buka | tutup

  •    Online : 1
       Today : 7
       Total : 35041

       Your IP : 38.107.179.231
       Your OS :
       Your Browser :
  • Teman

    عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ ».

    Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Seseorang berada pada agama teman dekatnya. Maka lihatlan salah seorang di antara kalian dengan siapa ia bergaul.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad yang benar. Tirmidzi berkata, “Hadits ini Hasan Shahih.”).

    Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud di kitab Adab bab Kepada Siapa Seseorang Diperintahkan untuk Bergaul.

    Kita boleh berinteraksi dan bergaul dengan siapa saja sepanjang itu untuk urusan dunia dan pada batas kemanusiaan. Baik teman kita itu muslim maupun non muslim, pendosa maupun orang alim. Akan tetapi pergaulan sejati dan diharapkan akan kekal hingga hari Kiamat, hendaknya seseorang melihat sisi agama seseorang yang dijadikan temannya.

    Maka dalam konteks ini, pergaulan tidak semata-mata berada dalam bab sosial, akan tetapi ia bisa jauh menghujam ke dalam masalah akidah. Lebih-lebih jika seseorang yang dijadikan sebagai teman dekatnya itu, telah menjadi bagian dari hidupnya, yang menyedot simpatinya dan meminta pembelaannya dalam hal-hal prinsip. Ini sangat terkait erat dengan akidah wala’ (loyalitas/kesetiaan) dan bara’ (putus ikatan). Seharusnya akidah wala’ ini hanya boleh kita berikan kepada orang-orang beriman.

    Seseorang akan memberikan pengaruh yang besar kepada temannya, baik dalam hal-hal positif maunpun negatif. Lihatlah, betapa banyak orang yang menjadi baik lantaran temannya. Juga sebaliknya, seseorang menjadi jahat karena teman bergaulnya. Pengaruh buruk akan sangat berbahaya bagai seorang remaja yang baru mencari bentuk hidup dalam pengembaraannya di dunia ini.

    Kekhawatiran kita terhadap teman jahat bukan saja karena pengaruhnya. Akan tetapi, jangan-jangan teman kita itu menjadi ‘cermin’ dari kita. Kata orang Arab, “Burung itu akan berkerumun dengan sesama jenisnya.” Ketika kita begaul dengan orang jahat, jangan-jangan ada sisi kejahatan dalam diri kita yang tercermin dalam diri teman kita itu.

    Fiqih Hadits
    1. Memilih teman yang taat beragama dan menjauhi teman yang rusak agamanya.

    2. Wala’ kita berikan kepada orang-orang beriman.

    3. Seseorang menjadi cermin bari teman karibnya.

    والله أعلم بالصواب

    Tangisan Abu Bakar As-Shidiq RA

    Zaid bin Arqam ra. bercerita, “Aku pernah berada bersama Abu Bakar As-Shidiq ra. lalu ia minta minum. Kepadanya diantar air dan madu. Ketika ia mendekatkan minuman itu ke mulutnya, ia manangis. Ia terus menangis hingga para sahabatnya pun menangis. Sampai ketika para sahabatnya berhenti menangis ia tidak berhenti. Ia terus menangis hingga para sahabat mengira mereka tidak bisa bertanya kepadanya (karena tidak berhenti menangis). Ketika ia mengusap matanya mereka pun bertanya, ‘Wahai Khalifah Allah, apa yang membuatmu menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku pernah berada bersama Rasulullah saw. lalu aku melihatnya menahan sesuatu dari dirinya. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuatmu menahan sesuatu dari dirimu?’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah dunia yang datang kepadaku lalu aku katakan kepadanya, ‘Enyahlah kamu dariku.’ Dunia itu kemudian kembali dan berkata, ‘Kalau kamu bisa berlepas diri dariku, sesungguhnya orang-orang sepeninggalmu tidak bisa lepas dariku.”

    Usaha, Do’a & Taqdir

    Tidak ada makhluk melata di mukabumi ini kecuali jatah penghidupannya telah dijamin Allah (QS 11:6). Terlebih lagi manusia dengan kapasitasnya sebagai pemakmur bumi dan makhluk paling mulia. Yang demikian itu agar kehidupan ini senantiasa berjalan seperti yang dikehendaki Sang Pencipta. Meski demikian, jatah rezki itu tidak serta-serta mendatangi makhluk tersebut tanpa ada upaya untuk meraihnya. Maka berupaya untuk mendapatkan jatah penghidupannya menjadi suatu keniscayaan. Perlu ada upaya dan sebab meraih bagian itu. Jika ingin ikan, perlu menebar jala atau memasang kail.

    Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari sejumlah ibadah yang dipersembahkan kepada Allah. Seberapa hitam tanda di keningnya karena lama dan seringnya bersujud. Dan seberapa lama ia berdiam di pojok masjid dengan tasbih yang dimainkan oleh jemarinya dan mulut yang tak henti-henti menggumamkan kalimatkalimat pujian kepada Sang Pencipta. Seseorang berupaya mendapatkan jatah rezki itu termasuk perbuatan mulia. Semakin berat seseorang berupaya, semakin mulia dia dan semakin disukai Allah. Yang paling penting dalam hal ini adalah proses mendapatkannya.

    Sebaliknya, bermalas-malasan dalam mengotimalkan potensi demi mendapatkan karunia Allah tersebut adalah perbuatan hina dan tidak disukai Allah.

    Kemuliaan Berusaha

    Al-Qur’an dan hadits Nabi banyak menyampaikan anjuran bahkan pujian bagi orang yang berusaha mendapatkan rezki.

    “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jum’ah: 10).

