<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALMANAR &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://www.almanar.co.id/category/buletin-almanar/artikel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almanar.co.id</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Dec 2011 02:29:04 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<div id='fb-root'></div>
					<script type='text/javascript'>
						window.fbAsyncInit = function()
						{
							FB.init({appId: null, status: true, cookie: true, xfbml: true});
						};
						(function()
						{
							var e = document.createElement('script'); e.async = true;
							e.src = document.location.protocol + '//connect.facebook.net/id_ID/all.js';
							document.getElementById('fb-root').appendChild(e);
						}());
					</script>	
						<item>
		<title>Mau Disayang Allah?</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 02:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh lebih sempurna. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [QS:At Tiin: 4]</p>
<p style="text-align: justify;">Dilengkapi dengan akal yang bisa berfikir, bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Diperindah dengan mata yang bisa melihat, lisan dan bibir untuk berbicara, telinga untuk mendengar. Mahabesar Allah yang telah menciptakan makhlukNya dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah kami Telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [QS: Al Balad: 8-10]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hidup sebagai ujian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS: Al Mulk: 2] Bagi mereka yang sukses disediakan surge yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya terdapat kenikmatan yang sempurna, mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terbersit dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi mereka yang gagal tempatnya adalah neraka, di dalamnya terdapat siksa yang amat pedih, api yang sangat panas, minumannya nanah yang sangat bau, dan segala macam siksa yang belum pernah terbayangkan. Allah sangat menyayangi kita dan masih memberikan kesempatan untuk memilih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mensyukuri ni’mat Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bersyukur kepada Allah merupakan hal utama yang harus kita lakukan. Kesempatan hidup ini hanya sekali yang tidak boleh disia-siakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan semua anggota tubuh sesuai dengan amanah yang diembankan Allah kepada kita. Lisan banyak berdzikir, mata digunakan melihat hal-hal yang disukai Allah, telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan hati untuk tadabbur dan merenungkan keagungan ayat qauliyah [al Qur’an] dan alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah sangat menyayangi kita, panca indra kita lengkap, dan bisa digunakan untuk bersyukur kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manajemen waktu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aplikasi syukur nikmat haruslah dimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Pesan Allah begitu banyak untuk memanfaatkan waktu dengan optimal. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain. [QS; As Syarh: 7]</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas dan amanah yang harus dikerjakan terkadang lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Menentukan skala prioritas adalah tugas setiap muslim. Supaya dapat mengerjakan hal yang wajib dan juga yang sunnah. Betapa banyak orang yang gagal karena kurang cermat dalam menggunakan kesempatan. Membuat peta hidup atau jadwal aktifitas adalah gambaran yang rapi dari kehidupan seorang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran ini kita dapati dari waktu-waktu yang disebutkan Allah dalam al Qur’an. Demi waktu, Demi waktu malam, Demi waktu duha, dll. Dari semua itu akan bermuara kepada optimalisasi waktu yang indah, semuanya bernilai pahala, dan tidak ada yang sia-sia.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang karakter orang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. {Al Mu’minun: 3]</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memenej waktu dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Istiqomah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebentuk syukur kita kepada Allah adalah komitmen beribadah dengan kontinyu dan terus menerus. Kita berpacu dengan iblis dan pasukannnya, kita berpacu untuk mengendalikan hawa nafsu. Jangan sampai menjadi tentara iblis yang pasti menjadi penghuni neraka. Istiqomah mengaplikasikan peta hidup yang telah dirancang, disertai doa supaya diberikan kekuatan untuk istiqomah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan panjang ujian dalam hidup harus ditempuh dengan penuh semangat. Jangan lemah dan putus asa untuk menyongsong surge Allah. Berjuang dengan giat untuk menjauhi neraka dan siksa Allah. Rasulullah Saw berpesan</p>
<p style="text-align: justify;">kepada kita untuk menguatkan keimanan dengan istiqomah. “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah. Kemudian beristiqomahlah”. Jalan istiqomah masih membentang di hadapan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menggapai Ridho Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah memilih kita dan memberikan hidayah Islam semenjak kita lahir, sungguh merupakan karunia yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang sampai meninggal tidak mendapatkan hidayah Islam. Ada juga yang tergelincir dan murtad dari jalan Islam. Maka hanya ada satu cara yang harus kita tempuh, yaitu mencari keridhoan Allah dalam kehidupan sementara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok yang diridhoi Allah adalah golongan Muttaqin. Ini beberapa karakternya yang dicatat Al Qur’an: Orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dalam setiap lingkup kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini dan beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dalam kehidupan kesehariannya yang berimplikasi terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar. Membayarkan zakat sebagai kewajiban harta dan juga sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al Qur’an, yaitu Taurat, Zabur dan Injil. Kita masih bisa menggapai Ridho Allah dan menjadikannya sebagai tujuan hidup</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengambil pelajaran dari sifat</strong> <strong>Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ruh yang menjadi inti jiwa kita berasal dari Allah SWT. Sejatinya kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa sifat Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sifat Penyayang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kita dalam kapasitas masing-masing bisa menjadi seorang yang penyayang terhadap sesama. Dimulai dari lingkup keluarga, menyayangi orang tua, istri, anak, kakak, adik, kerabat dan saudaranya seagama. Sifat sayang ini akan melahirkan rasa cinta yang ikhlas karena Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana halnya ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai bukti rasa sayang, maka seorang muslim senang untuk berbagi, tidak rela melihat saudaranya kelaparan sementara dirinya kenyang. Oleh karena itu dalam hal muamalah ia lebih mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Sungguh indah apa yang digambarkan Allah tentang sifat orang-orang Anshor yang lebih mendahulukan kebutuhan orang muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri padahal sesungguhnya mereka pun membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sifat Pemaaf</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Maha pemaaf terhadap kesalahan hambaNya. Kita sebagai orang yang tunduk kepada Allah hendaknya meniru sifat ini, kemudian diaplikasikan dalam keseharian ketika berinteraksi dengan sesama. Memaafkan orang lain yang mempunyai salah terhadap kita adalah akhlaq seorang muslim. Allah menggambarkan karakter orang bertakwa sebagai orang yang suka memaafkan manusia. Seperti halnya kita ingin dimaafkan oleh Allah, maka sudah seharusnya kita suka memaafkan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai kita menjadi penghalang bagi kebaikan orang lain yang ingin meminta maaf dari kita. Sebuah pelajaran berharga dapat kita ambil dari kisah seorang sahabat yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika diteliti ternyata tidak ada hal yang luar biasa dari ibadah ritualnya. Tetapi ternyata ada satu kebiasaan baik yang ia lakukan yaitu memaafkan orang lain sebelum ia tidur. Masih ada kesempatan untuk menjadi penyayang dan pemaaf</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Supaya Allah tetap menyayangikita</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa perbuatan yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang senantiasa disayangi Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rajin Berdo’a</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah menyukai orang-orang yang suka berdoa kepadaNya. Orang yang menumpahkan keluh kesahnya kepada Allah. Memohonkan solusi untuk persoalan hidupnya. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. {QS: Al Baqarah: 186]</p>
<p style="text-align: justify;">Doa yang disertai dengan ketaatan kepada perintah Allah dan dilandasi dengan keimanan yang sempurna akan menghasilkan doa yang terkabul. Dan bukan doa yang hanya sekadar permohonan lisan sementara hatinya lalai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rajin menebar kebaikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kebaikan yang mencakup perbuatan lisan, tutur kata yang baik, tidak menyakiti orang lain, saling memberikan taushiyah dalam kesabaran dan kebenaran. Perkataan yang meneduhkan dan tidak memancing amarah orang lain. Berlandaskan kepada sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” [HR. Muslim]</p>
<p style="text-align: justify;">Juga pergaulan yang baik dengan sesama. Menghormati dan menghargai orang lain, memuliakan tamu, tetangga dan saudara-saudaranya. Menjaga sifat toleransi dalam bermasyarakat. Menjauhi sikap egois dan sombong yang membawa kepada kondisi yang tidak harmonis dalam pergaulan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selagi usia masih di kandung badan, selalu ada kesempatan untuk berdoa dan berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berhias diri dengan sifat sabar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita yakin bahwa keimanan akan mengalami ujian, maka bekal yang kita siapkan adalah sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Kesabaran yang berlipat ganda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesabaran yang ujungnya adalah kesuksesan. Ujian dunia seperti rasa cemas, takut, kekurangan harta benda dan kematian adalah hal biasa yang pasti dilalui. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orangorang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: &#8220;Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;[QS; Al Baqarah: 155-156].</p>
<p style="text-align: justify;">Kesenangan yang kita peroleh atau penderitaan yang kita terima termasuk ujian. Jangan sampai melalaikan kita dari jalan Allah. Harta yang banyak dan anak-anak juga jangan sampai melalaikan kita dari mengingat Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita dituntut bersabar dalam beribadah kepada Allah, dalam menjauhi larangan Allah dan dalam menerima sesuatu yang kurang sesuai dengan selera kita. Sungguh, di sisi Allah ada pahala yang besar bagi mereka yang bersabar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah, Rahmati kami, sayangi kami dan</p>
<p style="text-align: justify;">berkahi hidup kami. Amin</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sinergikan Kata &amp; Amal</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/sinergikan-kata-amal.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/sinergikan-kata-amal.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 01:30:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Almanar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1517</guid>
		<description><![CDATA[Berbicara, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang mengasyikkan bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Padahal orang yang diam, belum tentutidak mengetahui permasalahan yang dibicarakan. Malah bisa jadi orang yang diam sesungguhnya lebih memahami persoalan yang diperbincangkan tersebut. Jika kita perhatikan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang mengobral pembicaraan, mulai para tokoh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Berbicara, bagi sebagian orang merupakan sesuatu yang mengasyikkan bahkan menjadi sebuah hobi tersendiri. Padahal orang yang diam, belum tentutidak mengetahui permasalahan yang dibicarakan. Malah bisa jadi orang yang diam sesungguhnya lebih memahami persoalan yang diperbincangkan tersebut. Jika kita perhatikan kondisi bangsa kita akhir-akhir ini, maka kita lihat betapa banyak orang mengobral pembicaraan, mulai para tokoh dan pakar, pejabat hingga rakyat kecil. Para pakar sangat pandai berkomentar mengenai suatu peristiwa, namun sedikit sekali memberikan solusi atas persoalan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka sering berkomentar dan berdebat di televisi, namun kenyataannya tidak ada aksi yang diperbuatnya. Para pakar dan ahli sering diminta gagasan dan ide-ide terhadap suatu permasalahan masyarakat, bahkan mereka sering berdebat dan berbantah-bantahan me ngadu argumen masing-masing untuk memberikan komentar dan pendapat mereka namun hanya sedikit dari komentar mereka dibuktikan dengan perbuatan. Para pejabat juga demikian, mereka banyak mengobral berbagai macam janji kepada rakyat, mulai perbaikan sarana dan prasarana, pendidikan gratis, jaminan kesehatan, peningkatan pelayanan publik, kesempatan kerja yang lebih banyak, peningkatan pendapatan dan sebagainya. Namun ternyata janji-janji itu sangat sedikit yang direalisasikan. Para pejabat nampaknya lebih senang untuk banyak bicara daripada banyak berbuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula masyarakat lapis bawah, mereka sudah pandai berdebat dengan sesama temannya. Di warung-warung, di pangkalan ojek, dan dimana saja, tempat mereka nongkrong sering kita jumpai mereka sedang berdebat tentang berbagai macam tema. Mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga masalah-masalah politik serta ngrasani orang lain. Padahal mereka adalah orang awam yang tidak ada keterkaiatnnya dengan persoalan persoalan yang mereka debatkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sering kali kita mendengar mereka berdebat sengit tentang politik, padahal pembicaraan mereka hanyalah debat kusir belaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem demokrasi, dimana kebebasan untuk berpendapat dilindungi oleh undang-undang dijadikan alasan untuk mengobral komentar dan berdebat mengadu argumen bagi para ahli dan pakar, atau mengobral janji-janji bagi para pejabat atau pun mengobral ucapan dan debat kusir bagi masyarakat awam. Sehingga mereka kelihatannya lebih senang dan merasa akan dianggap hebat kalau komentarnya lebih banyak atau merasa hebat jika dia menang dalam berdebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Akibatnya adalah para ahli tersebut kurang disegani oleh rakyat, para pejabat tidak memiliki kewibawaan dan masyarakat awam tidak punya harga diri, karena mereka semua terlalu banyak bicara dari pada berbuat yang konkret.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi, permasalahan-permasalahan yang menimpa bangsa kita tercinta ini seperti maraknya KKN, suap-menyuap, penipuan, dan meningkatnya kemiskinan, kebodohan, kemunafikan, serta kemusyrikan disebabkan karena banyak pemimpin bangsa ini hanya sekadar mengumbar janji tanpa dibarengi dengan perbuatan nyata, atau karena banyak para ahli dan pakar hanya bisa mengobral ide dan gagasan namun tidak membuktikannya dengan perbuatan, ataupun masyarakat awam yang bergaya seperti para pakar dan ahli, sehingga mereka senang ngrasani dan juga memang kebiasaan masyarakat suka nongkrong dan berdebat padahal bukan urusan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Berani Berbicara Berani Berbuat</strong></span><br />
