<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ALMANAR</title>
	<atom:link href="http://www.almanar.co.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.almanar.co.id</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 14 May 2012 10:27:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<div id='fb-root'></div>
					<script type='text/javascript'>
						window.fbAsyncInit = function()
						{
							FB.init({appId: null, status: true, cookie: true, xfbml: true});
						};
						(function()
						{
							var e = document.createElement('script'); e.async = true;
							e.src = document.location.protocol + '//connect.facebook.net/id_ID/all.js';
							document.getElementById('fb-root').appendChild(e);
						}());
					</script>	
						<item>
		<title>Teman</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/teman.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/teman.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 10:18:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mutiara Hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1648</guid>
		<description><![CDATA[عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ: « الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ ».
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Seseorang berada pada agama teman dekatnya. Maka lihatlan salah seorang di antara kalian dengan siapa ia bergaul.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad yang benar. Tirmidzi berkata, “Hadits [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ</strong><strong>: « </strong><strong>الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِه</strong><strong>ِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ ».</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Seseorang berada pada agama teman dekatnya. Maka lihatlan salah seorang di antara kalian dengan siapa ia bergaul.” (Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi dengan sanad yang benar. Tirmidzi berkata, “Hadits ini Hasan Shahih.”).</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud di kitab Adab bab Kepada Siapa Seseorang Diperintahkan untuk Bergaul.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita boleh berinteraksi dan bergaul dengan siapa saja sepanjang itu untuk urusan dunia dan pada batas kemanusiaan. Baik teman kita itu muslim maupun non muslim, pendosa maupun orang alim. Akan tetapi pergaulan sejati dan diharapkan akan kekal hingga hari Kiamat, hendaknya seseorang melihat sisi agama seseorang yang dijadikan temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka dalam konteks ini, pergaulan tidak semata-mata berada dalam bab sosial, akan tetapi ia bisa jauh menghujam ke dalam masalah akidah. Lebih-lebih jika seseorang yang dijadikan sebagai teman dekatnya itu, telah menjadi bagian dari hidupnya, yang menyedot simpatinya dan meminta pembelaannya dalam hal-hal prinsip. Ini sangat terkait erat dengan akidah wala’ (loyalitas/kesetiaan) dan bara’ (putus ikatan). Seharusnya akidah wala’ ini hanya boleh kita berikan kepada orang-orang beriman.</p>
<p style="text-align: justify;">Seseorang akan memberikan pengaruh yang besar kepada temannya, baik dalam hal-hal positif maunpun negatif. Lihatlah, betapa banyak orang yang menjadi baik lantaran temannya. Juga sebaliknya, seseorang menjadi jahat karena teman bergaulnya. Pengaruh buruk akan sangat berbahaya bagai seorang remaja yang baru mencari bentuk hidup dalam pengembaraannya di dunia ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekhawatiran kita terhadap teman jahat bukan saja karena pengaruhnya. Akan tetapi, jangan-jangan teman kita itu menjadi ‘cermin’ dari kita. Kata orang Arab, “Burung itu akan berkerumun dengan sesama jenisnya.” Ketika kita begaul dengan orang jahat, jangan-jangan ada sisi kejahatan dalam diri kita yang tercermin dalam diri teman kita itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Fiqih Hadits</strong><br />
1. Memilih teman yang taat beragama dan menjauhi teman yang rusak agamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Wala’ kita berikan kepada orang-orang beriman.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Seseorang menjadi cermin bari teman karibnya.</p>
<p style="text-align: justify;">والله أعلم بالصواب</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/teman.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/mutiara-hadits/teman.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangisan Abu Bakar As-Shidiq RA</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tangisan-abu-bakar-as-shidiq-ra.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tangisan-abu-bakar-as-shidiq-ra.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 10:00:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebeningan Jiwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1644</guid>
		<description><![CDATA[Zaid bin Arqam ra. bercerita, “Aku pernah berada bersama Abu Bakar As-Shidiq ra. lalu ia minta minum. Kepadanya diantar air dan madu. Ketika ia mendekatkan minuman itu ke mulutnya, ia manangis. Ia terus menangis hingga para sahabatnya pun menangis. Sampai ketika para sahabatnya berhenti menangis ia tidak berhenti. Ia terus menangis hingga para sahabat mengira [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Zaid bin Arqam ra. bercerita, “Aku pernah berada bersama Abu Bakar As-Shidiq ra. lalu ia minta minum. Kepadanya diantar air dan madu. Ketika ia mendekatkan minuman itu ke mulutnya, ia manangis. Ia terus menangis hingga para sahabatnya pun menangis. Sampai ketika para sahabatnya berhenti menangis ia tidak berhenti. Ia terus menangis hingga para sahabat mengira mereka tidak bisa bertanya kepadanya (karena tidak berhenti menangis). Ketika ia mengusap matanya mereka pun bertanya, ‘Wahai Khalifah Allah, apa yang membuatmu menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku pernah berada bersama Rasulullah saw. lalu aku melihatnya menahan sesuatu dari dirinya. Aku bertanya kepadanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuatmu menahan sesuatu dari dirimu?’ Beliau menjawab, ‘Ia adalah dunia yang datang kepadaku lalu aku katakan kepadanya, ‘Enyahlah kamu dariku.’ Dunia itu kemudian kembali dan berkata, ‘Kalau kamu bisa berlepas diri dariku, sesungguhnya orang-orang sepeninggalmu tidak bisa lepas dariku.”</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tangisan-abu-bakar-as-shidiq-ra.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/buletin-almanar/kebeningan-jiwa/tangisan-abu-bakar-as-shidiq-ra.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENELISIK MUKADDIMAH AL-QUR’AN (TAFSIR SURAH AL-FATIHAH)</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menelisik-mukaddimah-al-qur%e2%80%99an-tafsir-surah-al-fatihah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menelisik-mukaddimah-al-qur%e2%80%99an-tafsir-surah-al-fatihah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Apr 2012 06:27:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1639</guid>
		<description><![CDATA[MENELISIK MUKADDIMAH AL-QUR’AN
(TAFSIR SURAH AL-FATIHAH)
Idrus Abidin, Lc., MA.
1. PENDAHULUAN.
Dalam ranah interpretasi al-Qur’an, surah al-Fatihah sering dianggap sebagai mukaddimah al-Qur’an yang bisa memberikan benang merah ajaran al-Qur’an. Dengan memahami kandungan surah al-Fatihah, diharapkan seorang pengkaji al-Qur’an memiliki basis pengetahuan yang kokoh untuk selanjutnya digunakan untuk lebih jauh mengakses makna-makna yang hendak dibangun dan dikembangkan dalam ajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>MENELISIK MUKADDIMAH AL-QUR’AN<br />
(TAFSIR SURAH AL-FATIHAH)</strong><br />
Idrus Abidin, Lc., MA.</p>
<p><strong>1. PENDAHULUAN.</strong></p>
<p>Dalam ranah interpretasi al-Qur’an, surah al-Fatihah sering dianggap sebagai mukaddimah al-Qur’an yang bisa memberikan benang merah ajaran al-Qur’an. Dengan memahami kandungan surah al-Fatihah, diharapkan seorang pengkaji al-Qur’an memiliki basis pengetahuan yang kokoh untuk selanjutnya digunakan untuk lebih jauh mengakses makna-makna yang hendak dibangun dan dikembangkan dalam ajaran al-Qur’an.   Alasan yang mendasari asumsi ini adalah bahwa al-Fatihah telah ditetapkan sebagai surah wajib yang harus dibaca setiap kali shalat hendak ditegakkan. Artinya, dalam sehari semalam saja seorang muslim diharapkan membaca al-fatihah sebanyak 17 kali, sesuai jumlah raka’at shalat wajib. Selain itu, Rasulullah sendiri telah menyampaikan sebuah hadits qudsi yang ia riwayatkan dari Allah Swt. tentang keutamaan al-fatihah.</p>
<p align="center"><strong>عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم</strong><strong> :</strong><strong> قَالَ اللَّهُ تَعَالَى</strong><strong> </strong><strong> : </strong><strong>قَسَمْتُ الصَّلاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ</strong><strong> </strong><strong> )) : </strong><strong>الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ</strong><strong> </strong><strong>الْعَالَمِينَ</strong><strong> (( </strong><strong>قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : حَمِدَنِي عَبْدِي</strong><strong> .</strong><strong>وَإِذَا قَالَ</strong><strong> :  ))</strong><strong>الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong><strong> (( </strong><strong>قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي</strong><strong> .</strong><strong>وَإِذَا قَالَ</strong><strong> )) :</strong><strong>مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ</strong><strong> (( </strong><strong>قَالَ : مَجَّدَنِي عَبْدِي &#8211; وَقَالَ مَرَّةً : فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي</strong><strong> </strong><strong>.</strong><strong>فَإِذَا قَالَ</strong><strong>)) : </strong><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong><strong>(( </strong><strong>قَالَ : هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ</strong><strong> .</strong><strong>فَإِذَا قَالَ</strong><strong> : ))</strong><strong>اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ</strong><strong>(( </strong><strong>قَالَ : هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي</strong><strong> </strong><strong>مَا سَأَلَ</strong><strong> . </strong><strong>رواه مسلم</strong><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
</strong>Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Allah Swt berfirman : Saya membagi shalat (surah al-fatihah) menjadi dua bagian. Keduanya dibagi antara Aku dan hamba-Ku. HambaKu berhak mendapatkan apa yang mereka minta. Jika seorang hamba membaca <strong>al-Hamdu Lillahi Rabbil ‘Alamin</strong>, Allah berkata “Hamba-Ku memuji Aku. Jika hamba membaca <strong>ar-Rahman ar-Rahim</strong>, Allah berkata, “Hamba-Ku mengagungkan diri-Ku. Jika hamba membaca <strong>Malik Yaumiddin</strong>, maka Allah berkata : sungguh hamba-Ku memuliakan nama-Ku. Manakala seorang hamba membaca : <strong>Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nas’tain</strong>, Allah berkata : ibadah ini adalah hubungan Aku dengan hamba-Ku. Sedang hambak-Ku akan memperoleh apa yang ia minta. Jika hamba membaca : <strong>Ihdina Shirathal Mustqqim, Shirathallazina An’amta Alaihim Ghairil Maghdhubi ‘Alaihim Walladdhallin</strong>, maka Allah mengatakan : ini bagian hamba-Ku dan mereka akan memperoleh apa yang mereka minta.<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Makna hadits di atas memetakan al-Fatihah menjadi tiga kategori utama :</p>
<p>A.  Tauhid yang merupakan hak Allah Swt. Yang terangkum dari basmalah hingga ayat ke-4.</p>
<p>B.  Pembagian hak dan kewajiban antara Allah dan hamba-Nya pada ayat ke-5. Ibadah sebagai hak Allah swt dan merupakan kewajiban hamba. Sedang isti’anah merupakan hak seorang hamba setelah ia menunaikan kewajibannya berupa ibadah. Isti’anah ini telah Allah tetapkan sebagai kewajiban-Nya sendiri.</p>
<p>C.  <em>Isti’anah </em>yang tertera pada ayat ke-5 tersebut mengidikasikan bahwa ayat-ayat setelahnya semuanya masuk dalam kategori hak hamba. Isti’anah yang dimaksud adalah ajaran berupa doa permintaan yang hendaknya diprioritaskan. Yaitu permintaan hidayah dalam segala keadaan sebelum meminta fasilitas lain yang pada prinsipnya untuk mendukung pelaksanaan ibadah tersebut. Seperti, rumah, kendaraan, status sosial, dll. Karakter hidayah yang diminta adalah hidayah yang telah diterima dengan baik, berupa iman dan amal yang telah dipraktekkan secara paripurna oleh para nabi, shiddiqiin, syuhada dan shalihin. Kesatuan iman dan amal ini disebut <em>hidayah taufiq</em> dalam terminologi syari’ah. Atau pun sesui istilah al-Fatihah sendiri, mereka itu adalah para penempuh jalan yang lurus, yaitu jalan iman dan amal dengan tingkat konsistensi yang mapan, hingga ajal menjemput mereka. Hidayah yang hanya bisa dinikmati secara sempurna oleh orang-orang tersebut di atas. Adapun selain mereka, <em>hidayah irsyad</em> yang wujudnya berupa petunjuk tertulis dalam al-Qur’an dan sunnah yang belum teraflikasi dalam kehidupan nyata seseorang. Hidayah yang tidak merasuk ke dalam pikiran dan hati seseorang sehingga berpengaruh pada pola tingkah laku dan pola pikir yang integral dalam kerangka tauhid kepada Allah Swt. Hidayah seperti ini hanya akan menjadi bumerang bagi seluruh manusia, sebagaiman disinyalir oleh Rasulullah Saw dalam sebuah sabdanya, “Al-Qur’an merupakan hujjah yang akan membelamu (apabila engkau wujudkan dalam kehidupan nyata) atau menjadi bumerang manakala Engkau lalai dari petunjuknya”. Tipikal komunitas yang menyimpang dari jalan yang lurus adalah komunitas kaum Yahudi yang berbekal ilmu yang banyak. Hal ini terbukti dengan banyaknya nabi yang diutus kepada mereka. Namun mereka tidak mewujudkan dalam amal nyata. Bahkan yang mereka lakukan adalah menentang, menyelisihi dan bahkan membunuh nabi-nabi yang diutus. Sedang di fihak lain, komunitas Nasrani sangat rajin beramal dan semangat beribadah, tetapi nihil ilmu sehingga berujung pada kesesatan.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>KEUTAMAAN SURAH AL-FATIHAH.</strong></p>
<ol></ol>
<p>Surah al-fatihah memiliki  beberapa keutamaan, di antaranya :</p>
<ol>
<li>Pintu langit dibuka ketika diturunkan dan juga sebagai cahaya.</li>
</ol>
<p><strong>عن ابن عباس رضي الله عنهما قال</strong><strong> : </strong><strong>بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه وسلم سمع نقيضا من فوقه فرفع رأسه فقال : هذا باب من السماء فتح اليوم ، لم يفتح قط إلا اليوم ، فنزل منه ملك فقال : هذا ملك نزل إلى الأرض ، لم ينزل قط إلا اليوم ، فسلم وقال : أبشر بنورين أوتيتهما ، لم يؤتهما نبي قبلك ؛ فاتحة الكتاب ، وخواتيم سورة البقرة</strong><strong> </strong><strong>، لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته</strong><strong> ..   ]</strong><strong>رواه مسلم وصححه الألباني في صحيح الترغيب و الترهيب / 1456</strong><strong> </strong><strong>[ ..</strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, “Ketika Jibril sedang duduk bersama nabi Saw, ia mendengar suarah gemuruh dari atas, lalu ia melihat ke atas sambil berkata, “itu adalah pintu langit yang terbuka hari ini. Sebalumnya tidak pernah dibuka sama sekali. Lalu turunlah mailkat darinya. Jibril berkata, “inilah salah satumalaikat turun dari langit. Ia sama sekali belum pernah turun ke bumi sebelumnya. Lalu sang malaikat mengucapkan salam kemudian berkata : bergembiralah dengan dengan dua cahaya yang akan diberikan kepadamu. Keduanya belum pernah sama sekali diberikan kepada seorang nabi puns sebelum Engkau. Yaitu surah al-Fatiha dan penutup surah al-Baqarah….<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<ol>
<li>Sebagai do’a penyembuh penyakit (rukyah).</li>
</ol>
<p><strong>عن ‏ ‏أبي سعيد الخدري ‏ ‏قال :‏ (( كنا ‏ في مسير لنا فنزلنا فجاءت جارية فقالت إن سيد الحي سليم وإن ‏ ‏نفرنا غيب ‏ ‏فهل منكم ‏ ‏راق ‏ ‏فقام معها ‏ ‏رجل ‏ ‏‏ما كنا ‏نأبنه برقية فرقاه فبرأ فأمر له بثلاثين شاة وسقانا لبنا فلما رجع قلنا له أكنت ‏ تحسن رقية أو كنت ‏ ترقي قال لا ‏ ‏ ما ‏ رقيت إلا ‏ ‏بأم الكتاب ‏ ‏قلنا لا تحدثوا شيئا حتى نأتي أو نسأل النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فلما قدمنا ‏ ‏المدينة ‏ ‏ذكرناه للنبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏فقال ‏ وما كان يدريه أنها ‏ ‏رقية ‏ ‏اقسموا واضربوا لي</strong><strong> </strong><strong>بسهم</strong><strong>)) (( .. </strong><strong>رواه البخاري</strong><strong> ( ..</strong></p>
<p>Dari Abu Said al-Khudri r.a. ia berkata, “Ketika kami melakukan perjalanan jauh, lalu kami singgah di sebuah perkampungan. Lalu tiba-tiba datang seorang budak perempuan sambil berkata,  tetua kampung kami sedang sakit, apakah di antara kalian ada yang bisa ? Lalu salah seorang di antara kami bangkit dan sebelumnya ia tidak memiliki pengalaman mengobati. Ia lalu membacakan baca’an ruqyah padanya hingga tetua kampung tersebut sembuh. (sebagai hadiah) ia diberikan 30 kambing dan kami juga dijamu dengan susu segar. Ketika ia kembali, kami bilang kepadanya, kamu memang bisa meruqyah atau pernah meruqyah ? dia bilang : saya tidak mengobatinya kecuali dengan bacaan ruqyah surah al-Fatihah.  Kami sarankan padanya agar tidak menceritakan hal ini atau nanti kita tanyakan saja masalah ini kepada Rasulullah Saw. Tatkala kami tiba di Madinah, kami menyampaikan hal itu kepada beliau. Lalu beliau berkata, “Siapa yang mengajarinya bahwa al-Fatihah adalah bagian dari bacaan ruqyah. Kalau begitu, bagi-bagi saja hadiahnya. Jangan lupa untuk saya….<a href="#_ftn3">[3]</a> <strong> </strong></p>
<p><strong>3. </strong><strong>KANDUNGAN SURAH.</strong></p>
<ol></ol>
<p>Surah al-Fatihah diawali dengan basmalah. Basmalah ini merupakan bentuk penegasan tentang orietasi sebuah amal yang hanya berdasarkan atas nama Allah. Sebuah pekerjaan yang tidak bertentangan denga prinsip Islam lalu diawali dengan basmalah maka otomatis akan menjadi ibadah yang akan mendulang pahala. Karenannya, basmalah merupakan bentuk lahir dari niat yang merupakan pekerjaan hati. Sebuah hadits menegaskan tentang ini.</p>
<p align="center"><strong>عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (كُلُّ كَلَامٍ أَوْ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُفْتَحُ بِذِكْرِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَرُ &#8211; أَوْ قَالَ : أَقْطَعُ</strong><strong> </strong><strong>)</strong><strong> </strong></p>
<p align="center">Rasulullah bersabda, “Setiap hal yang memiliki nilai, tetapi tidak diawali dengan basmalah maka akan terputus berkahnya”.<a href="#_ftn4">[4]</a></p>
<p>Berkah yang dimaksud adalah pahala yang senantiasa menjadi impian muslim sejati.</p>
