buka | tutup

  •    Online : 0
       Today : 37
       Total : 14388

       Your IP : 38.107.191.95
       Your OS :
       Your Browser :
  • Bersiap Menghadapi Mati

    Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. baca selengkapnya

    Tiga Hal Yang Mengherankan

    Salman Al-Farisi Radiyallahu ’anhu berkata:

    Ada tiga hal yang membuatku heran
    sehingga membuatku tertawa;

    1. Orang yang mengangankan dunia
    padahal kematian telah memburunya,

    2. Orang yang lalai
    padahal ia tidak pernah dilupakan

    3. Orang yang tertawa sepenuh mulutnya
    sementara dia tidak mengetahui apakah dia
    membuat murka Tuhan alam semesta
    terhadapnya atau ridhanya.

    (al-Mustakhlas fii at-tazkiyah an-nafs)

    Evaluasi Seorang Mukmin

    Imam Hasan Al Bashri ra berkata:
    “Seorang mukmin bertanggung jawab atas dirinya,
    ia mengevaluasi dirinya karena Allah SWT.
    Di akhirat ia akan menerima hisab yang ringan.
    Dan hisab yang berat akan diterima oleh
    orang yang tidak mengevaluasi dirinya di dunia. ”
    (Sifatus Shafwah, Ibnu al-Jauzi)

    Antara Orang Cerdik dan Orang Lemah

    عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ

    نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَاْلعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا

    وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

    “Dari Syaddad bin Aus, Nabi SAW bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan menyiapkan diri untuk hari akhirat. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah.” [Hadis Hasan riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah]

    Hendaknya kita bercermin kepada hadis di atas, menjadi orang yang cerdik, pandai mengelola kepribadian diri dengan mengendalikan hawa nafsu untuk mendapatkan kualitas kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW mendeskripsikan bahwa setiap muslim hendaknya bijaksana, hawa nafsu yang ada pada dirinya merupakan ujian dari Allah SWT yang harus digunakan untuk kebaikan, jangan diperturutkan untuk sesuatu yang dilarang Allah SWT, jangan menjadi budak syetan yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia muslim sehingga menjadi temannya di neraka.

    Kecerdikan itu tercermin pada evaluasi yang senantiasa dilakukan seorang muslim, apakah langkah kehidupannya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah ataukah bertentangan dengan kehendakNya? Sayidina Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Evaluasilah dirimu sebelum kamu dievaluasi [di hari akhirat]”.

    Orang yang cerdik senantiasa menggunakan kesempatan dengan semua hal yang bermanfaat, tidak ada kesia-siaan yang menghiasi hari-harinya. Tidak menunda-nunda kesempatan kebaikan dengan berandai-andai seraya mengatakan, “Suatu hari nanti saya akan berbuat baik” atau “Nanti ketika usia tua saya mau bertaubat”.

    Seperti dijelaskan oleh Nabi SAW, berandaiandai adalah ciri orang yang lemah, lemah keimanannya, selalu memperturutkan hawa nafsu dengan menahan kebaikan dan melanggar larangan.

    Allah SWT menyerukan kepada kita untuk mempersiapkan hari esok, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya
    untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Hasyr: 18]

    Fiqh Hadits
    · Dorongan untuk menjadi muslim yang cerdik dan kuat
    · Hawa nafsu merupakan bentuk ujian bagi setiap muslim yang harus dikendalikan agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.
    · Anjuran untuk meninggalkan sikap malas, dan menggunakan kesempatan untuk kehidupan akhirat.
    · Kesuksesan akhirat tergantung kepada sejauh mana seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya.

    عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

    Doa Berlindung dari Fitnah

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

    وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ

    “Ya Allah, Aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka dan siksanya, dari fitnah kubur dan siksanya, dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kemiskinan”.
    [HR. Bukhari]

    Menatap Masa Depan Akhirat

    Hidup yang kita jalani saat ini mengandung tiga dimensi sekaligus ; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu sering kali menghanyutkan dengan bernostalgia dan mengenang keindahan atau kepahitan yang kita rasakan. Ia bergelayut dalam alam perasan, membuat kita tersenyum, juga bisa membuat menangis. Tapi satu hal yang pasti, masa lalu tak akan pernah kembali. baca selengkapnya

    Pelajarilah Ilmu…

    Mu’adz bin Jabal r.a.:

    “Pelajarilah ilmu…

    mempelajari ilmu karena Allah mencerminkan ketakutan,

    mencarinya adalah ibadah,

    mengkajinya adalah tasbih,

    mencarinya adalah jihad,

    mengajarkannya kepada orang lain adalah shadaqah,

    membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub.

    Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman saat sepi”

    — Minhajul Qashidin, Ibnu Quddamah, edisi Indonesia Hal.11

    Berfikirlah…

    تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ
    (رواه أبو نعيم عن ابن عباس)

    Artinya “Berfikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas). Hadits ini dihasankan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul Jami’sh Shaghir (2976) dan Silsilatu Ahadits Ash-Shahihah (1788). baca selengkapnya

    Tips Qur’ani Menghindari Musibah

    Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41). baca selengkapnya

    Surga Bagi Orang Shalih

    Adakah manusia yang tidak mencintai keindahan? Jawabannya tentu saja tidak. Bahwa siapa pun dia, muslim atau bukan, penjahat atau orang baik-baik, semuanya cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. baca selengkapnya

    « Previous Entries