    “Inilah konsep tawazun (keseimbangan) yang ditegaskan oleh manhaj (system) Islam. Tawazun di antara tuntutan hidup di muka bumi ini. Di antara kerja, aktivitas, upaya, dan mencari nafkah pada suatu saat dan pada saat yang lain mengisolasi ruh dan hati dari semua kesibukan itu dalam

    kekhusyukan zikir kepada Allah…” demikian Shahibudz-Dzilal, Sayyid Quthb, mengomentari ayat tersebut. (Dzilal) Jika seseorang dapat menghidupi dirinya sendiri dan tanpa menggantungkannya kepada orang lain. Apatah lagi melalui usahanya banyak orang bergantung kepadanya. sabda Rasulullah saw.,

    Khalid bin Ma’dan meriwayatkan dari Miqdam ra. dan dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan nabi Dawud as. Makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

    Bisa jadi seseorang dianggap hina oleh kaca mata dunia karena profesinya, namun sesungguhnya menurut parameter akhirat ia sangat mulia, bahkan lebih mulia ketimbang mereka yang memiliki status social tinggi karena melimpahnya kekayaan bumi namun bukan dari perasan peluhnya sendiri. Rasulullah membandingkan kemuliaan orang yang mencari kayu bakar dengan yang hanya meminta-minta kepada manusia.

    Tentu saja jika sebuah usaha dibingkai dengan bingkai ibadah kepada Allah. “Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu berangkat (perawi: saya kira beliau mengatakan) ke gunung kemudian mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya dan memakan (dari hasilnya)

    serta menyedekahkannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta orang.” (Bukhari).

    Abu Hamid Al-Ghazi menyebutkan dalam Ihya’-nya, bahwa Rasulullah pernah duduk- duduk bersama para sahabatnya pada suatu hari. Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang berkulit kasar dan kuat.

    Pagi-pagi ia bekerja. Mereka (para sahabat) berkomentar, “Sayang sekali orang ini, kalau saja masa mudanya dan kekerasan tubuhnya itu berada di jalan Allah.” Rasulullah bersabda, “Jangan berkata seperti itu, sebab jika ia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta serta mencukupkan dirinya dari orang lain, maka ia berada di jalan Allah. Atau jika ia bekerja untuk kedua orang tua yang lemah dan keluarga yang lemah untuk membuat mereka kaya dan cukup, maka ia berada di jalan Allah.

    Namun kalau ia bekerja untuk berbangga diri dan berbanyak-banyak harta, maka ia berada di jalan syetan.”

    Namun, peran manusia dalam masalah rezki hanya sebatas berusaha dan mengoptimalkan

    potensi yang Allah berikan kepadanya.

    Menggerakkan semua kemampaun dan menjadikan pengalaman sebagai bekal untuk menghadai liku-liku di dunia usahanya. Menyusun strategi yang baik dan menutupi berbagai kekurangan yang mungkin menjadi kendala. Juga mengevaluasi kinerja yang mungkin menjadi penyebab kegagalan.

    Hasil dari usahanya tidak dapat dipastikan dengan kalkulasi manusiawinya. Itu merupakan hak prerogatif Allah yang memberikan jatah kepada masing-masing hamba. Dan selalu ada hikmah di balik setiap kuantitas jatah itu. Hal ini sangat terkait dengan kedudukan harta benda sebagai ujian. Diberikan dan ditahannya harta kepada seseorang pasti demi kebaikan hamba tersebut.

    Barangkali seseorang, karena ketidaktauhannya, mengira bahwa dirinya layak mendapatkan jatah lebih dari orang lain.

    Namun Allah yang lebih tahu tentang hamba-Nya lebih tahu pula seberapa banyak jatah yang dibutuhkan masingmasing hamba.

    Perlu digaris-bawahi di sini, bahwa persoalan jatah adalah perkara gaib dan manusia tidak dibebankan untuk mengetahui sebelum jatah itu benar-benar berada dalam genggaman tangannya. Maka manusia diberi kebebasan untuk memasang target dunia yang ingin digapainya dan diberi keleluasaan berupaya mengejar target itu, tentu saja dengan cara dan etika yang telah

    ditetapkan panduannya oleh syariah.

    Karena kegaiban hasil dari sebuah usaha itulah seorang hamba wajib berharap dan berdoa kepada Allah. Tidak layak baginya untuk menyandarkan hasil kepada jerih payahnya semata. Betapa banyak menusia menetapkan strategi untuk mencapai target yang telah ditetapkannya, namun tangan-tangan taqdir menghalanginya sehingga ia terhalang untuk mencapai target tersebut.

    Sebagai implementasi dari surat Al-Jumuah ayat 10 tadi, seorang sahabat Nabi saw., ‘Arak bin Malik ra, setiap kali usai shalat Jum’at, ia keluar dan berhenti di pintu masjid seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah menyambut seruan-Mu, shalat melaksanakan kewajiban-Mu, lalu aku menyebar sebagaimana perintah-Mu. Maka berilah rezki dari karunia-Mu karena Engkaulah sebaikbaik

    pemberi rezki.” (Ibnu Katsir).

    Doa setelah atau ketika bekerja adalah representasi seorang hamba terhadap keterbatasan dirinya sekaligus pengakuannya akan kekuasaan Rabbnya. Sebagai bentuk pengesaan Rububiyyah Allah. Bahwa Allahlah Zat yang memberi rezki. Di tanga-Nya segala kebaikan. Allah berhak memberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

    Doa dan Taqdir

    Mungkin Anda terusik oleh sebuah pertanyaan, apakah doa yang dipanjatkan seseorang ketika ia bekerja akan mengubah jatah rezkinya yang merupakan taqdir dari Allah?

    Di kitabnya, Ad-Daa’ wa Ad-Dawa’, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah menjawab, “Taqdir itu ditentukan Allah melalui beberapa sebab.

    Dan di antara sebabnya adalah doa. Allah tidak mentaqdirkan sesuatu tanpa sebab. Allah juga menentukan sebab itu. Manakala seorang hamba melakukan sebab itu, maka taqdir itu pun terjadi. Seperti halnya taqdir kenyang dan hilangnya dahaga dengan makan dan minum. Taqdir lahirnya seorang anak melalui proses perkawinan. Taqdir makan daging binatang dengan menyembalihnya terlebih dahulu. Termasuk taqdir masuk surga dengan amal perbuatan dan masuk neraka dengan amal perbuatan.

    Maka, doa merupakan sebab paling penting untuk menggapai taqdir.” Doa adalah ibadah yang disyariatkan Allah kepada hamba agar dalam berinteraksi dengan Allah, perasaan harap dan keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tertancap di dalam dirinya.

    Dan jika seseorang mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan dambaannya serta takut kehilangan dambaan tersebut, tentu hal itu akan semakin menggerakkannya untuk berbuat dan mengoptimalkan usahanya.