<p>Jika kita melihat ajaran Allah Swt  (al-Qur’an) yang menyebut basmalah, maka dapat kita paparkan beberapa ayat sebagai berikut :</p>
<p>a)      Ketika nabi Nuh naik ke kapal laut : (Huud : 41)</p>
<p align="center"><strong>وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ </strong><strong>) </strong><strong>هود 41</strong><strong> </strong></p>
<p>11:41. Dan Nuh berkata: &#8220;Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.&#8221; Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang<strong> </strong></p>
<p>b)      Ketika surat nabi Ibrahim dikirim kepada ratu Balqis : (an-Naml : 30)</p>
<p align="center"><strong>إِنَّهُ مِن سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong>27:30. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi) nya: &#8220;Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.</p>
<p>c)      Ketika hendak membaca dan belajar (al-Alaq : 1-5).</p>
<p align="center"><strong>اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2</strong>(</p>
<p>Dalam hadits-hadits Rasulullah saw pun ditemukan beberapa anjuran beliau yang mengarahakan kita untuk membaca basmalah ketika melakukan aktifitas. Hadits-hadits tersebut seperti :</p>
<p>a)    Menutup pintu rumah, gelas, dll</p>
<p><strong>إِذَا اسْتَجْنَحَ اللَّيْلُ – أَوْ كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ – فَكُفُّوا صِبْيَا نَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِيْنَ تَنْتَشِرُ حِيْنَئِذٍ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنَ الْعِشَاءِ فَخَلُّوهُمْ، وَأَغْلِقْ بَابَكَ وَاذْكُرِ اسْمَ الله </strong><strong>، وأطفئ مصباحك واذكر اسم الله ، وأوكِ سقاءك واذكر اسم الله ، وخـمِّـر إناءك واذكر اسم الله ، ولو تعرض عليه شيئا . رواه البخاري ومسلم</strong><strong> .</strong></p>
<p><em>Apabila malam telah datang (setelah matahari tenggelam), tahanlah anak-anak kalian, karena setan bertebaran ketika itu. Apabila telah berlalu sesaat dari waktu ‘Isya lepaskanlah (biarkanlah) mereka, tutuplah pintumu dan sebutlah nama Allah (mengucapkan bismillah pen.)padamkanlah pelita dan bacalah nama Allah.  Tutuplah rapat-rapat tempat air minum dengan membaca basmalah. Tutuplah bejanamu dan bacalah nama Allah…..”</em><a href="#_ftn5">[5]</a><em> </em></p>
<p>b)   Ketika hendak berhubungan suami istri.</p>
<p><strong>عن ابن عباس رضي اللّه عنهما، عن النبيّ صلى اللّه عليه وسلم قال‏:‏ ‏&#8221;‏لَوْ أنَّ أحَدَكُمْ إذَا أتى أهْلَهُ قالَ‏:‏ بِسْمِ اللّه اللَّهُمَّ جَنِّبْنا الشَّيْطانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطانَ ما رَزَقْتَنا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ‏&#8221;‏ وفي رواية للبخاري ‏&#8221;‏لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطانٌ أبَداً‏&#8221;‏</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Ibnu Abbas ra, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Jika seseorang di antara kalian hendak mendatangi keluarganya lalu membaca : <strong><em>Bismillah, Allahumma Jannibnassyaithan Wajannibissyaitahan ‘Amma Razaktana</em></strong>, lalu anaknya lahir (dengan selamat) maka ia tidak akan terancam oleh ganguan setan”.<a href="#_ftn6">[6]</a></p>
<p>c)    Ketika hendak tidur dan bangun.</p>
<p align="center"><strong>عَنِ الْبَرَاءِ </strong><strong>كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ قَالَ بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا وَإِذَا اسْتَيْقَظَ مِنْ مَنَامِهِ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Bara’ bin Azib, &#8220;<em>Adalah Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam jika akan tidur membaca: </em><strong><em>Bismikallaahumma Amuutu wa Ahyaa</em></strong><em> (dengan nama-Mu, Ya Allah, aku mati dan hidup), dan apabila bangun tidur membaca: </em><strong><em>Alhamdulillaahil Ladzii Ahyaanaa Ba’da Maa Amaatanaa Wailaihin Nusyuur </em></strong><em>(Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami dan kepada-Nya (kami) akan dibangkitkan).</em>&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>d)   Ketika hendak makan.</p>
<p><strong>جابر -رضي الله عنه-  (إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ, وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ, وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ)</strong><strong> </strong></p>
<p>Dari Jabir ra, “Apabila seseorang masuk ke rumahnya dalam keadaan berzikir kepada Allah ketika masuknya dan ketika memakan makannya, berkatalah setan: Tidak ada tempat bermalam bagi kalian dan tidak ada makan malam. Kalau orang itu masuk rumah, dia tidak berzikir ketika masuknya, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam. Dan bila dia tidak berzikir ketika makan, berkatalah setan: Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam.”<a href="#_ftn7">[7]</a></p>
<p>e)    Do’a pagi dan sore.</p>
<p><strong>عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: قالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم </strong><strong>: </strong><strong>مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ في صَبَاحِ كُلّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلّ لَيْلَةٍ</strong><strong>:</strong><strong>بِسْمِ الله الّذِي لا يَضُرّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ في الأرْضِ وَلا في السّمَاءِ وَهُوَ السّمِيعُ العَلِيمُ،ثَلاَثَ مَرّاتٍ إلَّا لم يضُرّهُ شَيْءٌ</strong><strong>&#8220;.</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Utsman bin Affan ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba membaca pada setiap pagi dan setiap sore menjelang : <strong><em>Bismillahi al-Ladzi la yadhurru ma’asmihi syaiun fil ‘Ardhi wala fissama’I wahuwassami’ul alim</em></strong>, 3x  maka tidak ada apa pun yang dapat membahayakan dirinya. (HR Tirmidzi. No.3516, Bukhari dalam kitab adab al-Mufrad, no.660, Abu Daud, no.5088, Ibnu Majah, no.3869, an-Nasa’I pada kitab amal al-Yaum wallailah, no.15. hadits ini ntelah dishahihkan oleh al-Bani)</p>
<p>Adapun <strong><em>ar-rahman ar-rahim</em></strong>, maka penjelasannya menyusul insya Allah.</p>
<p><strong>الحمد لله رب العالمين</strong></p>
<p>Setelah ajaran tentang niat yang dilafazkan ke dalam dunia nyata, al-fatihah dilanjutkan dengan hamdalah. Hamdalah merupakan ucapan yang merefleksikan kecintaan kepada Allah swt. Kecintaan ini merupakan puncak ibadah. Karena ibadah pada prinsipnya hanyalah dalam rangka memuji Dzat Yang Maha Agung. Sebagai Dzat Yang Terpuji, Allah swt senantiasa di puji kapan pun dan di mana pun.</p>
<p>1)      Terpuji di bumi dan di langit</p>
<p align="center"><strong>وَلَهُ الحمد فِي السماوات والأرض [ الروم : 18 ]</strong></p>
<p align="center">30:18. dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi (QS ar-Ruum : 18)</p>
<p>2)      Terpuji di dunia dan di akhirat</p>
<p align="center"><strong>وَهُوَ الله لا إله إِلاَّ هُوَ لَهُ الحمد فِي الأولى والآخرة }[ القصص : 70 ]</strong></p>
<p align="center">28:70. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat (QS al-Qasas : 70)</p>
<p align="center"><strong>وَلَهُ الحمد فِي الآخرة وَهُوَ الحكيم الخبير } [ سبأ : 1 ]</strong></p>
<p align="center">Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Saba’ : 1)</p>
<p>Jika Allah terpuji dari aspek waktu dan tempat, tentu bukan tanpa alasan. Alasan yang paling utama adalah bahwa Allah swt sebagai rab segala alam. Kata rab mengadung makna yang begitu luas. Makna yang pertama dan utama adalah penciptaan. Karenannya, surah al-Alaq sebagai sebagai surah pertama yang diturunkan Allah, Ia memperkenalkan dirinya dengan “Bacalah dengan nama Allah yang mencipta. Yang menciptkan manusia dari segumpal darah”. (QS al-‘Alaq 1- 5). Fakta ini menjelaskan bahwa alasan utama Allah perlu dicintai dan disembah adalah karena pertimbangan penciptaan tadi. Tentang ini Allah menegaskan,</p>
<p align="center"><strong>يَٰـأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ</strong><strong> </strong><a href="http://al-msjd-alaqsa.com:81/vb/showthread.php?t=03820" target="_blank"><strong>ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلأَرْضَ فِرَٰشاً وَٱلسَّمَاءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ للَّهِ أَندَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ</strong></a></p>
<p>2:21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah: 21-22).</p>
<p>Karenanya, jika manusia menyembah selain Allah (syirik) maka Allah menentang manusia yang menyembah selain-Nya agar menunjukkan satu fakta pun tentang ciptaan mereka yang disembah tersebut atau pun keterlibatannya dengan Allah dalam mencipta. Firman Allah</p>
<p align="center"><strong>قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَرُونِي مَاذَا خَلَقُوا مِنَ الأَرْضِ أَمْ لَهُمْ شِرْكٌ فِي السَّمَاوَاتِ ائْتُونِي بِكِتَابٍ مِّن قَبْلِ هَذَا أَوْ أَثَارَةٍ مِّنْ عِلْمٍ إِن كُنتُمْ صَادِقِي</strong><strong></strong></p>
<p>46:4. Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah; perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit? Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Qur&#8217;an) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar&#8221;. (QS al-‘Ahqaf [46] : 4)</p>
<p>Juga firman-Nya yang berbunyi :</p>
<p align="center"><strong><a href="http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=4100&amp;idto=4100&amp;bk_no=50&amp;ID=4136#docu">قل أرأيتم شركاءكم الذين تدعون من دون الله أروني ماذا خلقوا من الأرض أم لهم شرك في السماوات أم آتيناهم كتابا فهم على بينة منه بل إن يعد الظالمون بعضهم بعضا إلا غرورا </a></strong><strong> </strong><strong></strong></p>
<p>35:40. Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.  Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya? Sebenarnya orang-orang yang lalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka&#8221;. (QS Fathir [35] : 40)</p>
<p>Selain makna mencipta, kata rab juga mengandung makna mendidik. Yaitu bahwa setelah Allah menciptakan segala mahluk, Allah tidak membiarkan ciptaan-Nya begitu saja tanpa perhatian (<em>ri’ayah</em>). Perhatian itu wujudnya adalah mengarahkan semua ciptaan agar sampai ke tarap kesempurnaan. Dalam bahasa syari’ah hal ini disebut sebagai tarbiyah. Dalam kerangka tarbiyah inilah Allah Swt mengutus Rasul kepada masing-masing komunitas manusia dan jin yang ditutup dengan seorang rasul yang paripurna. Yaitu Rasulullah saw yang membawa risalah berupa rahmat ke seluruh alam. Risalah ini bukan saja diperuntukkan bagi alam manusia, jin dan hewan, tetapi juga melingkupi semua mahluk yang lain. Melalui para rasul itulah perhatian Allah senatiasa aktual karena membawa missi tauhid dan ibadah. Bekal mereka adalah kitab suci yang merupakan panduan untuk mengelola alam ini (khilafah) sesuai dengan ketentuan pencipta-Nya.  Manusia dan jin menjadi utama dalam proses tarbiyah tersebut karena diharapkan dengan pola pendidikan yang baik, mereka akan mencapai tingkat kesempurnaan. Kesempurnaan yang mereka peroleh melalui pendidikan sejak masa kecil, dari lahir tanpa ilmu hingga masa dewasa yang terinternalisasi dengan pengetahuan iman yang senantiasa memperbaharui tingkat keimanan dan peribadatannya kepada Allah Swt. Pendidikan ini dianggap berhasil manakala mereka mampu mewujudkan dua tujuan utama kehidupan. Yaitu (a) Senantiasa berkembang dan eksis dalam kehidupan dunia dengan tetap komitmen dalam syari’ah hingga berakhirnya masa hidup secara biologis di dunia ini. (b). Berkembang hingga level kekalan di akhirat kelak.<a href="#_ftn8">[8]</a></p>
<p>Selain kedua makna rab di atas, ada juga makna lain seperti Pemberi Rizki, Penjaga dll. Namun makna-makna tersebut sebaiknya didalami dari persfektif akidah, khususnya dalam ranah tauhid rububiyah</p>
<p>Adapun kata alam, sebagian ulama memandang bahwa ia merupakan pecahan kata <em>alamah</em> yang berarti tanda. Artinya bahwa semua jenis alam, baik alam jin, manusia, hewan dll, pada prinsipnya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Swt. Makna seperti ini misalnya ditunjukkan oleh firman Allah Swt yang berbunyi :</p>
<p align="center"><strong>{ إِنَّ فِي خَلْقِ السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار <span style="text-decoration: underline;">لآيَاتٍ</span> لأُوْلِي الألباب } </strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>[ آل عمران : 190 ]</strong></p>
<p align="center">3:190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS Ali Imran : 190).</p>
<p>Jadi, selain kata alamah yang bermakna tanda, juga kata ayat menunjuk makna serupa. Kata alamah ini digunakan oleh bangsa Indonesia untuk merujuk tempat yang sering disebut sebagai alamat. Sedang orang Arab jahiliah misalanya menggunakan kata alam yang berarti tanda untuk merujuk bendera yang digunakan dalam peperangan. Bendera seperti ini, pada zaman modern digunakan untuk masing-masing komunitas sebagai lambang, seperti bendera maisng-masing kontingen dalam even olahraga dll</p>
<p>.<strong> الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ</strong></p>
<p>Kedua kata tersebut merupakan nama dan sifat Allah swt yang terderivasi dari kata rahmah. Rahmat ini artinya adalah kasih sayang. Hanya saja sifat rahman lebih mutlak cakupannya di banding sifat rahim. Karena sifat rahman mencakup muslim dan kafir serta seluruh mahluk yang ada di alam raya ini. Sedang sifat rahim hanya berlaku bagi orang beriman di dunia maupun di akhirat.</p>
<p>Artinya bahwa, dalam lingkup kehidupan ini, Allah senantiasa menjaga dan menjamin semua mahluk-Nya. Sekali pun mahluk ada yang kafir, tetapi kasih sayang Allah tetap tercurah kepada mereka. Wujudnya berupa Rasul yang diutus dan kitab suci yang memandu agar mereka mau beriman kepada Allah sebelum ajal menjemput. Selain itu, rezki berupa kesehatan, aset dll masih berhak mereka dapatkan. Sekali pun nikmat-nikmat fisik tersebut bisa jadi tetap mengokohkan mereka dalam kekafiran. Bagi mereka yagn mendapatkan kasih sayang demikian lalu tidak membalasnya dengan rasa syukur dengan ibadah maka akan terbuktilah keingkaran mereka. Ini berarti bahwa mereka tidak berhasil mewujudkan 2 tujuan utama kehidupan tersebut di atas. Bisa jadi mereka eksis dalam hidup duniawi ini tetapi tidak dalam koridor ibadah dan khalifah Allah Swt. Dengan demikian, pada kehidupan selanjutnya (akhirat) mereka hanya akan mendapatkan penyiksaan massal dalam neraka jahannam. Naudzu billah.</p>
<p>Tentang sifat Allah Yang Maha Rahman dengan cakupan yang begitu luas tersebut dapat kita temukan makna-makna dalam al-Qur’an seperti ayat-ayat berikut :</p>
<p align="center"><strong>{ ثُمَّ استوى عَلَى العرش الرحمن } [ الفرقان : 59 ]</strong></p>
<p>25:59. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. (QS al-Furqan : 59)</p>
<p align="center"><strong>{ الرحمن عَلَى العرش استوى } [ طه : 5 ]</strong></p>
<p align="center">20:5. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas &#8216;Arsy.</p>
<p>Maksudnya bahwa Allah yang maha rahman menyebar rahmat-Nya dari wilayah mulia, yaitu Arasy. Dengan demikian, rahmat tersebut menyeluruh dan mencakup semua mahluk. Salah satu contoh rahmat Allah tersebut Allah tunjukkan pada pergerakan burung yang mengepakkan sayapnya saat terbang. Bukti kasih sayang dan kekuasaan Allah ini dijadikan sebagai argument bagi orang-orang kafir agar mereka mau beriman dan beribadah hanya kepada-Nya semata :</p>
<p align="center"><strong>{ أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطير فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلاَّ الرحمن} [ الملك : 19</strong><strong> [</strong></p>
<p>67:19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.</p>
<p>Artinya bahwa, untuk sekedar bergerak saja, mahluk membutuhkan kasih sayang Allah swt. Gerak dan diam yang biasanya menjadi ciri kehidupan, ternyata membutuhkan rahmat Allah swt untuk memfungsikannya dalam kehidupan ini.</p>
<p>Untuk mengakses bentuk-bentuk ramat Allah yang begitu luas, Allah menunjukkan  beberapa di antaranya dalam surah ar-Rahman :</p>
<p><strong>الرَّحْمَنُ (١)عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢)خَلَقَ الإنْسَانَ (٣)عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (٤)الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ (٥)وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ (٦)وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ (٧)أَلا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ (٨)وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ (٩)وَالأرْضَ وَضَعَهَا لِلأنَامِ (١٠)فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الأكْمَامِ (١١)وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ (١٢)فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (١٣)       ( الرحمن : 1-13 )</strong><strong> </strong></p>
<p>(1). (Tuhan) Yang Maha Pemurah, (2). Yang telah mengajarkan Al Qur'an.(3). Dia menciptakan manusia,(4). Mengajarnya pandai berbicara.( 5). Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan. (6). Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.(7). Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).(8). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.(9). Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.(10). Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk (Nya).(11). di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.(12). Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.(13). Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman : 1-12)</p>
<p>Untuk lebih menegaskan tentang rahmat Allah swt tersebut di atas, pada hadits-hadits Nabi pun banyak ditemukan penjelasan tentang rahmat Allah yang bersifat mutlak ini. Di antaranya seperti berikut :</p>
<p align="center"><strong>وعن أَبي هريرة</strong><strong> </strong><strong>رضي الله عنه ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم : (( لَمَّا خَلَقَ الله الخَلْقَ كَتَبَ في كِتَابٍ ، فَهُوَ عِنْدَهُ فَوقَ العَرْشِ : إنَّ رَحْمَتِي تَغْلِبُ غَضَبي )) .</strong><strong> </strong><strong>مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah Saw besabda, “Tatkala Allah menciptakan mahluk, Ia menulis pada salah satu kitab yang Ia simpan di sisi-Nya di ‘Arasy (yang berbunyi), “Sungguh rahmat-Ku melampai kemurkaan-Ku.<a href="#_ftn9">[9]</a></p>
<p><strong>وعن أَبي هريرة رضي الله عنه</strong><strong> </strong><strong>، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم ، يقول : (( إنّ للهِ تَعَالَى مئَةَ رَحمَةٍ ، أنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الجنِّ وَالإنس وَالبهائِمِ وَالهَوامّ ، فبها يَتَعاطَفُونَ ، وبِهَا يَتَرَاحَمُونَ ، وبِهَا تَعْطِفُ الوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا ، وَأخَّرَ اللهُ تَعَالَى تِسْعاً وَتِسْعينَ رَحْمَةً يرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ القِيَامَة)) </strong><strong> </strong><strong>مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .</strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata : saya mendengar Rasulullah Saw berkata, “Allah swt memiliki 100 rahmat. Ia menurunkan satu rahmat semata untuk jin, manusia, hewan dan serangga. Dengan satu rahmat itulah mereka semuanya dapat berkasih saying. Dengan itu pula binatang buas bisa jinak terhadap anak-anaknya. Allah menunda 99 rahmat yang Ia simpan di sisinya, yang nantinya digunakan untuk memberikan kasih saying terhadap hambanya pada hari kiamat kelak.<a href="#_ftn10">[10]</a></p>