Islam mengajarkan kepada umatnya untuk tidak menjadi orang yang banyak bicara tetapi sedikit beramal (berbuat). Karena sikap seperti ini, banyak bicara sedikit berbuat sangat dibenci oleh Allah SWT. Firman Nya, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf : 2-3).</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini diturunkan Allah SWT. Ketika ada sekelompok orang meminta kepada Rasul SAW agar diberitahukan tentang amal perbuatan yang paling dicintai Allah SWT. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat yang berisi tentang perintah untuk berjihad, namun kenyataannya mereka yang menawarkan diri akan melakukan amal perbuatan yang paling afdhal, justru tidak mau berangkat untuk jihad membela agama Allah SWT. Mereka enggan berjihad dan banyak beralasan untuk lari dari jihad. Padahal mereka sendiri yang meminta untuk ditunjukkan amal yang paling baik. Namun tidak mau mengerjakannya. Sehingga hal itu sangat dibenci oleh Allah SWT dan tentu hal itu adalah benar-benar suatu keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang Islam dituntut agar setiap kata yang diucapkan dari bibirnya sesuai dengan perbuatannya. Tidaklah patut seorang muslim hanya pandai bicara tapi tidak mau beramal. Lebih tidak patut lagi jika seseorang hanya bisa menyuruh tapi tidak bisa memberi contoh. Banyak orang merasa bahwa lebih tinggi kedudukannya sehingga dia lebih senang menyuruh dari pada memberi contoh.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita bercermin kepada pribadi Rasulullah SAW, maka kita akan menemukan pada diri Beliau sebuah teladan yang sangat sempurna. Setiap kali beliau memerintahkan suatu amal atau ibadah maka beliaulah yang memulai pekerjaan tersebut. Rasulullah SAW selalu berbuat terlebih dahulu sebelum memerintahkan sahabat-sahabatnya, Beliau selalu memberi contoh sebelum sahabatnya melakukan pekerjaan tersebut. Sehingga tidak ada suatu amal apapun yang dikerjakan para sahabat kecuali hal itu telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah pada suatu ketika, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat untuk mencukur rambut dan diteruskan memotong kambing setelah melakukan ibadah melempar jumrah di Mina. Namun para sahabat tidak kunjung melakukan perintah tersebut. Hingga Rasulullah SAW nampak agak kurang senang, karena perintahnya tidak segera dilaksanakan oleh para sahabatnya. Kemudian ada salah satu Istri Rasul mengusulkan agar Beliau memberi<br />
contoh terlebih dahulu sebelum sahabat. Kemudian Beliau menuruti usulan tersebut, lalu Beliau mencukur rambut dan memotong kambing. Segera setelah itu, para sahabat menirukan apa yang telah dicontohkan Rasul.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejadian tersebut, maka kita harus membuktikan segala ucapan kita dengan perbuatan yang nyata. Jangan sampai kita hanya bisa bicara tapi tidak bisa berbuat. Janganlah kita seperti sebuah pepatah yang mengatakan ’Tong kosong nyaring bunyinya’. Dimana orang yang banyak bicara, pandai berdebat dan senang ngrumpi itu biasanya tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya pandai bicara namun sedikit berbuat. Seorang muslim harus selaras antara ucapan dan perbuatannya. Jika dia berani berbicara maka dia harus juga berani berbuat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sedikit Bicara</strong></span><br />
Setiap kita, hendaknya mengetahui situasi dan kondisi, kapan saat harus bicara dan kapan saatnya harus diam. Sebelum berbicara, seseorang sebaiknya memahami atau paling tidak mengetahui persoalan apa yang akan dibicarakannya. Selain itu, yang juga lebih harus diperhatikan adalah apakah yang akan dibicarakan itu suatu kebaikan atau keburukan. Jika sesuatu itu baik dan dirasa perlu untuk menyampaikan (mengkomunikasikan), maka sampaikanlah dengan penuh kebaikan. Tetapi sebaliknya, jika sesuatu yang ingin disampaikan itu suatu keburukan dan bisa menimbulkan fitnah, maka sebaiknya tidak perlu dibicarakan dengan jelas, tepat dan apa adanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berbicara yang baik atau diam adalah suatu kebaikan yang untuk saat ini sedikit sekali orang yang melakukannya. Terkait dengan hal itu Rasulullah SAW pernah menyampaikan dalam sebuah haditsnya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir (kiamat), hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Lidah secara fisik hanya pendek dan lunak. Bahkan sudah ditutup rapat dalam mulut dan dibatasi oleh barisan gigi yang kokoh dan kuat. Namun begitu, masih saja lidah ini sewaktuwaktu menjadi bahaya laten. Ternyata dia bisa lebih panjang dari jalanan yang ada. Setiap kata dan ucapan yang keluar dari mulut diterbangkan ke mana-mana. Terkadang masih terus diabadikan, bahkan hingga pemilik lidah itu tiada. Ketajamannya juga bisa melebihi mata pisau. Hanya karena ucapan, maka korban bisa berjatuhan, meninggalkan luka berkepanjangan. Bahkan melahirkan pendendam dan orang-orang yang sakit hati. Lidah juga bisa lebih berbisa dari ular yang lebih berbisa sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Betapa banyak orang tidak menyadari, alangkah banyak dosa yang telah dikoleksi melalui lisannya. Lebih dari itu, tak jarang kehancuran seseorang terjadi karena kurang hati-hatinya dalam menyusun kata-kata di atas lidahnya, karena terlalu banyak bicara akan mengakibatkan kemampuan otak menurun, membuatnya lemah, sehingga kata-katanya keluar begitu saja tanpa kontrol dari si pembicaranya. Padahal, ucapan apa pun yang kita ucapkan, baik yang diucapkannya itu baik ataupun busuk, semuanya tercatat, semuanya terekam oleh malaikat pencatat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Allah SWT dalam firmanNya : “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar (82) : 10-12). “Inilah kitab (catatan) Kami yang menuturkan kepada kalian dengan benar. Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang kalian telah kerjakan.” (QS.Al-Jatsiyah (45) : 29).</p>
<p style="text-align: justify;">Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan ucapan atau perbuatan yang tidak bermanfaat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallah ‘anhu , ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” (HR At-Tirmidzi). Imam Ibnu Rajab rahimahullah (wafat 795H) mengatakan: “Hadits ini merupakan pondasi yang sangat agung di antara pondasi-pondasi adab.” Dia mengatakan pula tentang pengertian hadits ini: “Sesungguhnya barang siapa yang baik keislamannya pasti ia meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting baginya; ucapan dan perbuatannya terbatas dalam hal yang penting baginya.” (Kitab Jami’ul ‘Ulum wal Hikam).</p>
<p style="text-align: justify;">Ukuran penting di sini bukan menurut rasa atau rasio/ akal kita yang tidak lepas dari pengaruh hawa nafsu, akan tetapi berdasarkan tuntunan syari’at Islam. Termasuk meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak penting adalah meninggalkan hal-hal yang haram, atau hal yang masih samar, atau sesuatu yang makruh, bahkan berlebihan dalam perkara-perkara yang mubah sekalipun, sedangkan apabila tidak dibutuhkan maka termasuk kategori hal-hal yang tidak penting.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Ibnu Rajab rahimahullah menambahkan pula: “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala :</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah seorang mengucapkan satu ucapan kecuali padanya ada malaikat yang mengawasi dan mencatat.” (Qaaf: 18).</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/sinergikan-kata-amal.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/sinergikan-kata-amal.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut dan Harap dalam Islam</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/takut-dan-harap-dalam-islam.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/takut-dan-harap-dalam-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 03:19:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Almanar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1492</guid>
		<description><![CDATA[Takut dan harap adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya juga adalah fitrah manusia, yang senantiasa ada dalam diri setiap individu. Sisi yang pertama tidak akan berarti tanpa adanya sisi yang ke-duanya, demikian pula sebaliknya keduanya saling berhubungan erat.
Islam menyeru kepada manusia agar senantiasa takut hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Takut dan harap adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya juga adalah fitrah manusia, yang senantiasa ada dalam diri setiap individu. Sisi yang pertama tidak akan berarti tanpa adanya sisi yang ke-duanya, demikian pula sebaliknya keduanya saling berhubungan erat.</p>
<p style="text-align: justify;">Islam menyeru kepada manusia agar senantiasa takut hanya kepada Allah semata, dan bukan kepada yang lainnya perhatikanlah ayat Allah. Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras untuk mengusir Rasul dan mereka yang pertama kali memulai memerangi kamu Mengapa kamu takut kepada mereka, padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang-orang beriman. (QS. 9:13)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat tersebut menggambarkan betapa rasa takut pada Allah itu mutlak harus ada pada diri orang-orang yang mengatakan dirinya telah beriman kepada-Nya. Sebab manusia yang paling takut kepada Allah adalah manusia yang paling tahu tentang dirinya dan Tuhannya, itulah sebabnya Rasulullah mengatakan: “Demi Allah! Aku adalah orang yang paling tahu tentang Allah di antara kamu, dan paling takut pula kepada-Nya (HR. Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang mukmin sejati, seharusnya memiliki ruh keberanian untuk mengatakan yang benar adalah benar, dan mengerjakannya, demikian pula sebaliknya mengatakan kebatilan adalah batil lalu meninggalkannya, tanpa rasa takut kepada satu makhluk pun di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Takut Kepada Allah</strong></span><br />
Tidak terbayangkan seandainya ada seorang mukmin yang tidak punya rasa takutkepada Allah, betapa pun lemah imannya.<br />
Semakin tebal keimanan seseorang yang berbanding lurus dengan makrifatnya kepada Allah, semakin besar pula rasa khauf yang ada pada dirinya kepada Allah. Rasulullah saw menggambarkan ganjaran yang dijanjikan Allah swt kepada hamba-Nya yang senantiasa menangis karena takut kepada-Nya. “Seorang hamba yang menangis berderai air mata lantaran takut kepada Allah ta’ala, tidaklah akan masuk neraka sehingga air susu bisa kembali ke sumbernya” (HR. Turmudzi)</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang tidak tidur (di malam hari) karena berjaga-jaga di jalan Allah”(HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Takut kepada Allah tidaklah berarti kita harus mengeluarkan air mata sederas-derasnya lalu kita usap, lalu menangis, kemudian menghapusnya lagi. Akan tetapi takut kepada Allah adalah meninggalkan suatu perbuatan yang memang sudah dilarang oleh Allah dan kita takut akan azab yang ditimbulkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abul Qosim al Hakim ra, berkata: “Barang siapa yang takut kepada sesuatu, ia akan menjauhinya, tetapi barang siapa yang takut kepada Allah maka ia akan mendekati-Nya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasa takut kepada Allah, akan senantiasa menjauhkan kita dari hawa nafsu untuk melakukan kejahatan atau kemaksiatan. Kita akan selalu mengingat bahaya hukuman yang akan ditimpakan Allah. Segala pikiran, tindakan, dan ucapan kita akan terkontrol dengan baik karena adanya khauf ini, sebagaimana pula segala daya dan upaya kita kerjakan agar selalu merasa dekat kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap manusia tidaklah luput dari kesalahan yang diperbuatnya, dan itu juga bisa terjadi pada orang beriman kepada Allah, bahkan sejarah mencatat di kalangan generasi sahabat ada juga yang berbuat kesalahan, seperti melakukan zina, hanya saja ia cepat menyadari kesalahannya tersebut, dan rela untuk dijatuhkan hukuman rajam kepada dirinya sebagai sanksi atas perbuatannya. Tentu saja itu dilakukannya karena keimanan sahabat tersebut yang kemudian memunculkan rasa takut pada dirinya akan azab Allah yang akan menimpanya di akhirat kelak, serta berharap akan mendapatkan ampunan Allah di akhirat nanti dengan menjalani hukumannya di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Berharap Kepada Allah</strong></span><br />
Harapan akan ampunan Allah yang disertai dengan usaha-usaha atau langkahlangkah untuk mencapainya inilah yang disebut sebagai roja’ atau optimis. Roja’ (optimis) sudah pasti berbeda dengan anganangan kosong. Orang yang beranganangan kosong lalu ia yang berharap akan mendapatkan sesuatu, sedang ia tidak melakukan suatu usaha untuk mencapainya. Ia ingin mendapatkan rezki tetapi berdiam diri saja, yang tentu saja mustahil untuk mendapatkannya. Maka harapan yang benar adalah, bila setiap mukmin mempunyai harapan kepada Allah dan harapannya itu membuat dirinya menjadi taat dan mencegahnya dari kemaksiatan, akan tetapi bila harapannya hanya angan-angan saja, sementara dirinya tenggelam dalam kemaksiatan maka harapannya itu sia-sia dan percuma saja. Dan orang seperti inilah yang dimaksud oleh Rasulullah saw, sebagai orang yang bodoh, kebalikan dari orang yang cerdas.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam sabdanya Beliau menyebutkan: “Orang yang cerdas itu, adalah orang yang membersihkan dirinya dari “kotoran”, lalu melakukan amal perbuatan kebaikan untuk mendapatkannya -hasilnya- di hari setelah kematian, sedang orang yang dungu itu, adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya kemudian berangan-angan (bukan berharap, pen) kepada Allah -mendapatkan ampunan dan kenikmatan-. (HR. Turmudzi)</p>
<p style="text-align: justify;">Renungkanlah perkataan Yahya bin Muadz berikut ini sehubungan dengan kalimat di atas: “Di antara ketertipuan yang paling besar adalah terus menerus berbuat dosa sambil mengharapkan ampunan tapi tanpa penyesalan, mengharapkan untuk dekat dengan Allah tanpa diiringi ketaatan kepada-Nya, menanam benih neraka tetapi mengharap panen surga, ingin tinggal bersama orang-orang yang taat tapi dengan cara berbuat maksiat, menunggu-nunggu pahala tanpa berbuat amal kebaikan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah nasib orang-orang yang suka berangan-angan kosong. Mereka bukanlah orang yang beruntung, akan tetapi mereka adalah orang yang tertipu karena kebodohannya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk mencapai kesempurnaan sikap roja’, maka ada tiga perkara yang harus diperhatikan seperti berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>Cinta</strong></span><br />