    Hasil yang dicapai tidak selamanya berbanding luruh dengan usaha. Dan keimanan seseorang kepada taqdir membuatnya menerima hasil dari semua usahanya, baik sesuai dengan keinginannya atau tidak.

    Keimanan kepada taqdir yang berlaku bagi dirinya setelah melakukan ikhtiar manusiawi adalah puncak keimanan. Kebaikan dan keburukan yang menimpa tidak membuatnya berpaling dari menempuh jalan positif menuju kebaikan. Memilih taqdir baik adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam.

    Suatu ketika Umar bin Khatthab mengintruksikan pasukannya yang sedang melaksanakan operasi militer agar berpindah dari tempat yang diindikasikan terkena epidemic kolera menuju tempat lain. Salah seorang pasukan berkomentar, “Apakah Anda ingin berlari dari taqdir Allah, wahai Umar?” Khalifah kedua ini menjawab, “Ya, kita berlari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah.”

    Sangat sejalan dengan apa yang dianjurkan Rasullullah saw., Imran bertanya, “Ya Rasulullah, untuk orang-orang beramal?” Beliau mnejawab, ‘Masing-masing orang akan dipermudah menuju taqdirnya.” (Muttafaq Alaihi) Ali ra. berkata, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak bersih keimanan di dalam hatinya sampai dia yakin seyakin yakinnya dan tidak ragu sedikit pun,

    bahwa apa yang menimpa dirinya bukan karena kesalahan yang dilakukannya dan kesalahan yang dilakukan tidak menyebabkannya tertimpa musibah serta meyakini semua takdir yang terjadi.”

    Dus, ketika benih telah disemai, air telah disiramkan, pupuk telah ditebar, berdoalah. Lalu apapun yang dihasilkan, terimalah dengan penuh ketulusan sebagai karunia Zat yang mengeluarkan buah dari bunganya.

    Wallahu A’lam.

    Jangan Kikir

    “Adakah penyakit yang lebih parah dari kekikiran?” demikianlah pertanyaan retoris yang pernah diajukan oleh Rasulullah saw.

    Kita sungguh tidak dapat menutup mata, berbagai fenomena kekikiran telah banyak menyeret umat manusia kepada keburukan dan permusuhan. Kita bisa saksikan, disebabkan sifat kikir segelintir orang, begitu banyak rakyat yang harus kelaparan. Ketika, sifat kikir telah membuat seseorang tega menimbun bahan-bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat hanya demi melipatgandakan keuntungan dunia yang fana, pantas saja Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang meninbun itu terlaknat.”

    Kita pun terpaksa harus mendengar bagaimana kekikiran yang ditebar sekelompok orang, juga dapat menyebabkan pertumpahan darah. Sungguhlah benar sabda Rasulullah saw, “Takutlah kamu untuk berbuat kikir, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kamu. Kekikiran telah menyeret mereka kepada penumpahan darah dan pelanggaran atas apa yang diharamkan kepada mereka.”(HR Muslim)

    Hakekat kikir
    Hasan Al-Bashri ditanya tentang hakekat kekikiran, beliau menjawab: “Yaitu ketika seseorang melihat apa yang ia infaqkan sebagai pemborosan, dan melihat apa yang ditahan ditangannya sebagai kemuliaan”.

    Menurut makna terminologis, kikir berarti menahan apa yang ada ditangan dan tidak memberikan hartanya. Sedangkan menurut makna syariah, kikir berarti bakhil atas segala kebajikan dan kema‘rufan, baik berupa harta atau selainnya, baik yang ada di tangannya maupun di tangan orang lain.

    Mari sejenak kita simak hadits berikut ini, Rasulullah pernah menceritakan, “Ada 3 orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun mengutus malaikat kepada mereka..

    Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: “ Apakah yang paling engkau dambakan?” Si belang menjawab: “Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orangorang jijik kepadaku”. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan.

    Malaikat itu bertanya lagi, “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si belang menjawab, “Unta”. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: “Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini”.

    Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: “Apakah yang paling kamu dambakan?” Si botak menjawab: “Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini”. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus.

    Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si botak menjawab: “Sapi”. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: “Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini”.

    Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya, “Apakah yang paling kamu dambakan”? Si buta menjawab, “Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat”. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.

    Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.

    Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya”.

    Si belang berkata: “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak”. Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu?”

    Si belang berkata: “Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku “. Malaikat itu berkata: “Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula”. Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi.

    Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah SWT mengembalikanmu seperti keadaan semula. Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: “ Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah SWT kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya”.

    Si buta berkata: “Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi”.

    Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 65)

    Ternyata ada kolerasi yang jelas antara kekufuran dan kekikiran. Demikian pula sebaliknya, antara kesyukuran dan kedermawanan.

    Kedermawanan adalah salah satu bentuk kesyukuran seseorang terhadap nikmat yang diberikan kepadanya, sedang kikir adalah salah satu manifestasi dari kufur terhadap nikmat Allah swt. Maka dari itu mengenal faktor-faktor yang dapat menjerumuskan kita kedalam kubangan kekikiran menjadi sangat penting agar terhindar dari sifat yang tercela ini.

    Sebab kikir adalah cinta dunia dan tidak meyakini apa yang ada di sisi Allah.

    Cinta dunia
    Dunia memang bukan untuk dicintai, karena dia fana dan menggelincirkan. Sehingga salah satu doa yang Rasulullah ajarkan kepada kita, “Agar dunia tidak menjadi cita-cita tertinggi kita”, ia hanya boleh digenggam ditangan tidak pantas menginap di hati. Seseorang yang terlalu cinta dunia mengira bahwa menahan harta yang ada ditangannya baik baginya, semua ini dilakukan diantaranya lantaran takut menjadi miskin. Sementara syetan akan terus berusaha menanamkan rasa takut menjadi miskin ke dalam benak siapapun yang sudi digodanya.

    “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” ( QS. Al-Baqarah : 268 )

    Tidak menyakini apa yang ada di sisi Allah
    Seseorang yang merasa ragu akan balasan pahala dari sisi Allah, maka akan timbul pada dirinya ke’enggan’an untuk berderma kepada orang lain yang membutuhkan. Ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah akan memberi ganti kepada hambanya atas apa yang ia infaqkan.

