<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALMANAR &#187; Buletin Almanar</title>
	<atom:link href="http://www.almanar.co.id/category/buletin-almanar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almanar.co.id</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Jul 2010 04:55:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bersiap Menghadapi Mati</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 May 2010 07:34:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1284</guid>
		<description><![CDATA[Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya. Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Akhir kematian manusia hanya ada dua macam, yaitu husnul khatimah (akhir yang baik) dan su’ul khatimah (akhir yang buruk). Terserah kita akan memilih yang mana, yang pertama ataukah yang kedua. Jika kita memilih yang pertama, artinya kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapinya.<span id="more-1284"></span> Karena balasan husnul khatimah adalah surga, dan untuk menuju surga diperlukan perjuangan yang cukup berat. Bahkan Nabi menyebutkan bahwa surga adalah barang dagangan Allah yang sangat mahal harganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun jika memilih yang kedua, maka kita tidak perlu repot-repot mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Karena bagaimanapun juga berbuat kemaksiatan lebih mudah dari pada berbuat taat. Akan tetapi kita harus sadar betul bahwa pilihan ini sama saja dengan mengantarkan diri ke neraka. Artinya, apakah kita mau masuk neraka yang di dalamnya terdapat berbagai macam<br />
siksaan yang amat pedih dan apinya sangat panas membara? jawabannya tentu tidak!.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Rahasia Kematian</strong></span><br />
Kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak seorangpun mampu lari darinya. Allah berfirman tentang hal ini: ”Katakanlah, sungguh kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu..” (aljumu’ah (63)</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah beberapa waktu yang lalu merupakan pelajaran yang sangat mahal. Ketika saudara-saudara kita yang ada di sekitar gunung Merapi berusaha untuk menyelamatkan diri dengan cara bereksodus mencari zona aman yang agak jauh dari gunung tersebut. Namun apa yang terjadi, saat mereka merasa aman dari bencana tersebut, ternyata Allah kirimkan musibah lain yang mengakhiri hidup mereka yaitu terjadinya gempa bumi yang berkekuatan 5,8 skala Richter.</p>
<p style="text-align: justify;">Itu rahasia kematian, tidak ada seorang pun yang bisa menduga, mengasumsikan dan juga menghindar dari kematian ketika ia datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sinilah rahasia kematian, sehingga kedatangannya yang tidak pernah memberi informasi kepada kita inilah yang seharusnya kita sering mengingatnya. Ibnu Umar radiyallahu ’anhu berkata: ”Aku datang menemui Nabi saw –bersamasepuluh orang- lalu salah seorang Anshar bertanya: ”Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: ”Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya; mereka itulah orang- orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan akhirat.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah secara ringkas dan Ibnu Abu Dunya secara lengkap dengan sanad jayyid).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Dahsyatnya Sakaratul Maut</strong></span><br />
Detik-detik datangnya kematian pasti akan dijalani setiap manusia. Itulah yang disebut dengan sakaratul maut. Setiap kita pasti akan mencicipinya. Kita akan mereguknya sebagaimana yang dialami oleh para penguasa dan rakyat biasa, oleh si kaya dan si miskin papa.</p>
<p style="text-align: justify;">Marilah kita simak ungkapan-ungkapan para salafus shalih tentang sakaratul maut.</p>
<p style="text-align: justify;">Amru bin Ash ra sebagai seorang yang cerdik dan ahli strategi perang ditanya oleh putranya yang bernama Abdullah: ”Wahai ayah, ceritakanlah kepadaku tentang kematian karena engkau adalah orang yang paling jujur dalam melukiskannya”. Amru bin Ash bertutur, ”Wahai putraku, demi Allah, seakan-akan gunung menimpa dadaku dan sepertinya aku bernafas dalam lubang jarum!”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibnu Rajab menyebutkan bahwa Ka’ab Al-Ahbar diminta oleh Umar ibnu Khattab untuk menceritakan tentang kematian. Ka’ab berkata’ perumpamaan kematian itu tidak lain seperti seseorang dipukul dengan batang berduri dari pohon bidara. Seluruh durinya menusuk urat, lalu batang duri itu ditarik kembali sampai setiap urat tertarik bersamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasan Al-basri menasihati anak-anak dan murid-muridnya dendam mengatakan, ”Para dokter tidak ada yang berdaya menghadapi kematian”.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh sakaraul maut adalah kejadian maha dahsyat, Allah telah menetapkan kematian ini bagi semua yang hidup. Allah berfirman: ”Semua yang ada di bumi akan binasa. Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” (Ar-Rahman: 26-27)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Yang Mengingatkan Kita Kepada Kematian</strong></span><br />
Dr.’Aidh Abdullah Al-qarni dalam bukunya ”Wa jaat sakarat al-maut bi alhaq” menutur tentang hal-hal yang mengingatkan kita kepada kematian, yaitu:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Ziarah kubur</strong></span><br />
Inilah yang harus sering kita lakukan. Masalahnya adalah manakala aktivitas kita yang begitu padat dan lebih berorientasi pada dunia akan melupakan kita pada orientasi akherat. Sehingga cara yang paling tepat adalah kita harus menyediakan waktu untuk melakukan ziarah kubur sebagai realisasi akan kecintaan kita terhadap sunnahnya dan sekaligus membangun antibodi keimanan pada diri kita agar tidak ja tuh pada lembah kemaksiatan yang menyebabkan hidup kita hina dina.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang terkenal dengan zuhudnya melaksanakan shalat Id dengan masyarakatnya.<br />
