<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALMANAR &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.almanar.co.id/category/buletin-almanar/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almanar.co.id</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 04:55:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersiap Menghadapi Mati</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 07:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.<span id="more-1284"></span> Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan perjuangan yang cukup berat. Bahkan Nabi menyebutkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal harganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun jika memilih yang kedua, maka kita tidak perlu repot-repot mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena bagaimanapun juga berbuat kemaksiatan lebih mudah dari pada berbuat taat. Akan tetapi kita harus sadar betul bahwa pilihan ini sama saja dengan mengantarkan diri ke neraka. Artinya, apakah kita mau masuk neraka yang di dalamnya terdapat berbagai macam<br />
siksaan yang amat pedih dan apinya sangat panas membara? jawabannya tentu tidak!.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Rahasia Kematian</strong></span><br />
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak seorangpun mampu lari darinya. Allah berfirman tentang hal ini: ”Katakanlah, sungguh kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu..” (aljumu’ah (63)</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu merupakan pelajaran yang sangat mahal. Ketika saudara-saudara kita yang ada di sekitar gunung Merapi berusaha untuk menyelamatkan diri dengan cara bereksodus mencari zona aman yang agak jauh dari gunung tersebut. Namun apa yang terjadi, saat mereka merasa aman dari bencana tersebut, ternyata Allah kirimkan musibah lain yang mengakhiri hidup mereka yaitu terjadinya gempa bumi yang berkekuatan 5,8 skala Richter.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu rahasia kematian, tidak ada seorang pun yang bisa menduga, mengasumsikan dan juga menghindar dari kematian ketika ia datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sinilah rahasia kematian, sehingga kedatangannya yang tidak pernah memberi informasi kepada kita inilah yang seharusnya kita sering mengingatnya. Ibnu Umar radiyallahu ’anhu berkata: ”Aku datang menemui Nabi saw –bersamasepuluh orang- lalu salah seorang Anshar bertanya: ”Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: ”Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya; mereka itulah orang- orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas dan Ibnu Abu Dunya secara lengkap dengan sanad jayyid).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Dahsyatnya Sakaratul Maut</strong></span><br />
Detik-detik datangnya kematian pasti akan dijalani setiap manusia. Itulah yang disebut dengan sakaratul maut. Setiap kita pasti akan mencicipinya. Kita akan mereguknya sebagaimana yang dialami oleh para penguasa dan rakyat biasa, oleh si kaya dan si miskin papa.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita simak ungkapan-ungkapan para salafus shalih tentang sakaratul maut.</p>
<p style="text-align: justify;">Amru bin Ash ra sebagai seorang yang cerdik dan ahli strategi perang ditanya oleh putranya yang bernama Abdullah: ”Wahai ayah, ceritakanlah kepadaku tentang kematian karena engkau adalah orang yang paling jujur dalam melukiskannya”. Amru bin Ash bertutur, ”Wahai putraku, demi Allah, seakan-akan gunung menimpa dadaku dan sepertinya aku bernafas dalam lubang jarum!”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Ka’ab Al-Ahbar diminta oleh Umar ibnu Khattab untuk menceritakan tentang kematian. Ka’ab berkata’ perumpamaan kematian itu tidak lain seperti seseorang dipukul dengan batang berduri dari pohon bidara. Seluruh durinya menusuk urat, lalu batang duri itu ditarik kembali sampai setiap urat tertarik bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Al-basri menasihati anak-anak dan murid-muridnya dendam mengatakan, ”Para dokter tidak ada yang berdaya menghadapi kematian”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh sakaraul maut adalah kejadian maha dahsyat, Allah telah menetapkan kematian ini bagi semua yang hidup. Allah berfirman: ”Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman: 26-27)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Yang Mengingatkan Kita Kepada Kematian</strong></span><br />
Dr.’Aidh Abdullah Al-qarni dalam bukunya ”Wa jaat sakarat al-maut bi alhaq” menutur tentang hal-hal yang mengingatkan kita kepada kematian, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ziarah kubur</strong></span><br />
Inilah yang harus sering kita lakukan. Masalahnya adalah manakala aktivitas kita yang begitu padat dan lebih berorientasi pada dunia akan melupakan kita pada orientasi akherat. Sehingga cara yang paling tepat adalah kita harus menyediakan waktu untuk melakukan ziarah kubur sebagai realisasi akan kecintaan kita terhadap sunnahnya dan sekaligus membangun antibodi keimanan pada diri kita agar tidak ja tuh pada lembah kemaksiatan yang menyebabkan hidup kita hina dina.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal dengan zuhudnya melaksanakan shalat Id dengan masyarakatnya.<br />
Ketika beliau pulang dari shalat Id melewati suatu kuburan, ia berhenti dan menangis lama. Lalu ia berkata: ”Saudara sekalian, ini adalah kuburan kakekku, kuburan bapakku, saudara-saudaraku serta tetanggaku. Tahukah kalian apa yang diperbuat kematian terhadap mereka?” Ia menangis lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian yang hadir berkata, ”Apa yang diperbuat kematian kepada mereka, wahai Amirul mukminin?”. Umar menjawab, ”Kematian itu mengatakan: Aku telah menghancurkan biji mata, melumat kedua alat penglihatan, aku telah putuskan telapak tangan dari lengan, aku telah pisahkan lengan bawah dari lengan atas, aku ceraikan lengan dari bahunya, aku telah memutuskan tumit dari betis, aku telah pisahkan betis dari lutut dan aku hancur-remukkan segalanya!. Lalu Umar kembali menangis sehingga menangislah semua manusia yang baik dan yang durhaka.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tilawah Al-Qur’an</strong></span><br />
Di antara kandungan Al-qur’an adalah ayat-ayat yang bertemakan tentang surga dan neraka serta kenikmatan dan azab. Para salafus shalih selalu berinteraksi secara maksimal dengan ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat itu menjadi energi tersendiri dalam memotifasi amal-amal Islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar ibnu Khattab seorang sahabat Rasullullah yang memiliki masa lalu kelam karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap Islam. Beliau mampu melakukan perubahan hidupnya dengan memaksimalkan berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an terutama ayat-ayat yang bertemakan azab. Beliau sempat berlinang air mata bahkan tak kuasa menahan tangisnya tatkala mendengar firman Allah: ”Sungguh azab Tuhanmu pasti terjadi” (Ath-Thur (52): 7) Di sinilah kita temukan bahwa ayat-ayat azab menjadi energi kebaikan bagi para pecinta Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">Bergaul dengan orang-orang shalih<br />
</span>Hal yang menjadikan orang-orang shalih mengingatkan kita kepada kematian adalah karena mereka orang yang memenuhi aktivitas hidupnya dengan nilai-nilai islami, jauh dari permainan dan hiburan yang melalaikan manusia dari kematian. Di sinilah orang-orang shalih akan menjadi magnet bagi kia untuk melakukan amal-amal Islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Allah memerintahkan kita untuk memfilter patner interaksi kita serta memerintahkan kita untuk belajar dari penyesalan hambanya yang salah dalam pergaulannya. Allah berfirman: ”Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku)” (Al-Furqan (25): 28</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jalan Menuju Surga</strong></span><br />
Komitmen terhadap risalah Islam itulah jalan menuju tempat yang terbaik dan terindah yaitu surga. Dengan risalah inilah kita harus isi jiwa kita. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa setiap jengkal tanah yang tidak disinari cahaya risalah, maka ia adalah tempat yang terkutuk. Dan setiap hati yang tidak mengambil petunjuk agama ini, maka ia adalah hati yang dibenci Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Muadz bin Jabal sebagai seorang yang tumbuh dalam ilmu, kekuatan, cinta dan cita-cita tinggi, ia berkata, ”Aku pernah berjalan bersama Rasulullah di tengah malam yang gelap gulita. Di saat itulah saya bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang jika aku mengerjakannya, Allah memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi menjawab, ”Sesungguhnya engkau telah menanyakan sesuatu yang sangat besar padahal ia ringan bagi orang yang diberi keringanan oleh Allah untuk mengamalkannya”. Lantas Rasulullah bersabda, ”Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu”. Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya dengan menggugah hati. ”Apakah engkau mau aku tunjukkan pokok segala perkara, tiang dan puncaknya? Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat sedang puncaknya adalah jihad fi sabilillah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menatap Masa Depan Akhirat</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 04:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Almanar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1255</guid>
		<description><![CDATA[Hidup yang kita jalani saat ini mengandung tiga dimensi sekaligus ; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu sering kali menghanyutkan dengan bernostalgia dan mengenang keindahan atau kepahitan yang kita rasakan. Ia bergelayut dalam alam perasan, membuat kita tersenyum, juga bisa membuat menangis. Tapi satu hal yang pasti, masa lalu tak akan pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup yang kita jalani saat ini mengandung tiga dimensi sekaligus ; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu sering kali menghanyutkan dengan bernostalgia dan mengenang keindahan atau kepahitan yang kita rasakan. Ia bergelayut dalam alam perasan, membuat kita tersenyum, juga bisa membuat menangis. Tapi satu hal yang pasti, masa lalu tak akan pernah kembali.<span id="more-1255"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, masa depan adalah ruang yang terbentang dan terhampar luas di hadapan kita. Di dalamnya ada kehidupan ukhrawi, kehidupan yang abadi. Rentang waktu yang memisahkan keduanya adalah proses. Proses itu adalah apa yang kita jalani hari ini, saat ini, di tempat kita berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebagian orang yang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya terbengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang sehat adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai sarana untuk mencapai sukses di akhirat. Bahkan itulah sebenarya pola yang diinginkan oleh Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sukses Dunia Sukses Akhirat</strong></span><br />
Allah SWT menghendaki keseimbangan, sukses di dunia dan juga di akhirat, hal ini tergambar dalam doa yang diajarkan Allah kepada kita ketika menceritakan tipikal manusia, “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” [Al Baqarah: 201]</p>
<p style="text-align: justify;">Indicator kesuksesan duniawi adalah ketika kita bisa menjadi hamba Allah SWT yang beriman dan beramal shalih, serta bermanfaat bagi manusia dengan saling memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. [QS. Al Ashr: 1-3] Sedangkan kesuksesan ukhrawi adalah ketika kita terbebas dari siksa Neraka dan dimasukkan ke dalam surga. “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran: Untuk mencapai kesuksesan ini hendaknya setiap kita menjadikan semua aktivitas duniawi memiliki nilai-nilai kesuksesan di akhirat. Banyak pekerjaan dan prestasi yang sepertinya duniawi semata, tetapi bila dijalankan dengan baik dan benar mulai dari niatnya hingga tata caranya akan menjadi prestasi sekaligus sukses di akhirat. Dengan demikian, sebenarnya kebutuhan kita kepada prestasi-prestasi duniawi sangat besar, dalam rangka kesuksesan akhirat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang harus kita lakukan adalah mensinergikan amalan duniawi dengan ukhrawi, artinya semua perbuatan yang kita lakukan hendaknya bernilai pahala di sisi Allah SWT. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan demikian, prestasi duniawi yang kita capai juga sekaligus cerminan kesuksesan ukhrawi. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa “Sesungguhnya makna ibadah adalah semua hal yang diridhai Allah, dari perbuatan lahir dan batin. “</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Beberapa amalan duniawi berdimensi ukhrawi</strong></span><br />
Berikut ini adalah beberapa contoh prestasi dan amal duniawi yang bisa menjadi bagian untuk mencapai prestasi akhirat dengan catatan semuanya dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah SWT:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Mencari Nafkah</strong></span><br />