    Padahal, Justru dengan bershadaqah, harta seseorang akan semakin bertambah, barakahnya maupun jumlah harta itu sendiri. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Dia (Allah) akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba’: 39)

    Dampak sifat kikir
    Jauh dari Cinta Ilahi. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (Yaitu)orang-orang yang kikir dan menyuruh orang untuk berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang diberikan kepada mereka.”(An Nisa’: 36-37)

    Dibenci manusia. Adakah diantara kita yang senang kepada pribadi kikir? Simaklah ungkapan saudari perempuan Umar bin Abdul Aziz ini,”Betapa buruk sifat kikir itu. Demi Allah, andai dia adalah pakaian takkan sudi aku mengenakannya”, kikir itu buruk dimata manusia apalagi dimata para ulama’, buruk disetiap masa apalagi pada bulan ramadhan….

    Tertimpa Adzab yang pedih dan jauh dari syurga. “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka dengan adzab yang pedih.” (At Taubah:34)

    “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat… ( QS. Ali-Imran: 180 )

    Mereka yang kikir akan rugi secara psikologis karena batinnya senantiasa gelisah hidupnya tidak tentram, rugi secara social karena hubungannya dengan masyarakat sekitarnya tidak akan harmonis, bahkan menjadi lemah dan mudah terjerumus pada kemungkaran karena sifat kikir akan menghambatnya berbuat baik berkorban unruk sesama. Agar terhindar dari sifat kikir “Dan barangsiapa yang terbebas dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Al-Hasyr: 9)

    Saudaraku, Sadari dan rasakanlah nikmat hidup ini, peliharalah rasa sayang dan empati pada sesama, Segera dan jangan tunda lagi niat baik untuk berbagi, jangan sekali-kali kau sepelekan sekecil apapun upaya yang kau berikan, sungguh Allah maha melihan dan membalas segala derma, Jangan lagi takut menjadi miskin karena tiada yang jadi miskin karena memberi, dan berbagi tidak hanya dengan harta, camkan.. kikir itu hanya akan mencederai imanmu, maka perbanyaklah berdoa agar terhindar daru kekikiran dirimu…

    “Tetaplah berbagi” karena malaikat pun berdoa…

    “Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali dua Malaikat turun kepadanya, yang salah satunya berkata: Ya Allah, berilah orang yang berinfak gantinya. Dan yang lain berkata: Ya Allah, berilah orang yang kikir kerusakan.” (HR. Al Bukhari, Muslim)

    Mau Disayang Allah?

    Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh lebih sempurna. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [QS:At Tiin: 4]

    Dilengkapi dengan akal yang bisa berfikir, bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Diperindah dengan mata yang bisa melihat, lisan dan bibir untuk berbicara, telinga untuk mendengar. Mahabesar Allah yang telah menciptakan makhlukNya dengan sempurna.

    Bukankah kami Telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [QS: Al Balad: 8-10]

    Hidup sebagai ujian

    Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS: Al Mulk: 2] Bagi mereka yang sukses disediakan surge yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya terdapat kenikmatan yang sempurna, mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terbersit dalam hati.

    Bagi mereka yang gagal tempatnya adalah neraka, di dalamnya terdapat siksa yang amat pedih, api yang sangat panas, minumannya nanah yang sangat bau, dan segala macam siksa yang belum pernah terbayangkan. Allah sangat menyayangi kita dan masih memberikan kesempatan untuk memilih.

    Mensyukuri ni’mat Allah

    Bersyukur kepada Allah merupakan hal utama yang harus kita lakukan. Kesempatan hidup ini hanya sekali yang tidak boleh disia-siakan.

    Menggunakan semua anggota tubuh sesuai dengan amanah yang diembankan Allah kepada kita. Lisan banyak berdzikir, mata digunakan melihat hal-hal yang disukai Allah, telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan hati untuk tadabbur dan merenungkan keagungan ayat qauliyah [al Qur’an] dan alam semesta.

    Allah sangat menyayangi kita, panca indra kita lengkap, dan bisa digunakan untuk bersyukur kepada Allah.

    Manajemen waktu

    Aplikasi syukur nikmat haruslah dimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Pesan Allah begitu banyak untuk memanfaatkan waktu dengan optimal. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain. [QS; As Syarh: 7]

    Tugas dan amanah yang harus dikerjakan terkadang lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Menentukan skala prioritas adalah tugas setiap muslim. Supaya dapat mengerjakan hal yang wajib dan juga yang sunnah. Betapa banyak orang yang gagal karena kurang cermat dalam menggunakan kesempatan. Membuat peta hidup atau jadwal aktifitas adalah gambaran yang rapi dari kehidupan seorang muslim.

    Pelajaran ini kita dapati dari waktu-waktu yang disebutkan Allah dalam al Qur’an. Demi waktu, Demi waktu malam, Demi waktu duha, dll. Dari semua itu akan bermuara kepada optimalisasi waktu yang indah, semuanya bernilai pahala, dan tidak ada yang sia-sia.

    Karena memang karakter orang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. {Al Mu’minun: 3]

    Saat ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memenej waktu dengan baik.

    Istiqomah

    Sebentuk syukur kita kepada Allah adalah komitmen beribadah dengan kontinyu dan terus menerus. Kita berpacu dengan iblis dan pasukannnya, kita berpacu untuk mengendalikan hawa nafsu. Jangan sampai menjadi tentara iblis yang pasti menjadi penghuni neraka. Istiqomah mengaplikasikan peta hidup yang telah dirancang, disertai doa supaya diberikan kekuatan untuk istiqomah.

    Jalan panjang ujian dalam hidup harus ditempuh dengan penuh semangat. Jangan lemah dan putus asa untuk menyongsong surge Allah. Berjuang dengan giat untuk menjauhi neraka dan siksa Allah. Rasulullah Saw berpesan

    kepada kita untuk menguatkan keimanan dengan istiqomah. “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah. Kemudian beristiqomahlah”. Jalan istiqomah masih membentang di hadapan kita.

    Menggapai Ridho Allah

    Ketika Allah memilih kita dan memberikan hidayah Islam semenjak kita lahir, sungguh merupakan karunia yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang sampai meninggal tidak mendapatkan hidayah Islam. Ada juga yang tergelincir dan murtad dari jalan Islam. Maka hanya ada satu cara yang harus kita tempuh, yaitu mencari keridhoan Allah dalam kehidupan sementara ini.