Ketika beliau pulang dari shalat Id melewati suatu kuburan, ia berhenti dan menangis lama. Lalu ia berkata: ”Saudara sekalian, ini adalah kuburan kakekku, kuburan bapakku, saudara-saudaraku serta tetanggaku. Tahukah kalian apa yang diperbuat kematian terhadap mereka?” Ia menangis lama.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian yang hadir berkata, ”Apa yang diperbuat kematian kepada mereka, wahai Amirul mukminin?”. Umar menjawab, ”Kematian itu mengatakan: Aku telah menghancurkan biji mata, melumat kedua alat penglihatan, aku telah putuskan telapak tangan dari lengan, aku telah pisahkan lengan bawah dari lengan atas, aku ceraikan lengan dari bahunya, aku telah memutuskan tumit dari betis, aku telah pisahkan betis dari lutut dan aku hancur-remukkan segalanya!. Lalu Umar kembali menangis sehingga menangislah semua manusia yang baik dan yang durhaka.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tilawah Al-Qur’an</strong></span><br />
Di antara kandungan Al-qur’an adalah ayat-ayat yang bertemakan tentang surga dan neraka serta kenikmatan dan azab. Para salafus shalih selalu berinteraksi secara maksimal dengan ayat-ayat tersebut. Karena ayat-ayat itu menjadi energi tersendiri dalam memotifasi amal-amal Islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar ibnu Khattab seorang sahabat Rasullullah yang memiliki masa lalu kelam karena kebenciannya yang mendarah daging terhadap Islam. Beliau mampu melakukan perubahan hidupnya dengan memaksimalkan berinteraksi dengan ayat-ayat Al-Qur’an terutama ayat-ayat yang bertemakan azab. Beliau sempat berlinang air mata bahkan tak kuasa menahan tangisnya tatkala mendengar firman Allah: ”Sungguh azab Tuhanmu pasti terjadi” (Ath-Thur (52): 7) Di sinilah kita temukan bahwa ayat-ayat azab menjadi energi kebaikan bagi para pecinta Al-Qur’an.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">Bergaul dengan orang-orang shalih<br />
</span>Hal yang menjadikan orang-orang shalih mengingatkan kita kepada kematian adalah karena mereka orang yang memenuhi aktivitas hidupnya dengan nilai-nilai islami, jauh dari permainan dan hiburan yang melalaikan manusia dari kematian. Di sinilah orang-orang shalih akan menjadi magnet bagi kia untuk melakukan amal-amal Islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Allah memerintahkan kita untuk memfilter patner interaksi kita serta memerintahkan kita untuk belajar dari penyesalan hambanya yang salah dalam pergaulannya. Allah berfirman: ”Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab(ku)” (Al-Furqan (25): 28</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jalan Menuju Surga</strong></span><br />
Komitmen terhadap risalah Islam itulah jalan menuju tempat yang terbaik dan terindah yaitu surga. Dengan risalah inilah kita harus isi jiwa kita. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, bahwa setiap jengkal tanah yang tidak disinari cahaya risalah, maka ia adalah tempat yang terkutuk. Dan setiap hati yang tidak mengambil petunjuk agama ini, maka ia adalah hati yang dibenci Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, Muadz bin Jabal sebagai seorang yang tumbuh dalam ilmu, kekuatan, cinta dan cita-cita tinggi, ia berkata, ”Aku pernah berjalan bersama Rasulullah di tengah malam yang gelap gulita. Di saat itulah saya bertanya kepada beliau, ”Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang jika aku mengerjakannya, Allah memasukkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka”. Nabi menjawab, ”Sesungguhnya engkau telah menanyakan sesuatu yang sangat besar padahal ia ringan bagi orang yang diberi keringanan oleh Allah untuk mengamalkannya”. Lantas Rasulullah bersabda, ”Sembahlah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bila mampu”. Kemudian Rasulullah melanjutkan ucapannya dengan menggugah hati. ”Apakah engkau mau aku tunjukkan pokok segala perkara, tiang dan puncaknya? Pokok segala perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat sedang puncaknya adalah jihad fi sabilillah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/bersiap-menghadapi-mati.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Hal Yang Mengherankan</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tiga-hal-yang-mengherankan.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tiga-hal-yang-mengherankan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 May 2010 01:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebeningan Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Salman  Al-Farisi Radiyallahu ’anhu berkata: 
Ada tiga  hal yang membuatku heran
sehingga membuatku tertawa;
1. Orang  yang mengangankan dunia
padahal kematian telah memburunya,
2. Orang  yang lalai
padahal ia tidak pernah dilupakan
3. Orang  yang tertawa sepenuh mulutnya
sementara dia tidak mengetahui apakah dia
membuat murka Tuhan alam semesta
terhadapnya atau ridhanya.
(al-Mustakhlas  fii at-tazkiyah an-nafs)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>Salman  Al-Farisi Radiyallahu ’anhu berkata:</em><em> </em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Ada tiga  hal yang membuatku heran<br />
sehingga membuatku tertawa;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>1. Orang  yang mengangankan dunia<br />
padahal kematian telah memburunya,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>2. Orang  yang lalai<br />
padahal ia tidak pernah dilupakan</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>3. Orang  yang tertawa sepenuh mulutnya<br />
sementara dia tidak mengetahui apakah dia<br />
membuat murka Tuhan alam semesta<br />
terhadapnya atau ridhanya.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>(al-Mustakhlas  fii at-tazkiyah an-nafs)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tiga-hal-yang-mengherankan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Evaluasi Seorang Mukmin</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/evaluasi-seorang-mukmin.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/evaluasi-seorang-mukmin.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 07:55:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebeningan Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1274</guid>
		<description><![CDATA[Imam Hasan Al Bashri ra berkata:
“Seorang mukmin bertanggung jawab atas dirinya,
ia mengevaluasi dirinya karena Allah SWT.
Di akhirat ia akan menerima hisab yang ringan.
