahmad, no. 24308).

      Aisyah berkata, “Rasulullah, apabila ada keluarganya yang sakit, maka ia meniupnya dengan membaca al-Mu’awwidzat (surat-surat perlindungan). Dan ketika beliau sakit saat menjelang kematiannya, maka akulah yang meruqyahnya (meniupnya) dan aku usap dengan tangan beliau sendiri, karena tangannya lebih besar berkahnya daripada tanganku. (HR. Muslim).

      Aisyah, istri Rasulullah berkata, “Apabila Rasulullah merasa sakit, Malaikat Jibril meruqyahnya dengan membaca, “Dengan nama Allah yang menciptakanmu, dan Dia menyembuhkanmu dari segala macam penyakit, dan dari kejahatan orang yang dengki saat ia dengki, dan dari kejahatan setiap orang yang bermata jahat.” (HR. Muslim).

      Utsman bin Abil ‘Ash berkata, “Rasulullah pernah datang kepadaku, dan waktu itu saya lagi sakit yang sangat parah. Maka Rasulullah bersabda, ‘Usaplah (badanmu yang terasa sakit) dengan tangan kananmu sebanyak tujuh kali, seraya membaca, ‘Aku berlindung kepada Kemuliaan Allah dan Kekuasaan serta Kerajaan-Nya dari kejahatan yang aku temui.’ Lalu aku melakukan resep itu, dan Allah menghilangkan sakit yang ada pada diriku. Dan sejak itu aku selalu memerintahkan keluargaku untuk melakukannya juga begitu juga orang-orang lainnya.” (HR. Ahmad, no. 15677. Abu Daud, no. 3393. Tirmidzi, no. 2006 dan ia menyatakannya sebagai hadits hasan shahih).

      Riwayat-riwayat shahih tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah dan para shahabatnya menggunakan terapi ruqyah syar’iyah sebagai obat penyakit fisik dan non fisik. Siapa yang beranggapan bahwa ruqyah tidak bisa dipakai untuk pengobatan penyakit medis (fisik), berarti anggapan itu menyalahi dalil yang shahih dan praktik nyata yang dilakukan oleh sang guru ruqyah syar’iyah, yaitu Rasulullah Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam.

      Rasulullah dan para shahabatnya telah membuktikan dahsyatnya terapi RUQYAH SYAR’IYYAH. Kini giliran Anda untuk membuktikannya.

      Wallohu a’lam.

      Crop circle, Jejak UFO atau JIN?

      Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

      (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)


      Muqoddimah
      Crop circle merupakan salah satu misteri yang paling menarik di zaman modern ini. Dan di Indonesia sekarang menjadi tema panas yang diangkat oleh berbagai macam media massa, dan jadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. mungkin ini adalah satu-satunya misteri yang sejalan dengan seni yang indah. baca selengkapnya

      Ramalan 2011, Virus Danger

      Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

      (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)


      Muqoddimah
      Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah. Tahun baru Masehi tiba, virus akidah menyebar di sekitar itu, melalui media massa yang ada di rumah kita. Virus ini lebih bahaya dari pada HIV AIDS. Virus HIV menyerang sitem kekebalan tubuh (imunitas) kitan sehingga kita rentan penyakit di dunia ini. Kalau kita sembuhn selesailah sudah penderitaan kita. Atau kalau kita meninggal, selesai pula kinerja ganasnya virus HIV. baca selengkapnya

      Refleksi Piala AFF dan Ramalan Gudel

      Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.
      (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)


      Sejarah Piala AFF
      Piala AFF merupakan perjalanan panjang sebuah asosiasi persebakbolaan Asean, Federasi Sepak Bola ASEAN (dalam bahasa Inggris: ASEAN Football Federation atau AFF) adalah bagian dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang terdiri dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. “ASEAN” adalah singkatan dari Association of South East Asian Nations. AFF didirikan pada tahun 1984 oleh Thailand, Filipina, Brunei, Singapura, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar. baca selengkapnya

      « Previous Entries