    Kelompok yang diridhoi Allah adalah golongan Muttaqin. Ini beberapa karakternya yang dicatat Al Qur’an: Orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dalam setiap lingkup kehidupannya.

    Meyakini dan beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dalam kehidupan kesehariannya yang berimplikasi terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar. Membayarkan zakat sebagai kewajiban harta dan juga sosial.

    Beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al Qur’an, yaitu Taurat, Zabur dan Injil. Kita masih bisa menggapai Ridho Allah dan menjadikannya sebagai tujuan hidup

    Mengambil pelajaran dari sifat Allah

    Ruh yang menjadi inti jiwa kita berasal dari Allah SWT. Sejatinya kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa sifat Allah SWT.

    Sifat Penyayang

    Setiap kita dalam kapasitas masing-masing bisa menjadi seorang yang penyayang terhadap sesama. Dimulai dari lingkup keluarga, menyayangi orang tua, istri, anak, kakak, adik, kerabat dan saudaranya seagama. Sifat sayang ini akan melahirkan rasa cinta yang ikhlas karena Allah.

    Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana halnya ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai bukti rasa sayang, maka seorang muslim senang untuk berbagi, tidak rela melihat saudaranya kelaparan sementara dirinya kenyang. Oleh karena itu dalam hal muamalah ia lebih mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Sungguh indah apa yang digambarkan Allah tentang sifat orang-orang Anshor yang lebih mendahulukan kebutuhan orang muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri padahal sesungguhnya mereka pun membutuhkan.

    Sifat Pemaaf

    Allah Maha pemaaf terhadap kesalahan hambaNya. Kita sebagai orang yang tunduk kepada Allah hendaknya meniru sifat ini, kemudian diaplikasikan dalam keseharian ketika berinteraksi dengan sesama. Memaafkan orang lain yang mempunyai salah terhadap kita adalah akhlaq seorang muslim. Allah menggambarkan karakter orang bertakwa sebagai orang yang suka memaafkan manusia. Seperti halnya kita ingin dimaafkan oleh Allah, maka sudah seharusnya kita suka memaafkan orang lain.

    Jangan sampai kita menjadi penghalang bagi kebaikan orang lain yang ingin meminta maaf dari kita. Sebuah pelajaran berharga dapat kita ambil dari kisah seorang sahabat yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.

    Ketika diteliti ternyata tidak ada hal yang luar biasa dari ibadah ritualnya. Tetapi ternyata ada satu kebiasaan baik yang ia lakukan yaitu memaafkan orang lain sebelum ia tidur. Masih ada kesempatan untuk menjadi penyayang dan pemaaf

    Supaya Allah tetap menyayangikita

    Ada beberapa perbuatan yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang senantiasa disayangi Allah:

    Rajin Berdo’a

    Allah menyukai orang-orang yang suka berdoa kepadaNya. Orang yang menumpahkan keluh kesahnya kepada Allah. Memohonkan solusi untuk persoalan hidupnya. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. {QS: Al Baqarah: 186]

    Doa yang disertai dengan ketaatan kepada perintah Allah dan dilandasi dengan keimanan yang sempurna akan menghasilkan doa yang terkabul. Dan bukan doa yang hanya sekadar permohonan lisan sementara hatinya lalai.

    Rajin menebar kebaikan

    Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kebaikan yang mencakup perbuatan lisan, tutur kata yang baik, tidak menyakiti orang lain, saling memberikan taushiyah dalam kesabaran dan kebenaran. Perkataan yang meneduhkan dan tidak memancing amarah orang lain. Berlandaskan kepada sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” [HR. Muslim]

    Juga pergaulan yang baik dengan sesama. Menghormati dan menghargai orang lain, memuliakan tamu, tetangga dan saudara-saudaranya. Menjaga sifat toleransi dalam bermasyarakat. Menjauhi sikap egois dan sombong yang membawa kepada kondisi yang tidak harmonis dalam pergaulan hidup.

    Selagi usia masih di kandung badan, selalu ada kesempatan untuk berdoa dan berbuat baik.

    Berhias diri dengan sifat sabar

    Saat kita yakin bahwa keimanan akan mengalami ujian, maka bekal yang kita siapkan adalah sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Kesabaran yang berlipat ganda.

    Kesabaran yang ujungnya adalah kesuksesan. Ujian dunia seperti rasa cemas, takut, kekurangan harta benda dan kematian adalah hal biasa yang pasti dilalui. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orangorang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[QS; Al Baqarah: 155-156].

    Kesenangan yang kita peroleh atau penderitaan yang kita terima termasuk ujian. Jangan sampai melalaikan kita dari jalan Allah. Harta yang banyak dan anak-anak juga jangan sampai melalaikan kita dari mengingat Allah.

    Kita dituntut bersabar dalam beribadah kepada Allah, dalam menjauhi larangan Allah dan dalam menerima sesuatu yang kurang sesuai dengan selera kita. Sungguh, di sisi Allah ada pahala yang besar bagi mereka yang bersabar.

    Ya Allah, Rahmati kami, sayangi kami dan

    berkahi hidup kami. Amin

    Sinergikan Kata & Amal

    Berbicara, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang mengasyikkan bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Padahal orang yang diam, belum tentutidak mengetahui permasalahan yang dibicarakan. Malah bisa jadi orang yang diam sesungguhnya lebih memahami persoalan yang diperbincangkan tersebut. Jika kita perhatikan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang mengobral pembicaraan, mulai para tokoh dan pakar, pejabat hingga rakyat kecil. Para pakar sangat pandai berkomentar mengenai suatu peristiwa, namun sedikit sekali memberikan solusi atas persoalan tersebut.