Dan hisab yang berat akan diterima oleh
orang yang tidak mengevaluasi dirinya di dunia. ”
(Sifatus Shafwah, Ibnu al-Jauzi)
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Imam Hasan Al Bashri ra berkata:<br />
“Seorang mukmin bertanggung jawab atas dirinya,<br />
ia mengevaluasi dirinya karena Allah SWT.<br />
Di akhirat ia akan menerima hisab yang ringan.<br />
Dan hisab yang berat akan diterima oleh<br />
orang yang tidak mengevaluasi dirinya di dunia. ”<br />
(Sifatus Shafwah, Ibnu al-Jauzi)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/evaluasi-seorang-mukmin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Orang Cerdik dan Orang Lemah</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/antara-orang-cerdik-dan-orang-lemah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/antara-orang-cerdik-dan-orang-lemah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 07:19:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1265</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ 

نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَاْلعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا

وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
&#8220;Dari Syaddad bin Aus, Nabi SAW bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan menyiapkan diri untuk hari akhirat. Sedangkan orang yang lemah adalah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ </span></span></p>
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَاْلعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا</span></span></p>
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ</span></span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Dari Syaddad bin Aus, Nabi SAW bersabda, “Orang yang cerdik adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan menyiapkan diri untuk hari akhirat. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai kepada Allah.” [Hadis Hasan riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah]</p>
<p style="text-align: justify;">Hendaknya kita bercermin kepada hadis di atas, menjadi orang yang cerdik, pandai mengelola kepribadian diri dengan mengendalikan hawa nafsu untuk mendapatkan kualitas kemuliaan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Nabi SAW mendeskripsikan bahwa setiap muslim hendaknya bijaksana, hawa nafsu yang ada pada dirinya merupakan ujian dari Allah SWT yang harus digunakan untuk kebaikan, jangan diperturutkan untuk sesuatu yang dilarang Allah SWT, jangan menjadi budak syetan yang senantiasa ingin menjerumuskan manusia muslim sehingga menjadi temannya di neraka.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecerdikan itu tercermin pada evaluasi yang senantiasa dilakukan seorang muslim, apakah langkah kehidupannya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah ataukah bertentangan dengan kehendakNya? Sayidina Umar bin Khattab pernah mengatakan, “Evaluasilah dirimu sebelum kamu dievaluasi [di hari akhirat]”.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang cerdik senantiasa menggunakan kesempatan dengan semua hal yang bermanfaat, tidak ada kesia-siaan yang menghiasi hari-harinya. Tidak menunda-nunda kesempatan kebaikan dengan berandai-andai seraya mengatakan, “Suatu hari nanti saya akan berbuat baik” atau “Nanti ketika usia tua saya mau bertaubat”.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti dijelaskan oleh Nabi SAW, berandaiandai adalah ciri orang yang lemah, lemah keimanannya, selalu memperturutkan hawa nafsu dengan menahan kebaikan dan melanggar larangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah SWT menyerukan kepada kita untuk mempersiapkan hari esok, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya<br />
untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al Hasyr: 18]</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Fiqh Hadits</strong></span></span><br />
· Dorongan untuk menjadi muslim yang cerdik dan kuat<br />
· Hawa nafsu merupakan bentuk ujian bagi setiap muslim yang harus dikendalikan agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.<br />
· Anjuran untuk meninggalkan sikap malas, dan menggunakan kesempatan untuk kehidupan akhirat.<br />
· Kesuksesan akhirat tergantung kepada sejauh mana seseorang dapat mengendalikan hawa nafsunya.</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>AR-SA</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Traditional Arabic"; 	panose-1:2 1 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:178; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:8193 0 0 0 64 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;;" lang="AR-SA">عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ</span><span style="font-size: 18pt; line-height: 115%;"> </span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/antara-orang-cerdik-dan-orang-lemah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Berlindung dari Fitnah</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kumpulan-doa/doa-berlindung-dari-fitnah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kumpulan-doa/doa-berlindung-dari-fitnah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Apr 2010 17:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpulan Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1259</guid>
		<description><![CDATA[اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ


وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ 
&#8220;Ya Allah, Aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka dan siksanya, dari fitnah kubur dan siksanya, dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kemiskinan&#8221;.
[HR. Bukhari]
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ<br />
</span></span></p>
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;">
<p style="margin-top: 4.8pt; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ</span><span style="font-size: 20pt; font-family: Calibri;"> </span></span></p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Ya Allah, Aku berlindung kepadaMu dari fitnah neraka dan siksanya, dari fitnah kubur dan siksanya, dari buruknya fitnah kekayaan dan dari buruknya fitnah kemiskinan&#8221;.<br />
[HR. Bukhari]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kumpulan-doa/doa-berlindung-dari-fitnah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menatap Masa Depan Akhirat</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 04:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>
		<category><![CDATA[Buletin Almanar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1255</guid>
		<description><![CDATA[Hidup yang kita jalani saat ini mengandung tiga dimensi sekaligus ; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu sering kali menghanyutkan dengan bernostalgia dan mengenang keindahan atau kepahitan yang kita rasakan. Ia bergelayut dalam alam perasan, membuat kita tersenyum, juga bisa membuat menangis. Tapi satu hal yang pasti, masa lalu tak akan pernah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hidup yang kita jalani saat ini mengandung tiga dimensi sekaligus ; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu sering kali menghanyutkan dengan bernostalgia dan mengenang keindahan atau kepahitan yang kita rasakan. Ia bergelayut dalam alam perasan, membuat kita tersenyum, juga bisa membuat menangis. Tapi satu hal yang pasti, masa lalu tak akan pernah kembali.<span id="more-1255"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, masa depan adalah ruang yang terbentang dan terhampar luas di hadapan kita. Di dalamnya ada kehidupan ukhrawi, kehidupan yang abadi. Rentang waktu yang memisahkan keduanya adalah proses. Proses itu adalah apa yang kita jalani hari ini, saat ini, di tempat kita berada.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebagian orang yang mengukur kebahagiaannya dengan sukses di dunia semata, sementara akhiratnya terbengkalai. Ada juga yang mengukur kebahagiaan dengan amal-amal akhirat saja, sedang kehidupan duniawinya tercerai berai. Keduanya tidak sehat. Yang sehat adalah bila kita bisa menjadikan sukses di dunia sebagai sarana untuk mencapai sukses di akhirat. Bahkan itulah sebenarya pola yang diinginkan oleh Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Sukses Dunia Sukses Akhirat</strong></span><br />