Sebagian orang yang mencari nafkah dan penghidupan mungkin semata-mata hanya pekerjaan duniawi. Artinya, itu hanya soal mencari makan dan minum. Atau mencari sesuap dua suap nasi, selembar dua lembar uang, untuk dirinya, maupun keluarganya. Kita tidak boleh membatasi status pencarian penghidupan itu sebagai karya duniawi semata. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadikannya sebagai bagian dari tabungan untuk kehidupan akhirat. Dengan teori seperti itu sebenarnya kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus: sukses di dunia, dan insya Allah SWT sukses pula di akhirat. Seperti dijelaskan oleh Nabi SAW, nafkah yang kita berikan kepada anak istri adalah berpahala. Bahkan, nafkah batin yang diberikan kepada istri sekalipun adalah tabungan untuk sukses akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bersabar ketika mengalami musibah,</strong></span><br />
Musibah yang menimpa kita, seperti sakit, ditinggal mati orang-orang yang kita cintai, dan berbagai masalah hidup yang tidak enak merupakan peristiwa yang menghiasi kehidupan dunia kita. Sebagian orang secara sempit menganggapnya sebatas kejadian-kejadian alami. Tetapi kita harus menjadikan semua itu tabungan untuk kehidupan akhirat kelak. Dengan cara menyabarkan diri, memohon balasan dari Allah SWT serta menyimpannya sebagai tabungan di sisi-Nya. Pada saat yang sama kita berobat bila sakit, mencari jalan keluar bila ada kesulitan, serta berikhtiar menyelesaikan segala masalah dan musibah yang terjadi. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah kesulitan dan sakit menimpa seorang muslim, tidak juga kegalauan, kesedihan, duka dan beban, hingga duri yang mengenai kakinya, kecuali menjadi penebus sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga menegaskan, bahwa Allah SWT dalam hadits Qudsi berfirman, “Tidaklah ada balasan bagi seorang hamba-Ku bila Aku panggil orang yang dicintainya dari dunia, lalu ia bersabar dan memohon balasan (kepada-Ku) kecuali baginya adalah surga”. (HR. Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menuntut Ilmu</strong></span><br />
Salah satu karya dan prestasi duniawi yang dilakukan banyak orang adalah menuntut ilmu. Dari ilmu itu orang lantas memiliki beragam keahlian, yang dengannya ia menopang tuntutan hidupnya di dunia. Tetapi kita harus menjadikannya sebagai kesuksesan akhirat. Dengan cara bersabar menekuni ilmu yang kita tuntut hingga sampai pada taraf ahli, mengajarkan ilmu tersebut, serta memanfaatkannya untuk maslahat Islam, kaum muslimin, dan kemanusiaan pada umumnya. Tak berlebihan, bila orang-orang yang berilmu, secara teori lebih bisa takut kepada Allah SWT. Tak berlebihan pula, bila Allah SWT menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berbuat baik</strong></span><br />
Banyak pekerjaan duniawi yang terkesan kecil dan biasa. Tetapi ia sebenarnya bisa menjadi tabungan amal di akhirat. Seperti meminggirkan duri dari jalanan dll. dengan niat menabung amal di sisi Allah SWT, ia akan berubah menjadi amal shalih di sisi Allah SWT. Juga tersenyum kepada sesama saudara muslim, mengucapkan salam, mengasihi binatang. Rasulullah SAW pernah mengisahkan tentang wanita nakal yang di ampuni Allah SWT dan di masukan ke surga, setelah memberi air minum seekor anjing yang nyaris mati kelaparan. Sebaliknya, dalam riwayat lain, Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan kisah seorang wanita yang masuk neraka karena menahan seekor kucing. Kucing itu tidak ia beri makan hingga mati.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Memakmurkan bumi.<br />
</strong></span>Dalam banyak ayat Allah SWT melarang kita melakukan kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah SWT menyuruh kita memakmurkan bumi, memanfaatkan sebaik mungkin. Bumi dan segala yang ada di atasnya di peruntukan Allah SWT bagi manusia. “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS Al-Baqarah: 29). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. “ (QS Al-Mulk: 15). Karenanya, segala profesi dan prestasi yang terkait dengan memakmurkan bumi bisa bernilai tabungan amal shalih di akhirat kelak.  Melindungi hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan kali, memaksimalkan kekayaan laut, mengeluarkan tambang dari perut bumi, memperjuangkan proyek-proyek penjagaan lingkungan, melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat, juga memberdayakan potensi-potensi alam dengan teknologinya, demi maslahat kehidupan umat manusia adalah sedikit contoh dari memakmurkan bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa saja dari kita yang menekuni profesiprofesi tersebut harus bangga dan bersyukur, karena punya tempat menabung amal shalih<br />
yang besar untuk hari akhir kelak melalui profesi-profesi tersebut. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menjalaninya dengan ikhlas untuk Allah SWT dan dengan tata cara yang halal, serta mendukung profesi tersebut dengan kemampuan dan keahlian yang semestinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bermanfaat buat orang lain</strong></span><br />
Sukses akhirat juga bisa kita lakukan pada pekerjaan duniawi yang banyak bermanfaat buat orang lain. Pernahkah kita menyadari betapa berharganya pekerjaan para tukang sampah? Bukankah jerih payah mereka mengangkuti sampah menjadikan ribuan orang merasa nyaman? Demikian juga pekerjaan lain, para dokter yang dengan berani mengunjungi wilayah-wilayah konflik dan perang untuk menyelamatkan ratusan nyawa, mengobati ribuan korban luka-Iuka. Para guru yang tanpa pamrih menyebarkan ilmu. Atau mereka yang berada di tempat strategis yang berkait erat dengan maslahat orang banyak. Seperti dalam istilah Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Atau dalam bahasa al-Qur’an, beratnya timbangan amal tentu juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya amal. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. “ (QS Al-Qori ‘ah: 6- 7).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #ff0000;">Mempunyai amal unggulan</span><br />
</strong></span>Untuk menunjang kesuksesan akhirat hendaknya setiap kita mencontoh amal shalih yang dilakukan oleh salafus shalih terdahulu dengan cara istiqamah melakukannya, seperti sahabat Bilal Ra, yang senantiasa shalat sunnah setiap kali selesai berwudhu sehingga suara terompahnya terdengar di surga ketika Nabi SAW isra mi’raj. Atau Abu Dzar dan Abu Darda yang senantiasa menjaga wasiat Nabi SAW selama hidup untuk tidak meninggalkan tiga hal: dua rakaat sunnah Duha, puasa tiga hari dalam sebulan dan shalat witir sebelum tidur. Atau kita dapat melakukan perintah Rasulullah SAW untuk mendapat tiket ke surga dengan damai yaitu menebarkan salam, memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan shalat malam ketika orang lain tidur nyenyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, tinggal kita yang harus mulai meretas kembali semua amal perbuatan itu, mudah- mudahan semua yang kita lakukan selalu berdimensi ukhrawi! Semoga…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Qur&#8217;ani Menghindari Musibah</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 08:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41).
Dalam ayat ini Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41).<span id="more-1043"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat ini Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya dirasakan oleh manusia disebabkan oleh ulah dan tingkah mereka yang tidak mengindahkan jalan yang benar (aturan-aturan) Sang Khaliq yang telah memberi mandat khilafah kepada mereka di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, prioritas kesadaran yang harus dibangun oleh setiap penduduk bumi ini adalah bahwa yang memiliki hak prerogatif membuat aturan main (resep) untuk mengelola bumi ini adalah Pencipta bumi itu sendiri, Dia adalah Allah Robbul ’aalamin. Dialah yang paling tahu karakter, sifat, kondisi dan kebutuhan ciptaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling tidak ada dua dampak serius ketika pengelolaan bumi sudah tidak lagi mengindahkan aturan pakai yang telah ditetapkan oleh Penciptanya. <strong>Pertama</strong>: Kerancuan dan kekacauan yang berdampak pada kerusakan disana-sini. <strong>Kedua </strong>: Murka dan Amarah Allah sebagai Pencipta sekaligus Pemberi amanah yang telah dikhianati oleh manusia (khalifah-Nya). Dan manusialah yang paling merasakan dampak tersebut diatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aturan main yang dikehendaki oleh Allah adalah Al-Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As sunnah, satu-satunya ajaran yang diridhai oleh Allah sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia dalam mengemban amanah khilafah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Nya “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya dengan kembali dan berpegang teguh kepada Al-Islam secara utuh dan menyeluruh, segala permasalahan hidup dan kehidupan akan mendapatkan bimbingan dan solusinya. Sebaliknya berpaling dari aturan Allah (Al-Islam) hanya akan menambah kesempitan dan kesulitan dalam hidup. Allah berfirman “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha: 124).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan salah satu bentuk rahmat Al-Qur’an kepada orang-orang yang beriman adalah berupa nasihat-nasihat atau tips-tips agar terhindar dari musibah dan azab Allah. Sebagian dari tips-tips itu adalah :</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Beriman Dan Bertaqwa</strong></span><br />
Allah Azza wa Jalla berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat Kami itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada penggal pertama ayat ini jelas sekali Allah berjanji akan melimpahkan keberkahan kepada penduduk negeri yang mau beriman dan bertaqwa, tentunya iman dan taqwa yang dikehendaki oleh Allah adalah iman dan taqwa yang sungguh-sungguh, serius dan terus menerus sampai mati, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali ‘Imran: 102).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pada penggal kedua ayat di atas Allah mengancam orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (aturan-aturan)-Nya dengan siksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa menjalani dan menata kehidupan di atas dasar keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah akan mendatangkan keberkahan-keberkahan dari Allah, baik keberkahan dalam bentuk kemakmuran, keamanan dan kedamaian bagi setiap penduduk negeri. Akan tetapi jika penduduk negeri itu didominasi oleh orangorang yang tidak beriman kepada Allah dan mengabaikan, bahkan mendustai aturan-aturan-Nya, maka Allah pasti akan mendatangkan murka dan siksa-Nya baik dalam bentuk bencana, musibah atau yang lainnya. <strong>Na’uzubillaahi min dzalik</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bersyukur</strong></span><br />
Allah Taala berfirman “Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisaa`: 147).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kedua ayat di atas bisa dipahami bahwa bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesyukuran, baik itu hati, lisan ataupun perbuatan akan melahirkan dua dampak positif sekaligus, yang pertama: Nikmat akan semakin bertambah, kedua: Akan terjauh dari azab dan murka Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya ada dua pilihan bagi kita, jika kita menginginkan tambahnya nikmat dan terjauh dari azab dan murka Allah, maka kita harus bisa menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya Dan Allah berjanji akan memasukkan orang-orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Sebagaimana firman-Nya “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-A’raf:69)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya jika kita ‘menginginkan’ siksa dan murka Allah, maka tinggalkan atau abaikanlah perintah syukur, ingkarilah nikmat-nikmat Allah dan gunakanlah nikmat-nikmat itu sekehendak nafsu dan syahwat, niscaya Allah akan mengangkat nikmat-nikmat itu dan menggantinya dengan azab dan murka-Nya. Allah berfirman “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tapi penduduknya mengingkari nikmatnikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An-Nahl: 112}.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Beristighfar</strong></span><br />