    Mereka sering berkomentar dan berdebat di televisi, namun kenyataannya tidak ada aksi yang diperbuatnya. Para pakar dan ahli sering diminta gagasan dan ide-ide terhadap suatu permasalahan masyarakat, bahkan mereka sering berdebat dan berbantah-bantahan me ngadu argumen masing-masing untuk memberikan komentar dan pendapat mereka namun hanya sedikit dari komentar mereka dibuktikan dengan perbuatan. Para pejabat juga demikian, mereka banyak mengobral berbagai macam janji kepada rakyat, mulai perbaikan sarana dan prasarana, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, peningkatan pelayanan publik, kesempatan kerja yang lebih banyak, peningkatan pendapatan dan sebagainya. Namun ternyata janji-janji itu sangat sedikit yang direalisasikan. Para pejabat nampaknya lebih senang untuk banyak bicara daripada banyak berbuat.

    Demikian pula masyarakat lapis bawah, mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di warung-warung, di pangkalan ojek, dan dimana saja, tempat mereka nongkrong sering kita jumpai mereka sedang berdebat tentang berbagai macam tema. Mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masalah-masalah politik serta ngrasani orang lain. Padahal mereka adalah orang awam yang tidak ada keterkaiatnnya dengan persoalan persoalan yang mereka debatkan.

    Sering kali kita mendengar mereka berdebat sengit tentang politik, padahal pembicaraan mereka hanyalah debat kusir belaka.

    Sistem demokrasi, dimana kebebasan untuk berpendapat dilindungi oleh undang-undang dijadikan alasan untuk mengobral komentar dan berdebat mengadu argumen bagi para ahli dan pakar, atau mengobral janji-janji bagi para pejabat atau pun mengobral ucapan dan debat kusir bagi masyarakat awam. Sehingga mereka kelihatannya lebih senang dan merasa akan dianggap hebat kalau komentarnya lebih banyak atau merasa hebat jika dia menang dalam berdebat.

    Akibatnya adalah para ahli tersebut kurang disegani oleh rakyat, para pejabat tidak memiliki kewibawaan dan masyarakat awam tidak punya harga diri, karena mereka semua terlalu banyak bicara dari pada berbuat yang konkret.

    Bisa jadi, permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa kita tercinta ini seperti maraknya KKN, suap-menyuap, penipuan, dan meningkatnya kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, serta kemusyrikan disebabkan karena banyak pemimpin bangsa ini hanya sekadar mengumbar janji tanpa dibarengi dengan perbuatan nyata, atau karena banyak para ahli dan pakar hanya bisa mengobral ide dan gagasan namun tidak membuktikannya dengan perbuatan, ataupun masyarakat awam yang bergaya seperti para pakar dan ahli, sehingga mereka senang ngrasani dan juga memang kebiasaan masyarakat suka nongkrong dan berdebat padahal bukan urusan mereka.

    Berani Berbicara Berani Berbuat
    Islam mengajarkan kepada umatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara tetapi sedikit beramal (berbuat). Karena sikap seperti ini, banyak bicara sedikit berbuat sangat dibenci oleh Allah SWT. Firman Nya, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf : 2-3).

    Ayat ini diturunkan Allah SWT. Ketika ada sekelompok orang meminta kepada Rasul SAW agar diberitahukan tentang amal perbuatan yang paling dicintai Allah SWT. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berisi tentang perintah untuk berjihad, namun kenyataannya mereka yang menawarkan diri akan melakukan amal perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau berangkat untuk jihad membela agama Allah SWT. Mereka enggan berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari jihad. Padahal mereka sendiri yang meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik. Namun tidak mau mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah SWT dan tentu hal itu adalah benar-benar suatu keburukan.

    Orang Islam dituntut agar setiap kata yang diucapkan dari bibirnya sesuai dengan perbuatannya. Tidaklah patut seorang muslim hanya pandai bicara tapi tidak mau beramal. Lebih tidak patut lagi jika seseorang hanya bisa menyuruh tapi tidak bisa memberi contoh. Banyak orang merasa bahwa lebih tinggi kedudukannya sehingga dia lebih senang menyuruh dari pada memberi contoh.

    Jika kita bercermin kepada pribadi Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan pada diri Beliau sebuah teladan yang sangat sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah maka beliaulah yang memulai pekerjaan tersebut. Rasulullah SAW selalu berbuat terlebih dahulu sebelum memerintahkan sahabat-sahabatnya, Beliau selalu memberi contoh sebelum sahabatnya melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga tidak ada suatu amal apapun yang dikerjakan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

    Pernah pada suatu ketika, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing setelah melakukan ibadah melempar jumrah di Mina. Namun para sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut. Hingga Rasulullah SAW nampak agak kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para sahabatnya. Kemudian ada salah satu Istri Rasul mengusulkan agar Beliau memberi
    contoh terlebih dahulu sebelum sahabat. Kemudian Beliau menuruti usulan tersebut, lalu Beliau mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu, para sahabat menirukan apa yang telah dicontohkan Rasul.

    Dari kejadian tersebut, maka kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata. Jangan sampai kita hanya bisa bicara tapi tidak bisa berbuat. Janganlah kita seperti sebuah pepatah yang mengatakan ’Tong kosong nyaring bunyinya’. Dimana orang yang banyak bicara, pandai berdebat dan senang ngrumpi itu biasanya tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya pandai bicara namun sedikit berbuat. Seorang muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatannya. Jika dia berani berbicara maka dia harus juga berani berbuat.

    Sedikit Bicara
    Setiap kita, hendaknya mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan saatnya harus diam. Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui persoalan apa yang akan dibicarakannya. Selain itu, yang juga lebih harus diperhatikan adalah apakah yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu itu baik dan dirasa perlu untuk menyampaikan (mengkomunikasikan), maka sampaikanlah dengan penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu yang ingin disampaikan itu suatu keburukan dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu dibicarakan dengan jelas, tepat dan apa adanya.

    Berbicara yang baik atau diam adalah suatu kebaikan yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang melakukannya. Terkait dengan hal itu Rasulullah SAW pernah menyampaikan dalam sebuah haditsnya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat), hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).

    Lidah secara fisik hanya pendek dan lunak. Bahkan sudah ditutup rapat dalam mulut dan dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun begitu, masih saja lidah ini sewaktuwaktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia bisa lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut diterbangkan ke mana-mana. Terkadang masih terus diabadikan, bahkan hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan, meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan orang-orang yang sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa dari ular yang lebih berbisa sekalipun.