Allah SWT menghendaki keseimbangan, sukses di dunia dan juga di akhirat, hal ini tergambar dalam doa yang diajarkan Allah kepada kita ketika menceritakan tipikal manusia, “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.” [Al Baqarah: 201]</p>
<p style="text-align: justify;">Indicator kesuksesan duniawi adalah ketika kita bisa menjadi hamba Allah SWT yang beriman dan beramal shalih, serta bermanfaat bagi manusia dengan saling memberi nasihat dalam kebenaran dan kesabaran. [QS. Al Ashr: 1-3] Sedangkan kesuksesan ukhrawi adalah ketika kita terbebas dari siksa Neraka dan dimasukkan ke dalam surga. “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [Ali Imran: Untuk mencapai kesuksesan ini hendaknya setiap kita menjadikan semua aktivitas duniawi memiliki nilai-nilai kesuksesan di akhirat. Banyak pekerjaan dan prestasi yang sepertinya duniawi semata, tetapi bila dijalankan dengan baik dan benar mulai dari niatnya hingga tata caranya akan menjadi prestasi sekaligus sukses di akhirat. Dengan demikian, sebenarnya kebutuhan kita kepada prestasi-prestasi duniawi sangat besar, dalam rangka kesuksesan akhirat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang harus kita lakukan adalah mensinergikan amalan duniawi dengan ukhrawi, artinya semua perbuatan yang kita lakukan hendaknya bernilai pahala di sisi Allah SWT. Ibarat pepatah, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan demikian, prestasi duniawi yang kita capai juga sekaligus cerminan kesuksesan ukhrawi. Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa “Sesungguhnya makna ibadah adalah semua hal yang diridhai Allah, dari perbuatan lahir dan batin. “</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Beberapa amalan duniawi berdimensi ukhrawi</strong></span><br />
Berikut ini adalah beberapa contoh prestasi dan amal duniawi yang bisa menjadi bagian untuk mencapai prestasi akhirat dengan catatan semuanya dilakukan dalam rangka mencari ridha Allah SWT:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Mencari Nafkah</strong></span><br />
Sebagian orang yang mencari nafkah dan penghidupan mungkin semata-mata hanya pekerjaan duniawi. Artinya, itu hanya soal mencari makan dan minum. Atau mencari sesuap dua suap nasi, selembar dua lembar uang, untuk dirinya, maupun keluarganya. Kita tidak boleh membatasi status pencarian penghidupan itu sebagai karya duniawi semata. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadikannya sebagai bagian dari tabungan untuk kehidupan akhirat. Dengan teori seperti itu sebenarnya kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus: sukses di dunia, dan insya Allah SWT sukses pula di akhirat. Seperti dijelaskan oleh Nabi SAW, nafkah yang kita berikan kepada anak istri adalah berpahala. Bahkan, nafkah batin yang diberikan kepada istri sekalipun adalah tabungan untuk sukses akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bersabar ketika mengalami musibah,</strong></span><br />
Musibah yang menimpa kita, seperti sakit, ditinggal mati orang-orang yang kita cintai, dan berbagai masalah hidup yang tidak enak merupakan peristiwa yang menghiasi kehidupan dunia kita. Sebagian orang secara sempit menganggapnya sebatas kejadian-kejadian alami. Tetapi kita harus menjadikan semua itu tabungan untuk kehidupan akhirat kelak. Dengan cara menyabarkan diri, memohon balasan dari Allah SWT serta menyimpannya sebagai tabungan di sisi-Nya. Pada saat yang sama kita berobat bila sakit, mencari jalan keluar bila ada kesulitan, serta berikhtiar menyelesaikan segala masalah dan musibah yang terjadi. Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah kesulitan dan sakit menimpa seorang muslim, tidak juga kegalauan, kesedihan, duka dan beban, hingga duri yang mengenai kakinya, kecuali menjadi penebus sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga menegaskan, bahwa Allah SWT dalam hadits Qudsi berfirman, “Tidaklah ada balasan bagi seorang hamba-Ku bila Aku panggil orang yang dicintainya dari dunia, lalu ia bersabar dan memohon balasan (kepada-Ku) kecuali baginya adalah surga”. (HR. Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menuntut Ilmu</strong></span><br />
Salah satu karya dan prestasi duniawi yang dilakukan banyak orang adalah menuntut ilmu. Dari ilmu itu orang lantas memiliki beragam keahlian, yang dengannya ia menopang tuntutan hidupnya di dunia. Tetapi kita harus menjadikannya sebagai kesuksesan akhirat. Dengan cara bersabar menekuni ilmu yang kita tuntut hingga sampai pada taraf ahli, mengajarkan ilmu tersebut, serta memanfaatkannya untuk maslahat Islam, kaum muslimin, dan kemanusiaan pada umumnya. Tak berlebihan, bila orang-orang yang berilmu, secara teori lebih bisa takut kepada Allah SWT. Tak berlebihan pula, bila Allah SWT menjanjikan derajat yang tinggi bagi orang-orang yang beriman dan berilmu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Berbuat baik</strong></span><br />
Banyak pekerjaan duniawi yang terkesan kecil dan biasa. Tetapi ia sebenarnya bisa menjadi tabungan amal di akhirat. Seperti meminggirkan duri dari jalanan dll. dengan niat menabung amal di sisi Allah SWT, ia akan berubah menjadi amal shalih di sisi Allah SWT. Juga tersenyum kepada sesama saudara muslim, mengucapkan salam, mengasihi binatang. Rasulullah SAW pernah mengisahkan tentang wanita nakal yang di ampuni Allah SWT dan di masukan ke surga, setelah memberi air minum seekor anjing yang nyaris mati kelaparan. Sebaliknya, dalam riwayat lain, Imam Bukhari dan Muslim menyebutkan kisah seorang wanita yang masuk neraka karena menahan seekor kucing. Kucing itu tidak ia beri makan hingga mati.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Memakmurkan bumi.<br />
</strong></span>Dalam banyak ayat Allah SWT melarang kita melakukan kerusakan di muka bumi. Sebaliknya, Allah SWT menyuruh kita memakmurkan bumi, memanfaatkan sebaik mungkin. Bumi dan segala yang ada di atasnya di peruntukan Allah SWT bagi manusia. “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS Al-Baqarah: 29). Dalam ayat lain Allah berfirman, “Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya, dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. “ (QS Al-Mulk: 15). Karenanya, segala profesi dan prestasi yang terkait dengan memakmurkan bumi bisa bernilai tabungan amal shalih di akhirat kelak.  Melindungi hutan dari penebangan liar, menjaga kebersihan kali, memaksimalkan kekayaan laut, mengeluarkan tambang dari perut bumi, memperjuangkan proyek-proyek penjagaan lingkungan, melakukan penyuluhan kesehatan masyarakat, juga memberdayakan potensi-potensi alam dengan teknologinya, demi maslahat kehidupan umat manusia adalah sedikit contoh dari memakmurkan bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Siapa saja dari kita yang menekuni profesiprofesi tersebut harus bangga dan bersyukur, karena punya tempat menabung amal shalih<br />