<p>Sedang terkait dengan sifat rahim Allah terhadap orang beriman, dengan memberikan taufiq kepada mereka sehingga mereka merasakan nilai keimanan dan amal shaleh, hal yang tidak dimiliki oleh orang-orang kafir , maka dapat kita tunjukkan beberapa berikut :</p>
<p align="center"><strong>{ وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيماً } [ الأحزاب : 43 ]</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Dan sungguh Allah Swt sangat menyayangi orang-orang beriman (QS al-‘Ahzab : 43)</p>
<p>Salah satu wujud sifat rahim Allah terhadap kaum beriman adalah bahwa Allah memberikan rahmat dan dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan bagi mereka  supaya Allah mengeluarkannya dari gelapnya kekafiran menuju cahaya iman dan taqwa. Allah berfiraman :</p>
<p align="center"><strong>{ هُوَ الذي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلاَئِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظلمات إِلَى النور وَكَانَ بالمؤمنين رَحِيماً } [الأحزاب : 43 ]</strong><strong></strong></p>
<p>33:43. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.</p>
<p>Bentuk lain dari sifat rahim Allah terhadap kau beriman adalah ampunan yang senantiasa tercurah kepada mereka. Allah berfiraman :</p>
<p align="center"><strong>{ لَقَدْ تَابَ الله على النبي والمهاجرين والأنصار الذين اتبعوه فِي سَاعَةِ العسرة مِن بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ } [ التوبة : 117]</strong></p>
<p>9:117. Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu.  Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka,</p>
<p>Sifat rahim yang kemudian berwujud pada datangnya ampunan Allah demikian dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam salah satu hadits qudsi berikut :</p>
<p><strong>وعن أَبي هريرة</strong><strong> </strong><strong>رضي الله عنه ، عن النَّبيّ صلى الله عليه وسلم فيما يحكِي عن ربهِ تبارك وتعالى ، قَالَ : (( أذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْباً ، فَقَالَ : اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي ، فَقَالَ الله تَبَاركَ وَتَعَالَى : أذنَبَ عبدي ذَنباً ، فَعَلِمَ أنَّ لَهُ رَبّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيَأْخُذُ بالذَّنْبِ ، ثُمَّ عَادَ فَأذْنَبَ ، فَقَالَ : أيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبي ، فَقَالَ تبارك وتعالى : أذنَبَ عبدِي ذَنباً ، فَعَلِمَ أنَّ لَهُ رَبّاً ، يَغْفِرُ الذَّنْبَ ، وَيَأْخُذُ بالذَّنْبِ ، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي فَلْيَفْعَلْ مَا شَاءَ)) </strong><strong></strong></p>
<p>Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, dari Rasulullah saw bersabda sesuai dengan apa yang belia sampaikan dari Allah Swt., “Jika seseorang berdosa, lalu ia berdo’a Ya Allah ampunilah dosaku maka Allah akan berkata : hambaKu berdosa dan ia sadar bahwa ada Allah yang akan mengampuni dosanya. Lalu ia melakukan hal yang sama hingga ia berdosa lagi, kemudian ia berdo’a, Ya Allah, ampunilah dosaku maka Allah akan berkata : hambaKu berdosa dan ia sadar bahwa ada Allah yang akan mengampuni dosanya. Sungguh Aku telah mengampuni dosa-dosa hamba-Ku. Maka silahkan ia melakukannya (selama ia tetap minta ampunan. Pent).<a href="#_ftn11">[11]</a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>مَالِكِ يَوْمِ الدِّين</strong><strong> </strong>( Penguasa hari kiamat)</p>
<p>Selain Allah terpuji karena Ia sebagai pencipta seluruh alam dan juga karena ia memiliki stok kasih sayang yang luar biasa, maka Allah juga terpuji karena Ia penguasa hari kiamat. Kasih sayang Allah yang begitu luar biasa di dunia ini sehingga memberikan hak memilih kepada manusia dan jin. Hak memilih ini disebut amanah dalam syari’ah. Dalam bahasa kontemporer, amanah berupa hak memilih tersebut dikenal dengan istilah kebebasan. Yaitu kebebasan untuk memilih petunjuk Allah dalam syari’ah atau pun memilih kekafiran. Dengan kebebasan inilah Allah menguji hambanya dengan ibadah. Tanpa adanya kebebasan demikian, ibadah tidak pernah terjadi. Karena hakikat ibadah adalah ketundukan dengan penuh ketulusan yang dilandasi oleh cinta yang mendalam. Ketundukan secara tulus tanpa adanya kebebasan, seperti layaknya system tata surya kita yang bergerak sesuai dengan ketentuan Allah tanpa adanya hak memilih sama sekali, maka itu disebut sebagai gerak sistemik dan tidak bisa sama sekali disebut sebagai ibadah. Jadi, jika dipandang dari persfektif duniawi, kita diciptakan, bergerak, hidup, beraktifitas, mendapatkan peringatan melalui para rasul dan media berupa kitab suci, itu semua adalah bentuk kasih saying Allah Swt. Belum lagi ditambah dengan kebebasan selama hidup ini. Apalagi jika kebebasan yang dimaksud nantinya baru mulai diperhitungakan dari aspek dosa maupun pahala setelah akil balig. Ditambah lagi pembatasan-pembatasan lain seperti yang disebutkan oleh Rasululah dalam salah satu sabdanya :</p>
<p align="center"><strong>عَنْ</strong><strong> </strong><strong>عَائِشَةَ</strong><strong> رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ</strong><strong>: «</strong><strong>رُفِعَ القَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَكْبُرَ، وَعَنِ المَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ</strong><strong>»</strong><strong>قال الشيخ الألباني : صحيح</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Aisyah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Pena pencatat amal dan dosa diangkat dari tiga hal ; dari orang yang sedang tertidur hingga ia bangun, dari orang gila hingga sadar dan dari anak-anak hingga ia akil balig.<a href="#_ftn12">[12]</a></p>
<p>Kasih sayang Allah yang begitu luas di dunia ini, terutama kebebasan, terkadang membuat manusia dan jin lupa dan terlena. Mereka lupa dan terlena betapa kebebasan tersebut seharusnya tetap dibarengi dengan tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab berupa amanah kekhalifaan yang  meniscayakan dirinya sebagai penerus ajaran ketuhanan. Lalai dari ketentuan Allah tersebut bisa jadi berakibat fatal, karena untuk maksud itulah ia berada dalam wujud ini. Karenanya Allah swt mengingatkan, bahwa betul Allah penuh dengan kasih sayang, tetapi jangan lupa bahwa Allah penguasa hari kiamat pula. Hari di mana makna kasih sayang berubah menjadi tangung jawab. Yakni, apakah kebebasan selama di dunia benar-benar digunakan untuk memperaktekkan nilaai-nilai agama yang telah direkomendasikan oleh Allah.</p>
<p>Sebagai penguasa hari kiamat, Allah berkuasa secara mutlak pada hari itu. Kebebasan semua mahluk dicabut. Bergerak dan berbicara saja harus dengan izin Allah. Mereka-mereka yang menggunakan kebebasnnya dalam rangka patuh pada aturan agama Allah akan mendapatkan kebebasan yang lebih besar. Sementara pada pengikut hawa nafsu kebebasan akan terbelenggu oleh sikapnya sendiri. Tentang kemutlakan kekuasaan Allah pada hari kiamat, dan keterpasungan mahluk, Allah tegaskan dalam al-Qur’an :</p>
<p align="center"><strong>{ وَمَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدين ثُمَّ مَآ أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدين يَوْمَ لاَ تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئاً} </strong><strong>]</strong><strong>الانفطار: 17-19 ]</strong></p>
<p>Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) pada hari (ketika) seseorang sama sekali tidak berdaya (menolong) orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS al-Infithar :17-19).</p>
<p>Sebuah hadits menggambarkan kekuasaan Allah pada hari itu :</p>
<p align="center"><strong>عَنْ</strong><strong> </strong><strong>عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ</strong> <strong>رضي الله عنه</strong><strong> </strong><strong>، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:</strong> <strong>يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِي اْلأَرَضِينَ بِيَدِهِ اْلأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ. </strong><strong>)</strong><strong>متفق عليه</strong><strong>(</strong></p>
<p>Dari Abdullah bin Umar ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Allah Azza wa Jalla menggulung langit pada hari kiamat dan menggenggam-nya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana orang-orang yang sombong?” Kemudian menggulung bumi-bumi dan menggenggamnya dengan tangannya yang lain seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia, mana orang-orang yang sombong?”<a href="#_ftn13">[13]</a></p>
<p>Pada hari itulah Allah menegaskan kekuasaan-Nya, dengan memberikan kenikmatan mereka-mereka yang telah meneyelisihi hawa nafsunya demi patuh kepada Allah dan memberi balasan siksaan terhadap siapa pun yang karena nafsunya menyeleweng dari tanggung jawab ibadah kepada-Nya. Hari itulah keputusan tentang kebenaran dan kesalahan betul-betul ditegakkan. Allah berfirman :</p>
<p align="center"><strong>{ يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ الله دِينَهُمُ الحق } [ النور : 25 ]</strong></p>
<p>24:25. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allahlah Yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).</p>
<p align="center">
<p><strong>NUANSA KEINDAHAN SUSUNAN AYAT.</strong></p>
<p>Seperti ditegaskan sebelumnya bahwa al-Fatihah pada potongan pertama ayat-ayatnya mengandung ajaran tauhid yang utama. Sehingga  al-Fatihah tampak fokus pada keesaan Allah dan hak-Nya untuk disembah dengan penuh ketulusan oleh seluruh mahluk. Ibadah yang dimaksud adalah ketundukan dan menghinakan diri, makana seperti ini jika ditinjau dari aspek kebahasaan. Sedang jika dilihat dari penggunaa syari’at tentang kata ini ditemukan makna berupa, ibadah adalah sebuah nama yang merangkum semua yang dicintai oleh Allah dan diridha’I oleh-Nya, baik berupa perkataan dan perbuatan, lahir maupun batin.<a href="#_ftn14">[14]</a> Spektrum makna ibadah yang begitu luas demikianlah yang menunjukkan bahwa semua sektor kehidupan dalam pandangan Islam merupakan lahan ibadah. Yang terpenting adalah mengetahui persfektif Islam pada masing-masing sektor untuk diaplikasikan. Dengan demikian, kecintaan dan keridha’an Allah bisa diperoleh.</p>
<p>Jika kita memandang kategori sebuah amalan yang bisa diterima oleh Allah, sebagaimana yang telah diformulasikan oleh ulama, ditemukan ada 2 syarat utama :</p>
<ol>
<li>Ihlas sebagai syarat internal</li>
<li>Mengikuti tata cara yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah sebagai syarat eksternal.</li>
</ol>
<p>Jika kita elaborasi secara mendalam tentang faktor lahirnya keikhlasan, maka ditemukan bahwa pengenalan kepada Allah-lah yang begitu berperan. Karena keihlasan juga semakna dengan ibadah secara global maka ulama menetapkan bahwa pilar-pilar ibadah juga ada 3, yaitu :</p>
<p>1)      Kecintaan yang begitu tulus kepada Allah Swt.(mahabbatullah)</p>
<p align="center"><strong>{ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ } (البقرة : 165)</strong></p>
<p align="center">“Orang-orang yang beriman sangat tinggi rasa cintanya kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah : 165)</p>
<p>2)      Harapan yang sangat besar kepada Allah Swt.(raja)</p>
<p align="center"><strong>{ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ } (الإسراء : 57)</strong></p>
<p align="center">“Mereka Mengharapkan Rahmat Allah” (al-Isra’ 57)</p>
<p>3)      Rasa takut yang sangat mendalam terhadap-Nya.(khauf)</p>
<p align="center"><strong>{ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ } (الإسراء : 57)</strong></p>
<p>“Mereka sangat takut terrhadap azab-Nya” (al-Isra’ 57)</p>
<p>Manakala ketiga pilar ibadah ini ditinjau dari sistematika al-Fatihah, maka ditemukan perpaduan yang sangat teratur. Yaitu bahwa kecintaan yang begitu tulus ada pada ayat yang berbunyi “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam”. Pujian ini adalah pernyataan cinta yang mendalam dari seorang hamba terhadap Allah Swt. Pujian ini tentu bukan karena doktrin keimanan semata yang lepas dari alasan rasional. Karena alasan pujian seorang hamba dan kecintaan demikian karena mereka mengharapkan rahmat Allah yang begitu luas nan melimpah, sebagaimana ulasan singkat tentang hal ini pada tafsir ar-Rahman ar-Rahim. Karena cinta dan harapan itulah sehingga seorang hamba merasa senantiasa khawatir manakala Dzat yang ia cinta dan ia harapkan marah dan murka kepadanya. Pada ketiga nuansa internal demikianlah seorang hamba senantiasa berada. Jika nuansa demikian terasa, saat hamba sedang menghadap kepada-Nya (shalat) denga melafalkan ayat-ayat di atas, maka tentu tidak asing lagi jika lanjutan ayat akan bernuansa pernyataan, deklarasi dan penegasan untuk senantiasa tunduk dan patuh dalam segala sektor kehidupan. Itulah lanjuan ayat berikutnya :</p>
<p><strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ</strong></p>
<p>Ungkapan, hanya Engkaulah yang kami sembah merupakan pembatasn. Yakni bahwa tiada yang kami sembah kecuali Engkau. Dalam Islam, jika kita mengatakan, kami menyembahmu, tanpa pembatasan obyek yang disembah, maka hal itu belum dianggap masuk dalam kategori tauhid. Karena masih mengisyaratkan adanya pihak lain yang disembah selain Allah. Karenannya, dalam Islam, simbol tauhid (La Ilaha Illallah) diawalai dengan peniadaan segala yang disembah, lalu menegaskan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Itulah makna tauhid sesungguhnya.</p>
<p>Dengan demikian, ayat ini mengisyaratkan perwujudan makna <strong>لا إله إلا الله</strong><strong> . </strong>Karena ia mengadug 2 rukun utama, yaitu ( 1 ) peniadaan (<em>nafy</em>) beragam tuhan dan ( 2 ) penegasan (<em>itsbat</em>) Allah sebagai satu-satunya Dzat Yang Pantas Disembah.   Di sini Allah swt mendahulukan kata إياك yang bermakna <strong><span style="text-decoration: underline;">hanya kepadamulah satu-satunya</span></strong>. Ia merupakan bentuk peniadaan (<em>nafy</em>) yang merupakan rukun pertama لا إله إلا الله . Sedang kata نعبد yang maknanya <strong><span style="text-decoration: underline;">yang kami sembah </span></strong>adalah bentuk penegasan (<em>itsbat</em>) terhadap Allah sebagai yang harus disembah.</p>
<p>Di dalam al-Qur’an, kita banyak menemukan ayat-ayat yang senantiasa memadukan kedua makna tersebut (mengandung 2 rukun La Ilaha Illallah) . Beberapa di antaranya seperti berikut :</p>
<ol>
<li>Al-Baqarah : 21-22.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>يَا أَيُّهَا النَّاسُ <span style="text-decoration: underline;">اعْبُدُوا رَبَّكُمُ </span>الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (٢١)الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ <span style="text-decoration: underline;">فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا </span>وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٢) ( البقرة : 21-22 )</strong><strong></strong></p>
<p>2:21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.</p>
<ol>
<li>Al-Baqarah  : 256.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ فَمَنْ يَكْفُرْ بالطاغوت وَيْؤْمِن بالله فَقَدِ استمسك بالعروة الوثقى }[ البقرة : 256  ]</strong><strong></strong></p>
<p>Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.</p>
<ol>
<li>An-Nahl : 36.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت }[ النحل : 36]</strong></p>
<p>16:36. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;,</p>
<ol>
<li>Al-Zukhruf : 26-27.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ إِلاَّ الذي فَطَرَنِي }</strong><strong></strong></p>
<p>43:26. Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: &#8220;Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu sembah,tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku&#8221;.</p>
<p><strong>Catatan </strong> :</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagi<strong> </strong>an tentang Allah berakhir pada ayat ini. Sedang ayat-ayat setelahnya akan fokus pada bagian hamba. Sebagai penghubung yang menegaskan tentang bagian Allah dan bagian hamba ini, di sini kami paparkan sebuah hadits berikut :</p>
<p><strong>وعن معاذ بن جبل &#8211; رضي الله عنه &#8211; ، قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ النَّبيِّ &#8211; صلى الله عليه وسلم &#8211; عَلَى حِمَارٍ ، فَقَالَ : (( يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الله عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى الله ؟ )) قُلْتُ : اللهُ وَرَسُولُهُ أعْلَمُ . قَالَ : (( فإنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أنْ يَعْبُدُوهُ ، وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيئاً ، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللهِ أنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لا يُشْرِكُ بِهِ شَيئاً )) فقلتُ : يَا رَسُول الله ، أفَلا أُبَشِّرُ النَّاسَ ؟ قَالَ : (( لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا )) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Muadz bin Jabal r.a ia berkata, saya pernah dibonceng oleh Rasululah Saw  di atas sekor himar. Belia mengatakan, “wahai Muadz ! apa kamu tau hak Allah terhadap hambanya dan hak hamba terhadap Allah ?! saya menjawab : Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengeteahui. Beliau mengatakan, “Hak Allah terhadap hambanya adalah mereka menyembahnya (denga tulus) dan sama sekali tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Sedang hak hamba terhadap tuhannya yaitu Allah tidak akan mengazab siapa pun yang tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Saya berkata : bisakah saya menyampaikannya kepada yang lain ? beliau menjawab, “Jangan. Nanti mereka hanya mengandalkan amalan wajib saja, (lalu lupa memperbanyak amalan sunnah)”.<a href="#_ftn15">[15]</a></p>
<p><strong>وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ</strong> (Hanya Kepada-Mu kami minta pertolongan).</p>