Allah Azza wa Jalla berfirman “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar (meminta ampun)” (QS. Al-Anfal: 33).</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini mengisyaratkan tentang dua hal yang bisa ‘menangkal’ azab Allah Ta’ala. Pertama: keberadaan Rasulullah saw. Kedua: beristighfar atau minta ampun. Keberadaan Rasulullah saw. telah berlalu masanya. Sementara yang bisa dilakukan oleh mereka yang hidup pada masa paska kenabian, agar terjauh dari azab Allah adalah melestarikan sunnah-sunnah beliau, yang salah satunya adalah senantiasa melakukan istighfar atau bertaubat kepada Allah. Sebagaimana sabda Beliau; “Wahai manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan minta ampunlah (beristighfar) kepada-Nya, karena sesungguhnya aku sendiri biasa bertaubat (dengan membaca istighfar) dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim). Dari hadits ini jelaslah bahwa Rasulullah menjadikan istighfar sebagai wirid, amalan yang biasa dilakukan secara rutin setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Istighfar adalah salah satu jalan untuk kembali kepada Allah, dengan istighfar kita akan mendapatkan keuntungan ganda baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia Allah akan menjauhkan kita dari azab-Nya, memudahkan urusan kita dan melapangkan rizki kita. Sementara di akhirat Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan memasukkan kita dalam naungan rahmat-Nya. Allah berfirman “Hendaklah kamu meminta ampun (beristighfar) kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. An-Naml: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah akan menghilangkan darinya segala kesusahan, menghilangkan darinya segala kesempitan, dan akan mendatangkan rezki dari sumber yang tidak terduga” (HR. Abu Daud).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Berbuat Baik</span></strong><br />
Allah Taala berfirman, “Dan Tuhanmu sekalikali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat baik” (QS. Huud: 117).</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang sama sekali tidak akan membinasakan suatu negeri, sementara nilai-nilai kebaikan masih eksis dan dominan di dalam negeri tersebut. Eksisnya nilai-nilai kebaikan sangat ditentukan oleh sejauh mana usaha yang dilakukan oleh penduduk negeri dalam beramal shalih, baik dalam dimensi fisik, ruhani maupun intelektual.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika amal shalih (perbuatan baik) telah benarbenar menjadi kebiasaan dan mendominasi seluruh sisi kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan kepada kita kehidupan yang baik dan balasan pahala berlipat ganda di sisi-Nya. Sebagaimana Firman-Nya “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga sebaliknya, segala bentuk perusakan dan eksploitasi alam yang tidak mengindahkan nilai-nilai keimanan dan keislaman hanya akan mendatangkan azab dan murka dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya “Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan” (QS. An-Nahl: 88).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak Berbuat Zhalim</strong></span><br />
Allah Taala berfirman, “&#8230;Dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman” (QS. Al-Qashas: 59).</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu sebab datangnya azab dan murka Allah adalah perbuatan zhalim yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Dengan demikian ketika kita ingin terjauh dari siksa dan murka Allah, kita harus menjauhkan diri kita dari segala macam bentuk kezhaliman, baik kezhaliman terhadap Allah, diri sendiri ataupun kezhaliman terhadap orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kezhaliman yang paling berbahaya dan paling besar dosanya adalah syirik (menyekutukan) Allah dalam segala bentuknya. Dengan berbuat syirik berarti telah menyamakan kedudukan Khaliq (Pencipta) dengan makhluk-Nya, ini adalah sebuah kezhaliman yang besar dan nyata. Allah berfirman “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman (dosa) yang paling besar” (QS. Luqman: 13).</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya tingkatan kezhaliman di bawah syirik adalah maksiat dan berbagai macam dosa, baik yang kecil maupun besar. Baik yang terkait hubungan dengan Allah ataupun dengan sesama makhluk. Semua jenis kezhaliman ini akan menyeret manusia ke dalam kegelapan, siksa dan kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” (HR. Bukhori dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya satu jalan untuk menuju bahagia, bersama kita hancurkan segala macam kezhaliman dan kita tegakkan keadilan dalam seluruh sisi kehidupan. Allah berfirman “…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Maidah: 8).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.</strong> Aamiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surga Bagi Orang Shalih</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 09:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Adakah manusia yang tidak mencintai keindahan? Jawabannya tentu saja tidak. Bahwa siapa pun dia, muslim atau bukan, penjahat atau orang baik-baik, semuanya cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Sehingga bila ada seseorang yang tidak mencintai keindahan dengan berbagai keragamannya, maka sesungguhnya ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Adakah manusia yang tidak mencintai keindahan? Jawabannya tentu saja tidak. Bahwa siapa pun dia, muslim atau bukan, penjahat atau orang baik-baik, semuanya cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia.<span id="more-1024"></span> Sehingga bila ada seseorang yang tidak mencintai keindahan dengan berbagai keragamannya, maka sesungguhnya ada yang salah pada dirinya. Bahkan Allah Ta’ala itu sendiri indah dan mencintai keindahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita menikmati keindahan ciptaan Allah yang Maha Perkasa; langit dengan bintang gemintangnya, bumi dengan hamparan laut dan pemandangan alam yang menakjubkan, maka semua itu menjadi sarana bagi kita untuk lebih ber-<em>marifah </em>dan ber-<em>taqarrub </em>kepada-Nya, seraya memuji kebesaran dan keagungan-Nya, <em>“Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau tidak ciptakan ini semua dengan sia-sia.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita terpesona dengan berbagai keindahan ciptaan Allah di muka bumi, yang bahkan seorang penulis Arab, Syaikh Ali Thantawi pernah berkata tentang taman Indonesia sebagai <em>“Surga Allah di muka Bumi”</em>, maka keindahan taman surga dengan segala isinya adalah keindahan abadi yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga atau bahkan terlintas dalam hati. Saat kita membaca ayat-ayat Allah Ta’ala atau hadits-hadits Rasulullah saw. yang menggambarkan panorama keindahan surga; taman-taman indah, buah-buahan dan makanan lezat, minuman segar, sungai berair madu, susu dan arak, lalu terbayang di benak kita berbagai keindahan itu, maka yakinlah bahwa seluruh ciptaan Allah di taman syurga tidak pernah sama keindahan yang muncul dalam benak kita kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Allah Ta’ala ciptakan surga bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya lalu beramal shalih, ikhlas, bertaqwa, berjuang di atas jalan-Nya dan berbagai kriteria yang harus lekat dalam diri seorang mukmin sebagai sarana untuknya mendapatkan surga nan abadi, yang sesaat dari kenikmatannya membuat seorang mukmin lupa dengan segala derita dunia yang pernah dialaminya. Sebagaimana penghuni neraka, tatkala ia rasakan sesaat siksa dan azabnya membuat ia lupa segala kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan taman surga dan berbagai kenikmatan yang Allah sediakan di dalamnya adalah impian bagi setiap mukmin. Karena itulah, seorang dermawan dengan ikhlas menginfakkan hartanya, seorang profesional mendesain agenda kerjanya dalam bingkai ibadah, seorang <em>entrepreneur</em> senantiasa jujur dalam usahanya, seorang dai tidak pernah lelah menyeru manusia ke jalan Allah, dan dengan gagah berani seorang prajurit muslim maju ke medan perang mendamba mati syahid sebagaimana musuhnya mengharap kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Daya tarik surga bahkan menjadi kerinduan bagi Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hingga membuatnya tampil sebagai pemimpin yang adil, bijaksana dan dicintai rakyatnya. Walau Masa kekhalifahan relatif sangat singkat, namun sukses kepemimpinannya terukir dengan tinta emas dalam sejarah kejayaan Islam dan kaum Muslimin pada masa pemerintahan Bani Umayyah; dimana –saat itu- tak seorang pun rakyatnya merasa berhak menerima zakat. Kalimat<br />
rindu itu beliau ungkapkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Sungguh jiwaku memiliki jiwa perindu;<br />
Tak pernah ia raih sebuah kedudukan<br />
Melainkan ia pasti merindukan<br />
Kedudukan yang di atasnya<br />
Kini ia sampai pada kedudukan tertinggi di dunia (Khalifah)<br />
Dan tak ada yang melebihi kedudukan ini<br />
Tapi kini,<br />
Jiwaku mulai merindukan syurga</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan pada taman surga yang menggelegak dalam jiwa sang Khalifah, membentuk dirinya menjadi pemimpin yang adil, zuhud, alim, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya daripada keluarga dan dirinya sendiri. Sejarah kepemimpinannyayang melegenda itu membuat para ulama<br />
sepakat menobatkannya sebagai Khalifah Rasyidin yang kelima.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman: <em>“Sungguh orangorang beriman dan beramal shaleh untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal”</em> (QS. Al-Kahfi: 107)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jenis Surgawi dan Penikmatnya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an menyebutkan kata jannah sebanyak 120 kali atau lebih. Kata itu disebutkan untuk menggambarkan panorama keindahan surga serta orang-orang yang berhak menikmatinya. Taman-taman surga itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Firdaus</strong></span><br />
Surga terelit yang dihuni oleh para nabi dan Rasul Allah serta orang-orang yang memiliki kualifikasi amal-amal unggulan. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita agar ketika memohon surga kepada Allah Ta’ala, maka mintalah sugra Firdaus. Para penikmat tempat ini adalah mereka yang memiliki kualifikasi amal berikut ini:<br />
1. Konsisten dan khusyu’ dalam shalat<br />
2. Produktif dalam beramal shalih<br />
3. Komitmen berzakat<br />
4. Menjaga dirinya dari zina<br />
5. Amanah (QS. Al-Mu’minun: 1-11)<br />
6. Para Mujahid di jalan Allah Ta’ala</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Ma’wa:</strong></span><br />
Surga ini Allah peruntukkan bagi hambahamba-Nya yang memiliki kualifikasi amal sebagai berikut:<br />
1. Senantiasa berdzikir<br />
2. Tawadhu’<br />
3. Komitmen shalat malam<br />
4. Komitmen iman dan amal shalih<br />
5. Para dermawan (as-sajdah: 15-19)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga ‘Adn</strong></span><br />
Kualifikasi penikmat taman ini adalah orang-orang yang:<br />
1. Komitmen iman dan amal shalih<br />
2. Memiliki khasyyatullah (rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla)<br />
3. Rela terhadap ketetapan dan ketentuan Allah swt (QS. Al-Bayyinah: 7-8)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Na’im</strong></span><br />
Taman surgawi ini Allah peruntukkan untuk para kekasih Allah yang dekat dengan-Nya. (al-Waqiah: 88-89)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Dar Muqamah</strong></span><br />
Taman ini Allah izinkan untuk dinikmati oleh orang-orang yang kebaikannya lebih dominan dari pada keburukannya (QS. Fatir:32-35)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Darus Salam</strong></span><br />
Kualifikasi penikmat taman ini adalah orang-orang yang gemar berbuat baik yang dilandasi dengan keimanan yang benar. (QS. Yunus: 25-26)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Maqom Amin</strong></span><br />
Orang-orang yang Allah izinkan untuk menghuni dan menikmati taman surgawi ini adalah ahli taqwa. (QS. Ad-Dukhan: 51-52)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Nuansa Panorama Taman Surgawi</span></strong><br />
Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw. telah menginformasikan seputar keindahan alam surgawi. Namun ilustrasi yang dilukiskan oleh keduanya hanya bentuk pendekatan persepsi saja. Karena keindahan alam surgawi yang tanpa tanding dan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya tidak dapat dianalogikan dengan keindahan alam duniawi, seindah apapun itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Nuansa Taman Alam Surgawi</strong></span><br />
“<em>Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebatang pohon dan bayang -bayang pohon itu ditempuh oleh seseorang yang bepergian dengan mengendarai kendaraannya membutuhkan seratus tahun tanpa henti</em>” (H.R Imam Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cuaca Taman Surgawi</strong></span><br />
“<em>Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas papan, mereka tidak merasakan di dalamnya terik matahari dan tidak merasakan dingin yang menusuk. Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan untuk memetiknya dengan semudah-mudahnya</em>” (QS. Al-Insan: 13-14)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menu di Taman Surgawi</strong></span><br />