yang besar untuk hari akhir kelak melalui profesi-profesi tersebut. Yang dibutuhkan tinggal bagaimana menjalaninya dengan ikhlas untuk Allah SWT dan dengan tata cara yang halal, serta mendukung profesi tersebut dengan kemampuan dan keahlian yang semestinya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bermanfaat buat orang lain</strong></span><br />
Sukses akhirat juga bisa kita lakukan pada pekerjaan duniawi yang banyak bermanfaat buat orang lain. Pernahkah kita menyadari betapa berharganya pekerjaan para tukang sampah? Bukankah jerih payah mereka mengangkuti sampah menjadikan ribuan orang merasa nyaman? Demikian juga pekerjaan lain, para dokter yang dengan berani mengunjungi wilayah-wilayah konflik dan perang untuk menyelamatkan ratusan nyawa, mengobati ribuan korban luka-Iuka. Para guru yang tanpa pamrih menyebarkan ilmu. Atau mereka yang berada di tempat strategis yang berkait erat dengan maslahat orang banyak. Seperti dalam istilah Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Atau dalam bahasa al-Qur’an, beratnya timbangan amal tentu juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya amal. “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. “ (QS Al-Qori ‘ah: 6- 7).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span style="color: #ff0000;">Mempunyai amal unggulan</span><br />
</strong></span>Untuk menunjang kesuksesan akhirat hendaknya setiap kita mencontoh amal shalih yang dilakukan oleh salafus shalih terdahulu dengan cara istiqamah melakukannya, seperti sahabat Bilal Ra, yang senantiasa shalat sunnah setiap kali selesai berwudhu sehingga suara terompahnya terdengar di surga ketika Nabi SAW isra mi’raj. Atau Abu Dzar dan Abu Darda yang senantiasa menjaga wasiat Nabi SAW selama hidup untuk tidak meninggalkan tiga hal: dua rakaat sunnah Duha, puasa tiga hari dalam sebulan dan shalat witir sebelum tidur. Atau kita dapat melakukan perintah Rasulullah SAW untuk mendapat tiket ke surga dengan damai yaitu menebarkan salam, memberi makan kepada orang yang membutuhkan dan shalat malam ketika orang lain tidur nyenyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, tinggal kita yang harus mulai meretas kembali semua amal perbuatan itu, mudah- mudahan semua yang kita lakukan selalu berdimensi ukhrawi! Semoga…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/menatap-masa-depan-akhirat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajarilah Ilmu&#8230;</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/pelajarilah-ilmu.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/pelajarilah-ilmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 03:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebeningan Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Mu’adz bin Jabal r.a.:
 “Pelajarilah ilmu&#8230;
mempelajari ilmu karena Allah mencerminkan ketakutan,
mencarinya adalah ibadah,
mengkajinya adalah tasbih,
mencarinya adalah jihad,
mengajarkannya kepada orang lain adalah shadaqah,
membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub.
Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman saat sepi”
— Minhajul Qashidin, Ibnu Quddamah, edisi Indonesia Hal.11
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>Mu’adz bin Jabal r.a.:</em></p>
<p style="text-align: right;"><em> “Pelajarilah ilmu&#8230;</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mempelajari ilmu karena Allah mencerminkan ketakutan,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mencarinya adalah ibadah,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mengkajinya adalah tasbih,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mencarinya adalah jihad,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>mengajarkannya kepada orang lain adalah shadaqah,</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>membelanjakannya untuk keluarga adalah taqarrub.</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>Ilmu adalah pendamping saat sendirian dan teman saat sepi”</em></p>
<p style="text-align: right;"><em>— Minhajul Qashidin, Ibnu Quddamah, edisi Indonesia Hal.11</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/pelajarilah-ilmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berfikirlah&#8230;</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/berfikirlah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/berfikirlah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 17:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ
(رواه أبو نعيم عن ابن عباس)
Artinya “Berfikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas). Hadits ini dihasankan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul Jami’sh Shaghir (2976) dan Silsilatu Ahadits Ash-Shahihah (1788).
Hikmah
Salah satu ciri khas manusia, yang membedakannya dari makhluk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="line-height: 150%; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; margin-right: 0in; text-indent: 0in; text-align: center; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 20pt; font-family: &quot;Traditional Arabic&quot;; font-weight: bold;">تَفَكَّرُوْا فِي خَلْقِ الله وَلاَ تَفَكَّرُوْا فِي اللهِ<br />
(رواه أبو نعيم عن ابن عباس)</span></span></h1>
<p style="text-align: justify;">Artinya “Berfikirlah kamu tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berfikir tentang Dzat Allah” (HR. Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas). Hadits ini dihasankan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahihul Jami’sh Shaghir (2976) dan Silsilatu Ahadits Ash-Shahihah (1788).<span id="more-1047"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hikmah</strong></span><br />
Salah satu ciri khas manusia, yang membedakannya dari makhluk lain adalah berpikir. Karenanya, ada sebagian ilmuwan yang mendefinisikan manusia dengan ungkapan, “Manusia adalah hewan yang berpikir”. Dengan berpikir manusia bisa meraih berbagai kemajuan, kemanfaatan dan kebaikan. Dengan berpikir pula manusia mengalami kesesatan dan kebinasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu, dalam hadits ini Rasulullah saw. Memerintahkan kita untuk melakukan tafakur yang akan mengantarkan kita kepada kemanfaatan, kebaikan, ketaatan, keimanan dan ketundukan kepada Allah Taala, yaitu dengan tafakur mengenai makhluk ciptaan Allah. Sebaliknya, beliau melarang<br />
kita berpikir tentang Dzat Allah karena kita tidak akan menjangkaunya, juga bisa mengantarkan kita kepada kesesatan dan kebinasaan. Sebagaimana yang dialami para filosof dan kaum rasionalis yang memaksakan diri berpikir tentang Dzat Allah. Sehingga mereka terjerumus dalam kesesatan di bidang aqidah dan keyakinan. Wal ‘iyadzu billah. (Sarah Lengkap Arba’in Tarbawiyah, Fakhruddin Nursyam, Hal. 133-134).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Fiqh Hadits</strong></span><br />
• Urgensi merenungkan ayat-ayat kauniah.<br />
• Membangun ma’atullah (kebersamaan dengan Allah) dalam diri seorang muslim.<br />
• Tidak dibenarkan dalam Islam memekirkan tentang Dzat Allah.<br />
• Alam semesta merupakan dalil adanya Khaliq, yaitu Allah SWT.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/berfikirlah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Qur&#8217;ani Menghindari Musibah</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 08:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41).