<p>Penyebutan ayat ini setelah <strong>إِيَّاكَ نَعْبُدُ</strong> mengandung isyarat bahwa tidaklah pantas bertawakkal kepada pihak yang tidak pantas untuk disembah. Karena Allah-lah satu-satuNya Zat Yang Harus Disembah maka hanya kepada-Nya pula satu-satu-Nya zat yang pantas ditempati minta pertolongan dan tempat menyerahkan diri. Relasi kedua makna ini menujukkan sebuah perpaduan yang sempurna. Karenanya, keduanya menunjukkan tauhid yang paripurna pada sisi penyembahan dan pada aspek permintaan. Terkadang hamba menyembah Allah, tetapi senantiasa jatuh dalam kesyirikan dalam masalah isti’anah ini, dengan memohon bantuan kepada dukun misalnya, atau pun mempercayai kesaktian dan kehebatan mahluk selain Allah. Sebaliknya, orang kafir terkadang tidak peduli dengan hak Allah untuk disembah, tetapi pada saat segala yang mereka harapkan tidak bisa memberikan apa-apa, mereka kembali kepada fitrahnya, yaitu meminta hanya kepada Allah semata. Padahal tauhid sesungguhnya adalah ada pada ibadah secara total kepada Allah dan meminta secara total pula kepada-Nya. Tentunya pada hal-hal yang hanya Allah saja yang mampu.</p>
<p>Makna yang menegaskan bahwa pihak yang berhak disembah hanyalah pihak yang pantas pula dimintai pertolongan atau pun sebalikya banyak kita temukan dalam al-Qur’an. Relasi ini disebut relasi ibadah dan tawakkal. Ayat-Ayat Yang Menunjukkan Rangkaian Ibadah dan Tawakkal seperti berikut :</p>
<ol>
<li>At-Ttaubah 129.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُلْ حَسْبِيَ الله لا إله إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ } [ التوبة : 129 ]</strong><strong></strong></p>
<p>9:129. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: &#8220;Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung&#8221;.</p>
<p>B.  Huud : 123.</p>
<p align="center"><strong>{ فاعبده وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ } [ هود : 123 ]</strong><strong></strong></p>
<p>11:123. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.</p>
<p>C.  Al-Muzzammil.</p>
<p align="center"><strong>{ رَّبُّ المشرق والمغرب لاَ إله إِلاَّ هُوَ فاتخذه وَكِيلاً } [ المزمل : 9 ]</strong><strong></strong></p>
<p>73:9. (Dia-lah) Tuhan masyrik dan magrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.</p>
<p>D.  Al-Mulk.</p>
<p align="center"><strong>{ قُلْ هُوَ الرحمن آمَنَّا بِهِ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا } [ الملك : 29 ]</strong><strong></strong></p>
<p>67:29. Katakanlah: &#8220;Dia-lah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakal.</p>
<p><strong>Makna Isti’anah </strong><strong></strong></p>
<p>Dalam pandangan Ibnu Qayyim, istiaanah adalah Meminta bantuan Allah swt untuk memperolah kebaikan dan menghindari keburukan disertai dengan sikap berlepas diri dari berbagai kekuatan dan kekuasaan mahluk.</p>
<p>Isti’anah mengandung 2 pilar penting :</p>
<ol>
<li>Keyakinan penuh kepada Allah swt.</li>
<li>Penyerahan diri kepadanya (tawakkal).</li>
</ol>
<p>Manusia membutuhkan isti’anah dalam 3 aspek :</p>
<p>A.  Melaksanakan perintah.</p>
<p>B.  Menjauhi larangan.</p>
<p>C.  Bersabar dalam takdir.</p>
<p>Makna istianah demikian disemai oleh Rasulullah saw kepada para sahabat pada setiap kondisi yang memungkinkan. Di antaranya, ketika beliau sedang mengendarai onta, keledai atau pun kendaraan lain bersama dengan sahabat pada salah satu kasus berikut :</p>
<p><strong>عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنه قال كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً فقال &#8221; يا غلام , إني أعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك , احفظ الله تجده تجاهك , إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله , واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك , وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك , رفعت الأقلام وجفت الصحف </strong><strong>&#8221; </strong><strong>رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح ً</strong></p>
<p>Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : &#8220;Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.&#8221; (HR. Tirmidzi, ia berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih.<a href="#_ftn16">[16]</a></p>
<p>Hikmah didahulukannya ibadah sebelum isti’anah dalam pandangan Ibnul Qayyim adalah sebagai berikut :</p>
<p>1)        Ibadah merupakan tujuan penciptaan sedang isti’anah adalah sarana untuk ibadah.</p>
<p>2)        Ibadah berkaitan dengan uluhiyyah sedang isti’anah berhubungan dengan rubuiyah.</p>
<p>3)        Ibadah adalah hak Allah sedang isti’anah adalah hak hamba.</p>
<p>4)        Ibadah mencakup isti’anah sedang istia’anah tidak berarti ibadah.</p>
<p>5)        Ibadah hanya untuk orang ikhlas sedang isti’anah bisa diakses oleh orang kafir.</p>
<p>6)        Ibadah adalah hak Allah sedang isti’anah adalah kewajiban-Nya. Hak harus didahulukan dibanding kewajiban-Nya.</p>
<p align="right"><strong>المستقيم</strong></p>
<p>Isti’anah yang merupakan hak hamba tersebut di atas, secara detail diterangkan oleh Allah Swt pada ayat berikutnya berupa permintaan hidayah untuk dapat komitmen pada jalan yang lurus. Seolah Allah menegaskan bahwa, jika setelah beribada dan memberikan hak-hak-Ku berupa ibadah maka mintalah segala kebutuhannmu. Lalu Allah menunjukkan hak manusia pertama yang harus diprioritaskan dalam do’a, yaitu permintaan untuk senantiasa konsisten dari sejak awal masa hidup hingga akhir masa dalam jalur shiratal mustaqim. Shiratul Mustaqim adalah sejumlah ajaran yang mengarahkan manusia untuk memperoleh kebahagian dunia dan akhirat, berupa akidah, adab, dan aturan (hukum) yang diperoleh melalui jalur ilmu yang bersumber dari al-Qur’an, dijelaskan oleh Rasulullah saw. dan diformulasikan dalam bentuk ajaran Islam.</p>
<p>Shirathal Muttaqim oleh kalangan sahabat ditafsirkan dengan beragam makna tetapi tetapi bermuara pada satu maksud. Yaitu bahwa shitatal mustaqim adalah Islam. Ada pula yang mangatakan bahwa yang dimaksud adalah al-Qur’an dan adapula yang mengatakan iman. Perbedaan ini hanyalah bersifat variatif  dan bukanlah perbedaan kontradiktif.</p>
<p>Beberapa Bentuk Hidayah.</p>
<ol>
<li>Hidayah berupa      instink (fitrah) yang mengarahkan ciptaan untuk memperoleh kebutuhan      dasarnya dan melindungi diri berupa akal dan pengetahuan yang sangat      mendasar.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ الذي أعطى كُلَّ شَيءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هدى } [ طه : 50 ]</strong></p>
<p align="center">(Allah yang telah) Memberikan tanda-tanda yang membedakan antara yang hak dan yang batil (QS Thaha : 50)</p>
<p align="center"><strong>وَهَدَيْنَاهُ النجدين } [ البلد : 10 ]</strong><strong></strong></p>
<p align="center">90:10. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. (QS. al-Balad : 10)</p>
<p align="center"><strong>{ وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فاستحبوا العمى عَلَى الهدى} [ فصلت : 17 ] </strong><strong></strong></p>
<p align="center">41:17. Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, (QS Fusshilat : 17)</p>
<ol>
<li>Penurunan kitab      suci dan diutusnya seorang Rasul.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا } [ الآنبياء : 73 ] </strong><strong></strong></p>
<p align="center">21:73. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami (QS.al-‘Anbiya : 73)</p>
<p align="center"><strong>وقوله : { إِنَّ هذا القرآن يِهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ }</strong>]الإسراء: 9، [10.</p>
<p align="center">17:9. Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus (QS al-Israa : 9)</p>
<ol>
<li>Membuka tabir segala sesuatu sebagaimana adanya melalui wahyu,      mimpi dan ilham</li>
</ol>
<p align="center"><strong>{ أولئك الذين هَدَى الله فَبِهُدَاهُمُ اقتده } [ الأنعام : 90 ]</strong><strong></strong></p>
<p align="center">6:90. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.  (QS. al’An’am : 90)</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p><strong><br />
صِرَاطَ الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ </strong><strong></strong></p>
<p>Jalan yang lurus yang telah kita jelaskan sebelumnya, baik yang sifatnya tafsiran kata maupun secara formalitas dalam bentuk peristilahan, pada perinsipnya berbicara tentang kesatuan antara ilmu dan amal. Sehingga makna jalan lurus sesungguhnya adalah benarnya ilmu berdasarkan pada formulasi al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salaf terhadap kedua sumber tersebut. Terutama dalam lingkup akidah, karena dengan berkembangnya trend pemikiran yang berusaha untuk mendekatkan antar masing-masing pemikiran, baik antara ajaran Islam dengan ajaran lain, maupun dalam lingkup ajaran Islam yang memiliki metodologi berbeda dalam memahami akidah.</p>
<p>Jika akidah sudah dipahami berdasarkan pada persfektif al-Qur’an dan Sunnah serta pemahaman salaf, maka amal yang merupakan lingkup fikih dan ahlak mulia kita jajaki dengan baik. Jika pada ranah akidah tidak mengenal adanya istilah naskh dan tidak mengenal pembatasan waktu pemberlakuan, maka dalam ranah fikih dibutuhkan semacam ijtihad dan tajdid dalam rangka mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Jika kaum muslimin dalam ranah akidah kurang tepat dalam memformulasikan pengetahuan Islam jauh dari persfektif kaum salaf maka istilah jalan lurus akan melemah di tengah ummat. Salah satu contohnya adalah, manakala Islam cenderung didekati dengan pendekatan rasional, sebagaimana yang dilakukan oleh filosof Muslim, maka nuansa Islam akan mengarah ke gaya Yahudi yang telah terkubur ajarannya karena rasionalitas yang berlebihan. Rasionalitas sebuah ajaran biasanya sangat lekat dengan cita rasa duniawi. Sedangkan di pihak lain, ketika Islam didekati dengan spiritual murni maka akan lahir cara beragama yang cenderang dengan trend agama Nasrani, yang kelihatannya terlalu condong ke akhirat. Cara beragama seperti ini, dalam lingkup keislaman, identik dengan metode Tasawwuf dan metode Thariqat.</p>
<p>Dengan pertimbangan demikian, dengan gaya Yahudi yang rasional dan dengan banyak nabi yang dikirim kepada mereka, sehingga secara kuantitas keilmuan, mereka tidaklah kurang. Permaslahan mereka terletak pada pembangkangan dan kesombongan, sehingga mereka sulit untuk beramal. Cukuplah sebagai bukti, perintah Allah kepada mereka untuk menyembelih sapi, tapi dengan beragam pertanyaan yang sifatnya hanyalah pembangkangan sehingga mereka hampir tidak dapat melaksanakan perintah Allah dalam hal tersebut. Sementara di pihak lain, orang Nasrani dianggap rajin beramal dengan penuh antusias, tetapi terkadang kekurangan bekal ilmu sehingga mereka cenderung tersesat.</p>
<p>Ummat Islam diarahkan oleh Allah Swt agar meminta jalan yang lurus. Karakter jalan yang lurus tersebut mencakup ilmu yang mapan dan amal yang benar. Jika kita elaborasi sedikit lebih tematis maka lahirlah istilah tauhid aspek keimanan dan istilah fikih dalam ranah aflikasi. Lalu direalkan lagi menjadi ikhlas dan mengikuti tata cara nabi Saw. yang merupakan syarat diterimanya sebuah amalan dalam Islam. Ujungnya adalah prinsip Islam berupa <strong><em>La Ilaha Illallah, Muhammadun Rasulullah</em></strong>. Itulah jalan yang lurus sesungguhnya.</p>
<p>Orang-orang yang telah diterima iman dan amalnya tersebut dan terbukti konsisten pada iman dan amal itu hingga meninggal dunia adalah para nabi, syuhada dan shalihin. Sehingga merekalah yang disebut-sebut sebagai orang yang telah mendapatkan nikmat jalan lurus dan mereka pula dijadikan sebagai percotohan dalam masalah jalan lurus tersebut. Sekali pun di surah al-Fatihah, mereka belum tersebutkan secara formal. Nantilah di surah  an-Nisaa’ mereka dijelaskan dengan sangat nyata oleh Allah Swt.</p>
<p align="center"><strong>{ فأولئك مَعَ الذين أَنْعَمَ الله عَلَيْهِم مِّنَ النبيين والصديقين والشهدآء والصالحين وَحَسُنَ أولئك رَفِيقاً} [ النساء : 69 ] .</strong><strong></strong></p>
<p>4:69. Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS.an-Nisaa : 69)</p>
<p><strong>غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِم</strong></p>
<p>Orang yang dimurkai oleh Allah adalah orang-orang yahudi yang mengenal kebenaran tapi tidak mau mengamalkannya. Akhirnya mereka dibenci oleh Allah Swt. Yakni bahwa secara pengetahuan mereka tidak bermasalah. Permasalahan mereka ada pada hilangnya semangat beramal. Ketika seseorang mengenal kebenaran tetapi tidak mau menjadikannya sebagai amalan maka ujungnya adalah kemurkaan. Makna dibenci dan dimurkai ini diperkuat dengan makna ayat yang lain yang tertuju kepada sikap orang-orang Yahudi. Sebagai contoh, perlakuan syirik mereka selepas kepergian nabi Musa ke gunung Tursina untuk menerima kitab Taurat, dimanfaatkan oleh mereka untuk menyembah anak sapi sebagai tuhan. Sehingga dengan sikap itu mereka disebut sebagai komunitas yang mendapatkan kemurkaan Allah. Firman Allah :</p>
<p align="center"><strong>{ إِنَّ الذين اتخذوا العجل سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ } [ الأعراف : 152 ] </strong><strong></strong></p>
<p align="center">7:152. Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak lembu (sebagai sembahannya), kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Tuhan mereka (QS al-‘A’raf : 152)</p>
<p>Hal lain adalah penginkaran mereka terhadap al-Qur’an dan kedengkian mereka terhadap Rasulullah sebagai peneriwa wahyu terakhir sehingga berefek pada laknat dan kemurkaan Allah Swt. Allah berfirman :</p>
<p align="center"><strong>{ فَبَآءُو بِغَضَبٍ على غَضَبٍ } [ البقرة : 90 ]</strong><strong></strong></p>
<p>2:89. Dan setelah datang kepada mereka Al Qur&#8217;an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. <strong>Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan</strong>. Dan untuk orang-orang kafir siksaan yang menghinakan.</p>
<p>Juga karena pembangkangan, banyak diantara mereka dijadikan kera dan babi oleh Allah. dan semua itu menjurus kepada kaum yahudi. Allah berfirman :</p>
<p><strong>{ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِّن ذلك مَثُوبَةً عِندَ الله مَن لَّعَنَهُ الله وَغَضِبَ عَلَيْهِ } [ المائدة : 60 ] </strong><strong></strong></p>
<p>5:60. Katakanlah: &#8220;Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?&#8221; Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. al-Maidah : 60)</p>
<p><strong>وَلاَ الضآلين</strong></p>
<p>Orang-orang yang tersesat adalah mereka yang minim ilmu sekalipun sibuk beramal. Amal tanpa ilmu bagaikan berjalan tanpa mengetahui alamat atau pun peta perjalanan. Ujungnya hanyalah kesesatan dan kebingungan. Orang Nasrani memiliki karakteristik ini. Hal ini dipahami berdasarkan pada al-Qur’an yang membahas tetantang hakikat kenabian Isa bin Maryam dan bahwa beliau bukanlah tuhan anak. Setelah itu Allah menegaskan firman-Nya :</p>
<p align="center"><strong>{ وَلاَ تتبعوا أَهْوَآءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَآءِ السبيل } [المائدة : 77 ]</strong><strong></strong></p>
<p>5:77. Katakanlah: &#8220;Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.&#8221; (QS al-Maidah : 77)</p>
<p>Makna bahwa orang Yahudi sebagai yang dibenci dan dimurkai dan orang-orang Nasrani yang tersesat makin kokoh mana kala kita menemukan penafsiran Nabi sendiri terhadap makna kedua kata tersebut seperti yang kita jeleskan di sini. Hadits berikut menjelaskannya :</p>
<p align="center"><strong>عن مُرِّيّ بن قَطَريّ، عن عدي بن حاتم، قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن قول الله: { غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ } قال: &#8220;هم اليهود&#8221; { ولا الضالين } قال: &#8220;النصارى هم الضالون&#8221;.</strong><strong></strong></p>
<p>Dari Murri bin Qathari, dari Adi bin Hatim, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw tentang firman Allah yang berbuyi <strong>{ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ }</strong><strong> </strong>belia menjawab, “Mereka adalah orang-orang Yahudi”. Sedang <strong>{ ولا الضالين }</strong>kata beliau, “Orang-orang Nasrani adalah orang-orang yang tersesat”.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>KESIMPULAN.</strong></p>
<ol></ol>
<p>Berdasarkan paparan di atas, bisa disimpulkan bahwa :</p>
<p>A.  Al-Fatihah merupakan mukaddimah al-Qur’an yang menjelaskan hak dan kewajiban antara Allah dan hamba-Nya.</p>
<p>B.  Sebagai mukaddimah al-Qur’an, al-Fatihah memberikan garis besar ajaran al-Qur’an. Yaitu hak Allah untuk diesahkan dalam segala gerak dan diam serta hak (pahala) hamba jika hak Allah tersebut terpenuhi. Hak-hak hamba tersebut berupa <em>isti’anah</em> (permohonan untuk memperoleh konsistensi (istiqomah) dalam ibadah, baik dalam aspek iman maupun amal, serta fasilitas penunjang berupa materi).</p>
<p>C.  Hak hamba untuk senantiasa meminta hidayah taufiq dalam setiap gerak dan diam serta pada setiap detik kehidupan itulah yang menjadi alasan kenapa al-Fatihah menjadi surah yang wajib dibaca dalam setiap raka’at shalat, wajib maupun sunnah, tentunya bagi siapa pun yang sudah menghapalnya dengan baik.</p>
<p>D.  Karena penutup al-Fatihah terkait dengan permintaan hidayah, Allah menjawab permintaan tersebut dengan menurunkan surah al-Baqarah yang berbunyi, “Alif Lam Mim, Inilah al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. Al-Qur’an sejak al-Fatihah hingga surah al-Ikhlas merupakan hidayah bagi orang-orang bertauhid. Tauhid yang menjadi misi kehidupan manusia diringkas kembali dalam surah al-Ikhlas tersebut. Lalu surah al-Falaq dan surah an-Naas menajdi penutup al-Qur’an, karena keduanya menjadi surah permohonan perlindungan dari bahaya agar seorang hamba tidak melenceng dari tauhid. Terdapat dua bahaya yang mengancam otoritas tauhid yang telah dibangun oleh seorang hamba. Keduanya adalah bahaya internal berupa was-was setan dan bahaya eksternal berupa ancaman mahluk, baik mahluk itu mukallaf, seperti manusia dan jin, tukang sihir dan orang-orang dengki yang biasanya memanfaatkan kegelapan malam sebagai waktu beraksi, maupun non mukallaf seperti bahaya ular, setan, dan mahluk lainnya. Untuk menghindari Kedua bahaya tersebut, Allah mengajari kita dengan bacaan-bacaan perlindungan (<em>muawwidzat</em>) yang terdapat pada surah al-Falaq (bahaya eksternal) dan surah an-Naas (bahaya internal). Demikianlah ulasan singkat ini. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada penulis dan kepada seluruh kaum muslimin. Amin.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Muslim. al-Albani telah men-shahih-kannya dalam kitab shahih al-Targib wa al-Tarhib no (1455).</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> HR Muslim. al-Albani telah men-shahih-kannya dalam kitab shahih al-Targib wa al-Tarhib no (1456).</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> HR Bukhari.</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> HR Ahmad, kitab al-Musnad, 14/329. Hadits ini umumnya dikategorikan hasan oleh ulama hadits. Sebagian lagi mendhaifkannya.</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> (<strong>HR. Al-Bukhari</strong> No. 3280 dan <strong>Muslim</strong> No. 2012)</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> HR Bukhari (138) dan Muslim (2591).</p>