“<em>Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala yang di ingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya</em>” (QS. Az-Zukhruf: 71-72) “<em>Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa; di sana ada sungai yang airnya tidak payau, dan sungai air susu yang tidak berubah rasanya dan sungai khamr (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai madu yang murni</em>” (QS. Muhammad: 15)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tipikal Bidadari di Taman Surga:</strong></span><br />
“<em>Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah tersentuh oleh manusia dan jin sebelumnya</em>” (QS.Ar-Rahman: 56)<br />
<em>“Seandainya saja wanita surga menengok kepada penduduk dunia niscaya dia akan menerangi langit dan bumi dan dia akan menaburkan wangi yang memenuhi bumi. Dan belahan rambut dikepalanya lebih baik daripada dunia dan isinya”</em> (H.R Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Taman-taman surgawi yang Allah ciptakan dengan segala keindahannya tentu<br />
tidak diperuntukkan bagi ahli maksiat yang kehidupannya di dunia ia jerumuskan dalam kubangan dosa, membangkang perintah Allah dan hanya mendedikasikan hidupnya untuk dunia semata. Namun, penikmat taman-surgawi itu adalah para pecinta kebenaran sekaligus sebagai pejuangnya, senantiasa ikhlas dalam ibadah dan amal shalih yang dilakukannya tanpa mengharap pujian serta ucapan terima kasih dari manusia, selain hanya mengharap ridha Allah Ta’ala semata. Semoga kita memiliki kriteria sebagai penghuni yang layak di taman surga-Nya nan abadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan, Peluang Emas Kebaikan</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramadhan-peluang-emas-kebaikan.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramadhan-peluang-emas-kebaikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 07:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=994</guid>
		<description><![CDATA[www.almanar.co.id &#8211; Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kita akan bertemu kembali bulan berkah nan mulya yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan di mana diturunkan di dalamnya “Al-Quran Al-Kariim” sebagai pedoman hidup manusia beriman. Bulan yang di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Malam yang dikenal dengan sebutan “lailatul Qadr”. Dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.almanar.co.id/"><strong>www.almanar.co.id</strong></a> &#8211; Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kita akan bertemu kembali bulan berkah nan mulya yaitu bulan suci Ramadhan. Bulan di mana diturunkan di dalamnya “Al-Quran Al-Kariim” sebagai pedoman hidup manusia beriman. Bulan yang di mana terdapat satu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Malam yang dikenal dengan sebutan “lailatul Qadr”.<span id="more-994"></span> Dalam bulan ini, setiap hari para malaikat sibuk memberi kabar gembira kepada siapa saja dari orang-orang beriman yang mengerjakan kebaikan. Lalu pertanyaannya; mungkinkah kita biarkan bulan ini berlalu tanpa amal-amal unggulan yang kita bangun dalam diri kita? Sangat rugi bagi kita yang bertemu dengan bulan yang penuh berkah ini tanpa bisa mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya untuk meraih keberkahan dan keagungannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, setiap muslim harus mempersiapkan bekal untuk menyambut bulan suci Ramadhan ini. Ia harus mempersiapkan bekal “ruhiah imaniah” dengan banyak istighfar dan bertaubat, dengan meningkatkan “ma’iatullah” (kebersamaan Allah) dalam dirinya dan berlatih ibadah-ibadah sunnah lainnya. Selain bekal ini, ia juga harus memiliki bekal “fikriah” yang baik dengan menguatkan pemahamannya tentang permasalahn yang berkaitan dengan ibadah puasa. Dan untuk melengkapi dua bekal di atas, maka ia harus memiliki bekal “jasadiah” yang kokoh dengan menjaga kebugaran dan kesehatan raga/badan sebelum memasuki bulan suci ini. Persiapan ini merupakan inti do’a keberkahan dalam bulan Rajab dan Sya’ban<br />
yang dimunajatkan Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Peluang Emas Perbaikan dan Madrasah Pembinaan</strong></span><br />
Ramadhan merupakan peluang emas perbaikan dan sekaligus pembinaan bagi seorang muslim.  Sudah seharusnya seorang muslim sebelum memasuki bulan ini, melakukan evaluasi diri untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang pernah terjadi pada tahun sebelumnya. Allah SWT. berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An-Nuur 31). Kemudian dengan segala persiapan dan bekal, ia harus memanfatkan hari dan malam Ramadhan seoptimal mungkin. Dengan semangat baru ia harus senantiasa mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaannya. Peningkatan keimanan dan ketakwaan ini merupakan cerminan dari citra dan pesona diri muslim. Bisa kita renungkan apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW selama Ramadhan. Beliau senantiasa mudaarasah (tadarus) bersama Jibril as, kecekatan dalam melakukan kebaikan mengalahkan hembusan angin, senantiasa mengoptimalkan ibadahnya, membangunkan keluarga untuk menghidupkan malam-malamnya, selalu ruku’ dan sujud panjang dalam setiap sholat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat pintu-pintu Surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka dikunci rapat-rapat dan di saat para Malaikat menyeru untuk berhenti melakukan kemaksiatan dan kemungkaran, maka setiap muslim seyogjanya menyadari bahwa bulan Ramadhan ini adalah peluang emas untuk melakukan kebaikan dan perbaikan diri. Dan setiap kita harus mampu menjadikan bulan ini sebagai madrasah pembinaan ruhiah, penggemblengan sulukiah dan penguatan fikriah. Jangan ada kata malas dan letih dalam kamus diri kita untuk membangun amal unggulan di bulan agung ini. Hindari keloyoan dan keringkihan ruhiah pada saat-saat panen kebaikan. Allah berfiman: « Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri » (QS AR- Ra’du 11).</p>
<p style="text-align: justify;">“Pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan diikat di dalamnya (bulan Ramadhan). Beliau bersabda: “malaikat menyeru; wahai orang yang mencari kebaikan, berbahagialah kamu. Dan wahai orang yang melakukan keburukan, berhentilah kamu.”, sampai bulan Ramadhan habis.” HR Imam Ahmad dan An-Nasaai, sanadnya baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>FIQH PUASA</strong></span><br />
Puasa: adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang lima. Rasulullah berkata: “Islam dibangun di atas lima dasar :  Kesaksian tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat menunaikan zakat, puasa Ramadhaan dan haji “. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Keutamaan Puasa</strong></span><br />
<span style="color: #ff0000;"><strong>Media peleburan dosa-dosa kecil</strong></span><br />
“Shalat lima waktu, sahlat Jum’at ke Jum’at yang lain, Ramadlan ke Ramadlan yang lain mampu melebur dosa-dosa yang ada diantaranya selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR.Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Benteng api neraka</strong></span><br />
“Barang siapa yang berpuasa sehara karena Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasa tersebut dari api neraka selam tujuh puluh tahun.” (Muttafaqun alaih) “Puasa adalah benteng dari api neraka bagaikan benteng kamu di dalam peperangan.” (HR Ahmad dan yang lain)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sarana dikabulkan do’a<br />
</strong></span>“Sesungguhnya do’a menjelang berbuka bagi orang yang sedang berpuasa tidak pernah ditolak.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sarana mendapatkan pintu “Ar-Rayyan”<br />
</strong></span>“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut “Ar-Rayyan”, yang mana semua orang yang berpuasa masuk dari pintu tersebut pada hari kiamat. Dan selain mereka tidak diperbolehkan masuk dari pintu tersebut…” (HR Muttafaqun alaih)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Syarat-Syarat Puasa</strong></span><br />
Tidak semua orang harus melakukan ibadah puasa, kecuali telah memenuhi syarat-syarat berikut ini;<br />
<strong>o Islam</strong>, puasa tidak sah dilakukan oleh orang-orang kafir<br />
<strong>o Baligh</strong>, anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak wajib melakukan ibadah puasa, akan tetapi apabila ia berpuasa maka hukumnya sah<br />
<strong>o Berakal</strong>, orang-orang yang tidak berakal seperti orang gila, sakit ayan dan yang hilang akalnya tidak diwajibkan melakukan ibadah puasa. Rasulullah Saw bersabda: “Qolam (beban hokum itu) dihilangkan dari tiga golongan; orang yang gila sampai ia sembuh, orang yang tidur sampai ia bangun dan anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)<br />
<strong>o Sehat dan mukim</strong> (tidak wajib bagi yang sakit dan musafir) (QS 2:184)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Sunah-Sunah Puasa</strong></span><br />
Beberapa amalan sunnah dalam berpuasa;<br />
<span style="color: #ff0000;"><strong>Menyegerakan berbuka</strong></span><br />
“Manusia (yang berpuasa) senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Muttafaqun Alaih)</p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Rasulullah tidak melakukan shalat maghrib dulu sehingga ia berbuka, meskipun dengan setegukan air.” (HR At-Tirmidzi)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berbuka dengan ruthab</strong></span><br />
Berbuka dengan ruthab (kurma tangkai yang masih muda), kurma dan atau air (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berdo’a menjelang berbuka</strong></span><br />
“Sesungguhnya do’a orang yang puasa saat berbuka tidak tertolak” (HR Ibnu Majah). “ Rasa dahaga sudah hilang, seluruh poripori sudah basah dan mudah-mudahan pahalapun sudah ditetapkan, insya Allah “ (HR. Abu Dawud).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sahur dan mengakhirkan sahur</strong></span><br />
“Bersahurlah kamu, karena sesungguhnya sahur itu mengandung keberkahan.” (HR.Muttafaqun Alaih)<br />
“Ummatku senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka dan mengakhirkan sahur.” (HR Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Yang Membatalkan Puasa</strong></span><br />
1. Masuknya sesuatu ke dalam lambung melalui lubang-lubang yang memiliki saluran khusus dengannya seperti anus, vagina, hidung, telinga dan lain-lain<br />
2. Keluarnya mani (seperma) akibat pandangan, khayalan, ciuman dan sentuhan<br />
3. Sengaja muntah<br />
4. Makan minum (dipaksa maupun tidak, menduga masih malam dan atau masuk maghrib)<br />
5. Berhubungan suami istri di siang hari</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Hal-hal yang harus ditingg<span style="color: #3366ff;">alkan</span></strong></span><span style="color: #3366ff;"><strong> saat puasa</strong></span><br />
<strong>· Berkata dusta</strong>. Rasulullah saw berkata: “ Barang siapa tidak bisa meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak perduli lagi terhadapnya dalam menahan lapar dan dahaga “ (HR. Bukhari).<br />
<strong>· Aktivitas &amp; kata-kata tanpa manfaat.</strong> Rasulullah saw mengatakan: “ Puasa itu tidak sekedar menahan makan dan minum, akan tetapi juga menahan aktivitas dan katakata yang tidak bermanfaat, maka apabila<br />
ada orang yang mengumpat atau menjahilimu maka katakanlah kepadanya: maaf, aku sedang puasa “. (HR. Ibnu Huzdaifah).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Hal-hal yang diperbolehkan saat berpuasa.</strong></span><br />
1. Mulai puasa dalam keadaan junub. Aisyah ra meriwayatkan : “ sesungguhnya Nabi saw pernah memasuki waktu fajar dalam keadaan junub karena berhubungan dengan istrinya, lalu mandi dan berpuasa “. (Muttafaq Alaih).<br />
2. Siwak (gosok gigi).<br />
3. Berkumur &amp; memasukkan air di hidung.<br />
4. Mencium dan bersentuhan dengan istri.<br />
5. Suntik atau sejenisnya yang tidak bertujuan memasukkan bahan makanan.<br />
6. Mencicipi makanan &amp; memakai pasta gigi.<br />
Seperti yang pernah dikatakan oleh Ibnu Abbas ra : “ Seseorang boleh mencicipi cuka atau sesuatu yang lain selama tidak masuk ke tenggorokannya, sedang dia dalam keadaan berpuasa “. (HR. Bukhari).<br />
7. Memakai celak &amp; obat cair dalam mata.<br />
Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya mengatakan: “ Anas ra. Hasan dan Ibrahim berpendapat, memakai celak dan sejenisnya itu diperbolehkan untuk orang yang berpuasa “.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramadhan-peluang-emas-kebaikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilar-pilar Kekuatan Ummat</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pilar-pilar-kekuatan-ummat.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pilar-pilar-kekuatan-ummat.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 04:28:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=972</guid>
		<description><![CDATA[Kinerja indikator dakwah Islam bertolak dari keyakinan kita secara total bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sistem pun yang bisa memenuhi kebutuhan umat yang sedang bangkit dengan baik ini, melainkan sebagaimana yang diberikan oleh Islam. Al Qur’an memotret aspek ini secara khusus dan menguraikannya dengan sangat cermat dan jelas.