    Betapa banyak orang tidak menyadari, alangkah banyak dosa yang telah dikoleksi melalui lisannya. Lebih dari itu, tak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya dalam menyusun kata-kata di atas lidahnya, karena terlalu banyak bicara akan mengakibatkan kemampuan otak menurun, membuatnya lemah, sehingga kata-katanya keluar begitu saja tanpa kontrol dari si pembicaranya. Padahal, ucapan apa pun yang kita ucapkan, baik yang diucapkannya itu baik ataupun busuk, semuanya tercatat, semuanya terekam oleh malaikat pencatat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT dalam firmanNya : “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar (82) : 10-12). “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS.Al-Jatsiyah (45) : 29).

    Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallah ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi). Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795H) mengatakan: “Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung di antara pondasi-pondasi adab.” Dia mengatakan pula tentang pengertian hadits ini: “Sesungguhnya barang siapa yang baik keislamannya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatannya terbatas dalam hal yang penting baginya.” (Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).

    Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio/ akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan tuntunan syari’at Islam. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal yang haram, atau hal yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah sekalipun, sedangkan apabila tidak dibutuhkan maka termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.

    Imam Ibnu Rajab rahimahullah menambahkan pula: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :

    “Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (Qaaf: 18).

    Celaka Dan Bahagia

    Muhammad bin Ad-dury berkata:

    “Iblis celaka dengan lima hal;
    tidak mengakui dosanya,
    tidak menyesalinya,
    tidak menghakimi dirinya,
    enggan bertaubat dan putus asa akan rahmat Allah.

    Sedangkan Nabi Adam as bahagia dengan lima hal;
    mengakui dosanya,
    menyesalinya,
    menghakimi dirinya,
    segera bertaubat
    dan tidak pernah putus asa akan rahmat Allah.”

    (Al-Munabbihat ‘Alaa Al-Isti’dad Li Yaumil Maa’ad, Ibnu Hajar Al-Asqalani)

    Takut dan Harap dalam Islam

    Takut dan harap adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya juga adalah fitrah manusia, yang senantiasa ada dalam diri setiap individu. Sisi yang pertama tidak akan berarti tanpa adanya sisi yang ke-duanya, demikian pula sebaliknya keduanya saling berhubungan erat.

    Islam menyeru kepada manusia agar senantiasa takut hanya kepada Allah semata, dan bukan kepada yang lainnya perhatikanlah ayat Allah. Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras untuk mengusir Rasul dan mereka yang pertama kali memulai memerangi kamu Mengapa kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang beriman. (QS. 9:13)

    Ayat tersebut menggambarkan betapa rasa takut pada Allah itu mutlak harus ada pada diri orang-orang yang mengatakan dirinya telah beriman kepada-Nya. Sebab manusia yang paling takut kepada Allah adalah manusia yang paling tahu tentang dirinya dan Tuhannya, itulah sebabnya Rasulullah mengatakan: “Demi Allah! Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kamu, dan paling takut pula kepada-Nya (HR. Bukhari)

    Seorang mukmin sejati, seharusnya memiliki ruh keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan mengerjakannya, demikian pula sebaliknya mengatakan kebatilan adalah batil lalu meninggalkannya, tanpa rasa takut kepada satu makhluk pun di dunia.

    Takut Kepada Allah
    Tidak terbayangkan seandainya ada seorang mukmin yang tidak punya rasa takutkepada Allah, betapa pun lemah imannya.
    Semakin tebal keimanan seseorang yang berbanding lurus dengan makrifatnya kepada Allah, semakin besar pula rasa khauf yang ada pada dirinya kepada Allah. Rasulullah saw menggambarkan ganjaran yang dijanjikan Allah swt kepada hamba-Nya yang senantiasa menangis karena takut kepada-Nya. “Seorang hamba yang menangis berderai air mata lantaran takut kepada Allah ta’ala, tidaklah akan masuk neraka sehingga air susu bisa kembali ke sumbernya” (HR. Turmudzi)

    Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur (di malam hari) karena berjaga-jaga di jalan Allah”(HR. Muslim).

    Takut kepada Allah tidaklah berarti kita harus mengeluarkan air mata sederas-derasnya lalu kita usap, lalu menangis, kemudian menghapusnya lagi. Akan tetapi takut kepada Allah adalah meninggalkan suatu perbuatan yang memang sudah dilarang oleh Allah dan kita takut akan azab yang ditimbulkannya.

    Abul Qosim al Hakim ra, berkata: “Barang siapa yang takut kepada sesuatu, ia akan menjauhinya, tetapi barang siapa yang takut kepada Allah maka ia akan mendekati-Nya”.

    Rasa takut kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan kita dari hawa nafsu untuk melakukan kejahatan atau kemaksiatan. Kita akan selalu mengingat bahaya hukuman yang akan ditimpakan Allah. Segala pikiran, tindakan, dan ucapan kita akan terkontrol dengan baik karena adanya khauf ini, sebagaimana pula segala daya dan upaya kita kerjakan agar selalu merasa dekat kepada Allah.

    Setiap manusia tidaklah luput dari kesalahan yang diperbuatnya, dan itu juga bisa terjadi pada orang beriman kepada Allah, bahkan sejarah mencatat di kalangan generasi sahabat ada juga yang berbuat kesalahan, seperti melakukan zina, hanya saja ia cepat menyadari kesalahannya tersebut, dan rela untuk dijatuhkan hukuman rajam kepada dirinya sebagai sanksi atas perbuatannya. Tentu saja itu dilakukannya karena keimanan sahabat tersebut yang kemudian memunculkan rasa takut pada dirinya akan azab Allah yang akan menimpanya di akhirat kelak, serta berharap akan mendapatkan ampunan Allah di akhirat nanti dengan menjalani hukumannya di dunia.

    Berharap Kepada Allah
    Harapan akan ampunan Allah yang disertai dengan usaha-usaha atau langkahlangkah untuk mencapainya inilah yang disebut sebagai roja’ atau optimis. Roja’ (optimis) sudah pasti berbeda dengan anganangan kosong. Orang yang beranganangan kosong lalu ia yang berharap akan mendapatkan sesuatu, sedang ia tidak melakukan suatu usaha untuk mencapainya. Ia ingin mendapatkan rezki tetapi berdiam diri saja, yang tentu saja mustahil untuk mendapatkannya. Maka harapan yang benar adalah, bila setiap mukmin mempunyai harapan kepada Allah dan harapannya itu membuat dirinya menjadi taat dan mencegahnya dari kemaksiatan, akan tetapi bila harapannya hanya angan-angan saja, sementara dirinya tenggelam dalam kemaksiatan maka harapannya itu sia-sia dan percuma saja. Dan orang seperti inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw, sebagai orang yang bodoh, kebalikan dari orang yang cerdas.