Dalam ayat ini Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41).<span id="more-1043"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat ini Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya dirasakan oleh manusia disebabkan oleh ulah dan tingkah mereka yang tidak mengindahkan jalan yang benar (aturan-aturan) Sang Khaliq yang telah memberi mandat khilafah kepada mereka di muka bumi ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, prioritas kesadaran yang harus dibangun oleh setiap penduduk bumi ini adalah bahwa yang memiliki hak prerogatif membuat aturan main (resep) untuk mengelola bumi ini adalah Pencipta bumi itu sendiri, Dia adalah Allah Robbul ’aalamin. Dialah yang paling tahu karakter, sifat, kondisi dan kebutuhan ciptaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Paling tidak ada dua dampak serius ketika pengelolaan bumi sudah tidak lagi mengindahkan aturan pakai yang telah ditetapkan oleh Penciptanya. <strong>Pertama</strong>: Kerancuan dan kekacauan yang berdampak pada kerusakan disana-sini. <strong>Kedua </strong>: Murka dan Amarah Allah sebagai Pencipta sekaligus Pemberi amanah yang telah dikhianati oleh manusia (khalifah-Nya). Dan manusialah yang paling merasakan dampak tersebut diatas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aturan main yang dikehendaki oleh Allah adalah Al-Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As sunnah, satu-satunya ajaran yang diridhai oleh Allah sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia dalam mengemban amanah khilafah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Nya “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya dengan kembali dan berpegang teguh kepada Al-Islam secara utuh dan menyeluruh, segala permasalahan hidup dan kehidupan akan mendapatkan bimbingan dan solusinya. Sebaliknya berpaling dari aturan Allah (Al-Islam) hanya akan menambah kesempitan dan kesulitan dalam hidup. Allah berfirman “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha: 124).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan salah satu bentuk rahmat Al-Qur’an kepada orang-orang yang beriman adalah berupa nasihat-nasihat atau tips-tips agar terhindar dari musibah dan azab Allah. Sebagian dari tips-tips itu adalah :</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Beriman Dan Bertaqwa</strong></span><br />
Allah Azza wa Jalla berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat Kami itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada penggal pertama ayat ini jelas sekali Allah berjanji akan melimpahkan keberkahan kepada penduduk negeri yang mau beriman dan bertaqwa, tentunya iman dan taqwa yang dikehendaki oleh Allah adalah iman dan taqwa yang sungguh-sungguh, serius dan terus menerus sampai mati, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali ‘Imran: 102).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan pada penggal kedua ayat di atas Allah mengancam orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (aturan-aturan)-Nya dengan siksa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa menjalani dan menata kehidupan di atas dasar keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah akan mendatangkan keberkahan-keberkahan dari Allah, baik keberkahan dalam bentuk kemakmuran, keamanan dan kedamaian bagi setiap penduduk negeri. Akan tetapi jika penduduk negeri itu didominasi oleh orangorang yang tidak beriman kepada Allah dan mengabaikan, bahkan mendustai aturan-aturan-Nya, maka Allah pasti akan mendatangkan murka dan siksa-Nya baik dalam bentuk bencana, musibah atau yang lainnya. <strong>Na’uzubillaahi min dzalik</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Bersyukur</strong></span><br />
Allah Taala berfirman “Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisaa`: 147).</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kedua ayat di atas bisa dipahami bahwa bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesyukuran, baik itu hati, lisan ataupun perbuatan akan melahirkan dua dampak positif sekaligus, yang pertama: Nikmat akan semakin bertambah, kedua: Akan terjauh dari azab dan murka Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya ada dua pilihan bagi kita, jika kita menginginkan tambahnya nikmat dan terjauh dari azab dan murka Allah, maka kita harus bisa menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya Dan Allah berjanji akan memasukkan orang-orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Sebagaimana firman-Nya “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-A’raf:69)</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya jika kita ‘menginginkan’ siksa dan murka Allah, maka tinggalkan atau abaikanlah perintah syukur, ingkarilah nikmat-nikmat Allah dan gunakanlah nikmat-nikmat itu sekehendak nafsu dan syahwat, niscaya Allah akan mengangkat nikmat-nikmat itu dan menggantinya dengan azab dan murka-Nya. Allah berfirman “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tapi penduduknya mengingkari nikmatnikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An-Nahl: 112}.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Beristighfar</strong></span><br />
Allah Azza wa Jalla berfirman “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar (meminta ampun)” (QS. Al-Anfal: 33).</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini mengisyaratkan tentang dua hal yang bisa ‘menangkal’ azab Allah Ta’ala. Pertama: keberadaan Rasulullah saw. Kedua: beristighfar atau minta ampun. Keberadaan Rasulullah saw. telah berlalu masanya. Sementara yang bisa dilakukan oleh mereka yang hidup pada masa paska kenabian, agar terjauh dari azab Allah adalah melestarikan sunnah-sunnah beliau, yang salah satunya adalah senantiasa melakukan istighfar atau bertaubat kepada Allah. Sebagaimana sabda Beliau; “Wahai manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan minta ampunlah (beristighfar) kepada-Nya, karena sesungguhnya aku sendiri biasa bertaubat (dengan membaca istighfar) dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim). Dari hadits ini jelaslah bahwa Rasulullah menjadikan istighfar sebagai wirid, amalan yang biasa dilakukan secara rutin setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Istighfar adalah salah satu jalan untuk kembali kepada Allah, dengan istighfar kita akan mendapatkan keuntungan ganda baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia Allah akan menjauhkan kita dari azab-Nya, memudahkan urusan kita dan melapangkan rizki kita. Sementara di akhirat Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan memasukkan kita dalam naungan rahmat-Nya. Allah berfirman “Hendaklah kamu meminta ampun (beristighfar) kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. An-Naml: 46).</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah akan menghilangkan darinya segala kesusahan, menghilangkan darinya segala kesempitan, dan akan mendatangkan rezki dari sumber yang tidak terduga” (HR. Abu Daud).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">Berbuat Baik</span></strong><br />