Kekuatan umat ini sangat tergantung pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kinerja indikator dakwah Islam bertolak dari keyakinan kita secara total bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sistem pun yang bisa memenuhi kebutuhan umat yang sedang bangkit dengan baik ini, melainkan sebagaimana yang diberikan oleh Islam. Al Qur’an memotret aspek ini secara khusus dan menguraikannya dengan sangat cermat dan jelas.<span id="more-972"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kekuatan umat ini sangat tergantung pada kualitas setiap individunya. Ketika setiap insan muslim berpegang teguh pada sumber-sumber kekuatan ini, maka mereka pasti akan sampai pada apa yang mereka tuju (nahw an-nur) dan umat ini akan kembali menemukan masa keemasan dan kejayaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita meyakini bahwa Islam menyimpan seluruh faktor kebangkitan dan aspek kekuatan penting yang sangat dibutuhkan seluruh umat dan menjadi sandaran seluruh bangsa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Ruhiyah </strong></span><br />
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu, dan bersabarlah&#8230;” (QS. 8: 45-46)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas mengisyaratkan kepada kekuatan ruhiyah umat ini. Syeikh Islam Ibnu Taimiyah pernah mengutip perkataan generasi sebelumnya dengan mengatakan, “Takutlah akan dua fitnah; fitnahnya ulama yang tidak taat dan fitnahnya ahli ibadah yang bodoh.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sejarah juga tercatat pengaruh kekuatan ruhiyah yang memiliki andil besar dalam setiap kemenangan. Oleh karena itu Amirul mukminin Umar bin Khathab selalu mengingatkan pasukannya yang akan bergerak menuju medan pertempuran agar tetap menjaga nilai-nilai ruhiyah selama dalam pertempuran. Pesona ruhiyah juga memiliki pengaruh terhadap kekuatan umat saat ini di bidang politik, hukum, ekonomi dan sosial. Ruhiyah yang baik akan melahirkan nilai keadilan, kejujuran, moralitas dan kebaikan di tengah-tengah kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Ilmu</strong></span><br />
“&#8230; Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. 39: 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah memberikan kepada manusia dua kekuatan dalam dirinya, yaitu kekuatan hati dan kekuatan akal. Dari dua kekuatan ini, lahir kebeningan jiwa dan kecerdasan berpikir. Dua hal ini jadi alat manusia untuk mengelola bumi kepada arah dan tujuan yang baik sesuai dengan kehendak Allah. Dan sepanjang sejarah peradaban Islam, ilmu pengetahuan sangat memiliki peran dalam menopang kejayaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya isyarat akan pentingnya pilarini sudah terbaca sangat jelas di saat wahyu pertama diturunkan. Kata pertama dari ayat pertama yang termaktub dalam wahyu pertama adalah perintah membaca “Iqra’..!”, karena membaca adalah pilar terpenting keilmuan. Dan perpaduan yang harmonis antara ilmu dan keimanan yang benar akan menghantarkan umat ini kepada derajat yang lebih tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam untaian kata bijak tersebutkan, “Barang siapa menghendaki dunia, maka ia butuh ilmu, yang mengharap akhirat, ia memerlukan ilmu dan yang mengharap dapat menggapai keduanya, maka ia pun membutuhkan ilmu.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan dalam masalah yang paling mendasar dalam ber-Islam, yaitu masalah aqidah, yang intinya terangkum dalam “laa ilaaha illallah”, Allah dalam firman-Nya tetap mendahulukan ilmu, -”Fa’lam Annahu Laa ilaaha illallah”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Bersaudara karena Allah</strong></span><br />
“Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. 49: 10)</p>
<p style="text-align: justify;">Ukhuwah imaniyah ini adalah pilar kekuatan dan kehormatan umat yang akan melahirkan ikatan yang solid, loyalitas yang tinggi, serta jauh dari perselisihan, perpecahan, permusuhan dan saling merendahkan satu sama lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah bentuk yang digambarkan oleh Rasulullah saw dengan satu jasad, bak bangunan yang kokoh, satu sama lain saling menguatkan. Beliau bersabda, “Orang-orang mukmin itu bagaikan satu orang (jasad), apabila kepala terasa sakit, maka semua jasad terasa panas dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim) “Mukmin yang satu terhadap mukmin yang lain bagaikan bangunan yang sebagian menguatkan sebagian yang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan keimanan seseorang juga tidak akan mencapai tingkat kesempurnaanya jika ia tidak bisa mencintai saudaranya, sebagaimana sabda Rasulullah, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia dapat mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Saling Menasihati</strong></span><br />
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. 3: 104)</p>
<p style="text-align: justify;">Al Khathabi berkata, “An Nushu (memberi nasihat) adalah menghendaki adanya kebaikan pada orang yang dinasihati.” Ini adalah satu dari sekian tugas para Nabi dan Rasul, juga mereka para shalihin yang mengikuti jejak Nabi dan Rasul.</p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk An Nushu adalah ‘amar ma’ruf nahi munkar, yang hanya dengan ini tertegaklah pilar umat, bahkan dunia seluruhnya. Tanpanya hilang atau berkuranglah kebaikan, keburukan membiak di bumi. Inilah tugas terpenting kaum muslimin yang mengenal mana yang ma’ruf dan mana yang munkar. Dengan inilah mereka menjadi umat terbaik.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. 3: 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. (QS. 9: 71)</p>
<p style="text-align: justify;">Nasihat ini mencakup semua jenjang sosial manusia dan memuat segala tema kebaikan dan perbaikan. Oleh karena itu, Rasul merangkum Dien (agama) ini dalam nasihat, sebagaimana sabdanya, “Ad Diinu An Nasihah”: “Agama itu adalah nasihat.”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Bersepakat Mengusung Kebenaran</strong></span><br />
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai &#8230;.” (QS. 3: 103)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah memerintahkan kepada mukminin untuk berpegang kepada tali Allah, melarang perpecahan. Kebersamaan dalam mengusung kebenaran adalah kekuatan, kehormatan, saling tolong menolong, tingginya kharisma di mata musuh Allah serta kemenangan. Sebagaimana dalam perselisihan dan perpecahan ada kelemahan, ketakutan, kegagalan, permusuhan, meningginya semangat musuh dalam menebar permusuhan di bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)</p>
<p style="text-align: justify;">Empat puluh tahun berlangsungnya penjajahan Israel terhadap Palestina, menggambarkan bahwa umat ini belum semuanya bisa bergabung bersama mengusung kebenaran. Bahwa mereka para penjajah itu adalah bagian dari kemunkaran yang mesti dienyahkan, melakukannya akan mendapat balasan yang melimpah dari Allah swt. Bayangkan, ketika statement “One Man One Dolar to Save Palestine” diusung bersama oleh umat Islam dunia, niscaya dengan izin Allah, umat ini tidak lagi diinjak kehormatannya dengan dijajahnya masjid yang pernah menjadi kiblat pertama umat ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Istiqamah</strong></span><br />
Sesungguhnya orang-orang yang menga-takan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. (QS. 41: 30 – 32)</p>
<p style="text-align: justify;">Kekuatan ruhiyah dan ketaatan, kekuatan ilmu pengetahuan dan pemahaman, persaudaraan karena Allah, saling menasihati, dan bersepakat mengusung kebenaran, kesemuanya harus dibingkai dengan kekuatan istiqamah. Istiqamah dalam meningkatkan kualitas ruhiyah, istiqamah dalam mengembangkan sains dan teknologi, istiqamah dalam membina persaudaraan karena Allah, istiqamah untuk senantiasa saling menasihati, dan beristiqamah dalam mengusung kebenaran merupakan syarat mutlak dalam membangun sebuah kekuatan umat kembali.</p>
<p style="text-align: justify;">Adalah suatu karunia yang luar biasa agung apabila setiap pribadi muslim saat ini kembali menemukan pilar-pilar kekuatannya. Sudah seyogianyalah kita harus berusaha keras untuk kembali memiliki enam pilar kekuatan itu, karena ini merupakan sumber energi umat untuk mengawali proses panjang menuju khilafah alaa minhaj nubuwwah. Semoga, kita termasuk salah satu dari mereka yang memiliki sumbersumber kekuatan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pilar-pilar-kekuatan-ummat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Do&#8217;a Terkabul</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/agar-doa-terkabul.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/agar-doa-terkabul.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:22:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kita memiliki cita-cita dan ambisiambisi yang sedang diusahakan untuk dicapai dan diwujudkan. Mempunyai keinginan agar dalam hidup ini mendapatkan kebahagiaan dan kententraman. Memiliki keinginan bagaimana dosa-dosa yang pernah kita lakukan mendapatkan ampunan dari Allah swt. Sehingga obsesi besar yang diajarkan oleh sang kekasih kita Rasullullah untuk menggapai surga tertinggai yaitu surga firdaus dapat tercapai. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setiap kita memiliki cita-cita dan ambisiambisi yang sedang diusahakan untuk dicapai dan diwujudkan. Mempunyai keinginan agar dalam hidup ini mendapatkan kebahagiaan dan kententraman. Memiliki keinginan bagaimana dosa-dosa yang pernah kita lakukan mendapatkan ampunan dari Allah swt.<span id="more-942"></span> Sehingga obsesi besar yang diajarkan oleh sang kekasih kita Rasullullah untuk menggapai surga tertinggai yaitu surga firdaus dapat tercapai. Namun dalam realitas tidak semua citacita dan ambisi-ambisi duniawi dan ukhrowi mudah untuk diraih seketika karena keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki.</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga kita harus sadar bahwa setiap penangguhan apa yang kita cita-citakan dan ambisikan pasti ada hikmah dibaliknya. Yaitu agar kita kembali kepada Allah swt dan menengadahkan kedua tangan kepadaNya.  Sama ketika Allah tidak memberitahu akan ampunan dosa-dosa yang pernah kita lakukan agar kedua tangan yang Allah karuniakan tidak bosanbosannya menengadah ke langit.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Masihkah Kamu Belum Percaya?</strong></span><br />
Allah swt berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (al-Mu’min (40): 60)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas sungguh sangat jelas bahwa Allah menjamin setiap doa hambanya yang dipanjatkan dengan tulus dan serius. Ungkapan “niscaya akan Kukabulkan bagimu” seakan Allah ingin mengetuk pintu hati para hambanya agar tidak sedikitpun ragu atas jaminan pengkabulan doa itu. Seakan Allah ingin mengatakan kepada kita mengapa kamu tidak berdoa?</p>
<p style="text-align: justify;">Jaminan ini sangat penting untuk dipahami sebagai bekal untuk merubah diri ke arah yang positif. Karena bisa jadi ada di antara kita yang masih ragu manakala pernah jatuh kepada kubangan kemaksiatan bertahun-tahun. Melakukan kemaksiatan sosial, kemaksiatan budaya, kemaksiatan ekonomi, kemaksiatan birokrasi, kemaksiatan politik dan kemaksiatan terhadap alam ciptaan Allah yang berdampak rusaknya sebagian setruktur alam dan berakibat munculnya musibah-musibah di negeri ini. Saatnya untuk memantapkan diri bahwa dengan doa dan ikhtiar maksimal semuanya akan dapat berubah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Syarat-Syarat Terkabulkannya Do’a</strong></span><br />
Allah swt menjaminan dikabulkannya doa para hambanya. Namun jaminan itu bukanlah jaminan gratis, tapi membutuhkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Yakin bahwa Allah akan mengabulkan d<span style="color: #ff0000;">oa </span></strong></span><span style="color: #ff0000;"><strong>yang dipanjatkan</strong></span><br />
Rasullullah saw bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka janganlah ia mengatakan, Ya Allah, berilah ampunan kepadaku jika engkau menghendakinya, Namun hendaknya meneguhkan hati (akan apa yang dimintanya)” (H.R Bukhori Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Yakin bahwa doa akan dikabulkan merupakan syarat untuk terkabulkannya doa. Oleh karena itu, janganlah ada di antara kita yang memohon kepada Allah swt sementara masih ada keraguan atas dikabulkannya doa-doa yang dipanjatkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Khusyu’ ketika berada di hadapan Allah swt</strong></span><br />
Banyak orang yang berdoa namun ia tidak sadar apa yang sedang dilakukannya. Ia hanya berkata-kata Ya Allah atau kata Amin, namun hatinya tidak hadir dalam kata yang ia ungkapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Khusyu’ dalam berdoa adalah sinergi antara kata, hati dan raga sekaligus. Semua hadir dalam permohonan yang tulus kepada Rabbnya. Tentang urgensi khusyu’ dalam berdoa ini, Rasullullah saw bersabda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa (yang keluar) dari hati orang yang lalai dan main-main” (H.R Tirmidzi)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang muslim tidak selayaknya bermainmain dalam doanya namun ia harus mampu menyampakkannya kemudian mengisinya dengan kekhusyukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang Tabi’in pernah berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kapan doaku akan dikabulkan. Orang-orang yang berada di sekitarnya bertanya. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tabiin itu menjawab, yaitu ketika hatiku khusyu’, anggota-anggota badanku juga khusyu’ dan mataku pun mengeluarkan air mata. Maka pada saat itu aku akan berkata, Doa ini akan dikabulkan”.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak terburu-buru</strong></span><br />