<p><a href="#_ftnref7">[7]</a> HR Muslim (3762)</p>
<p><a href="#_ftnref8">[8]</a> Lihat tulisan penulis, <strong><em>Filsafat Pendidikan Islam</em></strong>, di alamat URL berikut : idrusabidin.blogspot.com</p>
<p><a href="#_ftnref9">[9]</a> HR Bukhari dan Muslim.</p>
<p><a href="#_ftnref10">[10]</a> HR Bukhari dan Muslim.</p>
<p><a href="#_ftnref11">[11]</a> HR Bukhaari dan Muslim.</p>
<p><a href="#_ftnref12">[12]</a> (HR Tirmidzi, No.4398. hadits ini telah dishahihkan oleh al-Bani)</p>
<p><a href="#_ftnref13">[13]</a> (HR. Bukhari Muslim)</p>
<p><a href="#_ftnref14">[14]</a> Lihat : kitab al-Ubudiyah, karya Ibnu Taimiyah. Lihat pula kitab : al-Ibadah Fii al-Islam, karya : Yusuf Qardhawi, (penerbit : Matbah Wahbah, Bairut )</p>
<p><a href="#_ftnref15">[15]</a> HR Bukhari dan Muslim.</p>
<p><a href="#_ftnref16">[16]</a> <strong>[</strong>Tirmidzi no. 2516]</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menelisik-mukaddimah-al-qur%e2%80%99an-tafsir-surah-al-fatihah.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/menelisik-mukaddimah-al-qur%e2%80%99an-tafsir-surah-al-fatihah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STIDA Menerima Mahasiswa Baru 2012-2013</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/info-almanar/stida-menerima-mahasiswa-baru-2012-2013.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/info-almanar/stida-menerima-mahasiswa-baru-2012-2013.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 07:37:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Almanar]]></category>
		<category><![CDATA[Pendaftaran STIDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1636</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) Al-Manar
Menerima Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2012 &#8211; 2013
PAKET KULIAH
Paket kuliah di STIDA AL-MANAR adalah paket reguler dengan hari  kuliah Senin, Rabu dan Jum&#8217;at, dengan pilihan waktu 13.00 &#8211; 16.00 dan  17.00 &#8211; 20.00.
MATA KULIAH
Mata kuliah STIDA AL MANAR
1.  Al-Qur&#8217;an
2.  Tafsir
3.  Ulum Al-Qur&#8217;an
4.  Hadits
5.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><span style="color: #0000ff;">Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) Al-Manar<br />
Menerima Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2012 &#8211; 2013</span></strong></p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">PAKET KULIAH</span><br />
</strong>Paket kuliah di STIDA AL-MANAR adalah paket reguler dengan hari  kuliah Senin, Rabu dan Jum&#8217;at, dengan pilihan waktu 13.00 &#8211; 16.00 dan  17.00 &#8211; 20.00.</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>MATA KULIAH</strong></span><br />
Mata kuliah STIDA AL MANAR<br />
1.  Al-Qur&#8217;an<br />
2.  Tafsir<br />
3.  Ulum Al-Qur&#8217;an<br />
4.  Hadits<br />
5.  Mustholah Hadits<br />
6.  Fiqih<br />
7.  Ushul Fiqih<br />
8.  Qowaid Fiqhiyah<br />
9.  Fiqih Kontemporer<br />
10. Aqidah<br />
11. Akhlak<br />
12. Fiqih Da&#8217;wah<br />
13. Mahasa Arab<br />
14. Siroh Nabawiyah<br />
15. Tarbiyah Islamiyah<br />
16. Sejarah Peradaban Islam<br />
17. Metodologi Studi Islam</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">WAKTU PENDAFTARAN</span><br />
</strong>Pendaftaran dimulai pada <strong>bulan Maret &#8211; 3 September 2012</strong>.<br />
Senin s/d Jum&#8217;at jam : 08.00 &#8211; 20.00<br />
Sabtu jam : 09.00 &#8211; 17.00</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">SYARAT PENDAFTARAN</span><br />
</strong>Mengisi formulir pendaftaran dan mengembalikannya disertai dengan :<br />
a.  Foto Copy Ijazah / STTB ( 2 lembar )<br />
b.  Foto Copy KTP ( 2 lembar )<br />
c.  Pas Photo 3 x 4 ( 2 lembar )<br />
d.  Pas Photo 4 x 6 ( 2 lembar )</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">TEST, PENGUMUMAN &amp; REGISTRASI</span><br />
</strong>Pelaksanaan test dan interview dilaksanakan pada :<br />
Hari : Selasa, 4 September 2012<br />
Jam : 13.00 s/d 16.00 dan Jam 17.00 s/d 20.00.<br />
Hasil test diumumkan pada hari Rabu, 5 September 2012.</p>
<p>Bagi mahasiswa yang lulus dalam ujian seleksi wajib melakukan registrasi atau daftar ulang pada tanggal 5  s/d 8  September 2012.</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">DOSEN STIDA AL MANAR</span><br />
</strong>1. Dr. H. At-Tabik Luthfi, M.A<br />
2. Dr. H. Muqoddam Cholil, M.A<br />
3. Dr. H. Imran Zabidy, M.A<br />
4. Dr. H. Ali Ahmadi, M.A<br />
5. H. Saiful Aqib, Lc, M.A<br />
6. H. M. Ridwan Yahya, Lc, M.A<br />
7. H. Ahmad Asrori, Lc, M.Pd.I<br />
8. Abdul Muyassir, M.Pd.I<br />
9. H. Abdul Qodir Abu, M.A<br />
10. H. M. Ridwan Yahya, Lc. M.A<br />
11. H. Asron Kholifah, M.Ag.<br />
12. Idrus Abidin, Lc, M.A<br />
13. Hariyanto, Lc. M.A<br />
14. Ali Mahfudz, Lc, M.A<br />
15. Munir Hasan, Lc, M.A<br />
16. Imam Bukhori, M.A<br />
17. Fahmi Mubarak, Lc, M.Ag</p>
<p><strong><span style="color: #0000ff;">RINCIAN BIAYA</span><br />
</strong>1.  Uang Formulir                                                    Rp. 150.000,-<br />
2.  Uang Pangkal                                                                  Rp. 300.000,-<br />
3.  Uang Kuliah Rp. 700.000,-<br />
4.  Uang KTM dan Jaket                                   Rp. 100.000,-</p>
<p><span style="color: #0000ff;"><strong>TEMPAT PENDAFTARAN</strong></span><br />
Yayasan Pusat Studi Islam Al Manar<br />
Jl. Nangka 1/4 Utan Kayu Utara Jakarta Timur<br />
021 8510132, 021 193457973<br />
0815 86246711, 0815 9698314</p>
<p>Info Lengkap <a href="http://www.almanar.co.id/pendaftaran/stida/index.html" target="_blank">KLIK DISINI</a></p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/info-almanar/stida-menerima-mahasiswa-baru-2012-2013.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/info-almanar/stida-menerima-mahasiswa-baru-2012-2013.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Usaha, Do&#8217;a &amp; Taqdir</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/usaha-doa-taqdir.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/usaha-doa-taqdir.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 09:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1633</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada makhluk melata di mukabumi ini kecuali jatah penghidupannya telah dijamin Allah (QS 11:6). Terlebih lagi manusia dengan kapasitasnya sebagai pemakmur bumi dan makhluk paling mulia. Yang demikian itu agar kehidupan ini senantiasa berjalan seperti yang dikehendaki Sang Pencipta. Meski demikian, jatah rezki itu tidak serta-serta mendatangi makhluk tersebut tanpa ada upaya untuk meraihnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Tidak ada makhluk melata di mukabumi ini kecuali jatah penghidupannya telah dijamin Allah (QS 11:6). Terlebih lagi manusia dengan kapasitasnya sebagai pemakmur bumi dan makhluk paling mulia. Yang demikian itu agar kehidupan ini senantiasa berjalan seperti yang dikehendaki Sang Pencipta. Meski demikian, jatah rezki itu tidak serta-serta mendatangi makhluk tersebut tanpa ada upaya untuk meraihnya. Maka berupaya untuk mendapatkan jatah penghidupannya menjadi suatu keniscayaan. Perlu ada upaya dan sebab meraih bagian itu. Jika ingin ikan, perlu menebar jala atau memasang kail.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam Islam, kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari sejumlah ibadah yang dipersembahkan kepada Allah. Seberapa hitam tanda di keningnya karena lama dan seringnya bersujud. Dan seberapa lama ia berdiam di pojok masjid dengan tasbih yang dimainkan oleh jemarinya dan mulut yang tak henti-henti menggumamkan kalimatkalimat pujian kepada Sang Pencipta. Seseorang berupaya mendapatkan jatah rezki itu termasuk perbuatan mulia. Semakin berat seseorang berupaya, semakin mulia dia dan semakin disukai Allah. Yang paling penting dalam hal ini adalah proses mendapatkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, bermalas-malasan dalam mengotimalkan potensi demi mendapatkan karunia Allah tersebut adalah perbuatan hina dan tidak disukai Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Kemuliaan Berusaha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Qur’an dan hadits Nabi banyak menyampaikan anjuran bahkan pujian bagi orang yang berusaha mendapatkan rezki.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Al-Jum’ah: 10).</p>
<p style="text-align: justify;">“Inilah konsep tawazun (keseimbangan) yang ditegaskan oleh manhaj (system) Islam. Tawazun di antara tuntutan hidup di muka bumi ini. Di antara kerja, aktivitas, upaya, dan mencari nafkah pada suatu saat dan pada saat yang lain mengisolasi ruh dan hati dari semua kesibukan itu dalam</p>
<p style="text-align: justify;">kekhusyukan zikir kepada Allah&#8230;” demikian Shahibudz-Dzilal, Sayyid Quthb, mengomentari ayat tersebut. (Dzilal) Jika seseorang dapat menghidupi dirinya sendiri dan tanpa menggantungkannya kepada orang lain. Apatah lagi melalui usahanya banyak orang bergantung kepadanya. sabda Rasulullah saw.,</p>
<p style="text-align: justify;">Khalid bin Ma’dan meriwayatkan dari Miqdam ra. dan dari Rasulullah saw. Beliau bersabda, “Tidak ada seorang yang memakan makanan yang lebih baik daripada seseorang yang makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan nabi Dawud as. Makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Imam Al-Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi seseorang dianggap hina oleh kaca mata dunia karena profesinya, namun sesungguhnya menurut parameter akhirat ia sangat mulia, bahkan lebih mulia ketimbang mereka yang memiliki status social tinggi karena melimpahnya kekayaan bumi namun bukan dari perasan peluhnya sendiri. Rasulullah membandingkan kemuliaan orang yang mencari kayu bakar dengan yang hanya meminta-minta kepada manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja jika sebuah usaha dibingkai dengan bingkai ibadah kepada Allah. “Sekiranya salah seorang di antara kalian mengambil talinya lalu berangkat (perawi: saya kira beliau mengatakan) ke gunung kemudian mengumpulkan kayu bakar lalu menjualnya dan memakan (dari hasilnya)</p>
<p style="text-align: justify;">serta menyedekahkannya, itu lebih baik daripada ia meminta-minta orang.” (Bukhari).</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Hamid Al-Ghazi menyebutkan dalam Ihya’-nya, bahwa Rasulullah pernah duduk- duduk bersama para sahabatnya pada suatu hari. Tiba-tiba mereka melihat seorang pemuda yang berkulit kasar dan kuat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pagi-pagi ia bekerja. Mereka (para sahabat) berkomentar, “Sayang sekali orang ini, kalau saja masa mudanya dan kekerasan tubuhnya itu berada di jalan Allah.” Rasulullah bersabda, “Jangan berkata seperti itu, sebab jika ia berusaha untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta serta mencukupkan dirinya dari orang lain, maka ia berada di jalan Allah. Atau jika ia bekerja untuk kedua orang tua yang lemah dan keluarga yang lemah untuk membuat mereka kaya dan cukup, maka ia berada di jalan Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun kalau ia bekerja untuk berbangga diri dan berbanyak-banyak harta, maka ia berada di jalan syetan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, peran manusia dalam masalah rezki hanya sebatas berusaha dan mengoptimalkan</p>
<p style="text-align: justify;">potensi yang Allah berikan kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggerakkan semua kemampaun dan menjadikan pengalaman sebagai bekal untuk menghadai liku-liku di dunia usahanya. Menyusun strategi yang baik dan menutupi berbagai kekurangan yang mungkin menjadi kendala. Juga mengevaluasi kinerja yang mungkin menjadi penyebab kegagalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil dari usahanya tidak dapat dipastikan dengan kalkulasi manusiawinya. Itu merupakan hak prerogatif Allah yang memberikan jatah kepada masing-masing hamba. Dan selalu ada hikmah di balik setiap kuantitas jatah itu. Hal ini sangat terkait dengan kedudukan harta benda sebagai ujian. Diberikan dan ditahannya harta kepada seseorang pasti demi kebaikan hamba tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali seseorang, karena ketidaktauhannya, mengira bahwa dirinya layak mendapatkan jatah lebih dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Allah yang lebih tahu tentang hamba-Nya lebih tahu pula seberapa banyak jatah yang dibutuhkan masingmasing hamba.</p>
<p style="text-align: justify;">Perlu digaris-bawahi di sini, bahwa persoalan jatah adalah perkara gaib dan manusia tidak dibebankan untuk mengetahui sebelum jatah itu benar-benar berada dalam genggaman tangannya. Maka manusia diberi kebebasan untuk memasang target dunia yang ingin digapainya dan diberi keleluasaan berupaya mengejar target itu, tentu saja dengan cara dan etika yang telah</p>
<p style="text-align: justify;">ditetapkan panduannya oleh syariah.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena kegaiban hasil dari sebuah usaha itulah seorang hamba wajib berharap dan berdoa kepada Allah. Tidak layak baginya untuk menyandarkan hasil kepada jerih payahnya semata. Betapa banyak menusia menetapkan strategi untuk mencapai target yang telah ditetapkannya, namun tangan-tangan taqdir menghalanginya sehingga ia terhalang untuk mencapai target tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai implementasi dari surat Al-Jumuah ayat 10 tadi, seorang sahabat Nabi saw., ‘Arak bin Malik ra, setiap kali usai shalat Jum’at, ia keluar dan berhenti di pintu masjid seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah menyambut seruan-Mu, shalat melaksanakan kewajiban-Mu, lalu aku menyebar sebagaimana perintah-Mu. Maka berilah rezki dari karunia-Mu karena Engkaulah sebaikbaik</p>
<p style="text-align: justify;">pemberi rezki.” (Ibnu Katsir).</p>
<p style="text-align: justify;">Doa setelah atau ketika bekerja adalah representasi seorang hamba terhadap keterbatasan dirinya sekaligus pengakuannya akan kekuasaan Rabbnya. Sebagai bentuk pengesaan Rububiyyah Allah. Bahwa Allahlah Zat yang memberi rezki. Di tanga-Nya segala kebaikan. Allah berhak memberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Doa dan Taqdir</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin Anda terusik oleh sebuah pertanyaan, apakah doa yang dipanjatkan seseorang ketika ia bekerja akan mengubah jatah rezkinya yang merupakan taqdir dari Allah?</p>
<p style="text-align: justify;">Di kitabnya, Ad-Daa’ wa Ad-Dawa’, Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah menjawab, “Taqdir itu ditentukan Allah melalui beberapa sebab.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan di antara sebabnya adalah doa. Allah tidak mentaqdirkan sesuatu tanpa sebab. Allah juga menentukan sebab itu. Manakala seorang hamba melakukan sebab itu, maka taqdir itu pun terjadi. Seperti halnya taqdir kenyang dan hilangnya dahaga dengan makan dan minum. Taqdir lahirnya seorang anak melalui proses perkawinan. Taqdir makan daging binatang dengan menyembalihnya terlebih dahulu. Termasuk taqdir masuk surga dengan amal perbuatan dan masuk neraka dengan amal perbuatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, doa merupakan sebab paling penting untuk menggapai taqdir.” Doa adalah ibadah yang disyariatkan Allah kepada hamba agar dalam berinteraksi dengan Allah, perasaan harap dan keinginan kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tertancap di dalam dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan jika seseorang mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan dambaannya serta takut kehilangan dambaan tersebut, tentu hal itu akan semakin menggerakkannya untuk berbuat dan mengoptimalkan usahanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil yang dicapai tidak selamanya berbanding luruh dengan usaha. Dan keimanan seseorang kepada taqdir membuatnya menerima hasil dari semua usahanya, baik sesuai dengan keinginannya atau tidak.</p>
<p style="text-align: justify;">Keimanan kepada taqdir yang berlaku bagi dirinya setelah melakukan ikhtiar manusiawi adalah puncak keimanan. Kebaikan dan keburukan yang menimpa tidak membuatnya berpaling dari menempuh jalan positif menuju kebaikan. Memilih taqdir baik adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan dalam Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Umar bin Khatthab mengintruksikan pasukannya yang sedang melaksanakan operasi militer agar berpindah dari tempat yang diindikasikan terkena epidemic kolera menuju tempat lain. Salah seorang pasukan berkomentar, “Apakah Anda ingin berlari dari taqdir Allah, wahai Umar?” Khalifah kedua ini menjawab, “Ya, kita berlari dari taqdir Allah menuju taqdir Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sangat sejalan dengan apa yang dianjurkan Rasullullah saw., Imran bertanya, “Ya Rasulullah, untuk orang-orang beramal?” Beliau mnejawab, ‘Masing-masing orang akan dipermudah menuju taqdirnya.” (Muttafaq Alaihi) Ali ra. berkata, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian tidak bersih keimanan di dalam hatinya sampai dia yakin seyakin yakinnya dan tidak ragu sedikit pun,</p>
<p style="text-align: justify;">bahwa apa yang menimpa dirinya bukan karena kesalahan yang dilakukannya dan kesalahan yang dilakukan tidak menyebabkannya tertimpa musibah serta meyakini semua takdir yang terjadi.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dus, ketika benih telah disemai, air telah disiramkan, pupuk telah ditebar, berdoalah. Lalu apapun yang dihasilkan, terimalah dengan penuh ketulusan sebagai karunia Zat yang mengeluarkan buah dari bunganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wallahu A’lam. </p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/usaha-doa-taqdir.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/usaha-doa-taqdir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengumuman Hasil Ujian Semester Ganjil STIDA Al-Manar</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/pengumuman/pengumuman-hasil-ujian-semester-ganjil-stida-al-manar.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/pengumuman/pengumuman-hasil-ujian-semester-ganjil-stida-al-manar.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 07:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman Hasil Ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1590</guid>
		<description><![CDATA[PENGUMUMAN HASIL UJIAN SEMESTER GANJIL
SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH
STIDA AL-MANAR
TAHUN AKADEMIK 2011-2012