Yaitu mencintai Allah dan Rasul-Nya atas segala yang lainnya, dimana ada tiga maqam yang harus dimiliki, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pertama</strong></em>, <em>maqam takmil</em> (maqam penyempurnaan). Yaitu hendaklah Allah dan Rasul Nya lebih ia cintai daripada yang lainnya, yang berarti pula tidak hanya bermakna sekedar cinta, tapi cinta yang sebenar-benarnya cinta atau sampai pada kesempurnaan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua</strong></em>, <em>maqam tafriq</em> (maqam pembedaan), yaitu, mencintai seseorang hanya karena Allah semata, dan juga sebaliknya membenci seseorang baik berupa perkataan maupun perbuatan, semata hanya karena hal tersebut dibenci oleh Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ketiga</strong></em>, <em>maqam daf’ul al-naqidh</em> (maqam penolakan atas lawan iman). Yaitu hendaklah membenci segala sesuatu yang berlawanan dengan iman dengan kebencian yang melebihi kebenciannya bila dilemparkan ke dalam neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka cinta kepada Allah sesungguhnya tidaklah akan sempurna kecuali dengan menyerahkan semua loyalitasnya hanya kepada-Nya saja, tentu saja dengan menyesuaikan dirinya dengan apa yang Allah suka dan benci, dengan kata lain bahwa ia mencintai apa yang dicintai Allah dan begitu juga ia membenci apa yang Allah benci. Sesungguhnya cintalah yang menggerakkan kehendak hatinya dan setiap kali tuntutan hatinya itu menguat, setiap itu pula ia selalu melaksanakan apa yang dicintai Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>Takut harapannya hilang</strong></span><br />
Setiap orang yang mengharap adalah juga orang yang takut pada saat yang sama. Bahwa orang yang mengharap mendapatkan ridha dan ampunan-Nya, maka pada saat itu pula ia akan senantiasa merasa takut melakukan pekerjaan yang tidak disukai oleh Allah swt. Untuk membina rasa takut kepada Allah, ada tiga hal yang patut dicermati:</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Pertama</strong></em>, mengetahui dosa-dosa dan keburukannya serta akibat dari perbuatan dosa tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Kedua</strong></em>, meyakini kebenaran akan ancaman Allah, bahwa Allah swt telah menyediakan siksaan atas setiap dosa yang dilakukan manusia.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>Ketiga</strong></em>, memahami bahwa boleh jadi ia tidak akan pernah bisa melakukan taubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kuat dan lemahnya rasa takut kepada Allah dalam diri seorang hamba, bergantung pada kuat atau lemahnya ketiga hal itu dalam dirinya. Dengan rasa takut akan memaksa seorang hamba untuk berlari kembali kepada Allah. Merasakan ketenteraman di haribaan-Nya. Itulah rasa takut yang disertai dengan kelezatan iman di hatinya. Juga ketenangan hati, ketenteraman jiwa dan cinta yang senantiasa memenuhi ruang hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>Berusaha untuk mencapainya</strong></span><br />
Untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan seorang hamba pada Allah swt, tentulah dengan usaha yang sungguh-sungguh. Di samping dengan rasa cinta dan takut ia akan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan harapannya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga hal tersebut di atas menjadi penting karena raja’ yang tidak dibarengi dengan tiga perkara di atas, maka itu hanyalah ilusi dan hayalan. Sebab orang yang berharap adalah juga orang yang takut, seperti orang yang ingin sampai di suatu tempat<br />
dengan tepat waktu, tentu ia takut untuk terlambat.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah selayaknya seorang mukmin, menjadikan rasa takut dan menggantungkan harapannya hanya kepada Allah. Dengan rasa takut kepada Allah, maka ia akan mampu menahan organ tubuhnya dari segala kemaksiatan. Kemudian di saat yang sama ia senantiasa berharap atas ampunan dan ridho-Nya, maka dengan begitu akan menjadikannya sebagai hamba yang akan selalu menggantungkan dan menyerahkan dirinya kepada Allah.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Wallahu a’lam bisshawab</em></p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/takut-dan-harap-dalam-islam.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/takut-dan-harap-dalam-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Musibah</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/belajar-dari-musibah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/belajar-dari-musibah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Mar 2011 05:53:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1481</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di dunia adalah ujian, Allah swt berfirman: “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia lebih perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al- Mulk/67:2). Maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini adakalanya terasa manis, atau sebaliknya ada yang terasa pahit. Ada kejadian-kejadiannya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup di dunia adalah ujian, Allah swt berfirman: “Dialah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia lebih perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al- Mulk/67:2). Maka peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini adakalanya terasa manis, atau sebaliknya ada yang terasa pahit. Ada kejadian-kejadiannya yang tampak indah dan menyenangkan, atau sebaliknya ada yang tampak jelek dan menakutkan.<span id="more-1481"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Semua yang manis, indah dan menyenangkan, itulah mungkin yang kita sebut kenikmatan dan karunia. Adapun semua yang pahit, jelek dan menakutkan dari peristiwa yang menimpah kita, itulah mungkin yang kita sebut musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang perlu kita bangun dalam diri kita adalah bahwa dibalik peristiwa itu ada hikmah, baik yang dinilai sebagai keburukan atau kebaikan, bukankah Allah mengatakan dalam Al-Qur’an bahwasannya: “Dialah yang membuat segala sesuatu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-sajdah/32:7).</p>
<p style="text-align: justify;">Prof. M. Quraiys Shihab mengatakan: “Segala yang diciptakan oleh Allah semuanya adalah baik. Keburukan adalah akibat keterbatasan pandangan. Ia sebenarnya tidak buruk, tetapi nalar manusia mengiranya demikian. Keterbatasan pandangan pada objek tersebut menjadikan si pemandang melihatnya buruk. Tetapi jika wajah dipandang secara menyeluruh, maka titik hitam tersebut justru menjadi unsur kecantikannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itulah, maka Allah mengingatkan bahwa: “Boleh jadi engkau tidak senang kepada sesuatu, padahal dia itu baik untuk kamu, dan boleh jadi juga engkau menyenangi sesuatu padahal itu buruk untuk kamu, Allah mengatahui dan kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah/2:216). (Jurnal Studi Al-Qur’an, Januari 2006).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Musibah dan Bala’ (ujian) Pasti Datang.<br />
</strong></span>“Dan aku pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah/2:155).</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah beberapa musibah atau bala’ yang dapat menimpah semua orang. Baik disebabkan karena ulah jahat manusia atau memang sudah kehendak Allah swt, untuk menjelaskan bahwa kehidupan ini adalah ujian. “Tak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah” (QS.Al- Taghaabun/64:11).</p>
<p style="text-align: justify;">Musibah pada dasarnya didatangkan Allah karena ulah atau kesalahan manusia. Sedangkan bala’ tidak mesti demikian, dan bahwa tujuan bala’ adalah peningkatan derajat seseorang di hadapan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kita dapat mendengar, melihat, bahkan mungkin merasakannya sendiri adanya musibah atau bala’. Orang yang tinggal di daerah dataran tinggi, dengan mudah terkena musibah longsor. Yang tinggal di daerah dataran rendah, dengan mudah tersapu musibah banjir. Dan yang merasa aman, karena ia tinggal di daerah yang dipandang aman, jauh dari longsor ataupun banjir, kalau waktunya sudah tiba, musibah pasti datang kepadanya, atau justru ia yang mendatangi musibah.</p>
<p style="text-align: justify;">Musibah itu bisa berupa kebakaran, kecelakaan, sakit, kematian dan yang lainnya. Dan cukuplah sebagai pelajaran yang tak terlupakan sekaligus peringatan bagi kita semua, ketika Allah swt menunjukkan kembali sedikit keagungan dan kebesaran- Nya, dengan tsunami yang terjadi di Jepang yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Sungguh merupakan peristiwa yang sangat luar biasa serta menimbulkan dampak yang amat besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Musibah, bala’ &amp; Sikap seorang Muslim</strong></span><br />
Karena ujian dan musibah merupakan sebuah kepastian, maka tak seorangpun yang luput darinya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat pula ujiannya. Karena itu, Rasulullah saw pernah mengajarkan jurus jitu kepada umat Islam dalam menjalani ujian hidup ini, terutama untuk menghadapi musibahnya, sekaligus sebagai pujian bagi seorang mukmin yang telah berhasil mendapatkan manisnya keimanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw mengatakan: “Orang mukmin itu memiliki keunikan, sehingga suluruh urusannya menjadi baik untuknya, dan keunikan ini tidak dimiliki oleh siapapun kecuali oleh orang yang mukmin. Yaitu; apabila ia mendapatkan kenikmatan, ia pandai bersyukur, hal ini baik baginya, dan apabila ia mendapatkan musibah, ia tegar bersabar, hal ini juga baik baginya” (HR. Muslim, riwayat dari sahabat Abu Yahya Shuhaib bin Sinan ra).</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan di dalam hadits qudsiy, Rasulullah menerangkan, bahwa Allah berfirman:  “Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin dari penduduk dunia, ketika Aku mengambil kesenagannya lalu ia merelakannya, kecuali surga” (HR. Bukhari, riwayat dari Abu Hurairah ra).</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga seorang muslim dengan keimanan yang ia miliki dapat melihat ujian atau bala’ sebagai hal yang menyenangkan. Allah berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Aku akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah. Dan hanya kepada Akulah kamu dikembalikan” (QS. Al-Anbiya/21:35). Nabi Sulaiman as, misalnya, yang diberi aneka kuasa dan kenikmatan, menyadari fungsi nikmat sebagai ujian sehingga beliau berkata sebagimana diabadikan Al-Qur’an: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatnya)?” (QS. Al-Naml/27:40).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka cukuplah sebagai solusi terapi mental yang paling manjur bagi orang-orang yang beriman ketika musibah dunia menguncangnya, pesan Allah berikut ini: “… Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata:”Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un” (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah orang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. Al-Baqarah/2:155-157).</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan ingat dan sadar, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali? seseorang akan mendapatkan kembali kekuatan dan staminanya untuk terus bertahan dan melanjutkan sisa perjalanan hidupnya untuk menjadi lebih baik. Sementara ajaran idiologi selain Islam tidak sanggup menyelamatkan pemeluknya dari keterpurukan moral dan mental bahkan bunuh diri, di saat peristiwa dunia menghimpitnya dan musibah mengguncang kehidupannya. Maha Suci Engkau ya Allah, yang seluruh penghuni langit dan bumi selalu bertasbih kepada-Mu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Musibah Adalah Ujian</span></strong><br />
Musibah ini diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menguji keimanan mereka, agar di ketahui siapa di antara mereka yang imannya benar-benar mutiara dan yang imannya hanya sekedar beling pecahan kaca.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman: ”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan “kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS. )</p>
<p style="text-align: justify;">Maka musibah ini bertujuan untuk menempa manusia beriman, agar tidak berputus asa akibat jatuhnya musibah, walau hal tersebut terjadi karena kesalahan sendiri. Sebab boleh jadi ada kesalahan yang tidak disengaja atau karena kelengahan. Dalam Al-Qur’an Allah SWT menjelaskan: “Tidak suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudh) sebelum Aku menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Aku jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Al-Hadid/57:22)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Musibah adalah peringatan &amp; peghapus dosa</strong></span><br />
Musibah ini diberikan kepada orang-orang mukmin yang telah melakukan dosa dan berhak untuk disiksa, lalu Allah ingin menghapus dosa-dosanya dengan musibah ini agar selamat dari siksa-Nya. “dan musibah apapun yang menimpa kamu, maka ia disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS. Al-Syura/42:30).</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak satupun musibah yang menimpah orang mukmin, seperti sakit, rasa lelah, duka, cemas dan kesedihan sampai duri yang menusuknya, kecuali dosa-dosanya akan dihapus dengannya” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan ahmad. Riwayat dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra).</p>
<p style="text-align: justify;">Di ayat yang lain Allah berfirman: “Nikmat apa saja yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja yang menimpamu, maka dari (keselahan) dirimu sendiri” (QS. Al-Nisa’/4:79).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Musibah adalah adzab<br />
</strong></span>Musibah ini datang sebagai tanda murka Allah kepada orang-orang pelaku dosa dan jauh dari keimanan dan taqwa. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa. Pastilah Aku akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat-Ku) itu, maka Aku siksa mereka disebabkan perbuatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan-Ku di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan-Ku di waktu pagi hari ketika mereka sedang bermain?</p>
<p style="text-align: justify;">Maka apakah mereka merasa aman dari Adzab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari adzab Allah kecuali orang yang merugi. (QS. Al-A’rof/7:96-99).</p>
<p style="text-align: justify;">Menghadapi musibah ini, masyarakat pelaku kejahatan dan dosa harus segera kembali kepada ajaran Allah dan syari’at-Nya, dengan bertaubat secara serius dan istighfar sebanyak-banyaknya.</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/belajar-dari-musibah.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/belajar-dari-musibah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramalan 2011, Virus Danger</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramalan-2011-virus-danger.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramalan-2011-virus-danger.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Dec 2010 07:16:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1401</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Ust. Hasan Bishri, Lc. 