Imam Bukhori dan muslim meriwayatkan persyaratan yang ketiga ini, di mana Rasullullah saw bersabda: “Akan dikabulkan bagi (doa) salah seorang di antara kalian selama ia tidak terburu-buru”.</p>
<p style="text-align: justify;">Maksud dari terburu-buru adalah sikap pesimisme terhadap apa yang ia minta. Tidak mengulang-ulang doanya.  Sikap negatif thinking kepada Allah swt atas tertolaknya doa. Obat dari penyakit ini adalah kesabaran.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Memakan rezeki yang halal</strong></span><br />
Syarat terakhir dari terkabulkannya sebuah doa adalah memakan rezeki yang halal. Sehingga tidak selayaknya seorang muslim mengumpulkan harta dengan cara yang diharamkan Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;">Firman Allah swt: “Wahai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amalan saleh. Sesungguhnya, Aku Maha Mengetahui atas apa yang kamu kerjakan.” (al-Mu’minun (23) : 51)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasullullah saw menyebutkan, seorang lelaki yang kotor dan berdebu, (yang berada dalam) sebuah perjalanan yang jauh, mengangkat kedua tangannya ke langit dan berkata, “Ya Tuhanku&#8230;, Ya Tuhanku&#8230;. Namun, perutnya (dipenuhi oleh minuman) yang haram, tempat minumnya (dipenuhi oleh makanan) yang haram, pakaiannya adalah (pakaian) yang haram, dan ia mengkonsumsi haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan”. (H.R Abu Daud, Nasa’i dan Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Bentuk-Bentuk Pengabulan Do’a</strong></span><br />
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasullullah saw bersabda: “Tidak ada seorang lelaki pun yang berdoa (kepada Allah swt) dengan sebuah doa kecuali (doa itu) akan dikabulkan untuknya. Boleh jadi (pengabulan) itu akan disegerakan untuknya di dunia, boleh jadi akan disimpan untuknya (sehingga akan diberikan) di akhirat, dan boleh jadi dosa-dosanya akan dihapuskan sesuai dengan kadar doanya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari hadits di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bentuk pengabulan doa ada tiga bentuk, yaitu pengabulan doa di dunia atas apa yang diminta, pengabulan doa sampai di akhirat dan dengan memalingkan keburukan yang<br />
akan menimpa hambanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap seorang mu’min terhadap hal ini bisa jadi sangat variatif. Ada yang memilih pengabulan bentuk yang pertama, namun ada sebagian yang memilih bentuk kedua dan mungkin sebagian yang lainnya menghendaki yang ketiga. Namun sikap seorang mu’min yang arif dan bijak adalah memandang sama atas bentuk-bentuk pengabulan doa tersebut. Sebab pada hakekatnya seorang mu’min manakala ia telah berusaha dan berdoa untuk selanjutnya ia pasrahkan keputusan yang terbaik kepada Allah swt.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Orang-orang yang Tidak Akan Ditolak Do’anya</strong></span><br />
Rasullullah saw bersabda: “Ada tiga doa yang pasti akan dikabulkan, tanpa ada keraguan tentangnya: doa orang yang teraniaya, doa seorang musafir, dan doa orang tua kepada anaknya” (H.R Abu Daud dan Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;">Di hadits yang lain Rasullullah saw bersabda: “bagi orang yang berpuasa ketika ia berbuka, benar-benar doa(nya) yang tidak akan ditolak” (H.R Ibnu Majah)</p>
<p style="text-align: justify;">Subhanallah&#8230; alangkah Maha Pengasihnya Allah, ketika Dia membagi-bagikan doa yang makbul untuk hamba-hambanya. Maka manakala kita sebagai orang tua sepatutnya untuk memanfaatkan pengkabulan doa itu untuk anak-anak kita. Saat sedang dalam perjalan jauh selayaknya tidak melupakan doa-doa untuk saudara-saudaranya. Apalagi disaat saudarasaudar kita banyak yang tertimpa musibah. Begitu juga saat kita dalam keadaan puasa sepatutnya kita mendoakan saudara-saudara kita yang terdholimi dimanapun mereka berada terutama di bumi Palestin.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Santunlah dalam Berdo’a</span></strong><br />
Akhlak dalam Islam memiliki jangkauan wilayah yang sangat luas. Bahkan ia hadir dalam seluruh aspek kehidupan seorang muslim, dan termasuk di dalamnya adalah saat di mana seorang muslim berhadapan dengan RabbNya.<br />
Berikut ini beberapa akhlak dalam berdoa:<br />
<strong><em>1. Mengangkat kedua tangan saat berdoa.</em></strong><br />
Mengangkat kedua tangan saat berdoa merupakan sebuah rasa penghambaan diri yang menjadi ciri orang yang beriman. Rasullullah sering mengangkat kedua tangannya sampai terlihat ketiaknya yang putih.<br />
<em><strong>2. Menghadap Kiblat</strong></em><br />
<em><strong>3. Dalam Keadaan Suci</strong></em><br />
<em><strong>4. Memulai doa dengan memanjatkan puji kepada Allah swt</strong></em><br />
<em><strong>5. Bershalawat kepada Rasullullah saw</strong></em><br />
<em><strong>6. Bertaubat dan memalai doa dengan</strong><strong> memanjatkan istighfar</strong></em><br />
<em><strong>7. Bertawassul kepada Allah dengan asmaasmanya yang baik<br />
8. Tidak melampaui batas saat berdoa<br />
</strong></em>Maksudnya adalah meminta sesuatu yang mustahil untuk terjadi, seperti mengatakan, Ya Allah kekalkan aku sampai hari kiamat. Atau mengatakan, ya Allah, jadikanlah aku sebagai bagian dari sepuluh sahabat yang diberi kabar dengan mendapat surga.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw memberitahukan bahwa kelak akan ada komunitas masyarakat muslim yang berdoa dengan permintaan yang mustahil. Beliau bersabda: “Akan ada di akhir zaman suatu kaum yang melampaui batas dalam<br />
berdoa dan bersuci”. (H.R al-Hakim dan Ibnu Hibban menshahihkannya)</p>
<p style="text-align: justify;">Pada akhirnya di tengah terpuruknya kehidupan masyarakat dalam berbagai dimensi dan terjadinya musibah yang bertubi-tubi di negeri ini wajar kalaulah seluruh keluarga besar negeri ini momohon dan memanjatkan doa kepada Allah untuk keselamatan bangsa ini. Semoga Allah memberikan model pengabulan doa yang terbaik untuk kaum muslimin di negeri ini.</p>
<p style="text-align: center;"><em>- Wallahu A&#8217;lam -</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/agar-doa-terkabul.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Faktor Penguat Iman</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/faktor-penguat-iman.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/faktor-penguat-iman.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 04:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=917</guid>
		<description><![CDATA[Dunia adalah perhiasan. Didalamnya penuh kemewahan, yang menjadikan manusia tertarik kepadanya. Namun, sebagai seorang Muslim, kita harus segera menyadari bahwa dunia yang penuh dengan kemewahan itu hanyalah tempat beristirahat atau terminal untuk melepaskan kelelahan. Dari sana, kita harus melanjutkan kembali perjalanan hidup kita yang masih jauh sampai nanti kita tiba pada satu tujuan yang sebenarnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dunia adalah perhiasan. Didalamnya penuh kemewahan, yang menjadikan manusia tertarik kepadanya. Namun, sebagai seorang Muslim, kita harus segera menyadari bahwa dunia yang penuh dengan kemewahan itu hanyalah tempat beristirahat atau terminal untuk melepaskan kelelahan.<span id="more-917"></span> Dari sana, kita harus melanjutkan kembali perjalanan hidup kita yang masih jauh sampai nanti kita tiba pada satu tujuan yang sebenarnya. “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik- baik bekal adalah takwa….” (al-Baqarah: 197)</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap manusia tidak bisa menjalani kehidupan yang baik atau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan peradaban manusia, tanpa memiliki keimanan atau keyakinan. Sebab, manusia yang tidak memiliki keimanan akan menjadi manusia yang sepenuhnya hanya memen tingkan diri sendiri, ragu-ragu, goyah, dan tidak mengetahui tugas serta kewajibannya sebagai hamba dalam kehidupan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah sebabnya, keimanan menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi seorang Muslim. Karenanya, ia menjadi modal utama agar dapat menjalani kehidupan yang lurus, seperti yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">“Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, dan engkau beriman kepada qadha dan qadar, yang baik dan yang buruk.” (HR Bukhari dan Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;">Iman bukanlah sekadar percaya dan membenarkan saja. Kepercayaan dan pembenaran memerlukan pembuktian yang menunjukkan sah atau tidaknya iman tersebut. Karena itu, iman yang sekadar melekat di hati bukanlah iman yang sempurna. Sebab, iman berarti juga pengungkapan dengan lisan dan pembuktian dengan amal perbuatan. Dengan demikian, terdapat tiga unsur keimanan yang mesti ada, yaitu:<br />
1. Membenarkan dengan hati;<br />
2. Mengucapkan dengan lisan; dan<br />
3. Membuktikan dalam amal perbuatan nyata.</p>
<p style="text-align: justify;">Iman yang tidak meliputi ketiga unsur di atas tidak dapat diterima oleh Allah SWT. Bahkan, seseorang bisa disebut munafik atau kafir jika salah satu unsur tersebut tidak dimiliki, atau bahkan tidak satu pun yang ada dalam dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa tiang pokok dari iman itu adalah membenarkan keberadaan Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan ketentuan baik atau buruk yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia. Seorang Mukmin adalah yang meyakini semua informasi, petunjuk, dan bimbingan Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia melaksanakannya dengan berdasar atas iman dan penghambaan kepada Allah SWT. Semua hal yang diperbuat diperhitungkan dengan nilai ukhrawi yang pasti, dan tidak akan meleset.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orangorang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (al-Ankabut: 2-3)</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah menguji manusia, baik berupa kesenangan ataupun kesusahan, saat itu pula akan terlihat mana yang benar-benar emas dan siapa yang loyang; siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang munafik. Ujian Allah itu sesungguhnya berbanding lurus dengan tingkat keimanan seseorang. Makin tinggi keimanan seseorang, maka akan semakin tinggi pula berat cobaan yang akan dihadapi orang tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, janganlah merasa tidak disayangi Allah bila kita ditimpa musibah, tetapi sebaliknya rasakanlah bahwa Allah senantiasa dekat dan sayang kepada kita sehingga senantiasa mengingatkan kita dengan musibah tersebut. Itulah sebabnya, seorang mukmin menganggap seluruh hidupnya adalah ujian. Mereka berhati-hati dalam mengerjakan setiap soal dalam kehidupannya. Ia selalu berpedoman pada petunjuk Allah dan Rasul-Nya agar tidak menyalahi kehendak Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, kita hendaknya senantiasa mengontrol kadar keimanan kita, agar ia terus naik sehingga kita dapat mencapai derajat taqwa.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk itu, ada beberapa faktor yang dapat memperkuat keimanan kita, di antaranya adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Memurnikan ibadah hanya kepadaAllah SWT.</span></strong><br />
Maksudnya adalah memberikan hak uluhiyah secara sempurna, berupa pengagungan, cinta, dan ketundukan secara mutlak. Untuk itu, ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Tidak mencari Tuhan lain untuk diagungkan sebagaimana ia mengagungkan Allah.</span></strong><br />
”Katakanlah, apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu….” (al-An’am: 164)</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, segala sesuatu yang oleh manusia dijadikan Tuhan harus digugurkan atau dihilangkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak menjadikan selain Allah sebagai wali, sebagaimana Allah berfirman,</strong></span><br />
“Katakanlah, ‘Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.’” (al-An’am: 14)</p>
<p style="text-align: justify;">Konsekuensi tauhid menuntut seseorang untuk memurnikan cintanya kepada Allah dan tidak menjadikan pesaing yang ia cintai sebagaimana cintanya kepada Allah, sebab wilayah (cinta kasih, pelindung, dan loyalitas) hanyalah untuk Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha kuasa atas segala sesuatu.” (asy-Syura: 9)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak mencari hakim selain kepada orangorang yang menaati hukum dan ketentuan Allah, sebagaimana ia taat kepada-Nya.<br />
</strong></span>“Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka, janganlah kamu sekalikali termasuk orang yang ragu-ragu.” (al-An’am: 114)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab itu, hak untuk menghukumi dan membuat perundang-undangan bagi hamba-Nya dalam urusan agama dan dunia mereka hanyalah Allah SWT semata.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Berlepas diri dari orang-orang yang menyembah atau memberikan loyalitasnya kepada thagut (orang yang melampaui batas).</strong></span><br />
Berlepas diri dari thagut dan menyatakan diri beriman hanya kepada Allah SWT dapat menjadi barometer bertambahnya keimanan, sebagaimana ia telah berpegang teguh kepada tali agama Allah dengan kuat (al-Baqarah: 256). Hal ini juga yang akan membedakan seorang mukmin dengan orang yang sekadar menyatakan beriman, sedangkan keimanannya tidak terealisasi dalam bentuk pengingkaran terhadap segala macam bentuk kebatilan dan berlepas diri dari penganutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Menghindari kemusyrikan dan berhati-hati darinya.</strong></span><br />