SEMESTER


KELAS


MATA KULIAH 




I (satu)


Siang


Tafsir 1 



Fiqih 1



Bahasa Arab




Sirah Nabawiyah




Akhlaq 1



Aqidah 1


Sore
Tafsir 1


Sirah Nabawiyah 1


Akhlaq 1


Aqidah 1


Fiqih 1


Bahasa Arab 1



III (tiga)


Siang


Ilmu Tasawuf




Hadits 2




Fiqih 3




Sirah Nabawiyah




Qowaid Fiqhiyyah




Bahasa Arab 3




Sore


Hadits 2




Sirah Nabawiyah 2




Fiqih 3




Ilmu Tasawuf 




Bahasa Arab 3




Qowa&#8217;id Fiqih



V (lima)

Siang


Produksi Siaran RFT 1




Sejarah Peradaban Islam 1



Bahasa Indonesia



Fiqih Kontemporer




Metodologi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>PENGUMUMAN HASIL UJIAN SEMESTER GANJIL<br />
SEKOLAH TINGGI ILMU DAKWAH<br />
STIDA AL-MANAR<br />
TAHUN AKADEMIK 2011-2012</strong></p>
<hr />
<table style="height: 1392px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><strong>SEMESTER</strong></div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div><strong>KELAS</strong></div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div><strong>MATA KULIAH </strong></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="12" align="center" valign="middle">
<div>I (satu)</div>
</td>
<td rowspan="6">
<div style="text-align: center;">Siang</div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20tafsir%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20siang.pdf" target="_blank">Tafsir 1 </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20fiqih%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20siang.pdf" target="_blank">Fiqih 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20bahasa%20arab%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20siang.pdf" target="_blank">Bahasa Arab</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Sirah Nabawiyah</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Akhlaq 1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20aqidah%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20siang.pdf" target="_blank">Aqidah 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="6" align="center">Sore</td>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20tafsir%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20sore.pdf" target="_blank">Tafsir 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20siroh%20nabawiyah%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20sore.pdf" target="_blank">Sirah Nabawiyah 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Akhlaq 1</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20aqidah%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20sore.pdf" target="_blank">Aqidah 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Fiqih 1</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20bahasa%20arab%20I%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20I%20sore.pdf" target="_blank">Bahasa Arab 1</a></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="12" align="center">
<div>III (tiga)</div>
</td>
<td rowspan="6">
<div style="text-align: center;">Siang</div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20ilmu%20tasawuf%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20III%20siang.pdf" target="_blank">Ilmu Tasawuf</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Hadits 2</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20fiqih%203%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20III%20siang.pdf" target="_blank">Fiqih 3</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Sirah Nabawiyah</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20qowaid%20fiqhiyyah%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20III%20siang.pdf" target="_blank">Qowaid Fiqhiyyah</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Bahasa Arab 3</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="6">
<div style="text-align: center;">Sore</div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div>Hadits 2</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20siroh%20nabawiyah%20II%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20III%20sore.pdf" target="_blank">Sirah Nabawiyah 2</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Fiqih 3</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai ilmu tasawuf mahasiswa smt ganjil 2011-2012 semester III sore.pdf" target="_blank">Ilmu Tasawuf </a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20bahasa%20arab%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20III%20sore.pdf" target="_blank">Bahasa Arab 3</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Qowa&#8217;id Fiqih</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="16" align="center">V (lima)</td>
<td rowspan="8">
<div style="text-align: center;">Siang</div>
</td>
<td height="29" align="center">
<div>Produksi Siaran RFT 1</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20sejarah%20peradaban%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20siang.pdf" target="_blank">Sejarah Peradaban Islam 1</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Bahasa Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20fiqih%20kontemporer%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20siang.pdf" target="_blank">Fiqih Kontemporer</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20studi%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20siang.pdf" target="_blank">Metodologi Studi Islam</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Jurnalistik</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20tekhnik%20berpidato%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20siang.pdf" target="_blank">Tehnik Berpidato</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20penelitian%20dakwah%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20siang.pdf" target="_blank">Metodologi Penelitian Dakwah</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8">
<div style="text-align: center;">Sore</div>
</td>
<td height="29" align="center">Sejarah Peradaban 1</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20bahasa%20arab%20V%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20sore.pdf" target="_blank">Bahasa Arab</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20usul%20fiqih%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20sore.pdf" target="_blank">Usul Fiqih</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20fiqih%205%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20sore.pdf" target="_blank">Fiqih 5</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div>Jurnalistik</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20studi%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20sore.pdf" target="_blank">Metodologi Studi Islam</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20sejarah%20dakwah%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20V%20sore.pdf" target="_blank">Sejarah Dakwah</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Metode Penelitian</td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="13" align="center">VII (tujuh)</td>
<td rowspan="5" align="center">Siang</td>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20studi%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20siang.pdf" target="_blank">Metodologi Studi Islam </a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20penelitian%20dakwah%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20siang.pdf" target="_blank">Metodologi Penelitian Dakwah</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20tekhnik%20berpidato%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20siang.pdf" target="_blank">Tekhnik Berpidato</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20sejarah%20peradaban%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20siang.pdf" target="_blank">Sejarah Peradaban Islam</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20fiqih%20kontemporer%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20siang.pdf" target="_blank">Fiqih Kontemporer</a></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="8">
<div style="text-align: center;">Sore</div>
</td>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20tekhnik%20berpidato%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20sore.pdf" target="_blank">Tehnik Berpidato</a></td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Sejarah Peradaban 2</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Bahasa Indonesia</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Fiqih Kontemporer</td>
</tr>
<tr>
<td height="30" align="center">
<div>Jurnalistik</div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="40" align="center">
<div><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20studi%20islam%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20sore.pdf" target="_blank">Metodologi Studi Islam</a></div>
</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center">Produksi Siaran RFT 1</td>
</tr>
<tr>
<td height="29" align="center"><a href="http://almanaraqiqah.com/stida/nilai/nilai%20metodologi%20penelitian%20dakwah%20mahasiswa%20smt%20ganjil%202011-2012%20semester%20VII%20sore.pdf" target="_blank">Metodologi Penelitian Dakwah</a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/pengumuman/pengumuman-hasil-ujian-semester-ganjil-stida-al-manar.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/pengumuman/pengumuman-hasil-ujian-semester-ganjil-stida-al-manar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pendaftaran &amp; Penerimaan Peserta Baru Bahasa Arab, Tahsin &amp; Tahfidz Al-Qur&#8217;an</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/info-almanar/pendaftaran-penerimaan-peserta-baru-6.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/info-almanar/pendaftaran-penerimaan-peserta-baru-6.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 05:14:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Info Almanar]]></category>
		<category><![CDATA[Pendaftaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1576</guid>
		<description><![CDATA[
Menerima Pendaftaran Peserta Baru
Periode : Maret &#8211; Juli 2012 