 (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)

Muqoddimah
Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Tahun baru Masehi tiba, virus akidah menyebar di sekitar itu, melalui media massa yang ada di rumah kita. Virus ini lebih bahaya dari pada HIV AIDS. Virus HIV menyerang sitem [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:  <a href="../asatidza/hasan-bisri-lc" target="_blank">Ust. Hasan Bishri, Lc. </a></p>
<p style="text-align: justify;"><em> (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)</em></p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Muqoddimah</strong></span><br />
Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Tahun baru Masehi tiba, virus akidah menyebar di sekitar itu, melalui media massa yang ada di rumah kita. Virus ini lebih bahaya dari pada HIV AIDS. Virus HIV menyerang sitem kekebalan tubuh (imunitas) kitan sehingga kita rentan penyakit di dunia ini. Kalau kita sembuhn selesailah sudah penderitaan kita. Atau kalau kita meninggal, selesai pula kinerja ganasnya virus HIV.<span id="more-1401"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan virus yang sedang kita bicarakan ini lebih ganas dan sangat berbahaya (Danger). Virus ini menyerang kekebalan (keselamatan) akidah kita. Kalau kita bertahan hidup lebih lama dengan adanya virus ini, berarti makin banyak dosa kita. Kalau kita mati, dan virus ini masih bersarang dalam tubuh kita, penderitaan kita tak akan berakhir. Justru kita akan masuk dalam penderitaan lebih dahsyat, yaitu siksa alam kubur. Dan kita akan merasakan penderitaan yang kekal, yaitu siksa neraka. Sungguh mengerikan virus yang satu ini. Tahukah Anda, apa virus yang kita maksud…? Ya, betul. Ia adalah Virus Ramalan. Virus ini telah menyebar di mana-mana, termasuk di media massa, terutama saat menjelang tahun baru atau pergantian tahun masehi. Waspadalah…!!!</p>
<p style="text-align: justify;">Ramalan berasal dari kata “ramal” yang artinya adalah suatu ilmu untuk menafsir, menilik, melihat atau memprediksi nasib seseorang, atau apa yang akan terjadi di masa depan. Ramalan juga merupakan salah satu cabang dari okultisme. Okultisme sendiri adalah ilmu atau permainan di dunia atau alam ghaib.</p>
<p style="text-align: justify;">Ramalan banyak ragamnya, di antaranya adalah ramalan bintang (zodiac), tanggal lahir (kwa mia), garis tangan (palmistry), huruf nama seseorang (numerology), nama tahun dan unsur hewannya (shio dan fengshui), kartu tarot, bola kristal, kerikil berabjad (runes), koin (i-ching), mimpi (tafsir mimpi), bahkan ada juga ramalan yang menggunakan analisa sisa (ampas) kopi atau teh yang telah diminum seseorang. Dan masih ada lagi ragam ramalan yang banyak digunakan peramal hingga saat ini, ada yang tradisional dan banyak yang sudah modern dan dipadukan dengan alat tekhnologi yang super mutakhir (high-tech).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Benarkah Peramal itu Sesat?<br />
</strong></span>Sampai saat ini masih banyak orang yang ragu akan kesesatan seorang peramal. Sehingga masih banyak orang yang punya prinsip tentang praktik ramal-meramal, &#8220;Itu kan hanya ramalan, boleh percaya, boleh tidak&#8221;. Padahal ini adalah masalah akidah, yang tidak bisa dipakai main-main. Salah dikit, fatal akibatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa faktor yang menyebabkan banyaknya masyarakat yang masih berkeyakinan seperti itu. Di antaranya adalah banyaknya media yang mengekspos kehebatan peramal dan menyuguhkan menu ramalan yang membanjiri masyarakat melalui media massa. Apa yang sering terjadi dan tidak diprotes atau dikriminalkan, maka akan menjadi hal yang biasa dalam hidup kita, bahakan kita anggap bagian dari hidup yang tidak mungkin kita pisahkan, meskipun hal itu secara syari&#8217;at hukumnya haram.</p>
<p style="text-align: justify;">Misalnya, seorang yang mengaku muslim tapi tidak shalat wajib (lima waktu). Saat ini banyak orang muslim yang tidak shalat wajib, secara sebagian atau keseluruhan. Karena hal itu dibiarkan, tidak ada tuntutan hukumnya di dunia ini, maka para pelakunya menganggap itu hal biasa dan lumrah. Padahal itu adalah prilaku haram dan pelakunya berdosa besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu pula praktik ramal-meramal. Itu pelanggaran akidah Islam yang serius dan pelakunya berdosa besar, tapi oleh sebagian besar masyarakat kita dianggap biasa. &#8220;Percaya silakan, gak percaya silakan, namanya juga ramalan&#8221;. Itu slogan yang sesat menyesatkan, sehingga banyak orang merasa tidak bersalah dan tidak berdosa saat minta diramal peramal, atau bertanya kepada peramal.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Rasulullah telah menegaskan, &#8220;Barangsiapa mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu membenarkan perkataannya, berarti itu telah kufur kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam (al-Qur&#8217;an dan al-Hadits).” (HR. Ahmad, no. 9541).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Ramalan yang terbukti<br />
</strong></span>Termasuk yang membuat masyarakat bimbang akan sesatnya ramalan adalah terbuktinya hasil ramalan para peramal terkenal. Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya; kalau peramal itu sesat, kenapa apa yang dikatakan peramal itu sering terbukti kebenarannya, dan jarang yang meleset? Terbuktinya suatau ramalan bukankah itu pertanda bahwa praktik mereka diridhoi Tuhan?<br />
Kita tidak memungkiri adanya hal itu, yaitu terbuktinya kebenaran sebuah ramalan. Namun hal itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan praktik ramal-meramal itu sendiri. Karena dalam konsep Islam, yang menentukan haram dan halal itu syari&#8217;at, bukan realita. Merampok, berjudi, mencuri, korupsi dan yang sejenisnya itu haram secara syari&#8217;at. Tapi realitanya, banyak orang jadi kaya harta dengan cara tersebut. Kalau kita hanya melihat realita, maka kita akan melegalkan cara bekerja (mencari uang) dengan cara yang haram seperti itu. Karena realitanya, terbukti lebih cepat untuk dapat uang dari pada mengajar, jadi PNS dan lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Mekanisme Ramalan<br />
</strong></span>Inilah salah satu rahasianya, kenapa ramalan terkadang benar (terbukti sesuai kenyataan). Rahasianya adalah adanya kerjasama antara jin dan manusia untuk menyesatkan kita semua. Itu kalau tukang ramalnya sungguhan, bukan peramal palsu atau gadungan. Rasulullah telah membuka rahasia peramal yang dalam praktinya dibantu oleh jin (syetan).</p>
<p style="text-align: justify;">A’isyah -radhiyallahu ‘anha- berkata, “Ada sekelompok orang bertanya kepada Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang dukun (paramal). Beliau bersabda, “Mereka tidak ada apa-apanya”. Ada sahabat yang bertanya,”Wahai Rasulullah, mereka terkadang meramalkan sesuatu yang kemudian betul-betul terjadi? Beliau -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menjawab,” Itu adalah kebenaran yang dicuri oleh jin (dari langit), lalu dibisikkan kepada wali-walinya (para peramal), tapi kebenaran itu telah dicampur dengan seratus kebohongan”. [HR. al-Bukhari, no. 5762, dan Muslim, no.  2228].</p>
<p style="text-align: justify;">Ada mantan seorang peramal yang sudah bertaubat, tapi ia tidak mau disebut namanya. Suatu saat ia memberikan kesaksian akan kebenaran adanya kerja sama antara peramal dengan jin seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits di atas. &#8220;Ketika seseorang memutuskan dirinya untuk diramal, maka jin yang dipelihara oleh peramal tersebut akan mengikat atau berkomunikasi dengan jin (qarin) si pasien (yang minta diramal). Pada saat itu jin pasien akan memberitahukan kepada jin peramal segala sesuatu mengenai pasien (masa lalu, obsesi, cerita-cerita lainnya)&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Semua peramal pakai jin<br />
</strong></span>Ada seseorang pernah bertanya kepada penulis, &#8220;Apakah semua peramal pakai bantuan jin dalam praktik ramalannya?&#8221; Penulis menjawabnya, &#8220;Tidak&#8221;. Karena tidak semua peramal dibantu jin, atau punya koneksi dengan jin. Ada peramal yang dipasok data oleh jin, ada peramal yang menggunakan analisa berdasarkan data dan pengalaman saat ia berpraktik sebagai peramal. Ada juga peramal yang ramalannya tidak akurat sama sekali, karena dia tidak punya koneksi dengan jin, dan juga tidak punya data yang bisa dijadikan bahan analisa ramalan. Peramal jenis terakhir ini hanya membual dan omong besar, karena dia peramal palsu alias gadungan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jenis Peramal<br />
</strong></span>Yang banyak bermunculan di negeri kita ini adalah peramal jenis terakhir ini (peramal palsu atau gadungan). Dia hanya membual dan melontarkan hasil ramalan yang bersifat umum dan multi tafsir, sehingga ia punya ruang yang longgar untuk mencari alasan atau ngeles. Misalnya, tahun depan (2011) akan terjadi banyak bencana, praktik korupsi masih marak, krisis ekonomi masih berkelanjutan. Itu ramalan normatif dan multi tafsir, dan tidak membutuhkan data atau analisa jlimet. Kalau dia mengatas namakan dirinya sebagai peramal, kita tidak boleh bertanya atau mendatangi peramal jenis ini berdasarkan keumuman larangan dalam hadits Rasulullah yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;">Peramal jenis kedua tidak berbeda dengan seorang pengamat secara substansial. Hanya saja seorang pengamat akan menyampaikan hasil pengamatan (prediksi) suatu hal yang akan terjadi berdasarkan keilmuan yang dimilikinya. Misalnya, ekonom berbicara tentang prospek ekonomi masa depan. Politikus menggambarkan perkembangan politik di tahun mendatang. Dan lain sebagainya. Itu bukanlah ramalan, tapi hasil pengamatan berdasarkan data ilmiah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan seorang peramal jenis ini tidak punya basic ilmu akademik yang berkaitan dengan apa yang akan diramalkan. Dengan casing dan predikat &#8217;seorang peramal&#8217; yang ia sandang, ia meramalkan sesuatu yang secara akademis (disiplin keilmuan) ia bukanlah ahlinya. Berdasarkan data seadanya, ia sudah berani berbicara. Kalaupun ia punya ilmu, paling ilmu trik ramal-meramal. Dan peramal jenis ini juga banyak di negeri ini, tapi tak sebanyak jenis sebelumnya. Banyak orang percaya bukan karena dia seorang pakar atau pengamat, tapi karena ia seorang peramal. Terkadang ramalannya meleset, dan terkadang cocok. Kita juga dilarang untuk bertanya tentang ramalan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan jenis peramal yang ketiga ini sangat jarang keberadaannya alias langka. Hasil ramalannya banyak yang terbukti karena ia punya kerjasama dengan jin. Jin-jin tersebut berusaaaha mencuri berita (informasi) dari langit, lalu di bisikkan ke telinga para peramal yang telah menjadi agen resmi jin dalam rangka menyesatkan akidah anak manusia. Agar mereka lebih bergantung kepada peramal daripada bertawakkal kepada Allah. Meskipun tak jarang juga hasil ramalan peramal jenis ini juga meleset. Karena jin telah mencampur berita yang berhasil dia curi dengan berita-berita bohong seperti yang disabdakan Rasulullah dalam haditsnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Kebohongan Peramal<br />
</strong></span>Sebenarnya banyak kebohongan yang dilontarkan para peramal, sekondang apapun peramal tersebut. Hanya saaja yang diekspos oleh media massa biasanya hanya hasil ramalan yang cocok atau terbukti (terjadi). Sedangkan yang meleset tidak pernah dibahas atau dipublikasikan. Sehingga masyarakat luas yang selama ini maniak ramalan semakin yakin pada kesaktian dan kehebatan si peramal.</p>
<p style="text-align: justify;">Simaklah hasil ramalan peramal yang tidak sesuai dengan kenyataan, alias tidak terbukti. Permadi meramalkan bahwa Prabowo Subianto akan menjadi Presiden pada tahun 2010 akibat muncul goro-goro. Mama Lauren meramalkan di 2010 sebuah virus influenza jenis baru akan datang pada bulan Maret-April 2010 dan bakal menelan lebih banyak korban. [sumber: detikHealth].</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya, presiden RI sampai akhir 2010 tetap SBY, bukan Parbowo seperti yang diramalkan Permadi. Dan realitanya, sampai akhir 2010 ini tidak ada virus flu yang melebihi dahsyatnya flu burung dan flu babi. Justru malah Mama Lauren yang meninggal secara mengejutkan. Barangkali meninggalnya Mama Lauren disebabkan virus misterius yang ia ramalkan sendiri saat itu. Wallohu &#8216;alam.</p>
<p style="text-align: justify;">Peramal Jucelino Nobrega da Luz asal Brasil, meramalkan: Temperatur beberapa negara Afrika kemungkinan besar meningkat hingga 58 Celcius, bersamaan itu terjadi kekurangan air bersih yang parah. Tanggal 15 Juni pasar saham di New York bakal runtuh, ekonomi dunia akan memasuki kondisi krisis. Peramal Vanga dari Bulgaria yang memiliki nama asli Vangelia Gushterova, meramalkan tahun 2010 akan terjadi perang dunia ke-3, Eropa akan musnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah, Dzat yang mengatur dunia seisinya, langit dan semua makhluk yang ada padanya, bumi dan semua makhluk yang melata padanya, Maha Kuasa Allah yang telah memelihara kita dari keburukan seperti yang mereka ramalkan. Merugilah mereka yang selama ini percaya pada ramalan, telah dihinggapi kecemasan yang berkepanjangan sampai akhir 2010. Dan beruntunglah kita yang tidak percaya ramalan, karena kita yakin bahwa apa yang terjadi di bumi ini (baik atau buruk), semua telah diatur Allah. Semua terjadi atas kehendak-Nya, walaupun tanpa ada ramalan. Hanya kepada Allah, kita berlindung dari berbagai macam keburukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Esok, tak perlu diramal<br />
</strong></span>Apa yang akan terjadi esok hari, pada diri kita, orang-orang di sekitar kita, atau pada lingkungan yang kita tempati, tiada yang tahu detailnya selain Allah. Kita tidak pernah menyangka di tahun 2010 ini, letusan Gunung Merapi sedahsyat itu sehingga banyak korban berjatuhan. Tsunami di Mentawai-Sumatra Barat sebesar itu sehingga meluluh lantakkan infrastruktur yang ada. Banjir bandang di Wasior secepat itu sehingga memporak-porandakan bangunan yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita tidak pernah tahu kalau Mbah Marijan (Kuncen Gunung Merapi) dan Mama Lauren (si peramal kondang) pergi secepat itu meninggalkan kita dan dunia ini. Tidak ada peramal yang meramalkan tragedi itu sebelumnya, sampai Mama lauren sendiri tidak tahu kalau ajalnya datang di pertengahan tahun 2010. Semua berjalan sesuai dengan Kehendak-nya. Dan satu lagi, di tahun 2010 ini kita dikejutkan dengan prestasi gemilang Tim Nasional Sepak Bola Indonesia, sehingga mereka masuk Final Piala AFF. Meskipun tidak satu peramal-pun yang meramalkan hal itu sebelumnya. Itu berkat kerja keras Tim dan rahmat Allah yang menyertai mereka. Semoga mereka bisa jadi juara. Juara piala AFF yang kali pertama, insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur&#8217;an telah memberitakan, “Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.” (Ali ‘Imran: 179).</p>
<p style="text-align: justify;">Amir bin Masruq berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aisyah, ‘Wahai Ibuku, apakah Rasulullah pernah melihat Allah langsung? Dia menjawab, ‘Pertanyanmu itu membuat bulu kudukku merinding. Apakah kamu tidak tahu akan tiga hal. Barangsiapa yang membicarakannya berarti ia telah berdusta. (Di antaranya, red), “Siapa bilang bahwa Rasulullah mengetahui apa yang terjadi besok, maka ia telah berdusta. Lalu dia membaca ayat, “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dilakukan besok.” (QS. Luqman: 34).” (HR. Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan takut untuk berusaha dan bankit dari keterpurukan untuk meraih kesuksesan di tahun 2011 atau 2012, dan seterusnya. Waktu adalah masa yang dianugerahkan Allah kepada kita, entah itu yang mereka sebut tahun macan logam atau tahun kelinci. Shio-shio yang banyak di yakini masyarakat dalam setiap tahun hanyalah formulasi manusia, bukan ketentuan Allah. Kita berhak untuk meraih kesuksesan kapanpun, tidak hanya di tahun tertentu. &#8220;…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.&#8221; (QS. Ali Imran: 139).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Bahaya Percaya Ramalan<br />
</strong></span>Salah besar kalau ramalan itu boleh kita percaya dan boleh tidak percaya. Memang kita tidak boleh percaya pada ramalan, itulah ajaran Islam yang disampaiakan oleh Rasulullah kepada kita sebagai Ummatnya. Kalau kita mengaku sebagai ummat Rasulullah, jangan percaya kepada hasil ramalan peramal, siapapun peramal itu. Kalau kita ingin diakui sebagai ummat Rasulullah, jangan percaya pada bualan peramal, dari manapun datangnya peramal itu. Kita perlu Allah yang mengatur hidup kita. Bukan peramal, yang notabene tidak tahu jalan hidupnya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Imran bin Hushain berkata, Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan tathayyur (meramal nasib lewat gerakan burung) atau minta dilakukan tathayyur untuk dirinya, berpraktik perdukunan atau minta bantuan dukun, berpraktik sihir atau memanfaatkan jasa mereka. Barangsiapa mendatangi dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad (al-Qur’an dan al-Hadits).” (HR. al-Bazzar. Imam al-Haitsami menyatakan bahwa perawinya shahih. Kitab Majma’uz Zawaid: 5/ 117).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Penutup<br />
</strong></span>Abu Musa berkata, Rasulullah bersabda, “Ada tiga sosok yang dijamin tidak akan masuk surga. Yaitu; pecandu khomr (arak/ narkoba), pemutus tali silaturrahim, dan mushoddiqun bis sihri (orang yang percaya pada ramalan).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim dan dinyatakan shahih).</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Syekh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, “Yang dimaksud dengan kalimat ‘Mushaddiqun bis sihri’ dalam hadits tersebut, adalah orang yang percaya terhadap ramalan peramal. Karena dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa belajar ilmu perbintangan, sedikit banyaknya ia telah belajar bagian dari ilmu sihir’ (HR. Abu Daud dan dishahihkan Imam Nawawi). (Kitab al-Qoulul Mufid: 2/ 111).</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita tidak termasuk tiga golongan di atas. Maka dari itu, mulai sekarang tinggalkan minuman keras dan narkoba, jalin silaturrahim dan perbanyak jaringan (relasi) dan persahabatan, serta tinggalkan praktik ramal-meramal. Ucapkan: &#8220;Selamat tinggal wahai para peramal, saya tidak ingin menjadi teman kalian di neraka kelak&#8221;. Mari kita kuatkan iman dan tawakkal kita, dengan melaksanakan perintah Allah dan mengikuti sunnah-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita tidak gampang dibujuk rasul Iblis (yaitu; para peramal).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallohu a&#8217;lam.</em></p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramalan-2011-virus-danger.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/ramalan-2011-virus-danger.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Refleksi Piala AFF dan Ramalan Gudel</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/refleksi-piala-aff-dan-ramalan-gudel.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/refleksi-piala-aff-dan-ramalan-gudel.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 14:30:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1407</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Ust. Hasan Bishri, Lc.
(Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)

Sejarah Piala AFF
Piala AFF merupakan perjalanan panjang sebuah asosiasi persebakbolaan Asean, Federasi Sepak Bola ASEAN (dalam bahasa Inggris: ASEAN Football Federation atau AFF) adalah bagian dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang terdiri dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. &#8220;ASEAN&#8221; adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Oleh:  <a href="../asatidza/hasan-bisri-lc" target="_blank">Ust. Hasan Bishri, Lc.</a><em><br />
(Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)</em></p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong></strong></span><span style="color: #0000ff;"><strong>Sejarah Piala AFF</strong></span><br />
Piala AFF merupakan perjalanan panjang sebuah asosiasi persebakbolaan Asean, Federasi Sepak Bola ASEAN (dalam bahasa Inggris: ASEAN Football Federation atau AFF) adalah bagian dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang terdiri dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. &#8220;ASEAN&#8221; adalah singkatan dari Association of South East Asian Nations. AFF didirikan pada tahun 1984 oleh Thailand, Filipina, Brunei, Singapura, Malaysia, Indonesia, Vietnam, Kamboja, Laos dan Myanmar.<span id="more-1407"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1996, AFF menyelenggarakan Kejuaraan Sepak Bola ASEAN pertama (waktu itu bernama &#8220;Piala Tiger&#8221;) dan sejak saat itu terus diselenggarakan secara rutin. Piala Tiger dimulai pada tahun 1996 di Singapura. Pada kejuaraan pertama tersebut, Thailand berhasil merebut juara setelah mengalahkan Malaysia dengan skor 1-0.</p>
<p style="text-align: justify;">Piala Tiger berikutnya 1998 berlangsung di Vietnam, Juaranya adalah Singapura yang mengalahkan Vietnam di babak final. Dua Piala Tiger (2000 &amp; 2002) berikutnya dimenangkan oleh Thailand secara berturut-turut. Sejak tahun 2004, babak semifinal dan final Piala Tiger diselenggarakan dengan sistem tandang-kandang. Pada tahun ini juga untuk pertama kalinya Piala Tiger diselenggarakan di dua negara.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Piala AFF 2010 Istimewa<br />
</strong></span>Turnamen sepak bola Piala AFF 2010 jadi fenomena yang sangat menarik dan sangat istimewa bagi masyarakat Indonesia. Apalagi setelah Timnas Indonesia yang diperkuat dua pemain hasil naturalisasi (Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim) berhasil menjadi juara Group dengan gemilang. Lalu dengan mantapnya melangkah ke Final setelah menekuk Filipina dengan dua gol tanpa balas. Eforia masyarakat Indonesia semakin menggila. Mereka berbondong-bondong memadati stadion GBK untuk menyaksikan aksi Timnas secara langsung.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertandingan Sepakbola ini dieksploitir sedemikian rupa, melalui semua media, terutama telivisi. Emosi rakyat yang sudah ambruk akibat berbagai macam bencana (bencana alam, bencana politik, bencana birokrasi, bencana kemanusian dan lainnya yang terjadi di negeri ini) diaduk-aduk sampai menggelegak. Apalagi dikaitkan dengan nasionalisme, saat berlangsung final melawan negeri Jiran Malaysia. Sangat luar biasa liputan media telivisi dan media cetak terhadap peristiwa sepak bola, wa bil khusus piala AFF 2010.</p>
<p style="text-align: justify;">Rakyat yang sudah terhimpit oleh berbagai kepenatan hidup dan bencana, berhasil digiring dan dialihkan kepada sepakbola. Semua elemen bangsa diarahkan untuk memberikan dukungan kepada tim Garuda Indonesia. Presiden SBY, Ibu Ani, para pejabat negara, anggota legislatif, menteri, dan para kepala lembaga tinggi negara, termasuk Ketua MK Mahfud MD, ikut memberikan dukungan tim sepak bola Indonesia. Setidaknya enam menteri yang ikut menyaksikan langsung pertandingan final di Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Proyek Gagal<br />
</strong></span>Perisitiwa final tim sepak bola Garuda Indonesia melawan Malaysia menutup semua peristiwa besar di penghujung akhir tahun. Seperti konflik antara Presiden SBY dengan Sultan, terkait dengan RUU DIY. Peristiwa hukum yang berkait dengan Gayus, dan dikaitkan dengan isu pajak yang tak terlepas dari politik, yang juga dikaitkan dengan perusahaan keluarga Aburizal Bakrie, dan sejumlah parisitwa hukum lainnya, yang lebih besar dan tak tersentuh seperti mega skandal Bank Century. Semuan peristiwa politik itu ditutup dengan peristiwa sepak bola.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa sepak bola yang berlangsung hari-hari ini, terus diarahkan untuk melupakan penderitaan rakyat, akibat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok. Termasuk kenaikan BBM, tarif dasar listrik (TDL), dan sejumlah kenaikan lainnya, yang menggencet kehidupan rakyat kecil. Semuanya ingin dipupus dengan permainan si kulit bundar di lapangan hijau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi realita berkata lain, Allah telah menujukkan kuasa-Nya. Indonesia yang sudah &#8216;matia-matian&#8217; (dengan berbagai macam opini yang dibangun) untuk menjadikan ‘proyek&#8217; final sepak bola gagal menawarkan harapan baru bagi rakyat. Justru tim Garuda Indonesia yang bermain di stadion Bukit Jalil Malaysia digayang dengan skor 3-0.  Sementara pada leg ke-2 di stadion GBK, Indonesia hanya menang tipis atas Malaysia dengan skor 2-1.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil pertandingan itu membuat harapan para sutradara proyek pengalihan penderitaan masyarakat jadi luruh, mereka telah &#8216;gatot&#8217; alias gagal total. Rakyat kembali ingat akan penderitaan mereka, carut-marut birokrasi dan menjamurnya praktik korupsi kembali menari di depan mata mereka lagi. Sepak bola yang diproyeklsikan jadi kaktalisator dan absorber bagi penderitaan rakyat telah gagal. Karena Indonesia menang di leg ke-2, tapi tidak jadi juara seperti yang kita harapkan dan kita impikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malaysia menggayang Indonesia. Bukannya Indonesia yang mengganyang Malaysia. Mulai pulau Sipadan-Ligitan diganyang oleh Malaysia, dan kedua pulau itu sekarang menjadi milik negeri jiran. Kebun-kebun kelapa sawit sepanjang pantai timur Sumatera juga sudah menjadi milik para investor Malaysia. Para TKI dan TKW Indonesia diperlakukan oleh majikan Malaysia seenaknya, tanpa Indonesia bisa melakukan apapun yang berarti. Orang-orang Indonesia di Malaysia disebut sebagai ‘Indon’ alias budak. Ini sebutan yang amat hina bagi orang Indonesia. Tapal batas antara Indonesia–Malaysia terus bergeser, dan Indonesia tak mampu berbuat terhadap Malaysia, menghadapi negeri yang hanya berpenduduk 17 juta jiwa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Peramal di Piala AFF<br />
</strong></span>Hingar bingar turnamen Piala AFF sangat heboh, membahana di seluruh penjuru negeri, di kota maupun di desa dan pelosok. Semua ikut bersorak, semua bersemarak, semua bergerak mengukung Timnas Indonesia tampil sebagai juaranya. Para pemain Timnas sibuk latihan menempa fisik dan mental untuk meraih piala. Pelatih Alfred Riedl dan jajarannya sibuk mengatur strategi untuk memenangkan pertandingan. Sebagian politikus juga tak kalah sibuknya untuk &#8216;numpang&#8217; tenar dan &#8216;dompleng&#8217; nama. Masyarakat rela antri berhari-hari untuk mendapatkan tiket masuk GBK. Tokoh agama juga ikut berdo&#8217;a mendukung Timnas jadi juara.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Pondok Pesantren As-Shidiqiyah, berlangsung istighosah, di mana tampil Kiai Nur Iskandar SQ, Yusuf Mansur, dan sejumlah kiai dan ulama lainnya, ikut hadhir dalam acara itu. Ribuan santri dan santriwati, melakukan wirid dan do’a bersama para kiai yang dipimpin Kiai Yusuf Mansur. Mereka membacakan do’a agar tim sepakbola Indonesia menang malawan Malaysia. Sebuah pragmen yang tak pernah terjadi sebelumnya, di mana para kiai mendoakan sepakbola. Acara itu disiarkan langsung oleh sebuah stasiun televisi. Tapi doa mereka belum maqbul.</p>
<p style="text-align: justify;">Para peramal tak mau ketinggalan untuk ikut serta meramaiakan suasana. Dari peramal sungguhan sampai beramal dadakan antusias mempublikasikan hasil ramalan mereka. Mungkin karena hasil ramalan manusia dirasa belum cukup, para maniak ramalan melibatkan hewan-hewan untuk &#8216;dipaksa&#8217; memberikan ramalan tentang hasil perhelaatan sepakbola di piala AFF 2010. Ada gajah, burung, kucing, gurita atau mungkin masih ada juga hewan lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Gurita Peramal<br />
</strong></span>Saat Piala Dunia kemarin, banyak orang terhenyak dengan sosok gurita peramal bernama Paul yang sukses memprediksi kemenangan Spanyol atas Jerman di Final Piala Dunia 2010. Di antara hewan yang dipaksa untuk meramal hasil pertandingan final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia adalah Gurita. Hewan laut yang diberi nama Gudel (Gurita Dewa Laut) yang berbobot 6 kg ini baru saja diimpor dari perairan Hokaido Jepang. Gurita betina berumur 18 bulan dan panjang rentangnya 1,5 meter telah menjadi penghuni baru di aquarium Sea World Ancol Jakarta. Sejak saat itu pula, ia menjadi icon baru dalam dunia ramal-meramal, jadi pesaing para peramal lain yang sudah lebih dalu eksis di negeri yang mayoritas muslimnya terbesar di dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada Selasa (28/12) petang, Gudel menunjukkan aksi meramalnya di hadapan pengunjung Sea World, Taman Impian Jaya Ancol, Ancol, Jakarta Utara. Saat meramal Gudel memilih tabung berbendera Indonesia. Artinya, Timnas Indonesia diprediksi Gudel menang di Final Piala AFF 2010 leg kedua yang berlangsung Rabu (29/12) malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum meramal, kedua tabung berbendera Indonesia dan Malaysia diberi ikan dan kepiting. &#8220;Semoga ramalan Gudel bukan takhayul tapi menjadi kenyataan,&#8221; kata Direktur Operasional Sea World, Taman Impian Jaya Ancol. Kendati ramalan tersebut belum tentu benar, namun para pengunjung mengaku terhibur dan berharap ramalan itu terbukti. (Liputan6.com).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sikap yang Bijak<br />
</strong></span>Realita yang pahit tak bisa kita elakkan. Tim Garuda yang kita harapkan bisa membalas kekalahan di Bukit Jalil hanya menang tipis atas Malaysia di GBK, dengan skor 2-1. Indonesia menang tapi belum menjadi juaranya. Menghadapi kenyataan ini tentu kita harus bersikap bijak, sebijak para suporter Indonesia yang menyaksikan langsung kemenangan tipis Indonesia di GBK pada leg II. Kegagalan Indonesia dalam menggondol piala yang diprediksikan jadi pemicu kemarahan dan rusuh suporter tidak terjadi. Ini suatu kemenangan dan prestasi tersendiri yang harus diacungi jempol.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita berharap kegagalan Indonesia untuk momboyong piala AFF 2010 bisa jadi obat. Memang pahit rasanya, tapi manis akibatnya. Seperti halnya obat. Ketika diminum oleh orang yang sakit, pahit rasanya. Tapi hasilnya manis, orang yang sakit tersebut akan sembuh dengan izin Allah. Itulah manisnya hidup, sembuh dari sakit.</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu apa manisnya kita kalah dari Malaysia? Banyak sekali manis (nikmat) yang diberikan oleh Allah atas pahitnya kegagalan Timnas kita. Di antaranya, para pemain Timnas harusnya tidak cepat puas. Apa yang mereka raih selama ini belum maksimal. Sehingga mereka harus terus giat berlatih untuk meraih kualitas permainan yang maksimal, sehingga nantinya tidak hanya menjadi jawara tingkat Asean atau Asia, tapi di tingkat dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Terungkapnya &#8216;belang&#8217; para politikus yang berusaha memanfaatkan prestasi Timnas di kancah Asean. Betapa cerdiknya mereka memanfaatkan momentum dan melihat peluang untuk membangun citra pribadi atau partai. Memoles citra dengan keringat rakyat, melipstik tampilan dengan gincu prestasi yang notabene belum seberapa. Itulah bagian kecil dari intrik yang selama ini mereka jalani untuk raih simpati kita, rakyat Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyakit sombong yang telah merayap dan mengalir di mayoritas penduduk Indonesia terhenti seketika, saat Malaysia menggayang Indonesia dengan skor telak 3-0 pada final leg I di stadion Bukit Jalil. Pesan itu telah ditangkap oleh pemain Timnas, Ahmad Bustomi. &#8220;Ini tamparan dari Allah atas takabbur kita&#8221;, begitulah pemain asal Jombang itu menulis di Twitternya. Semoga yang lainnya juga merasakan tamparan yang sama, sehingga tidak cepat puas dan tidak mudah sombong. &#8220;Ojo Dumeh&#8221;, kata orang-orang Jawa. Karena sombong itu penyakit hati yang sangat berbahaya bagi manusia, dan Allah telah menyelamatkan kita darinya. Alhamdulillah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangkitnya rasa nasionalisme rakyat Indonesia, dan semoga ini bisa menjadi titik tolak dari nasionalisme positif yang selama ini kita harapkan. Tidak hanya nasionalisme sesaat, tapi berkepanjangan dan menghunjam dalam sanubari masing-masing rakyat. Indikasi itu sudah terlihat, yaitu dari sikap bijak mereka yang tidak bikin rusuh dalam menghadapi kegagalan Timnas meraih juara, meskipun di final leg I, pihak Malaysia berbuat curang untuk peroleh kemenangan. Suporter Indonesia siap menang dan juga siap kalah. Semoga di kompetisi lain juga begitu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang praktik ramal-meramal yang telah diramkan Islam. Meskipun telah muncul di media massa, banyaknya peramal yang memprediksikan Indonesia akan jadu juara Piala AFF 2010, baik peramal dari kalangan manusia atau pun hewan, pada kenyataannya takdir Allah-lah yang berbicara. Mereka pandai meramalkan, tapi ketentuan Allah yang jadi pemenang.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu pelajaran bagi kita semua. Dalam mengukir prestasi dan meraih sukses, bukan keberadaan peramal yang kita perlukan. Tapi usaha yang maksimal, kerja yang optimal, serta doa yang dibarengi tawakkal, itulah yang harus kita lakukan. Memanfaatkan jasa peramal atau meyakini &#8216;kesaktian&#8217; mereka hanya akan merusak akidah dan membatalkan pahala dari usaha dan ibadah kita. Tidak ada untungnya. Kalau kita bisa mereguk manisnya kegagalan turnamen AFF kali ini, berarti kitalah pemenangnya yang sejati. Indonesia menang meskipun tanpa piala.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Penutup<br />