Allah Taala berfirman, “Dan Tuhanmu sekalikali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat baik” (QS. Huud: 117).</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang sama sekali tidak akan membinasakan suatu negeri, sementara nilai-nilai kebaikan masih eksis dan dominan di dalam negeri tersebut. Eksisnya nilai-nilai kebaikan sangat ditentukan oleh sejauh mana usaha yang dilakukan oleh penduduk negeri dalam beramal shalih, baik dalam dimensi fisik, ruhani maupun intelektual.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika amal shalih (perbuatan baik) telah benarbenar menjadi kebiasaan dan mendominasi seluruh sisi kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan kepada kita kehidupan yang baik dan balasan pahala berlipat ganda di sisi-Nya. Sebagaimana Firman-Nya “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga sebaliknya, segala bentuk perusakan dan eksploitasi alam yang tidak mengindahkan nilai-nilai keimanan dan keislaman hanya akan mendatangkan azab dan murka dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya “Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan” (QS. An-Nahl: 88).</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak Berbuat Zhalim</strong></span><br />
Allah Taala berfirman, “&#8230;Dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman” (QS. Al-Qashas: 59).</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu sebab datangnya azab dan murka Allah adalah perbuatan zhalim yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Dengan demikian ketika kita ingin terjauh dari siksa dan murka Allah, kita harus menjauhkan diri kita dari segala macam bentuk kezhaliman, baik kezhaliman terhadap Allah, diri sendiri ataupun kezhaliman terhadap orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kezhaliman yang paling berbahaya dan paling besar dosanya adalah syirik (menyekutukan) Allah dalam segala bentuknya. Dengan berbuat syirik berarti telah menyamakan kedudukan Khaliq (Pencipta) dengan makhluk-Nya, ini adalah sebuah kezhaliman yang besar dan nyata. Allah berfirman “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman (dosa) yang paling besar” (QS. Luqman: 13).</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya tingkatan kezhaliman di bawah syirik adalah maksiat dan berbagai macam dosa, baik yang kecil maupun besar. Baik yang terkait hubungan dengan Allah ataupun dengan sesama makhluk. Semua jenis kezhaliman ini akan menyeret manusia ke dalam kegelapan, siksa dan kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” (HR. Bukhori dan Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya satu jalan untuk menuju bahagia, bersama kita hancurkan segala macam kezhaliman dan kita tegakkan keadilan dalam seluruh sisi kehidupan. Allah berfirman “…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Maidah: 8).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.</strong> Aamiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/tips-qurani-menghindari-musibah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surga Bagi Orang Shalih</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Aug 2009 09:15:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[Adakah manusia yang tidak mencintai keindahan? Jawabannya tentu saja tidak. Bahwa siapa pun dia, muslim atau bukan, penjahat atau orang baik-baik, semuanya cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Sehingga bila ada seseorang yang tidak mencintai keindahan dengan berbagai keragamannya, maka sesungguhnya ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Adakah manusia yang tidak mencintai keindahan? Jawabannya tentu saja tidak. Bahwa siapa pun dia, muslim atau bukan, penjahat atau orang baik-baik, semuanya cinta pada keindahan yang sejalan dengan fitrahnya sebagai manusia. Itulah salah satu karunia yang Allah Ta’ala berikan kepada manusia.<span id="more-1024"></span> Sehingga bila ada seseorang yang tidak mencintai keindahan dengan berbagai keragamannya, maka sesungguhnya ada yang salah pada dirinya. Bahkan Allah Ta’ala itu sendiri indah dan mencintai keindahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kita menikmati keindahan ciptaan Allah yang Maha Perkasa; langit dengan bintang gemintangnya, bumi dengan hamparan laut dan pemandangan alam yang menakjubkan, maka semua itu menjadi sarana bagi kita untuk lebih ber-<em>marifah </em>dan ber-<em>taqarrub </em>kepada-Nya, seraya memuji kebesaran dan keagungan-Nya, <em>“Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau tidak ciptakan ini semua dengan sia-sia.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita terpesona dengan berbagai keindahan ciptaan Allah di muka bumi, yang bahkan seorang penulis Arab, Syaikh Ali Thantawi pernah berkata tentang taman Indonesia sebagai <em>“Surga Allah di muka Bumi”</em>, maka keindahan taman surga dengan segala isinya adalah keindahan abadi yang tak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga atau bahkan terlintas dalam hati. Saat kita membaca ayat-ayat Allah Ta’ala atau hadits-hadits Rasulullah saw. yang menggambarkan panorama keindahan surga; taman-taman indah, buah-buahan dan makanan lezat, minuman segar, sungai berair madu, susu dan arak, lalu terbayang di benak kita berbagai keindahan itu, maka yakinlah bahwa seluruh ciptaan Allah di taman syurga tidak pernah sama keindahan yang muncul dalam benak kita kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Allah Ta’ala ciptakan surga bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya lalu beramal shalih, ikhlas, bertaqwa, berjuang di atas jalan-Nya dan berbagai kriteria yang harus lekat dalam diri seorang mukmin sebagai sarana untuknya mendapatkan surga nan abadi, yang sesaat dari kenikmatannya membuat seorang mukmin lupa dengan segala derita dunia yang pernah dialaminya. Sebagaimana penghuni neraka, tatkala ia rasakan sesaat siksa dan azabnya membuat ia lupa segala kenikmatan dunia yang pernah dirasakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Keindahan taman surga dan berbagai kenikmatan yang Allah sediakan di dalamnya adalah impian bagi setiap mukmin. Karena itulah, seorang dermawan dengan ikhlas menginfakkan hartanya, seorang profesional mendesain agenda kerjanya dalam bingkai ibadah, seorang <em>entrepreneur</em> senantiasa jujur dalam usahanya, seorang dai tidak pernah lelah menyeru manusia ke jalan Allah, dan dengan gagah berani seorang prajurit muslim maju ke medan perang mendamba mati syahid sebagaimana musuhnya mengharap kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Daya tarik surga bahkan menjadi kerinduan bagi Khalifah Umar bin Abdul Aziz, hingga membuatnya tampil sebagai pemimpin yang adil, bijaksana dan dicintai rakyatnya. Walau Masa kekhalifahan relatif sangat singkat, namun sukses kepemimpinannya terukir dengan tinta emas dalam sejarah kejayaan Islam dan kaum Muslimin pada masa pemerintahan Bani Umayyah; dimana –saat itu- tak seorang pun rakyatnya merasa berhak menerima zakat. Kalimat<br />