PROGRAM :
1. BAHASA ARAB INTENSIF
2. BAHASA ARAB REGULER
3. TAHFIDZ AL-QUR&#8217;AN
4. BIMBINGAN AL-QUR&#8217;AN :
a. Pra Tahsin  (Pemula)
b. Tahsin Tilawah  (Menengah)
c. Pasca Tahsin  (Mahir)
SYARAT-SYARAT : 
1. Mengisi Formulir Pendaftaran
2. Pas foto 3&#215;4 = 2 Lembar
3. Photocopy KTP/SIM
4. Mengikuti Test Penempatan
WAKTU BELAJAR PROGRAM BAHASA ARAB INTENSIF [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Menerima Pendaftaran Peserta Baru<br />
</strong></span><strong><span style="color: #ff0000;"><span class="style62">Periode : Maret &#8211; Juli 2012</span></span></strong><strong><span style="color: #ff0000;"><span class="style62"> </span></span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><strong><span id="more-1576"></span></strong></span><br />
<img title="More..." src="http://www.almanar.co.id/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="baca selengkapnya" /></p>
<hr />
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>PROGRAM :</strong></span><br />
1. BAHASA ARAB INTENSIF<br />
2. BAHASA ARAB REGULER<br />
3. TAHFIDZ AL-QUR&#8217;AN<br />
4. BIMBINGAN AL-QUR&#8217;AN :<br />
a. Pra Tahsin  (Pemula)<br />
b. Tahsin Tilawah  (Menengah)<br />
c. Pasca Tahsin  (Mahir)</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>SYARAT-SYARAT : </strong></span><br />
1. Mengisi Formulir Pendaftaran<br />
2. Pas foto 3&#215;4 = 2 Lembar<br />
3. Photocopy KTP/SIM<br />
4. Mengikuti Test Penempatan</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>WAKTU BELAJAR PROGRAM BAHASA ARAB INTENSIF :</strong></span><strong><br />
</strong> &gt; Pagi    ( Senin s/d Jum&#8217;at ) : 08.00—11.15<br />
&gt; Sore (Selasa, Kamis dan Sabtu )   : 17.00—20.00</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>WAKTU  BELAJAR PROGRAM BAHASA ARAB REGULER :</strong></span><strong><br />
</strong>&gt; Hari : Sabtu dan Ahad<br />
&gt; Pagi   : 08.00—11.15<br />
&gt; Sore   : 13.45—17.00</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>WAKTU   BELAJAR PROGRAM BIMBINGAN AL-QUR&#8217;AN:</strong></span><strong><br />
</strong>&gt; Hari : Sabtu dan Ahad<br />
&gt; Pagi   : 09.00—11.00<br />
&gt; Sore   : 16.00—18.00</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>WAKTU   BELAJAR PROGRAM TAHFIDZ AL-QUR&#8217;AN:</strong></span><br />
&gt; Ikhwan : Selasa, Kamis &amp; Sabtu<br />
&gt; Akhwat : Senin, Rabu &amp; Jum&#8217;at<br />
&gt; Jam : 16.30 s/d 19.00</p>
<p align="left"><span style="color: #0000ff;"><strong>PENDAFTARAN :</strong></span><br />
- Waktu Pendaftaran :<br />
<strong> </strong> &gt; Senin s/d Jum&#8217;at : Jam 08.00 &#8211; 20.00<br />
&gt; Sabtu s/d Ahad    : Jam 08.00 &#8211; 17.00</p>
<p align="left"><span style="color: #ff0000;">- Akhir Pendaftaran  :<br />
<strong> </strong> &gt; <strong>Intensif </strong>:<strong><span style="color: #ff0000;"> </span></strong></span><strong><span style="color: #ff0000;"><strong>Senin, 12 Maret 2012</strong><br />
&gt; Reguler &amp; Tahsin : <strong>Jum&#8217;at, 23 Maret 2012<br />
&gt; Tahfidz : Ahad, 4 Maret 2012</strong></span></strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong><span style="color: #ff0000;"><strong><em>Informasi Biaya &amp; Jadwal Pendaftaran <a href="http://bahasaarab.online81.com/agenda-dan-biaya.html" target="_blank">KLIK DISINI</a></em><br />
</strong></span></strong></p>
</div>
<div id="_mcePaste" style="overflow: hidden; position: absolute; left: -10000px; top: 627px; width: 1px; height: 1px;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Maret </strong></span><span style="color: #ff0000;"><strong> &#8211; Juni 2010</strong></span></div>
<div id="seolinx-tooltip" style="border: 1px solid #000000; margin: 0pt; padding: 0pt; display: none; opacity: 0.9; position: absolute; width: auto; z-index: 99999;">
<table style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 0pt; border-collapse: separate; width: auto;" border="0">
<tbody>
<tr>
<td id="seolinx-table" style="border: 0pt none; margin: 1px; padding: 0pt; font-family: Tahoma; font-size: 11px; font-weight: bold;"></td>
<td id="seolinx-tooltip-close" style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 1px; cursor: pointer; vertical-align: middle; width: auto;" title="close"><img src="chrome://seoquake/content/skin/close.gif" alt="" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="seolinx-tooltip" style="border: 1px solid #000000; margin: 0pt; padding: 0pt; display: none; opacity: 0.9; position: absolute; width: auto; z-index: 99999;">
<table style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 0pt; border-collapse: separate; width: auto;" border="0">
<tbody>
<tr>
<td id="seolinx-table" style="border: 0pt none; margin: 1px; padding: 0pt; font-family: Tahoma; font-size: 11px; font-weight: bold;"></td>
<td id="seolinx-tooltip-close" style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 1px; cursor: pointer; vertical-align: middle; width: auto;" title="close"><img src="chrome://seoquake/content/skin/close.gif" alt="" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div id="seolinx-tooltip" style="border: 1px solid #000000; margin: 0pt; padding: 0pt; display: none; opacity: 0.9; position: absolute; width: auto; z-index: 99999;">
<table style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 0pt; border-collapse: separate; width: auto;" border="0">
<tbody>
<tr>
<td id="seolinx-table" style="border: 0pt none; margin: 1px; padding: 0pt; font-family: Tahoma; font-size: 11px; font-weight: bold;"></td>
<td id="seolinx-tooltip-close" style="border: 0pt none; margin: 0pt; padding: 1px; cursor: pointer; vertical-align: middle; width: auto;" title="close"><img src="chrome://seoquake/content/skin/close.gif" alt="" /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/info-almanar/pendaftaran-penerimaan-peserta-baru-6.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/info-almanar/pendaftaran-penerimaan-peserta-baru-6.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Kikir</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/jangan-kikir.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/jangan-kikir.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Feb 2012 04:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1572</guid>
		<description><![CDATA[“Adakah penyakit yang lebih parah dari kekikiran?” demikianlah pertanyaan retoris yang pernah diajukan oleh Rasulullah saw.
Kita sungguh tidak dapat menutup mata, berbagai fenomena kekikiran telah banyak menyeret umat manusia kepada keburukan dan permusuhan. Kita bisa saksikan, disebabkan sifat kikir segelintir orang, begitu banyak rakyat yang harus kelaparan. Ketika, sifat kikir telah membuat seseorang tega menimbun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">“Adakah penyakit yang lebih parah dari kekikiran?” demikianlah pertanyaan retoris yang pernah diajukan oleh Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita sungguh tidak dapat menutup mata, berbagai fenomena kekikiran telah banyak menyeret umat manusia kepada keburukan dan permusuhan. Kita bisa saksikan, disebabkan sifat kikir segelintir orang, begitu banyak rakyat yang harus kelaparan. Ketika, sifat kikir telah membuat seseorang tega menimbun bahan-bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat hanya demi melipatgandakan keuntungan dunia yang fana, pantas saja Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang meninbun itu terlaknat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kita pun terpaksa harus mendengar bagaimana kekikiran yang ditebar sekelompok orang, juga dapat menyebabkan pertumpahan darah. Sungguhlah benar sabda Rasulullah saw, “Takutlah kamu untuk berbuat kikir, karena kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kamu. Kekikiran telah menyeret mereka kepada penumpahan darah dan pelanggaran atas apa yang diharamkan kepada mereka.”(HR Muslim)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Hakekat kikir</strong></span><br />
Hasan Al-Bashri ditanya tentang hakekat kekikiran, beliau menjawab: “Yaitu ketika seseorang melihat apa yang ia infaqkan sebagai pemborosan, dan melihat apa yang ditahan ditangannya sebagai kemuliaan”.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut makna terminologis, kikir berarti menahan apa yang ada ditangan dan tidak memberikan hartanya. Sedangkan menurut makna syariah, kikir berarti bakhil atas segala kebajikan dan kema‘rufan, baik berupa harta atau selainnya, baik yang ada di tangannya maupun di tangan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Mari sejenak kita simak hadits berikut ini, Rasulullah pernah menceritakan, “Ada 3 orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun mengutus malaikat kepada mereka..</p>
<p style="text-align: justify;">Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: “ Apakah yang paling engkau dambakan?” Si belang menjawab: “Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orangorang jijik kepadaku”. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan.</p>
<p style="text-align: justify;">Malaikat itu bertanya lagi, “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si belang menjawab, “Unta”. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: “Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: “Apakah yang paling kamu dambakan?” Si botak menjawab: “Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini”. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus.</p>
<p style="text-align: justify;">Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si botak menjawab: “Sapi”. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: “Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini”.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya, “Apakah yang paling kamu dambakan”? Si buta menjawab, “Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat”. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.</p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Si belang berkata: “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak”. Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Si belang berkata: “Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku “. Malaikat itu berkata: “Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula”. Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah SWT mengembalikanmu seperti keadaan semula. Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: “ Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah SWT kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Si buta berkata: “Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi”.</p>
<p style="text-align: justify;">Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 65)</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata ada kolerasi yang jelas antara kekufuran dan kekikiran. Demikian pula sebaliknya, antara kesyukuran dan kedermawanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedermawanan adalah salah satu bentuk kesyukuran seseorang terhadap nikmat yang diberikan kepadanya, sedang kikir adalah salah satu manifestasi dari kufur terhadap nikmat Allah swt. Maka dari itu mengenal faktor-faktor yang dapat menjerumuskan kita kedalam kubangan kekikiran menjadi sangat penting agar terhindar dari sifat yang tercela ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebab kikir adalah cinta dunia dan tidak meyakini apa yang ada di sisi Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Cinta dunia<br />
</strong></span>Dunia memang bukan untuk dicintai, karena dia fana dan menggelincirkan. Sehingga salah satu doa yang Rasulullah ajarkan kepada kita, “Agar dunia tidak menjadi cita-cita tertinggi kita”, ia hanya boleh digenggam ditangan tidak pantas menginap di hati. Seseorang yang terlalu cinta dunia mengira bahwa menahan harta yang ada ditangannya baik baginya, semua ini dilakukan diantaranya lantaran takut menjadi miskin. Sementara syetan akan terus berusaha menanamkan rasa takut menjadi miskin ke dalam benak siapapun yang sudi digodanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” ( QS. Al-Baqarah : 268 )</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Tidak menyakini apa yang ada di sisi Allah<br />
</strong></span>Seseorang yang merasa ragu akan balasan pahala dari sisi Allah, maka akan timbul pada dirinya ke’enggan’an untuk berderma kepada orang lain yang membutuhkan. Ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa Allah akan memberi ganti kepada hambanya atas apa yang ia infaqkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, Justru dengan bershadaqah, harta seseorang akan semakin bertambah, barakahnya maupun jumlah harta itu sendiri. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Dia (Allah) akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik pemberi rizki.” (Saba’: 39)</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>Dampak sifat kikir<br />
</strong></span><strong>Jauh dari Cinta Ilahi</strong>. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. (Yaitu)orang-orang yang kikir dan menyuruh orang untuk berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang diberikan kepada mereka.”(An Nisa’: 36-37)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dibenci manusia</strong>. Adakah diantara kita yang senang kepada pribadi kikir? Simaklah ungkapan saudari perempuan Umar bin Abdul Aziz ini,”Betapa buruk sifat kikir itu. Demi Allah, andai dia adalah pakaian takkan sudi aku mengenakannya”, kikir itu buruk dimata manusia apalagi dimata para ulama’, buruk disetiap masa apalagi pada bulan ramadhan….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tertimpa Adzab yang pedih dan jauh dari syurga</strong>. “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka dengan adzab yang pedih.” (At Taubah:34)</p>
<p style="text-align: justify;">“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat&#8230; ( QS. Ali-Imran: 180 )</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka yang kikir akan rugi secara psikologis karena batinnya senantiasa gelisah hidupnya tidak tentram, rugi secara social karena hubungannya dengan masyarakat sekitarnya tidak akan harmonis, bahkan menjadi lemah dan mudah terjerumus pada kemungkaran karena sifat kikir akan menghambatnya berbuat baik berkorban unruk sesama. Agar terhindar dari sifat kikir “Dan barangsiapa yang terbebas dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Al-Hasyr: 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku, Sadari dan rasakanlah nikmat hidup ini, peliharalah rasa sayang dan empati pada sesama, <strong>Segera dan jangan tunda lagi niat baik untuk berbagi, jangan sekali-kali kau sepelekan sekecil apapun upaya yang kau berikan, sungguh Allah maha melihan dan membalas segala derma, Jangan lagi takut menjadi miskin karena tiada yang jadi miskin karena memberi, dan berbagi tidak hanya dengan harta, camkan..</strong> kikir itu hanya akan mencederai imanmu, maka perbanyaklah berdoa agar terhindar daru kekikiran dirimu…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>“Tetaplah berbagi”</strong> karena malaikat pun berdoa…</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah seorang hamba berada di pagi hari kecuali dua Malaikat turun kepadanya, yang salah satunya berkata: Ya Allah, berilah orang yang berinfak gantinya. Dan yang lain berkata: Ya Allah, berilah orang yang kikir kerusakan.” (HR. Al Bukhari, Muslim)</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/jangan-kikir.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/jangan-kikir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Disayang Allah?</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 02:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1567</guid>
		<description><![CDATA[Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Eksistensi kita di muka bumi saat ini adalah cerminan kasih sayang Allah, dari berjuta makhluknya, kita dipilih menjadi hambaNya yang beriman. Kita diberi kesempatan untuk menyaksikan keagungan Allah di alam semesta ini. Kita bermohon semoga diberikan kesempatan untuk memasuki surga Allah kelak. Amin ya Robbal alamin. Dari sekian makhluk yang Allah ciptakan, betapa kita jauh lebih sempurna. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. [QS:At Tiin: 4]</p>
<p style="text-align: justify;">Dilengkapi dengan akal yang bisa berfikir, bisa memilih dan membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Diperindah dengan mata yang bisa melihat, lisan dan bibir untuk berbicara, telinga untuk mendengar. Mahabesar Allah yang telah menciptakan makhlukNya dengan sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah kami Telah memberikan kepadanya dua buah mata, Lidah dan dua buah bibir. Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan. [QS: Al Balad: 8-10]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hidup sebagai ujian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [QS: Al Mulk: 2] Bagi mereka yang sukses disediakan surge yang luasnya seluas langit dan bumi, di dalamnya terdapat kenikmatan yang sempurna, mata belum pernah melihat, telinga belum pernah mendengar, dan belum pernah terbersit dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi mereka yang gagal tempatnya adalah neraka, di dalamnya terdapat siksa yang amat pedih, api yang sangat panas, minumannya nanah yang sangat bau, dan segala macam siksa yang belum pernah terbayangkan. Allah sangat menyayangi kita dan masih memberikan kesempatan untuk memilih.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mensyukuri ni’mat Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bersyukur kepada Allah merupakan hal utama yang harus kita lakukan. Kesempatan hidup ini hanya sekali yang tidak boleh disia-siakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Menggunakan semua anggota tubuh sesuai dengan amanah yang diembankan Allah kepada kita. Lisan banyak berdzikir, mata digunakan melihat hal-hal yang disukai Allah, telinga untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, dan hati untuk tadabbur dan merenungkan keagungan ayat qauliyah [al Qur’an] dan alam semesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah sangat menyayangi kita, panca indra kita lengkap, dan bisa digunakan untuk bersyukur kepada Allah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Manajemen waktu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aplikasi syukur nikmat haruslah dimbangi dengan manajemen waktu yang baik. Pesan Allah begitu banyak untuk memanfaatkan waktu dengan optimal. Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguhsungguh (urusan) yang lain. [QS; As Syarh: 7]</p>
<p style="text-align: justify;">Tugas dan amanah yang harus dikerjakan terkadang lebih banyak dari waktu yang kita miliki. Menentukan skala prioritas adalah tugas setiap muslim. Supaya dapat mengerjakan hal yang wajib dan juga yang sunnah. Betapa banyak orang yang gagal karena kurang cermat dalam menggunakan kesempatan. Membuat peta hidup atau jadwal aktifitas adalah gambaran yang rapi dari kehidupan seorang muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">Pelajaran ini kita dapati dari waktu-waktu yang disebutkan Allah dalam al Qur’an. Demi waktu, Demi waktu malam, Demi waktu duha, dll. Dari semua itu akan bermuara kepada optimalisasi waktu yang indah, semuanya bernilai pahala, dan tidak ada yang sia-sia.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena memang karakter orang beriman adalah meninggalkan hal yang sia-sia. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. {Al Mu’minun: 3]</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Allah masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memenej waktu dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Istiqomah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebentuk syukur kita kepada Allah adalah komitmen beribadah dengan kontinyu dan terus menerus. Kita berpacu dengan iblis dan pasukannnya, kita berpacu untuk mengendalikan hawa nafsu. Jangan sampai menjadi tentara iblis yang pasti menjadi penghuni neraka. Istiqomah mengaplikasikan peta hidup yang telah dirancang, disertai doa supaya diberikan kekuatan untuk istiqomah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jalan panjang ujian dalam hidup harus ditempuh dengan penuh semangat. Jangan lemah dan putus asa untuk menyongsong surge Allah. Berjuang dengan giat untuk menjauhi neraka dan siksa Allah. Rasulullah Saw berpesan</p>
<p style="text-align: justify;">kepada kita untuk menguatkan keimanan dengan istiqomah. “Katakanlah, aku telah beriman kepada Allah. Kemudian beristiqomahlah”. Jalan istiqomah masih membentang di hadapan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Menggapai Ridho Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Allah memilih kita dan memberikan hidayah Islam semenjak kita lahir, sungguh merupakan karunia yang sangat besar. Betapa banyak manusia yang sampai meninggal tidak mendapatkan hidayah Islam. Ada juga yang tergelincir dan murtad dari jalan Islam. Maka hanya ada satu cara yang harus kita tempuh, yaitu mencari keridhoan Allah dalam kehidupan sementara ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelompok yang diridhoi Allah adalah golongan Muttaqin. Ini beberapa karakternya yang dicatat Al Qur’an: Orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dalam setiap lingkup kehidupannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Meyakini dan beriman kepada yang ghaib, mendirikan sholat dalam kehidupan kesehariannya yang berimplikasi terhindarnya dari perbuatan keji dan munkar. Membayarkan zakat sebagai kewajiban harta dan juga sosial.</p>
<p style="text-align: justify;">Beriman kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan sebelum Al Qur’an, yaitu Taurat, Zabur dan Injil. Kita masih bisa menggapai Ridho Allah dan menjadikannya sebagai tujuan hidup</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Mengambil pelajaran dari sifat</strong> <strong>Allah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ruh yang menjadi inti jiwa kita berasal dari Allah SWT. Sejatinya kita bisa mengambil pelajaran dari beberapa sifat Allah SWT.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sifat Penyayang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setiap kita dalam kapasitas masing-masing bisa menjadi seorang yang penyayang terhadap sesama. Dimulai dari lingkup keluarga, menyayangi orang tua, istri, anak, kakak, adik, kerabat dan saudaranya seagama. Sifat sayang ini akan melahirkan rasa cinta yang ikhlas karena Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah Saw memberikan gambaran bahwa tidak sempurna keimanan seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana halnya ia mencintai dirinya sendiri. Sebagai bukti rasa sayang, maka seorang muslim senang untuk berbagi, tidak rela melihat saudaranya kelaparan sementara dirinya kenyang. Oleh karena itu dalam hal muamalah ia lebih mendahulukan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Sungguh indah apa yang digambarkan Allah tentang sifat orang-orang Anshor yang lebih mendahulukan kebutuhan orang muhajirin dibandingkan diri mereka sendiri padahal sesungguhnya mereka pun membutuhkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sifat Pemaaf</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah Maha pemaaf terhadap kesalahan hambaNya. Kita sebagai orang yang tunduk kepada Allah hendaknya meniru sifat ini, kemudian diaplikasikan dalam keseharian ketika berinteraksi dengan sesama. Memaafkan orang lain yang mempunyai salah terhadap kita adalah akhlaq seorang muslim. Allah menggambarkan karakter orang bertakwa sebagai orang yang suka memaafkan manusia. Seperti halnya kita ingin dimaafkan oleh Allah, maka sudah seharusnya kita suka memaafkan orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Jangan sampai kita menjadi penghalang bagi kebaikan orang lain yang ingin meminta maaf dari kita. Sebuah pelajaran berharga dapat kita ambil dari kisah seorang sahabat yang disebutkan oleh Rasulullah sebagai calon penghuni surga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika diteliti ternyata tidak ada hal yang luar biasa dari ibadah ritualnya. Tetapi ternyata ada satu kebiasaan baik yang ia lakukan yaitu memaafkan orang lain sebelum ia tidur. Masih ada kesempatan untuk menjadi penyayang dan pemaaf</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Supaya Allah tetap menyayangikita</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada beberapa perbuatan yang dapat kita lakukan untuk menjadi orang yang senantiasa disayangi Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rajin Berdo’a</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah menyukai orang-orang yang suka berdoa kepadaNya. Orang yang menumpahkan keluh kesahnya kepada Allah. Memohonkan solusi untuk persoalan hidupnya. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. {QS: Al Baqarah: 186]</p>
<p style="text-align: justify;">Doa yang disertai dengan ketaatan kepada perintah Allah dan dilandasi dengan keimanan yang sempurna akan menghasilkan doa yang terkabul. Dan bukan doa yang hanya sekadar permohonan lisan sementara hatinya lalai.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Rajin menebar kebaikan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. Kebaikan yang mencakup perbuatan lisan, tutur kata yang baik, tidak menyakiti orang lain, saling memberikan taushiyah dalam kesabaran dan kebenaran. Perkataan yang meneduhkan dan tidak memancing amarah orang lain. Berlandaskan kepada sabda Rasulullah Saw, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” [HR. Muslim]</p>
<p style="text-align: justify;">Juga pergaulan yang baik dengan sesama. Menghormati dan menghargai orang lain, memuliakan tamu, tetangga dan saudara-saudaranya. Menjaga sifat toleransi dalam bermasyarakat. Menjauhi sikap egois dan sombong yang membawa kepada kondisi yang tidak harmonis dalam pergaulan hidup.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selagi usia masih di kandung badan, selalu ada kesempatan untuk berdoa dan berbuat baik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Berhias diri dengan sifat sabar</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita yakin bahwa keimanan akan mengalami ujian, maka bekal yang kita siapkan adalah sifat sabar. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Kesabaran yang berlipat ganda.</p>
<p style="text-align: justify;">Kesabaran yang ujungnya adalah kesuksesan. Ujian dunia seperti rasa cemas, takut, kekurangan harta benda dan kematian adalah hal biasa yang pasti dilalui. Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orangorang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: &#8220;Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji&#8217;uun&#8221;[QS; Al Baqarah: 155-156].</p>
<p style="text-align: justify;">Kesenangan yang kita peroleh atau penderitaan yang kita terima termasuk ujian. Jangan sampai melalaikan kita dari jalan Allah. Harta yang banyak dan anak-anak juga jangan sampai melalaikan kita dari mengingat Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita dituntut bersabar dalam beribadah kepada Allah, dalam menjauhi larangan Allah dan dalam menerima sesuatu yang kurang sesuai dengan selera kita. Sungguh, di sisi Allah ada pahala yang besar bagi mereka yang bersabar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya Allah, Rahmati kami, sayangi kami dan</p>
<p style="text-align: justify;">berkahi hidup kami. Amin</p>
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/mau-disayang-allah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Dosa Dalam Kehidupan</title>
		<link>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pengaruh-dosa-dalam-kehidupan.html</link>
		<comments>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pengaruh-dosa-dalam-kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 06:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>almanar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Asatidzah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.almanar.co.id/?p=1563</guid>
		<description><![CDATA[I. Mukadimah