</strong></span>Marilah kita renungkan firman Allah berikut, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik (efeknya) bagi kalian. Dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk (dampaknya) bagi kalian. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Baqoroh: 216). Kekalahan memang suatu yang kita benci, tapi kekalahan kita kali ini semoga berdampak kebaikan untuk masa depan bangsa dan rakyat semuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kegagalan Timnas di piala AFF di akhir tahun 2010 ini menjadi kado terindah bagi kita semua, untuk menyongsong esok yang lebih baik di tahun 2011. Dengan tamparan ini semoga prestasi kita di segala lini kehidupan makin bersinar di masa mendatang, tidak hanya di dunia bola. Dan semoga kekalahan kemarin bisa jadi obat mujarab bagi mereka yang telah nampak terjangkiti penyakit menular dari Barat, yaitu menjadikan sepak bola sebagai agama baru, yang dengan mudahnya bisa merubah pola hidup dan jadwal aktifitas duniawi mereka, termasuk merubah jadwal shalat dan ibadah mereka. Wallohu a&#8217;alam, hanya kepada Allah kita minta pertolongan dan hanya kepada-Nya kita bertawakkal.</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/refleksi-piala-aff-dan-ramalan-gudel.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/refleksi-piala-aff-dan-ramalan-gudel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Muhasabah dan Optimis di Tahun Baru</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/artikel/muhasabah-dan-optimis-di-tahun-baru.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/artikel/muhasabah-dan-optimis-di-tahun-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 17:00:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Setiap kita yang telah berikrar menjadi muslim dan mukmin harus senantiasa melakukan kebaikan, membangun amal unggulan dan meningkatkan prestasi hidupnya. Karena setiap kita akan kembali hanya dengan baik buruknya amal selama menjalani kehidupan yang fana (sirna/sementara) ini. Allah berfirman: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setiap kita yang telah berikrar menjadi muslim dan mukmin harus senantiasa melakukan kebaikan, membangun amal unggulan dan meningkatkan prestasi hidupnya. Karena setiap kita akan kembali hanya dengan baik buruknya amal selama menjalani kehidupan yang fana (sirna/sementara) ini. Allah berfirman: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, QS Al-Mulk 67:2<span id="more-1396"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW bersabda: “Tiga perkara yang mengikuti mayit; harta, keluarga dan amalnya. Yang kembali dua dan satu yang bersama dengannya. Yang kembali adalah harta dan keluarganya. Dan yang bersama dengannya adalah amal.” HR Imam Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Urgensi Muhasabah (Evaluasi Diri)</strong></span><br />
Di tahun baru, baik Hijriyah maupun Masehi, perlu setiap kita melakukan evaluasi. Atau yang sering disebut dengan sebutan “muhasabah”. Muhasabah (evaluasi) sangat urgent dalam mengelola dan meningkatkan kualitas kehidupan kita. Karena dengan melakukan evaluasi atau muhasabah, kita akan mengetahui data kekurangan dan kelemahan selama setahun yang berlalu. Kita akan melihat sejauh mana target yang telah kita raih dan keberhasilan out-put yang telah kita rencanakan pada tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, Allah SWT menegaskan tentang hal ini dalam firman-Nya sebagai berikut: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS 59:18</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas (dalam menyikapi kehidupan) adalah orang yang melakukan evaluasi dan beramal untuk hidup setelah mati. Orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan apa yang disisi Allah.” HR Imam At-Tirmidzi.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Khathab ra juga menganjurkan melakukan muhasabah dalam kehidupan ini. Beliau berkata: “hisablah dirimu sebelum kamu dihisab, berhiaslah (dengan amal kebaikan) untuk perhelatan akbar (hari pembalasan). Karena sesungguhnya hisab yang sangat ringan pada hari Kiamat adalah orang yang senantiasa melakukan muhasabah pada waktu di dunianya.”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Obyek Muhasabah</strong></span><br />
Muhasabah bisa kita lakukan pada hal-hal yang berkaitan dengan: diri kita dan Allah SWT, kita dan keluarga, kita dan masyarakat dan bahkan, muhasabah juga berkaitan dengan sebesar apa kontribusi kita pada bangsa dan ummat selama ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Diri Kita dan Allah SWT</strong></span><br />
Di bagian ini, kita melakukan muhasabah berkaitan dengan keislaman diri kita, keimanan yang bersemayam pada diri kita dan ketaqwaan yang menghiasi kehidupan kita. Coba kita renungkan kembali tiga factor penting dalam  kehidupan kita yaitu; aqidah, ibadah dan akhlaq.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudahkah kita beraqidah sesuai dengan apa yang diinginkan Islam? Aqidah yang bebas dari penyakit TBC (takhayul, …). Bersih dari<br />
noda hitam kekufuran, kesyirikan dan kemunafikan. Aqidah yang memberikan energy baru ketaatan, keoptimisan, keberanian dan keistiqamahan dalam menjalani hidup di bawah naungan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudahkan kita beribadah dengan landasan keikhlasan kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah? Selama setahun bagaimana kita beribadah? Apa saja yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan kualitas pelaksanaannya. Bagaimana kita menjaga kewajiban-kewajiban ibadah kita? Sejauh mana kita ihsan dan khusyu’ dalam setiap ibadah. Seringkah kita berjama’ah di masjid yang menjadikan hati ini senantiasa jatuh cinta pada masjid. Seperti salah satu dari delapan golongan yang dinaungi Allah SWT (qalbuhu mu’allaqun bil masjid). Begitu juga soal tilawah dan tadabbur kita pada Al-Quran.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” QS 22:77</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Diri Kita dan Keluarga<br />
</strong></span>Membangun mahligai keluarga yang islami, bahagia dan sejahtera adalah cita-cita setiap muslim. Keluarga yang selalu bersandarkan<br />
pada rambu-rambu islami dalam pengelolaan, pembinaan dan pemberdayaannya. Mawaddah wa rahmah (cinta kasih) selalu membingkai pengelolaan rumah tangga ini. Yang akhirnya melahirkan keluarga sakinah. Keluarga yang terdiri dari suami yang qawwam (bertanggung jawab), istri shalehah dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Coba kita renungkan kembali rumah tangga kita sekarang. Sudahkah sesuai dengan visi misi keislaman kita dalam membangun rumah tangga selama ini? Bagaimana pembinaan dalam keluarga kita? Istri dan anak-anak kita saat ini, sudahkah kita memperhatikan keislaman dan keimanan mereka? Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” QS 66:6</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Diri Kita dan Masyarakat<br />
</strong></span>Kesalehan pribadi yang kita miliki harus bisa dirasakan oleh masyarakat sekitar kita. Yang akhirnya kesalehan ini menjelma menjadi kebaikan secara kolektif sepanjang masa. Ia tidak hanya menunggu momentum tertentu saja. Karena ia telah menjelma menjadi budaya, karakter dan tabiat individu muslim di masyarakatnya. Inilah cahaya yang di mana setiap individu muslim berjalan dengan cahaya ini di tengah masyarakatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, bertepatan dengan tahun baru sekarang perlunya kita bertanya kembali kepada diri kita. Bagaimana keterlibatan kita dengan berbagai permasalahan yang timbul di sekitar kita? Apakah kesalehan dan kebaikan diri kita telah menjelma menjadi budaya positif di tengah masyarakat kita? Sejauh mana kontribusi riil yang telah kita berikan kepada tetangga dan masyarakat sekitar kita?</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT berfirman: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibubapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orangorang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” QS 4:32</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Diri Kita dan Bangsa<br />
</strong></span>Pada tahun baru ini, perlunya setiap kita yang berada di tiga lembaga tinggi negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif) melakukan muhasabah terhadap amanah-amanah yang telah diemban selama ini. Di mana ketika semua menjalankan amanah-amanahnya akan berdampak positif bagi kehidupan rakyat dan kemajuan bangsa. Karena para eksekutif akan menjauhkan dirinya dari lingkaran setan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), mereka tidak akan berani melakukan kecurangan dalam mengawal proyek-proyek yang telah ditentukan dan mereka senantiasa mengayomi serta melayani rakyat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara para legislatif selalu berpihak kepada kemaslahatan bangsa dalam mengesahkan undang-undang, menentukan anggaran yang efisien dan efektif untuk kese jahteraan bangsa dan rakyat. Sedangkan para yudikatif tidak main mata dalam penegakan hukum,<br />
tidak tebang pilih dalam menangani kasus-kasus tindak pidana dan perdata.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila kita semua mengingankan bangsa ini, ada perubahan dan ada kebaikan di masa yang akan datang. Baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafuur” (Bangsa yang makmur sementara Allah senantiasa mengampuni kita). Coba kita renungkan ayat ini: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” QS 7:96</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.” QS 8:27</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Mubaadarah (Bersegera)<br />
</strong></span>Dengan melakukan muhasabah atau evaluasi, kita sudah bisa memetakan kekurangan yang perlu dibenahi, kebaikan yang perlu ditingkatkan dan solusi yang perlu dilakukan. Peta inilah yang kemudian kita jadikan bahan untuk menyusun dan merumuskan perencanaan, program dan strategi ke depan. Setelah ada perencanaan dan strategi untuk mengisi tahun baru, maka perlunya mubadarah (bersegera) dalam beramal. Jangan biarkan kita menunggu- nunggu waktu atau bahkan waktu berlalu tanpa ada kegiatan yang bermanfaat sesuai dengan strategi yang telah direncanakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Umar ra berkata: “bila kamu di waktu sore janganlah tunggu waktu pagi, dan bila kamu di waktu pagi janganlah tunggu waktu sore. Gunakan sehatmu untuk sakitmu dan hidupmu untuk matimu.” Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah melakukan amal sebelum datangnya ujian/fitnah…” Imam Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Mujahadah (Optimalisasi)</strong></span><br />
Bersegera dalam beramal saja belum bisa menjamin mencapai sasaran dan target yang diinginkan. Maka bersegera atau mubadarah harus dibarengi dengan mujahadah (optimalisasi) dalam melakukan amal. Karena sifat mujahadah akan melahirkan semangat, daya juang dan daya gerak yang tak pernah berhenti untuk menemukan target atau melahirkan output yang telah dicita-citakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW pernah bersabda kepada sahabat Ali bin Abu Thalib ra ketika diberikan bendera sebelum perang Khaibar: “….imsyi wa laa taltafit (berjalanlah dan jangan tengok-tengok).” Imam Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini, Rasulullah SAW mengingatkan sahabat Ali ra untuk serius dan istiqamah tanpa terpengaruh kanan kirinya dalam menjalankan tugas sampai Allah SWT memberikan kemenangan. Sebagaimana kita, tidak boleh terpengaruh oleh faktor x yang merugikan dalam mengemban amanah dan masuliah (tanggung jawab) yang berkaitan dengan diri kita, keluarga, masyarakat dan bangsa ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, mari kita menguatkan niat kita untuk bersegera dan bermujahadah dalam melakukan perbaikan-perbaikan yang berkaitan dengan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa kita dalam tahun baru ini. Agar kita menjadi model muslim yang ideal, memiliki rumah tangga yang islami, terwujudnya masyarakat madani dan bangsa yang bermartabat dalam bingkai ridha Allah SWT.</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/artikel/muhasabah-dan-optimis-di-tahun-baru.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/artikel/muhasabah-dan-optimis-di-tahun-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keutamaan Muharram dan &#8216;Asyura</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/keutamaan-muharram-dan-asyura.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/keutamaan-muharram-dan-asyura.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 02:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1375</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Ust. Hasan Bishri, Lc. 