Mulai dari bentuk musyrik yang besar hingga bentuk musyrik yang kecil, yang tidak tampak di depan mata. Ia senantiasa membebaskan diri dari segala hal yang berbau syirik, dan pada saat yang sama mewaspadai jendela dan pintu-pintunya. Itulah sebabnya, Al-Qur’an memvonis Ahli Kitab dengan menamakan mereka sebagai musyrikin oleh karena mereka memberikan hak pembuatan syariat kepada pendeta dan rahib, lalu mereka menaati apa yang dihalalkan atau haramkan. Al-Qur’an menyejajarkan hal ini dengan penyembahan mereka terhadap al-Masih bin Maryam.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Meningkatkan ruhiyah.</strong></span><br />
Iman itu senantiasa bergerak naik dan turun. Seorang hamba, dalam melaksanakan tugasnya kepada Allah, juga pasti mengalami fluktuasi iman tersebut. Saat kei-manannya menurun, tentu saja berdampak terhadap aktivitas ibadahnya, seperti malas. Saat inilah seorang Muslim dituntut untuk senantiasa memperbaiki, dan meningkatkan kualitas ruhiyahnya. Jangan pernah ada kata malas dalam meningkatkan ruhiyah. Kemudian, ia mengupayakan membaca Al-Qur’an setiap saat dan berusaha men-tadabbur-inya, meningkatkan ibadahibadah sunnahnya, terutama shalat malam, dalam rangka mendapatkan energi yang lebih besar dari Allah melalui komunikasi dengannya di malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Kesehatan fisik.</strong></span><br />
Faktor yang terakhir ini juga tidak kalah pentingnya dalam menambah kekuatan iman oleh sebab dengan badan yang sehat, maka seorang hamba akan mampu melakukan aktivitas ibadahnya dengan baik pula. Ibadah akan terasa nikmat kalau fisiknya sehat dan kuat. Bila kondisi tubuh menurun, apalagi sakit, acapkali pelaksanaan ibadah mengalami “ketidaksempurnaan”. Bila ini terjadi terus- menerus, pastilah akan mempengaruhi amal ibadahnya dan selanjutnya berimbas kepada keimanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang Muslim sejati hendaknya menyadari pentingnya keimanan yang kuat pada dirinya, dan meneguhkan pendiriannya agar tetap pada aqidah yang benar sehingga apabila ia hidup pada lingkungan masyarakat sekitarnya, ia laksana gunung yang tinggi yang tidak mudah goyah oleh ombak dan gelombang yang besar sekalipun. Yakinlah bahwa pendirian dan iman yang kuat itu akan mengantarkan kepada kemampuan untuk memelihara amanah Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">“Abdullah bin Abas berkata, ‘Pada suatu hari aku berada di belakang Nabi Muhammad saw., lalu beliau bersabda, ‘Wahai pemuda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat sebagai berikut. Peliharalah perintah Allah, maka Allah akan memeliharamu, dan peliharalah larangan Allah, niscaya engkau dapati Allah selalu dihadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah dan apabila kamu meminta pertolongan, mintalah pertolongan Allah.’” (HR Turmudzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam bish-shawab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/faktor-penguat-iman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Harmoni Sosial</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/indahnya-harmoni-sosial.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/indahnya-harmoni-sosial.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 12:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai makhluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup dengan dirinya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain yang ada di sekitarnya. Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain, tidak hanya untuk saling bantu dan tolong menolong, tapi juga untuk membangun komunitas sosial yang saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Kehidupan masyarakat Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebagai makhluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup dengan dirinya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain yang ada di sekitarnya. Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain, tidak hanya untuk saling bantu dan tolong menolong, tapi juga untuk membangun komunitas sosial yang saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.<span id="more-879"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kehidupan masyarakat Indonesia yang berasal dari latar belakang yang beragam; suku, budaya, agama, tradisi, pendidikan, ekonomi dan sebagainya, adalah sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dielakkan oleh setiap individu.<br />
Namun disitulah keindahan sebuah komunitas sosial bila mampu merekat berbagai perbedaan itu dan menjadikannya sebagai sarana untuk saling memahami, tepo seliro dan toleransi, yang akhirnya akan melahirkan persatuan dan saling cinta mencintai.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya, di tengah masyarakat kita berbagai perbedaan itu kerap menjadi bom waktu dan sumbu pemicu terjadinya konflik horizontal berkepanjangan. Tentu banyak variable penyebab munculnya berbagai konflik. Bahkan bisa jadi konflik membara dapat muncul dari sebuah komunitas yang berasal dari latar belakang budaya, ekonomi, suku dan pendidikan yang sama. Konflik seperti ini kerap terjadi pada masyarakat Indonesia yang hidup di pedalaman dan tidak memiliki pendidikan memadai untuk mengkomunikasikan masalah yang terjadi di tengah mereka. Sehingga bagi mereka bahasa otot jauh lebih efektif untuk menyelesaikan masalah tersebut ketimbang bahasa otak.</p>
<p style="text-align: justify;">Situasi seperti di atas mungkin sangat sulit kita temukan terjadi di wilayah perkotaan dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang lebih baik. Walau perspektif ini tidak berlaku mutlak. Karena kita juga kerap menyaksikan para mahasiswa yang bota bene berasal dari kalangan terdidik terkadang juga suka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan bahasa otot; tawuran, perkelahian jalanan dan menafikan eksistensi mereka sebagai komunitas terdidik yang layak dijadikan sebagai teladan.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah, konflik dapat terjadi di mana saja, pada siapa saja dan komunitas manapun. Tidak peduli apakah ia berasal dari kalangan terpelajar, suku atau agama yang sama. Setiap orang dapat terlibat dalam arus konflik yang terjadi di hadapannya, atau bersentuhan langsung dengannya kecuali mereka yang memiliki pikiran yang jernih, hati yang lapang dan kendali nafsu yang kuat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Agama sebagai Perekat</strong></span><br />
Perbedaan budaya, kultur dan tradisi suatu wilayah dengan wilayah yang lain juga akan menghasilkan karakter yang berbeda. Inilah salah satu kekayaan bangsa kita yang terdiri dari banyak suku yang tersebar di berbagai wilayah. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pelbagai perbedaan tersebut dapat menjadi pemicu munculnya sebuah konflik bila tidak dikelola dengan baik. Salah satu contoh paling dramatis konflik memilukan yang terjadi antara etnis Madura sebagai pendatang versus etnis Dayak di Kalimantan. Terlepas dari siapa salah siapa benar atas meletusnya konflik ini, kedua etnis yang saling bersengketa, khususnya tokoh ulama dan aparat pemerintah harus menjadikannya sebagai pelajaran berharga agar tidak lagi terjadi di masa-masa yang akan datang. Karena peristiwa ini tidak hanya mengakibatkan jatuhnya korban jiwa secara sia-sia, tapi juga meninggalkan penyakit psikis, dendam dan trauma berkepanjangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita menganalisa kasus di atas, maka ada elemen mendasar yang tidak berperan dengan baik di tengah masyarakat, yaitu peran agama yang seharusnya muncul sebagai perekat khususnya bagi komunitas yang berada<br />
dalam satu agama dan keyakinan. Padahal kita seharusnya dapat belajar dari sejarah konflik antara suku Aus dan Khazraj sebelum datangnya Islam. Konflik (baca: perang) yang terjadi antara kedua suku ini sebenarnya dipicu oleh persoalan sangat sepele, namun akibatnya berlangsung sangat lama bahkan melibatkan beberapa generasi. Namun konflik berkepanjangan itu berakhir dengan sendirinya setelah mereka memeluk Islam dan memiliki pemahaman yang sama bahwa sesungguhnya mereka telah dipersaudarakan oleh satu aqidah dan keyakinan. Sebagaimana firman Allah Taala, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10) Maka Islam sesungguhnya memiliki daya rekat sangat kuat bila ia dipahami dengan baik oleh pemeluknya. Ia bahkan menghadirkan di tengah kita perasaan cinta pada sesama dan menumbuhkan itsar (mengutamakan saudara daripada diri sendiri).</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin di antara kita ada yang pesimis dan menganggap utopia bila agama dan keyakinan mampu menjadi perekat sebagaimana terjadi pada komunitas suku Aus dan Khazraj di Madinah ketika itu. Masyarakat Indonesia yang sangat majemuk tidak hanya di sekat oleh budaya dan karakter yang berbeda, tapi perbedaan mazhab dan pemahaman terhadap implementasi ajaran Islam (khilafiyah). Bahkan perbedaan pada organisasi dakwah Islam dapat menjadi jurang pemisah dan sumber konflik. Realitas ini dengan sendirinya menjelaskan bahwa, betapa tokoh agama dan ulama kita belum mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam ke dalam jiwa umat ini agar menjadi perekat dan pengikat kuat di antara mereka, sehingga dapat toleran dan lapang dada terhadap sesuatu yang tidak disepakati dan bekerja sama pada sesuatu yang disepakati.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang lebih ironi lagi adalah ketika sosok yang seharusnya diteladani dan layak tampil sebagai perekat karena posisinya sebagai tokoh agama justru terjebak dalam arus konflik, atau bahkan jadi pemantik munculnya konflik dalam tubuh umat. Tragedi memiriskan hati ini dapat kita saksikan dalam tubuh sejumlah organisasi ke-Islaman atau partai Islam (atau hanya dipimpin oleh tokoh Islam) yang seharusnya tokoh-tokoh yang ada di dalamnya lebih<br />
mampu mengatasi persoalan internal mereka sebelum menggemakan diri sebagai tokoh yang seakan mampu mengatasi persoalan bangsa dan negara yang lebih besar dan kompleks.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Konsep Hidup Bertetangga</strong></span><br />
Dalam Islam, kita dihimbau, bahkan diperintahkan untuk memuliakan tamu dan menghormati tetangga. Bahkan dalam hadits lain kita menemukan sebuah metode yang diajarkan Rasulullah saw. bagaimana membangun hubungan social yang harmonis di tengah masyarakat. Misalnya beliau menjelaskan beberapa kewajiban seorang mukmin terhadap mukmin yang lain; mengucap salam saat berjumpa, menjenguknya saat sakit, mendoakannya saat bersin, membagi makanan untuknya dan mengantarkannya ke pemakamannya. Ini adalah contoh kecil dari perilaku social yang harus terbangun di tengah masyarakat, sesuatu yang tampak enteng dan mudah dilakukan namun ditinggalkan oleh banyak orang. Padahal<br />
dampak yang ditimbulkannya sangat besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya aplikasi nilai-nilai Islam tidak hadir di tengah masyarakat kita sehingga kehidupan terasa gersang dan beku. Perilaku individualistik, nafsi-nafsi dan eksklusif seakan menjadi pilihan lebih baik. Cobalah tengok kehidupan social kita sebagai tetangga, interaksi dengan warga lain dan keberadaan kita yang mungkin nyaris tak memberi kontribusi dan manfaat apa pun. Bahkan kita melihat bahwa munculnya persoalan besar terkadang berawal dari persoalan kecil. Misalnya, karena anakanak yang berkelahi yang akhirnya melibatkan orang tua, menegur tetangga dengan cara yang agak kasar karena suara radio atau televisi masuk ke dalam rumah, atau persoalan lain yang sebenarnya dapat selesai bila dikomunikasikan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Putusnya jalinan komunikasi dan interaksi antar tetangga menjadi sebab utama munculnya masalah-masalah besar. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kesibukan setiap orang yang berangkat pagi menuju tempat kerja dan<br />
pulang petang membuat hubungan itu menjadi renggang atau putus. Bahkan dua rumah yang terkadang hanya dipisahkan tembok rumah terkadang tidak saling kenal, apakah karena tidak adanya waktu luang, atau tidak pernah meluangkan waktu untuk sekadar saling menyapa atau melempar senyum sembari menanyakan kondisi masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kultur seperti ini yang lebih kental ketimbang kebersamaan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang nyaman dan aman, masyarakat yang lebih peduli terhadap sesama, maka sangat wajar bila kita tidak menikmati kehidupan social yang baik di tengah komunitas masyarakat di mana kita berada. Karena itu tidak aneh pula bila kita pernah mendengar<br />
ada seseorang yang meninggal dunia tanpa sepengetahuan tetangga sekitarnya, dan diketahui setelah tercium bau busuk dari kediamannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Budaya Tolong-menolong</span></strong><br />