rindu itu beliau ungkapkan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: right;"><em>Sungguh jiwaku memiliki jiwa perindu;<br />
Tak pernah ia raih sebuah kedudukan<br />
Melainkan ia pasti merindukan<br />
Kedudukan yang di atasnya<br />
Kini ia sampai pada kedudukan tertinggi di dunia (Khalifah)<br />
Dan tak ada yang melebihi kedudukan ini<br />
Tapi kini,<br />
Jiwaku mulai merindukan syurga</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan pada taman surga yang menggelegak dalam jiwa sang Khalifah, membentuk dirinya menjadi pemimpin yang adil, zuhud, alim, dan lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya daripada keluarga dan dirinya sendiri. Sejarah kepemimpinannyayang melegenda itu membuat para ulama<br />
sepakat menobatkannya sebagai Khalifah Rasyidin yang kelima.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala berfirman: <em>“Sungguh orangorang beriman dan beramal shaleh untuk mereka disediakan surga Firdaus sebagai tempat tinggal”</em> (QS. Al-Kahfi: 107)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #0000ff;"><strong>Jenis Surgawi dan Penikmatnya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an menyebutkan kata jannah sebanyak 120 kali atau lebih. Kata itu disebutkan untuk menggambarkan panorama keindahan surga serta orang-orang yang berhak menikmatinya. Taman-taman surga itu adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Firdaus</strong></span><br />
Surga terelit yang dihuni oleh para nabi dan Rasul Allah serta orang-orang yang memiliki kualifikasi amal-amal unggulan. Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita agar ketika memohon surga kepada Allah Ta’ala, maka mintalah sugra Firdaus. Para penikmat tempat ini adalah mereka yang memiliki kualifikasi amal berikut ini:<br />
1. Konsisten dan khusyu’ dalam shalat<br />
2. Produktif dalam beramal shalih<br />
3. Komitmen berzakat<br />
4. Menjaga dirinya dari zina<br />
5. Amanah (QS. Al-Mu’minun: 1-11)<br />
6. Para Mujahid di jalan Allah Ta’ala</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Ma’wa:</strong></span><br />
Surga ini Allah peruntukkan bagi hambahamba-Nya yang memiliki kualifikasi amal sebagai berikut:<br />
1. Senantiasa berdzikir<br />
2. Tawadhu’<br />
3. Komitmen shalat malam<br />
4. Komitmen iman dan amal shalih<br />
5. Para dermawan (as-sajdah: 15-19)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga ‘Adn</strong></span><br />
Kualifikasi penikmat taman ini adalah orang-orang yang:<br />
1. Komitmen iman dan amal shalih<br />
2. Memiliki khasyyatullah (rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla)<br />
3. Rela terhadap ketetapan dan ketentuan Allah swt (QS. Al-Bayyinah: 7-8)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Na’im</strong></span><br />
Taman surgawi ini Allah peruntukkan untuk para kekasih Allah yang dekat dengan-Nya. (al-Waqiah: 88-89)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Dar Muqamah</strong></span><br />
Taman ini Allah izinkan untuk dinikmati oleh orang-orang yang kebaikannya lebih dominan dari pada keburukannya (QS. Fatir:32-35)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Darus Salam</strong></span><br />
Kualifikasi penikmat taman ini adalah orang-orang yang gemar berbuat baik yang dilandasi dengan keimanan yang benar. (QS. Yunus: 25-26)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Surga Maqom Amin</strong></span><br />
Orang-orang yang Allah izinkan untuk menghuni dan menikmati taman surgawi ini adalah ahli taqwa. (QS. Ad-Dukhan: 51-52)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #0000ff;">Nuansa Panorama Taman Surgawi</span></strong><br />
Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw. telah menginformasikan seputar keindahan alam surgawi. Namun ilustrasi yang dilukiskan oleh keduanya hanya bentuk pendekatan persepsi saja. Karena keindahan alam surgawi yang tanpa tanding dan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya tidak dapat dianalogikan dengan keindahan alam duniawi, seindah apapun itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Nuansa Taman Alam Surgawi</strong></span><br />
“<em>Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebatang pohon dan bayang -bayang pohon itu ditempuh oleh seseorang yang bepergian dengan mengendarai kendaraannya membutuhkan seratus tahun tanpa henti</em>” (H.R Imam Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cuaca Taman Surgawi</strong></span><br />
“<em>Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas papan, mereka tidak merasakan di dalamnya terik matahari dan tidak merasakan dingin yang menusuk. Dan naungan pohon-pohon surga itu dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan untuk memetiknya dengan semudah-mudahnya</em>” (QS. Al-Insan: 13-14)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menu di Taman Surgawi</strong></span><br />
“<em>Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala yang di ingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya</em>” (QS. Az-Zukhruf: 71-72) “<em>Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa; di sana ada sungai yang airnya tidak payau, dan sungai air susu yang tidak berubah rasanya dan sungai khamr (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai madu yang murni</em>” (QS. Muhammad: 15)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tipikal Bidadari di Taman Surga:</strong></span><br />
“<em>Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah tersentuh oleh manusia dan jin sebelumnya</em>” (QS.Ar-Rahman: 56)<br />
<em>“Seandainya saja wanita surga menengok kepada penduduk dunia niscaya dia akan menerangi langit dan bumi dan dia akan menaburkan wangi yang memenuhi bumi. Dan belahan rambut dikepalanya lebih baik daripada dunia dan isinya”</em> (H.R Bukhari)</p>
<p style="text-align: justify;">Taman-taman surgawi yang Allah ciptakan dengan segala keindahannya tentu<br />
tidak diperuntukkan bagi ahli maksiat yang kehidupannya di dunia ia jerumuskan dalam kubangan dosa, membangkang perintah Allah dan hanya mendedikasikan hidupnya untuk dunia semata. Namun, penikmat taman-surgawi itu adalah para pecinta kebenaran sekaligus sebagai pejuangnya, senantiasa ikhlas dalam ibadah dan amal shalih yang dilakukannya tanpa mengharap pujian serta ucapan terima kasih dari manusia, selain hanya mengharap ridha Allah Ta’ala semata. Semoga kita memiliki kriteria sebagai penghuni yang layak di taman surga-Nya nan abadi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/surga-bagi-orang-shalih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