 (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)

Muqoddimah
Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Muharram dalam kalender hijriyah adalah bulan yang pertama, sebagaimana Januari sebagai bulan pertama dalam hitungan kalender Masehi. Sedangkan Asyura adalah istilah untuk hari kesepuluh dari bulan Muharram, alias tanggal 10 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh:  <a href="http://www.almanar.co.id/asatidza/hasan-bisri-lc" target="_blank">Ust. Hasan Bishri, Lc. </a></p>
<p style="text-align: justify;"><em> (Dosen Pusat Studi Islam Al-Manar dan Praktisi Ruqyah Klinik Ghoib)</em></p>
<hr />
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Muqoddimah</strong></span><br />
Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu &#8216;ala Rosulillah. Muharram dalam kalender hijriyah adalah bulan yang pertama, sebagaimana Januari sebagai bulan pertama dalam hitungan kalender Masehi. Sedangkan Asyura adalah istilah untuk hari kesepuluh dari bulan Muharram, alias tanggal 10 Muharram. Yang mana sepuluh dalam bahasa Arab disebut dengan &#8216;Asyroh. Sedangkan hitungan<span id="more-1375"></span> yang kesepuluh disebut &#8216;Asyir atau &#8216;Asyiroh. Hari kesepuluh di bulan Muharram disebut &#8216;Asyuro. Kata itulah yang diadopsi oleh orang Jawa (baca: Islam Kejawen) untuk menamakan bulan pertama dalam kalender mereka dengan nama bulan Suro.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Muharram bulan Suci</strong></span><br />
Setahun dalam kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan, seperti halnya jumlah bulan dalam kalender Masehi. Allah berfirman dalam al-Qur&#8217;an, &#8220;Sesungguhnya bilangan bulan di sisi  Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa&#8221;. (QS.At-Taubah: 36).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wa sallam bersada: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, yang terhimpit antara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Keutamaan bulan Muharram</strong></span><br />
Allah adalah Dzat yang Maha Mulia, sehingga tidaklah suatu nama yang disandingkan di sisi nama-Nya, kecuali nama itu memang mulia atau menjadi bernilai istimewa di sisi-Nya. Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan).</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana yang kita kenal selama ini, ada istilah Baitullah, Kitabullah, Jundullah, Malaikatullah, Asadullah, Saifullah dan sebagainya. Seperti nama nabi kita Muhammad, disebut sebagai Rasulullah (utusan Allah), sebutannya disandingkan dengan nama Allah. Begitu pula bulan Muharram, Rasulullah menyebutnya sebagai &#8220;Syahrullah&#8221; (bulan Allah).<br />
Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim). Itu bermakna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Momentum Muharram</strong></span><br />
Muharram adalah bulan yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai momentum evaluasi diri berskala tahunan. Karena di bulan itu kita membuka lembaran baru dalam tahun baru. Kita syukuri usia (keberlangsungan hidup) yang diberikan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>A.    Lakukan Evaluasi diri (Muhasabah).</em></strong><br />
Seiring dengan bergantinya tahun, maka usia kita semakin bertambah, itulah anggapan masyarakat pada umumnya. Padahal hakikatnya, dengan bergantinya tahun, otomatis berkuranglah jatah usia yang telah ditentukan Allah bagi kita. Berputarnya waaktu, berjalannya detik, menit, jam, hari, pecan, bulan dan tahun, maka berkuranglah usia kita. Datangnya Muharram mengajak kita untuk evaluasi, dalam rangka cari bekal untuk kebahagian hidup di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman, &#8220;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&#8221; (QS. al-Hasyr: 18).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah shallallohu &#8216;alaihi wa sallam bersabda : &#8220;Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian&#8221;. (HR. Tirmidzi). Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata: &#8220;Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>B.    Meneladani Hijrah Rasulullah.<br />
</strong> </em>Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai bulan pertama, ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah saw, apabila beliau datang ke Madinah. Dengan adanya bai&#8217;at ini, Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Quraisy senantiasa mengintai beliau.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>C.    Penggunaan Kalender Hijriyah.<br />
</em> </strong>Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain).</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam (Hijriyah).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Keutamaan Hari Asyura<br />
</span> </strong>Hari Asyuro’ bagi umat Islam adalah hari yang sangat monumental, di mana pada hari itu menurut keterangan Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dengan sandaran yang jelas, Allah Subhana wa ta’ala menurunkan Nabi Adam ke dunia, Allah Subhana wata’ala menerima taubat Nabi pertama itu akibat kesalahannya memakan buah yang terlarang, diterimanya taubat kaum Nabi Yunus, berlabuhnya perahu Nabi Nuh di bukit Al Judiyyi (terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia), serta kemenangan Nabi Musa dan tenggelamnya Fir’aun. (Lihat Kitab Dzikroyat Wa Munasabat: 51).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam suatu riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas ra disebutkan, &#8220;Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : &#8220;Hari apa ini? Mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda: &#8220;Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian&#8221;. Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran: 68).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Puasa di bulan Muharram<br />
</span> </strong>Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dianjurkan Rasulullah saw untuk banyak melakukan puasa di dalamnya berdasarkan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurariroh berkata, ”Rasulullah saw bersabda, ’Puasa yang paling afdhol setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (al-Muharram), dan shalat yang paling afdhol setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Didalam Kitab Syarhul Muslim, Imam Nawawi rahimahulloh mengatakan bahwa bulan ini (Muharram) adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pendapat ulama yang menyebutkan bahwa yang paling utama untuk berpuasa dari bulan Muharram ini adalah sepuluh hari pertama, sebagaimana dikatakan al Mardawi didalam kitab “al Inshaf” bahwa yang paling utama dari bulan Muharram adalah hari kesepuluh atau Asyu’ra lalu hari kesembilan atau tasuua’a lalu sepuluh hari pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rajab didalam kitab “Latha’if al Ma’arif” juga menyebutkan bahwa yang paling utama dari bulan Allah (al-Muharram) adalah sepuluh hari pertama.’</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian juga dinukil dari Abi ‘Utsman an Nahdiy berkata bahwa mereka menganggungkan sepuluh hari yang tiga, yaitu : sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian tidak terdapat hadits shahih yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram secara keseluruhan, yang ada hanya keutamaan puasa &#8216;Asyura&#8217;, atau hari kesepuluh bulan Muharram. (Markazul Fatwa no. 43810).</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, tidak ada dalil khusus yang menyebutkan bahwa berpuasa pada hari pertama (tanggal 1) dari bulan Muharram adalah sunnah akan tetapi yang di-sunnah-kan adalah memperbanyak berpuasa di bulan ini, sebagaimana penjelasan di atas. Dan jika seseorang melakukan puasa pada tanggal 1 Muharram karena anjuran memperbanyak puasa di bulan ini bukan karena kekhususan tanggal 1 Muharram maka ia telah melakukan sunnah berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Hadits Puasa Asyura<br />
</span> </strong>Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Kitab Syarhul Muslim (8/6), “Para ulama telah bersepakat bahwa puasa pada hari ‘Asyuro` hukumnya sekarang (yaitu ketika telah diwajibkannya puasa Ramadhan) adalah sunnah dan bukan wajib”. Dan ijma’ akan hal ini juga telah dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fathul Bary: (2/246).</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak hadits shahih yang bisa dijadikan sebagai landasan atas diperintahkannya kita untuk berpuasa sunnah di bulan Muharram, terutama di hari kespulah yang disebut dengan puasa &#8216;Asyura&#8217;. Dan dalam riwayat tersebut, Rasulullah juga menjelaskan tentang keutamaan puasa sunnah &#8216;Asyura&#8217; yang sangat besar, sehingga sayang kalau kita tidak kita kerjakan. Di antara hadits-hadits tersebut adalah:</p>
<p><span style="font-size: large;"><br />
</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما-، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم- صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;"> وَأَمَرَ بِصِياَمِهِ. &#8211; مُتَّفّقٌ عَلَيهِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).</p>
<p><span style="font-size: large;"> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ-، أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">وَسَلَّم- سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ. فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: large;">-رَوَاهُ مُسلِمٌ-</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: large;"> </span>Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Cara Berpuasa Asyura</strong></span><br />
Shahabat Ibnu Abbas radhiyallohu&#8217;anhuma menggambarkan antusias (semangat) Rasulullah  untuk berpuasa di hari &#8216;Asyura&#8217; dengan mengatakan: &#8220;Aku tidak melihat Nabi  begitu antusias berpuasa pada suatu hari yang diharapkan keutamaannya dibanding hari-hari lain selain hari ini, yaitu hari Asyuro, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.&#8221; (HR. al-Bukhari no.2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Ada tiga cara untuk berpuasa Asyura (di bulan Muharram):<br />
<strong>1.    Berpuasa tiga hari</strong>, yaitu puasa tanggal 10 Muharram ditambah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Berdasrkan riwayat berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah bersabda, “Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506).<strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.    Berpuasa dua hari.</strong> Yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram, dan inilah cara puasa yang Afdhol, sebagaimana dikatan oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahulloh.</p>
<p style="text-align: justify;">Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura, para shahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram. Berdasarkan riwayat berikut: Rasulullah bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (1/399/2155), Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya (3/290-291/2095) dan Al-Baihaqy (4/287) dari jalan Ibnu Abi Laila dari Daud bin ‘Ali dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam secara marfu’. Namun Imam asy-Syaukany rahimahullah berkata setelah membawakan hadits ini: “Riwayat ini dho’if (lemah) mungkar ”.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.    Puasa pada tanggal 10 saja.</strong> Berdasarkan riwayat berikut: Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Nabi datang (hijrah) ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro`, maka beliau bertanya: “Apa ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab: “Ini adalah hari baik, ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Isra`il dari musuh mereka maka Musa berpuasa padanya”, beliau bersabda : “Kalau begitu saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian” maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Syekh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, &#8220;Pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa sehari di bulan Muharram, yaitu di hari  ‘Asyura saja. (Kitab Syarhul Mumthi’: VI)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Penutup</strong></span><br />
Pada awal bulan Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, biasanya di tanah air kita sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Ratu penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan Muharram keberadaannya sejak zaman dahulu kala, sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasulullah atau setelahnya. Kalau kita amati sejarah yang ada, kita jumpai bahwa orang Yahudi sangat memuliakan bulan Muharram, begitu juga kaum musyrikin (orang-orang Jahiliyah). Bentuk pemuliaan mereka diwujudkan dengan berpuasa pada hari kesepuluh Muharram, yaitu hari &#8216;Asyura. Mereka tidak melakukan ritual kesyirikan, seperti mandikan jimat atau benda pusaka. Kenapa banyak ummat Islam sekarang memuliakan bulan Muharram dengan ritual berbau syirik. Apakah itu bukan tindakan yang memalukan, lebih Jahil dari pada orang-orang jahiliyah zaman dahulu…???</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, mari kita kembali ke sunnah Rasulullah. Memuliakan bulan Muharram sesuai dengan tuntunannya. Jangan berlebihan apalagi kebablasan, dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai akidah Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallohu &#8216;alam.</em></p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/keutamaan-muharram-dan-asyura.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/keutamaan-muharram-dan-asyura.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjaga Kesucian Diri Pasca Ramadhan</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menjaga-kesucian-diri-pasca-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menjaga-kesucian-diri-pasca-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 01:00:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1341</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan merupakan anugerah besar bagi kaum muslimin. Beragam jenis ibadah di dalamnya dapat mengantarkan setiap muslim kepada kesucian jiwa, agar dimensi ruhani lebih dominan dan dimensi jasmani dapat dikendalikan. Ramadhan adalah proses sempurna untuk meningkatkan kesucian jiwa.
Proses ini tidak boleh berhenti dengan selesainya Ramadhan. Sebab, jiwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan dan juga keburukan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ramadhan merupakan anugerah besar bagi kaum muslimin. Beragam jenis ibadah di dalamnya dapat mengantarkan setiap muslim kepada kesucian jiwa, agar dimensi ruhani lebih dominan dan dimensi jasmani dapat dikendalikan. Ramadhan adalah proses sempurna untuk meningkatkan kesucian jiwa.<span id="more-1341"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Proses ini tidak boleh berhenti dengan selesainya Ramadhan. Sebab, jiwa manusia mempunyai potensi untuk melakukan kebaikan dan juga keburukan. Hawa nafsu sebagai ujian dapat menggelincirkan seseorang dari jalan yang lurus. Syetan sebagai musuh abadi tidak pernah henti melakukan tipu dayanya. Karena itu, ketika Ramadhan meninggalkan kita, maka itu adalah babak baru untuk tetap menjaga kesucian diri dalam rangka mencapai sukses hidup; menjadi muslim yang bersih jiwa dan raga, jauh dari maksiat dan semua hal yang dilarang Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesucian diri adalah tanda kesuksesan, sedangkan mengotorinya adalah tanda kerugian. Allah menggambarkan hal ini dalam firman-Nya, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. As Syams [91]:7-10)</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk memelihara kesucian diri pasca Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Menata Hati</strong></span><br />
Hati berpotensi sebagai poros kebaikan dan juga keburukan. Karena itu ia harus tetap ditata dengan memohon kepada Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya agar meneguhkan hati kita dalam agama-Nya dan menjauhkannya dari tipu daya setan yang menjadikannya sebagai pangkal bisikan dan tipu daya. Kemudian mengisi hati dengan nilai-nilai Al Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, banyak tadabur dan merenung serta menjauhkannya dari lintasan-lintasan yang melahirkan dosa dan khayalan yang tidak berguna.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW menginformasikan bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka tubuh itu pun menjadi baik, dan apabila ia buruk, maka tubuh ikut menjadi buruk, anggota tubuh kita itu adalah hati. Karena itu, beliau mengajarkan sebuah doa agar kita selalu membacanya, “Wahai Dzat yang membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Menata hati, membersihkannya dari semua hal yang mengotorinya mempunyai dampak berikut. Pertama: menjadikannya bersih dan berdaya guna untuk melaksanakan tugasnya sebagai manusia muslim. Kedua, sebagai tabungan amal dalam rangka menghadap Allah SWT dalam keadaan damai, terhindar dari siksa-Nya pada hari ketika harta dan anak-anak tidak memberi manfaat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (As-Syuaraa [26]: 88-89)</p>
<p style="text-align: justify;">Hati yang bersih akan tercermin dalam raut muka yang bersih, melahirkan senyum, indah dipandang dan membawa ketenangan. Menuntun anggota tubuh kepada perbuatan yang diridhai Allah Ta’ala, berjalan di atas rel yang telah digariskan Rasulullah SAW, mengikuti teladan salafus shaleh dalam kehidupan kesehariannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Menahan Pandangan</strong></span><br />