    Dalam sabdanya Beliau menyebutkan: “Orang yang cerdas itu, adalah orang yang membersihkan dirinya dari “kotoran”, lalu melakukan amal perbuatan kebaikan untuk mendapatkannya -hasilnya- di hari setelah kematian, sedang orang yang dungu itu, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan (bukan berharap, pen) kepada Allah -mendapatkan ampunan dan kenikmatan-. (HR. Turmudzi)

    Renungkanlah perkataan Yahya bin Muadz berikut ini sehubungan dengan kalimat di atas: “Di antara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil mengharapkan ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tetapi mengharap panen surga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat amal kebaikan”.

    Demikianlah nasib orang-orang yang suka berangan-angan kosong. Mereka bukanlah orang yang beruntung, akan tetapi mereka adalah orang yang tertipu karena kebodohannya sendiri.

    Untuk mencapai kesempurnaan sikap roja’, maka ada tiga perkara yang harus diperhatikan seperti berikut:

    Cinta
    Yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya atas segala yang lainnya, dimana ada tiga maqam yang harus dimiliki, yaitu:

    Pertama, maqam takmil (maqam penyempurnaan). Yaitu hendaklah Allah dan Rasul Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, yang berarti pula tidak hanya bermakna sekedar cinta, tapi cinta yang sebenar-benarnya cinta atau sampai pada kesempurnaan cinta.

    Kedua, maqam tafriq (maqam pembedaan), yaitu, mencintai seseorang hanya karena Allah semata, dan juga sebaliknya membenci seseorang baik berupa perkataan maupun perbuatan, semata hanya karena hal tersebut dibenci oleh Allah.

    Ketiga, maqam daf’ul al-naqidh (maqam penolakan atas lawan iman). Yaitu hendaklah membenci segala sesuatu yang berlawanan dengan iman dengan kebencian yang melebihi kebenciannya bila dilemparkan ke dalam neraka.

    Maka cinta kepada Allah sesungguhnya tidaklah akan sempurna kecuali dengan menyerahkan semua loyalitasnya hanya kepada-Nya saja, tentu saja dengan menyesuaikan dirinya dengan apa yang Allah suka dan benci, dengan kata lain bahwa ia mencintai apa yang dicintai Allah dan begitu juga ia membenci apa yang Allah benci. Sesungguhnya cintalah yang menggerakkan kehendak hatinya dan setiap kali tuntutan hatinya itu menguat, setiap itu pula ia selalu melaksanakan apa yang dicintai Allah.

    Takut harapannya hilang
    Setiap orang yang mengharap adalah juga orang yang takut pada saat yang sama. Bahwa orang yang mengharap mendapatkan ridha dan ampunan-Nya, maka pada saat itu pula ia akan senantiasa merasa takut melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh Allah swt. Untuk membina rasa takut kepada Allah, ada tiga hal yang patut dicermati:

    Pertama, mengetahui dosa-dosa dan keburukannya serta akibat dari perbuatan dosa tersebut.

    Kedua, meyakini kebenaran akan ancaman Allah, bahwa Allah swt telah menyediakan siksaan atas setiap dosa yang dilakukan manusia.

    Ketiga, memahami bahwa boleh jadi ia tidak akan pernah bisa melakukan taubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

    Kuat dan lemahnya rasa takut kepada Allah dalam diri seorang hamba, bergantung pada kuat atau lemahnya ketiga hal itu dalam dirinya. Dengan rasa takut akan memaksa seorang hamba untuk berlari kembali kepada Allah. Merasakan ketenteraman di haribaan-Nya. Itulah rasa takut yang disertai dengan kelezatan iman di hatinya. Juga ketenangan hati, ketenteraman jiwa dan cinta yang senantiasa memenuhi ruang hatinya.

    Berusaha untuk mencapainya
    Untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan seorang hamba pada Allah swt, tentulah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Di samping dengan rasa cinta dan takut ia akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan harapannya tersebut.

    Ketiga hal tersebut di atas menjadi penting karena raja’ yang tidak dibarengi dengan tiga perkara di atas, maka itu hanyalah ilusi dan hayalan. Sebab orang yang berharap adalah juga orang yang takut, seperti orang yang ingin sampai di suatu tempat
    dengan tepat waktu, tentu ia takut untuk terlambat.

    ***

    Begitulah selayaknya seorang mukmin, menjadikan rasa takut dan menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Dengan rasa takut kepada Allah, maka ia akan mampu menahan organ tubuhnya dari segala kemaksiatan. Kemudian di saat yang sama ia senantiasa berharap atas ampunan dan ridho-Nya, maka dengan begitu akan menjadikannya sebagai hamba yang akan selalu menggantungkan dan menyerahkan dirinya kepada Allah.

    Wallahu a’lam bisshawab

    Belajar Dari Musibah

    Hidup di dunia adalah ujian, Allah swt berfirman: “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia lebih perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al- Mulk/67:2). Maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini adakalanya terasa manis, atau sebaliknya ada yang terasa pahit. Ada kejadian-kejadiannya yang tampak indah dan menyenangkan, atau sebaliknya ada yang tampak jelek dan menakutkan. baca selengkapnya

    Ramalan 2011, Virus Danger

    Oleh: Ust. Hasan Bishri, Lc.

    (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)


    Muqoddimah
    Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah. Tahun baru Masehi tiba, virus akidah menyebar di sekitar itu, melalui media massa yang ada di rumah kita. Virus ini lebih bahaya dari pada HIV AIDS. Virus HIV menyerang sitem kekebalan tubuh (imunitas) kitan sehingga kita rentan penyakit di dunia ini. Kalau kita sembuhn selesailah sudah penderitaan kita. Atau kalau kita meninggal, selesai pula kinerja ganasnya virus HIV. baca selengkapnya

    « Previous Entries