Salah satu prinsip dan landasan membangun harmoni social di tengah masyarakat adalah menghidupkan budaya gotong-royong, tolong menolong dan bahu membahu yang tidak hanya mampu menyelesaikan pekerjaan berat, tapi proses penyelesaiannya pun bisa jauh lebih cepat. Allah Taala berfirman, “Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Maidah: 2) Ya, Allah Taala hanya memerintahkan kita untuk saling bahu-membahu dalam kebaikan, bukan dalam melakukan dosa dan kejahatan. Dan budaya ini pun adalah ciri dan keunikan masyarakat Indonesia yang bersumber dari kepedulian dan empati kepada sesama manusia. Apalagi terhadap kaum Muslimin. Karena itu pula Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia itu bukan bagian dari mereka.” (al-hadits)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam situasi yang sarat masalah dan beban hidup yang semakin berat seperti saat ini, sangat penting bagi kita untuk mengedepankan budaya tolong menolong guna menyelesaikan berbagai persoalan berat yang dihadapi bersama. Saat ini kita tidak bisa menggantungkan harapan berlebih kepada pemerintah untuk menyelesaikan krisis ekonomi yang melanda negeri ini. Sebagai orang berpunya dan diberi  kelebihan rezki oleh Allah Taala, sudah seharusnya bila sebagian dari rezki itu dialokasikan bagi orang-orang tak berpunya yang ada di sekitar kita. Atau menjadikannya sebagai sarana pemberdayaan agar kaum fakir miskin itu dapat lebih berdaya dan mandiri. Budaya inilah yang perlu dibangun dan diperkuat kembali dimulai dari unit terkecil dalam komunitas masyarakat sehingga tercipta kerukunan antar tetangga dan warga yang walau pun majemuk dan heterogen, namun mampu<br />
dimanfaatkan sebagai kekuatan yang sinergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan adalah sesuatu yang tidak dapat dielakkan, karena begitulah Allah Taala menciptakan manusia dengan segala perbedaannya, tergantung bagaimana mengelola perbedaan itu menjadi harmoni yang indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/indahnya-harmoni-sosial.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terapi Penyakit Hati</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/terapi-penyakit-hati.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/terapi-penyakit-hati.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jul 2009 06:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Sangat banyak ayat Allah Taala dan hadits Rasulullah saw. yang menyinggung tentang hati yang semua itu tentu saja mengisyaratkan besarnya perhatian Allah dan Rasul-Nya terhadap hati manusia yang menjadi inti dan pusat kendali seluruh gerak dan aktivitasnya. Bersih dan kotornya hati seseorang akan segera berdampak pada perilaku dan perbuatannya. Maka dalam salah satu hadits Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sangat banyak ayat Allah Taala dan hadits Rasulullah saw. yang menyinggung tentang hati yang semua itu tentu saja mengisyaratkan besarnya perhatian Allah dan Rasul-Nya terhadap hati manusia yang menjadi inti dan pusat kendali seluruh gerak dan aktivitasnya. Bersih dan kotornya hati seseorang akan segera berdampak pada perilaku dan perbuatannya.<span id="more-853"></span> Maka dalam salah satu hadits Rasulullah saw. bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam Al-Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa penafsiran terkait dengan ‘hati’ pada hadits di atas. Apakah yang dimaksud adalah gumpalan daging dengan makna sebenarnya yang juga merupakan salah satu organ penting dalam tubuh manusia, sehingga dada Rasulullah saw. dibedah oleh malaikat dan dibersihkan hatinya sebelum beliau di-isra’ mi’rajkan, ataukah ‘hati’ dengan makna implicit; sesuatu yang dapat kita rasakan kehadirannya dalam diri kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari semua itu, kita yakin bahwa pada diri setiap kita ada hati yang menjadi pusat control perilaku dan tindakan, serta memberi pengaruh sangat besar terhadap apapun yang kita lakukan. Oleh karena itu, kita harus selalu berusaha agar hati kita bersih dari titik-titik hitam yang akan selalu menodainya seiring dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan, sehingga hati itu menjadi hitam pekat karenanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah makna salah satu sabda Rasulullah saw., bahwa tidaklah seorang hamba melakukan sebuah dosa kecuali ada noda hitam pada hatinya, bila ia segera beristighfar seraya bertaubat nasuha maka noda hitam itu pun sirna dan hatinya jadi bersih kembali. Tapi bila dosa dan kemaksiatan semakin bertambah maka noktah hitam pun akan semakin bertambah hingga hitamnya hitam pekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang dimaksud oleh firman Allah Taala dalam Al-Qur’an, “Di dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit itu atas mereka dan bagi mereka siksa yang pedih perih.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Dahsyatnya Penyakit Hati</strong></span><br />
Menterapi penyakit fisik jauh lebih mudah daripada menterapi penyakit hati, karena penyakit yang menimpa fisik dapat dirasakan dampaknya secara langsung, atau melalui proses diagnosa dan setelah itu dokter akan memberikan jenis pengobatan yang tepat untuk menghilangkan penyakit tersebut. Berbeda dengan penyakit hati yang terkadang tidak dapat diketahui<br />
dan dirasakan oleh yang mengidapnya, dan kalau pun orang tersebut mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit tersebut, maka ia butuh perjuangan besar untuk mengatasinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila seseorang mengidap penyakit hati maka dampaknya sungguh sangat dahsyat. Ia tidak hanya tak mampu merasakan ketenangan, ketenteraman dan kebahagiaan dalam hidupnya, tapi penyakit hati itu secara perlahan akan menggerogoti fisiknya hingga membuatnya didera berbagai penyakit. Karena itu, terkadang ada korelasi kuat antara penyakit hati dan penyakit fisik yang menimpa seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Maksiat Pangkal Penyakit Hati</strong></span><br />
Berbagai jenis penyakit hati akan dengan mudah bersarang dalam hati seseorang yang kerap melakukan kemaksiatan. Karena itu akan membuat hatinya gelap hingga tak dapat menyaksikan kebenaran dan kebaikan yang ada di sekelilingnya. Sehingga berbagai jenis penyakit pun bermunculan dan menampak dalam tindakan dan perilaku sehari-hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya itu, kemaksiatan juga membuat seseorang merasakan kehampaan jiwa, melemahkan hati, fisik dan kemauan, menghalanginya melakukan ketaatan, kehilangan rasa malu, hati menjadi gelap dan kehinaan dari Allah Taala, dan masihkah ada makna kehidupan bila Allah Taala telah menghinakannya? Masih banyak dampak buruk bagi hati dan jiwa seseorang disebabkan kemaksiatan yang dilakukan. Allah Taala sendiri menambahkan penyakit dalam hati sakit namun enggan membersihkannya dan bertaubat kepada-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Beberapa jenis Penyakit Hati</strong></span>:<br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Ujub</strong></span><br />
Tak satu pun yang kita miliki di dunia kecuali bahwa itu milik Allah Taala. Apa yang ia anugerahkan kepada kita berupa keindahan rupa yang dapat membuat orang lain terpesona, jangan sampai membuat kita ujub, ge-er dan bangga diri yang hanya akan melahirkan sifat angkuh dan sombong. Nikmat kesempurnaan fisik yang Allah berikan ini bahkan membuat banyak orang lupa daratan dan bermaksiat kepada Sang Pencipta. Ia tak menyadari bahwa suatu saat nanti tubuhnya akan renta dan rupanya menjadi buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Rasulullah saw. Mengajarkan kepada kita sebuah do’a saat bercermin: “Ya Allah, sebagaimana Engkau ciptakan aku dengan bentuk yang sempurna, maka perbaiki pula akhlakku, dan haramkan wajahku dari siksa api neraka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan doa ini kita berharap Allah Taala juga memperbaiki akhlak dan perilaku kita, karena itulah sesungguhnya yang akan mengangkat derajat kita di sisi Allah, dengan itu pula kita mampu meraih cinta manusia yang ada di sekeliling kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Riya</strong></span><br />
Setiap amal shalih yang kita lakukan hanya akan diterima Allah bila dilakukan dengan penuh keikhlasan. Betapapun sangat banyak amal kebaikan yang dilakukan bila disertai dengan sifat riya dan mengharap pujian manusia, maka semua itu hanya sia-sia belaka. Maka Allah senantiasa memerintahkan kita agar selalu ikhlas dalam beribadah kepada-Nya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya” (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Taala juga mengingatkan kita agar tidak membatalkan amal kebaikan kita dengan mengungkitnya kembali agar manusia tahu bahwa kita seorang dermawan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya “ (QS. Al-Baqarah: 264)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Kikir</span></strong><br />
Munculnya sifat ini dalam diri seseorang sesungguhnya berpangkal dari ketidaktahuannya bahwa nikmat yang ia peroleh segalanya dari Allah. Demikian pula dengan harta yang dimilikinya. Ia hanya tahu bahwa sepanjang hari ia habiskan untuk bekerja, peras keringat, banting tulang, berangkat pagi pulang petang untuk mendapatkan harta dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlahan tapi pasti ia rengkuh segala yang diidamkannya; rumah besar, kendaraan mewah dan sebagainya. Ia tidak menyadari bahwa pada harta yang ia miliki ada hak orang miskin dan tidak berpunya yang harus ia keluarkan dalam bentuk zakat, infak dan sadaqah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran bahwa apa yang diperoleh adalah titipan sementara dari Allah, akan menjadikannya sebagai muslim yang dermawan, dan itu juga adalah aplikasi dari nilai-nilai syukur atas curahan nikmat-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran inilah yang harus dibangun dalam diri setiap muslim, khususnya yang mereka yang diberi keluasan rizki. Karena Allah niscaya menambahkan untuknya nikmat-Nya bila ia pandai bersyukur: “Apabila kalian bersyukur, niscaya Aku tambahkan nikmat itu untuk kalian.” (QS. Ibrahim: 7)</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, tidak layak bagi kita memiliki sifat pelit alias kikir bin bakhil. Karena harta yang dimiliki pada akhirnya akan menyeret kita ke dalam neraka atau melapangkan jalan kita menuju surga Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #3366ff;">Angkuh</span></strong><br />
Ini adalah penyakit hati yang akan mengundang murka Allah Taala. Karena sifat ini hanya berhak jadi milik Allah. Manusia sebagai makhluk yang memiliki sangat banyak kelemahan dan ketidakmampuan membuatnya tidak berhak secuil pun atas sifat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya berbagai kelebihan dan keutamaan yang dimiliki kerap membuat seseorang menjadi angkuh dan sombong, membuatnya memandang enteng orang lain. Padahal seharusnya ia sadar bahwa kelebihan dan keutamaan tersebut adalah pemberian Allah Taala, sekaligus juga sebagai ujian baginya. Hal ini digambarkan Allah dalam firman-Nya: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (QS. Al-Fajr: 15)</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kemuliaan dan keutamaan itu memunculkan kesombongan dan keangkuhandalam diri, maka itu hanya akan mengundang murka dan siksa Allah. Tapi bila itu membuat pemiliknya tetap rendah hati, maka ia akan meraih cinta Allah dan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan masih sangat banyak jenis penyakit hati yang dapat mengidap dalam diri kita. Semoga kita terhindar dari semua itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Terapi Penyakit Hati</strong></span><br />
<span style="color: #3366ff;"><strong>Ikhlas</strong></span><br />
Ikhlas adalah salah satu amal hati dan berada pada bagian pertama dari rangkaian seluruh amal-amal hati. Kesempurnaan sebuah amal, diterima atau ditolaknya ia tergantung pada amal hati ini; ikhlas atau tidak. Ketika ada niat lain mengiringi amal yang dilakukan maka itu telah menodai kesempurnaan amal tersebut, hingga membuatnya ditolak oleh Allah Taala. Karena itu, landasan amal yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata.</p>
<p style="text-align: justify;">Mukmin yang lurus mampu menjadikan dorongan agama di dalam hatinya mengalahkan dorongan hawa nafsunya, motivasi akhiratnya sanggup menaklukkan motivasi dunianya, mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada yang ada di sisi manusia, menjadikan niat, ucapan, dan seluruh amalnya bagi Allah, dan menjadikan shalat, ibadah, hidup dan matinya hanya untuk Allah semata.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Tawakal</strong></span><br />
Tak ada sesuatu pun yang menimpa kita di dunia ini; besar atau kecil, kecuali bahwa Allah telah menetapkannya sebelum kita lahir. Maka setelah kita berikhtiar dan berusaha secara maksimal, akhir dari itu adalah kepasrahan diri dan tawakal atas apa yang ditakdirkan bagi kita. Sifat inilah yang membuat seorang muslim ikhlas dan ridha menerima segala yang terjadi pada dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman: “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung<br />
kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal..” (QS. At-Taubah: 51)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #3366ff;"><strong>Dzikir dan Istighfar</strong></span><br />
Karena dengan dzikir ini kita dapat menghadirkan Allah dalam diri kita, kapan<br />
pun dan dimana pun kita berada. Ketika muraqabah (pengawasan) Allah melekat dalam diri kita, maka selalu ada usaha agar berbagai aktivitas yang dilakukan senantiasa berada dalam bingkai syariat dan sunnah Rasul-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita juga tidak pernah lepas dari dosa dan kesalahan, sehingga lantunan istighfar harus diperbanyak. Bahkan Rasulullah saw. Beristighfar 100 kali setiap hari, padahal beliau telah dijamin masuk surga. Maka kita yang tidak mendapatkan jaminan tersebut selayaknya lebih banyak dari jumlah istighfar<br />
Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu a’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/terapi-penyakit-hati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