Banyak perbuatan dosa yang diawali oleh pandangan mata. Mata menjadi pintu bagi hati, seperti dalam pepatah, dari mata turun ke hati. Menahan pandangan mata merupakan langkah awal untuk menghindari dosa. Setan menjadikan pandangan sebagai salah satu panah tipu dayanya. Karena itu Allah Ta’ala secara khusus menyuruh orang-orang beriman, lakilaki dan wanita untuk menundukkan pandangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab, pandangan dapat membawa kepada syahwat. Pun jika kita terlanjur melihat sesuatu hal yang terlarang, Rasulullah SAW memberi wasiat untuk tidak mengikuti pandangan yang pertama. Karena syetan bersama pandangan yang selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita dapat menahan pandangan dari hal-hal yang dilarang atau sesuatu yang dapat membawa kepada dosa, maka sebagai gantinya Allah Ta’ala akan menganugerahkan kesucian dan ketenangan jiwa.</p>
<p style="text-align: justify;">“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, (QS. An Nuur [24]: 30-31]</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Melakukan perubahan diri</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Islam menuntun kita untuk selalu lebih baik dari hari ke hari. Hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok lebih baik dari hari ini. Semua itu dapat tercapai dengan melakukan perubahandiri ke arah yang lebih baik. Factor perubahan itu berada dalam diri kita, yaitu kehendak untuk berubah. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.<br />
(QS. AR Ra’d [13]: 11)</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyelaraskan visi kita dengan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Al-Hadits.  Secara tidak langsung kita harus kembali  mempelajari keduanya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Karena hanya dengan itu kita dapat berubah kearah yang diinginkan Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutanya adalah mengatur waktu sesuai kesibukan kita dengan terus menerus dan penuh kesabaran, setelah itu insya Allah akan ada perubahan yang kita rasakan. Dan Allah pasti membantu kita bila memiliki tekad kuat untuk berubah, sesuai janji-Nya yang disebutkan dalam Al Qur’an: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Ankabuut [29]: 69)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Berafiliasi kepada komunitas kebaikan</strong></span><br />
Secara fitrah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa berdiri sendiri dan membutuhkan orang lain. Demikian pula dengan kesucian diri yang tidak mungkin tercapai bila tidak didukung oleh lingkungan yang baik. Islam menggambarkan bahwa orang-orang mu’min itu laksana satu tubuh yang saling dukung satu sama lain. Karenanya, berafiliasi kepada komunitas orang-orang baik merupakan keharusan dalam rangka mendukung kesalehan social dan mengokohkan kesalehan individu.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu contoh adalah anjuran Allah Ta’ala dalam Al Qur’an untuk berinteraksi bersama orang-orang yang benar. “Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (QS. At Taubah [9]: 119)</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan Rasulullah SAW sangat menekankan urgensi sebuah komunitas kebaikan, jika berkumpul tiga orang kaum muslimin hendaknya satu orang yang menjadi pimpinan. Dalam satu komunitas yang baik akan tercipta lingkungan yang kondusif untuk menggapai kesucian diri, saling mengingatkan dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Karena itu, hendaknya menjauhi sikap individualistis, hanya memikirkan diri sendiri yang tidak akan membawa kebaikan baik bagi diri sendiri maupun sesama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bahasa Al Qur’an berafiliasi kepada kebaikan adalah ikut serta dalam dakwah, beramar ma’ruf nahi munkar. Aktif bersama berdakwah kepada kebaikan dengan tujuan membumikan Islam dan menjadikannya sebagai sistem hidup bagi pribadi dan masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Segera bertaubat dan banyak beristighfar</strong></span><br />
Ibarat rumah, meski setiap hari dibersihkan namun debu senantiasa ada. Sebagai manusia yang tidak terpelihara dari dosa, ketika berinteraksi dengan orang lain, terlebih dalam kondisi masyarakat kita saat ini, debu-debu dosa sulit terhindari, disengaja maupun tidak. Hendaknya setiap kita segera bertaubat dengan banyak meminta ampun kepada Allah dan membasahi lisan dengan istighfar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan begitu, maka kesucian diri tetap terjaga. Pun jika terperosok kepada tipu daya syetan; melakukan perbuatan maksiat, hendaknya segera bertaubat dan tidak mengulanginya. AllahTa’ala menggambarkan dengan indah prilaku orang-orang beriman apabila mereka terpedaya mereka langsung mengingat Allah. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”. (QS. Al A’raf [9]:201)</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakanperbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Ali Imran [3]:135)</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah SAW sebagai teladan, setiap hari beristighfar tidak kurang dari seratus kali, sebuah realitas yang sangat menarik dari hamba Allah yang terpilih; dosa-dosanya telah diampuni, yang dahulu maupun yang kemudian. Tetapi, sebagai ungkapan syukur beliau tetap membasahi lisannya dengan taubat dan istighfar. Kita sebagai pengikutnya tentu lebih layak untuk melakukan itu, sebab dosa dan kesalahan kita lebih banyak dan tidak ada jaminan ampunan dari Allah sebagaimana jaminan-NYa kepada Rasulullah SAW.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhasabah diri dari waktu ke waktu Lakukan introspeksi dengan teratur, dari waktu ke waktu untuk melihat sejauh mana perkembangan jiwa, adakah peningkatan yang dialami ataukah penurunan. Sebab, seperti disebutkan Ali bin Abi Thalib RA, “Sesungguhnya jiwa itu mengalami kejenuhan sebagaimana kejenuhan yang dialami tubuh”.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat dimana jiwa mengalami kejenuhan, yang harus diperhatikan adalah jangan sampai meninggalkan kewajiban. Dan sebaliknya, ketika kondisi jiwa semangat, hendaknya memperbanyak amalan sunnah, sehingga tercipta keseimbangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Muhasabah diri bisa dilakukan setiap hari, setiap kali hendak tidur lakukan perenungan sejenak, melihat semua perbuatan yang telah dilakukan di siang hari, dari kata yang terucap dan perbuatan yang terjadi. Bersyukur terhadap perbuatan yang selaras dengan tuntunan Islam. Bertaubat atas perbuatan yang menyimpang darinya. Introspeksi ini bisa dilakukan pekanan dan seterusnya sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Yang jelas, muhasabah atau introspesksi merupakan keharusan sebagai salah satu instrumen penting guna memelihara kesucian diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan melakukan itu semua, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dan memberikan kekuatan untuk memiliki jiwa yang suci sebagai tanda kesuksesan kita di dunia dan akhirat….Amiiin.</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menjaga-kesucian-diri-pasca-ramadhan.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menjaga-kesucian-diri-pasca-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fiqih Puasa, Raih Berkah di Bulan Ramadhan</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/fiqih-puasa-raih-berkah-di-bulan-ramadhan.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/fiqih-puasa-raih-berkah-di-bulan-ramadhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 04:37:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1336</guid>
		<description><![CDATA[Begitu cepat perputaran waktu kehidupan kita. Tak terasa kita akan bertemu kembali bulan yang penuh berkah dan bulan penuh dengan kebaikan. Itulah bulan suci Ramadhan. Perputaran waktu ini menyadarkan kita kembali bahwa kehidupan ini akan berlalu dan fana, bahwa kehidupan ini adalah sementara bukan abadi dan bahwa kita harus mengisi ruang-ruang kehidupan ini dengan banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Begitu cepat perputaran waktu kehidupan kita. Tak terasa kita akan bertemu kembali bulan yang penuh berkah dan bulan penuh dengan kebaikan. Itulah bulan suci Ramadhan. Perputaran waktu ini menyadarkan kita kembali bahwa kehidupan ini akan berlalu dan fana, bahwa kehidupan ini adalah sementara bukan abadi dan bahwa kita harus mengisi ruang-ruang kehidupan ini dengan banyak beramal shalih.<span id="more-1336"></span> Kesadaran ini adalah kunci sukses untuk menggapai kehidupan yang penuh berkah khususnya pada bulan suci Ramadhan ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Makna Barakah</strong></span><br />
Barakah, berkah dan atau berkat (hasil kondangan atau kenduri) secara etimologi berarti “namaa” (tumbuh kembang) , “dawaamul khair” (langgengnya kebaikan) dan “katsratul khair” (banyaknya kebaikan). Artinya hidup yang berkah itu jika nilai kebaikan semakin tumbuh kembang, kebaikan ini terus mewarnai dan langgeng dalam seluruh dimensi kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk memohon keberkahan di setiap awal bulan Rajab. Beliau selalu berdoa: “Ya Allah, berkahi kami di bulan Rajab, Sya’ban dan di bulan Ramadhan (dalam riwayat lain “temukan kami dengan bulan Ramadhan)…” HR Imam Ahmad.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>3 Faktor Kunci Menggapai Hidup Yang Berkah</strong></span><br />
Dalam beberapa ayat al-Quran tersurat bahwa untuk sukses menggapai kehidupan yang berkah, harus ada 3 faktor; Keilmuan, Keimanan dan Amal Shalih. Coba kita perhatikan beberapa ayat di bawah ini:<br />
“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” QS 16:97</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, Maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” QS.24:52</p>
<p style="text-align: justify;">“….niscaya Allah akan meninggikan orangorang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” QS 58:11</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Optimalisasi Ramadhan</strong></span><br />
Oleh karenanya momentum Ramadhan ini sangat pas bagi kita untuk mengoptimalkan hari dan malamnya untuk menguatkan tiga faktor di atas, agar benar-benar kehidupan kita lebih berkah dan bermakna. Tentunya, memiliki isti’ab (penguasaan) yang baik tentang apa-apa yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan ini, sangat membantu langkah kita untuk mencapai target dan output yang telah ditentukan. Yaitu hidup yang berkah dan bermakna.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Fiqh Puasa</strong></span><br />
Puasa atau yang disebut “shiyaam dan shaum” dalam bahasa Arab, secara etimologi berarti al-imsak (menahan diri) dari sesuatu baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Pengertian ini bisa kita lihat dalam ayat Allah sebagai berikut;</p>
<p style="text-align: justify;">“maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. (QS 19:26)</p>
<p style="text-align: justify;">Dan secara terminology Ulama fikih sepakat mendefinisikan puasa dengan “menahan diri dengan niat ta’abbud dari makan, minum, hubungan biologis dan segala perbuatan yang membatalkan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari”.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sejarah Diwajibkan Puasa</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Puasa tidak hanya diwajibkan kepada Umat Muhammad SAW saja, akan tetapi ibadah puasa merupakan kewajiban yang telah dipergilirkan Allah kepada setiap umat dan Nabinya sebelum datangnya Islam. Rasulullah SAW -sebelum diwajibkan puasa Ramadhan- selalu melakukan puasa tiga hari setiap bulan, hingga Allah SWT mewajibkan kepada Umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan.  Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Al-Quran dalam surat Al Baqarah; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS 2:183)</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini diturunkan pada hari Senin di bulan Sya’ban tahun 2 H, setelah dua tahun umat Islam berada di kota Madinah Munawwarah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Landasan Syar’i</strong></span><br />
Hukum wajib berpuasa pada bulan Ramadhan didasarkan kepada beberapa sumber hukum Islam, yaitu Al-Quran, As-Sunnah dan Al-Ijma’ “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2:183)</p>
<p style="text-align: justify;">“Hadits Jibril yang bertanya kepada Rasulullah tentang “al-Islam” (HR Al-Bukhari Muslim) “Islam dibangun di atas lima dasar; bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, menjalankan ibadah haji dan puasa Ramadhan.” (Muttafaqun Alaih)</p>
<p style="text-align: justify;">Semua Ulama sepakat bahwa berpuasa pada bulan Ramadhan hukumnya fardlu Ain yang harus dilakukan oleh seorang muslim yang telah memenuhi sarat wajib dan sahnya berpuasa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hikmah Puasa</strong></span><br />
Ada beberapa hikmah dalam berpuasa yang bisa kita konklusikan sebagai berikut;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Hikmah Ruhiyah (spiritual)</strong></span><br />
• Penguatan iman dan ketaqwaan<br />
• Melahirkan bentuk ketundukan secara totalitas<br />
• Menahan diri dari mengikuti hawa nafsu<br />
• Medan pelatihan kesabaran, kejujuran dan kedisiplinan Hikmah Ijtima’iyah (social)<br />
• Melahirkan rasa solidaritas yang tinggi sesama muslim<br />
• Sebagai media pemersatu umat, karena semua muslim melakukan ibadah ini secara bersamaan dan serentak<br />
• Mempererat tali ukhuwah islamiyah<br />
• Membiasakan menjalankan aturan-aturan Ilahiyah atau menumbuhkan kedisiplinan dalam merespon hukum-hukum Islam<br />
• Mengeliminir tindakan kriminal dan bentuk-bentuk kemaksiatan</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Hikmah shihiat (kesehatan)</strong></span><br />
• Membersihkan kembali usus-usus<br />
• Memperbaiki alat pencernaan<br />
• Mengurangi berat badan<br />
• Menjaga hukum keseimbangan badan “Berpuasalah kamu, niscaya kamu akan sehat (HR Abu Dawud, Abu Nu’aim dandihasankan As-Suyuthi)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Keutamaan Puasa</strong></span><br />
<span style="color: #0000ff;"><strong>Media peleburan dosa-dosa kecil </strong></span><br />
“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at yang lain, Ramadhan ke Ramadhan yang lain mampu melebur dosa-dosa yang ada di antaranya selama dijauhi dosa-dosa besar.” (HR Muslim) “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan hanya mencari ridlo Allah semata, maka dosa-dosanya yang berlalu akan diampuni.” (Muttafaqun alaih)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Benteng api neraka</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Barang siapa yang berpuasa sehari karena Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dengan puasa tersebut dari api neraka selam tujuh puluh tahun.” (Muttafaqun alaih)<br />
“Puasa adalah benteng dari api neraka bagaikan benteng kamu di dalam peperangan.” (HR Ahmad dan yang lain)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sarana dikabulkan do’a</strong></span><br />
“Sesungguhnya do’a menjelang berbuka bagi orang yang sedang berpuasa tidak pernah ditolak.” (HR Ibnu Majah dan al-Hakim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sarana mendapatkan pintu “Ar-Rayyan”</strong></span><br />
“Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut “Ar-Rayyan”, yang mana semua orang yang berpuasa masuk dari pintu tersebut pada hari kiamat. Dan selain mereka tidak diperbolehkan masuk dari pintu tersebut…” (HR Muttafaqun alaih)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Syarat-Syarat Puasa</strong></span><br />
Tidak semua orang harus melakukan ibadah puasa, kecuali telah memenuhi syarat-syarat berikut ini;<br />
• Islam, puasa tidak sah dilakukan oleh orang-orang kafir<br />
• Baligh, anak-anak yang belum mencapai usia baligh tidak wajib melakukan ibadah puasa, akan tetapi apabila ia berpuasa maka hukumnya sah<br />
• Berakal, orang-orang yang tidak berakal seperti orang gila, sakit ayan dan yang hilang akalnya tidak diwajibkan melakukan ibadah puasa. Rasulullah Saw bersabda: “Qolam (beban hukum itu) dihilangkan dari tiga golongan; orang yang gila sampai ia sembuh, orang yang tidur sampai ia bangun dan anak kecil sampai ia baligh.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)<br />
• Sehat dan mukim (tidak wajib bagi yang sakit dan musafir) (QS 2:184)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Sunah-Sunah Puasa</strong></span><br />
1. Menyegerakan berbuka “Manusia (yang berpuasa) senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR Muttafaqun Alaih) “Sesungguhnya Rasulullah tidak melakukan shalat maghrib dulu sehingga ia berbuka, meskipun dengan seteguk air.” (HR At-Tirmidzi)<br />
2. Berbuka dengan ruthab (kurma tangkai yang masih muda), kurma dan atau air (HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud)<br />
3. Berdo’a menjelang berbuka; “Sesungguhnya do’a orang yang puasa saat berbuka tidak tertolak” (HR Ibnu Majah)<br />
4. Sahur dan mengakhirkan sahur; “Bersahurlah kamu, karena sesungguhnya sahur itu mengandung keberkahan.” (HR Muttafaqun Alaih) “Umatku senantiasa dalam kebaikan selama menyegerakan buka dan mengakhirkan sahur.” (HR Ahmad)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Yang Membatalkan Puasa</strong></span><br />
1. Masuknya sesuatu ke dalam lambung melalui lubang-lubang yang memiliki saluran khusus dengannya seperti anus, vagina, hidung, telinga dan lain-lain<br />
2. Keluarnya mani (sperma) akibat pandangan, khayalan, ciuman dan sentuhan<br />
3. Sengaja muntah<br />
4. Makan minum (dipaksa maupun tidak, menduga masih malam dan atau masuk Maghrib)<br />
5. Berhubungan suami istri di siang hari</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #0000ff;">- والله أعلم بالصواب -</span></p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/fiqih-puasa-raih-berkah-di-bulan-ramadhan.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/fiqih-puasa-raih-berkah-di-bulan-ramadhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