Setiap ada pelanggaran sekecil apa pun,  pelanggaran itu pasti akan diberikan sanksi dan hukuman oleh Allah SWT. Tidak ada pelanggaran yang dilakukan manusia yang luput dari pantauan Allah dan pengawasann-Nya. Akan tetapi, hukuman yang Allah akan berikan dan timpakan kepada setiap pelanggar ketentuannya bisa dipercepat. Hal ini berarti hukumannya bisa didapatkan di dunia dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>I. Mukadimah</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Setiap ada pelanggaran sekecil apa pun,  pelanggaran itu pasti akan diberikan sanksi dan hukuman oleh Allah SWT. Tidak ada pelanggaran yang dilakukan manusia yang luput dari pantauan Allah dan pengawasann-Nya. Akan tetapi, hukuman yang Allah akan berikan dan timpakan kepada setiap pelanggar ketentuannya bisa dipercepat. Hal ini berarti hukumannya bisa didapatkan di dunia dalam bentuk yang ditentukan dan dikehendaki-Nya. Dari kebanyakan hukuman itu, ada yang ditangguhkan sampai datang hari pembalasan. Namun, pengaruh negatif dari segala bentuk dosa itu bisa dirasakan dan didapatkan oleh pelaku secara khusus, dan mungkin berimbas kepada masayarakat yang ada disekelilingnya secara umum.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>II. Pengaruh Dosa</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Segala bentuk kemaksiatan memiliki  pengaruh negatif dan berbahaya bagi hati dan jasmani,  baik di dunia maupun di akhirat. Kebanyakaan dari  pengaruh dosa itu tidak diketahui, kecuali oleh Allah SWT. Adapun pengaruh dari dosa itu adalah sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>1. Terhalang dari Cahaya Ilmu</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelangaran atas setiap ketentuan Allah merupakan sebuah kebodohan. Ilmu adalah cahaya Allah yang disimpan di dalam hati seseorang yang dikehendaki-Nya, dan kemaksiatan bisa memadamkan cahaya ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Imam Syafi’i duduk dihadapan Imam Malik dan membacakan sesuatu kepadanya, maka Imam Malik merasa kagum dengan apa yang ia lihat dari kesempurnaan kecerdasan, kepandaian yang gemilang, dan pemahaman Imam Syafi’i atas ilmu yang paripurna. Imam Malik lalu berkata, ”Aku berkeyakinan bahwa Allah telah meletakkan cahaya di dalam hatimu, maka jangan padamkan cahaya itu dengan kegelapan kemaksiatan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun Imam Syafi’i  berkata dalam lantunan bait syairnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku mengadukan kekurangmantapan hapalanku kepada Imam Waki’i</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maka, dia memberi nasehat untuk meninggalkan segala bentuk maksiat</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan dia berkata, “Ketahuilah,  bahwasanya  ilmu adalah anugerah Ilahi</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan anugerah Ilahi itu tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>2. Kegalauan Menyelimuti H</strong><strong>ati</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pelaku kemaksiatan akan menemukan kegalauan, ketakutan, dan kegundahan jiwa di salam hatinya. Pelaku dosa tidak akan menemukan kelezatan hati, walaupun segala bentuk keindahan dan saran hidup yang berbentuk materi dia miliki. Akan tetapi, kegundahan itu tidak akan hilang. Sebab, kelezatan hati  dan ketenangan jiwa hanya akan didapatkan oleh orang yang memiliki hati yang hidup, yang selalu disiram oleh iman dan keta’atan. Sebuah peribahasa Arab melukiskan, ”<em>Sakit karena luka tidak dirasakan oleh orang telah mati</em>”, dan  kemaksiatan merupakan sebab kematian hati seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikisahkan oleh para ulama bahwa seseorang pernah mengadu kepada salah seorang dari mereka. Ia merasa dirinya menemukan kegalauan, kegundahan hidup, dan kengerian dalam hatinya. Maka, dikatakan kepadanya, “Sesungguhnya dosa–dosa telah membuat hatimu gundah gulana, maka tinggalkanlah dosa-dosa itu. Jika kamu menginginkan untuk melakukannya dan hiduplah dalam ketenangan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak ada dalam hidup ini yang paling menyakitkan hati, kecuali kegalauan dan  kegundahan hati yang diakibatkan oleh dosa yang menimpa pelakunya. Semoga Allah menolong kita dari hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>3. Ketakutan untuk Berinteraksi dengan Orang Lain</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ada ketakutan yang dirasakan oleh pelaku dosa untuk melakukan hubungan dengan orang lain, terutama dengan para pelaku kebaikan dan orang-orang soleh. Seolah  ada penghalang dan jurang yang sangat dalam, yang memisahkan antara dirinya dengan orang-orang yang baik dan soleh. Ketika kekhawatiran itu semakin kuat, maka semakin jauh pula hubungan dirinya dengan mereka. Akibatnya, dia tidak akan mendapatkan manfaat dan keberkahan dan kebaikan dari mereka. Oleh karena itu, dia akan semakin dekat dengan tentara syetan (<em>hizbusysyaithan</em>) sesuai dengan kejauhan dirinya dari wali-wali Allah (<em>hizbullah</em>), dan sekaligus jauh dari Allah  Yang Maha Rahman, dikarenakan kemaksiatan yang dia lakukan. Akhirnya, dia merasa terisolasi dari kehidupan bermasayarakat terutama dengan orang-orang soleh, bahkan sampai terhadap istri, orang tua, anak, dan keluarga secara luas.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang ulama soleh terdahulu mengatakan, “<em>Aku bisa melihat akibat perbuatan maksiatku  pada perilaku kendaran dan istriku.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>4. Kesulitan dalam Setiap Urusan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Pelaku kemaksiatan akan menemukan segala bentuk kesulitan dalam setiap urusannya. Apabila dia dihadapkan dengan sebuah urusan, maka seolah semua pintu penyelesaiannya tertutup dan terkunci rapat. Hal ini kebalikan orang yang dekat dengan Allah (orang bertaqwa), karena orang seperti itu akan selalu diberikan jalan keluar dari setiap permalasannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“&#8230;Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi dirinya.” </em><strong>(ath-Thalaaq:  2)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun barangsiapa yang mematikan ketakwaannya dan menggantikannya  dengan kemaksiatan terhadap Rabb-nya, maka Allah akan menjadikan segala urusannya sulit. Sungguh mengherankan, bagaimana kehidupan seorang hamba—yang semua pintu kebaikan dan ketakwaan tertutup rapat bagi dirinya serta seluruh jalan menujunya sulit ditempuh dan ditelusuri, tetapi dirinya tidak mengetahui penyebab semua itu. Ketahuilah, wahai hamba Allah, bahwa kemaksiatanlah penyebabnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>5. Kegelapan yang Hakiki di dalam Hati</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Pelanggaran terhadap ketentuan Allah adalah kedzaliman, dan kedzaliman adalah kegelapan bagi pelakunya. Pelaku maksiat akan merasakan kegelapan hati, sebagaimana dirinya merasakan gelap gulita di malam hari. Seorang pendosa akan menemukan kegelapan hati seperti kenyataan keseharian dikala malam tiba dengan gelap gulita yang menakutkan, sehingga dirinya tidak bisa melihat kebenaran yang semestinya dia lakukan. Cahaya ketaatan yang diperlukan untuk menempuh kehidupan sudah ditutupi oleh kelamnya kemaksiatan. Bahkan ketika kegelapan bertambah, maka bertambah pula kebingungan, dan ia akhirnya terjerumus pada <em>bid’ah,</em> kesesatan, dan  hal-hal yang membinasakan, sementara ia tidak menyadarinya. Perumpamannya seperti orang buta yang keluar sendirian dimalam hari. Kekuatan kegelapan maksiat ini bisa tampak pada sorot mata serta raut muka dan setiap orang bisa melihatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Abdullah bin Abbas ra berkata,  “Sesungguhnya kebaikan itu memberikan cahaya pada wajah pelakunya, menjadi pelita bagi hati, memberi kelapangan rizqi, membentuk kekuatan jasad, dan membuat orang-orang mencintainya. Adapun sesungguhnya kejahatan itu membuat muka carut marut, memberi kegelapan dalam hati, kelemahan pada badan, mengurangi pintu rizqi, dan membuat orang lain membencinya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>6. Memperlemah Hati dan Jasad</strong></span><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Pengaruh kemaksiatan terhadap hati merupakan hal yang sangat mudah kita temukan. Hal ini disebabkan karena  kelemahan hati itulah seseorang bisa terjerumus dan berani melanggar aturan Allah dengan melakukan kemaksiatan. Adapun bila kemaksiatan  terus menerus dilakukan, maka ia bisa mematikan hati secara keseluruhan. Artinya, hati tidak akan memiliki saluran untuk program kebaikan sedikit pun. Maksiat mempunyai  pengaruh terhadap daya tahan tubuh, dikarenakan kekuatan tubuh tertumpu pada kekuatan hati. Dikala hati memiliki kekuatan, maka tubuh secara spontan akan memiliki daya tahan yang kokoh. Inilah hati dan badan hamba-hamba Allah yang taat an soleh. Adapun orang jahat, walaupun tubuhnya kekar, pada hakekatnya dirinya adalah orang yang paling lemah dikala dihadapkan dengan kebutuhan. Cukuplah sejarah menjadi bukti kongkrit yang bisa dijadikan dalil atas hal dia atas. Betapa kuatnya Bangsa Romawi dan Persia secara fisik, namun mereka dikalahkan oleh orang-orang yang beriman yang memiliki kekuatan tubuh, terutama kekuatan hati.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>7. Menjauhkan Seseorang dari Ketaatan</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Keta’atan dan kemaksiatan adalah dua hal yang saling bersebrangan. Tidak akan terjadi perkumpulan diantara keduanya, bahkan yang akan terjadi adalah pergumulan yang saling mengalahkan. Maka, apabila seseorang terjerumus dengan kemaksiatan berarti dirinya sudah mengalahkan ketaatan. Seandainya kemaksiatan tidak memiliki hukuman—kecuali terhalangnya seseorang dari ketaatan, maka sebagai pengganti dosa itu adalah menghalangi ketaatan selanjutnya, kemudian dari ketaatan yang ketiga, dan terus seperti itu, sehingga tidak ada ketaatan lagi, kecuali terputus dan terhalang oleh kemaksiatan yang sudah dilakukannya. Dengan demikian, kemaksiatan itu akan menghalangi dari ketaatan yang demikian banyak jumlahnya, padahal setiap bentuk kebaikan yang terhalang itu memiliki pahala yang lebih baik dari dunia beserta isinya ini. Perumpamaan dosa yang menghalangi ketaatan itu persis seperti seseorang yang memakan satu hidangan  yang menimbulkan penyakit yang cukup lama, sehingga memaksa dirinya untuk tidak makan hidangan-hidangan selanjutnya, padahal kualitas hidangan itu lebih enak dan lezat dari yang ia makan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>8. Melakukan Kemaksiatan Memberikan Celah Kemaksiatan Lain. </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan merupakan  satu proyek yang dibangun oleh iblis dengan seluruh bala tentaranya. Oleh sebab itu, melakukan satu kemaksiatan merupakan bibit unggul yang akan melahirkan kemaksiatan lainnya, sehingga apabila seseorang sudah tertawan oleh kemaksiatan, maka sulit kiranya untuk melepaskan dari genggamannya. Sebagian ulama <em>salaf </em>mengatakan, ”Sesungguhnya sebagian dari hukuman kejahatan adalah timbulnya kejahatan  lainnya.” Demikianlah seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini disebabkan segala bentuk ketaatan dan kemaksiatan itu laksana karakter yang sudah mendarah daging dan menempel pada setiap pelakunya. Apabila orang soleh yang taat meninggalkan ketaatan, maka dirinya akan merasa tersiksa dikarenakan hilangnya satu kesempatan untuk mendapatkan kebaikan, seolah dirinya adalah ikan yang berpisah dengan air yang merupakan tempat hidupnya. Demikian pulalah orang yang jahat, apabila dirinya tidak melaksanakan kemaksiatan, maka dadanya merasa sesak. Semua jalan kebaikan yang ada dihadapannya buntu dan tetutup, karena kemaksiatan sudah menjadi makanan dan minuman kesehariannya. Apabila seseorang terbiasa dengan kemaksiatan, maka setan akan datang memberikan bantuan, sekaligus mengangkatnya menjadi prajurit yang siap diperintah untuk menyesatkan manusia lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>9. Kemaksiatan memperpendek umur dan menghapus kebarakahannya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Para ulama berbeda pendapat tentang pengaruh maksiat terhadap perpendekan umur pelakunya. Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur adalah hilangnya kebarakahan dari umur yang Allah berikan kepadanya. Sebab, pada dasarnya umur sebagai amanat Allah apabila dipergunakan untuk melakukan pengabdian dan ketaatan, maka walaupun umurnya pendek, dia akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda seolah-olah dia hidup lebih dari itu. Sebagian lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud memperpendek umur memiliki makna yang sebenarnya, sebagaimana kemaksiatan mengurangi rezeki pelakunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian dari mereka berpendapat bahwa yang dimaksud dengan memperpendek umur akibat maksiat adalah kematian hati. Sebab, hakikat kehidupan menurut mereka adalah kehidupan hati. Oleh sebab itu, Allah menganggap orang kafir sebagai orang mati. Setidaknya, demikian yang Allah SWT firmankan dalam surah an-Nahl ayat 21.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara keseluruhan, pendapat para ulama di atas menunjukkan bahwa seseorang yang berpaling dari Allah dan sibuk dengan kemaksiatan akan hilang hari-hari kehidupannya yang sebenarnya, dan kelak dirinya akan menyesali perilaku yang dipertontonkannya tatkala berada di dunia. Dari gambaran ekspresi penyesalan itu, Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya, Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” <strong>(al-Munaafiquun: 10)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“…dan orang kafir berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.’” </em><strong>(an-Naba`: 40)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam ayat yang lain Allah menggambarkan ekspresi penyesalan itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’” </em><strong>(al-Fajr: 24)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rahasia permasalahan ini adalah bahwasanya umur manusia selama hayatnya—dan tidak ada kehidupan melainkan untuk menghadap Allah dengan segala yang ada pada dirinya, dan merasa nikmat dengan mencintai dan mengingat-Nya, serta mendahulukan keridhaan-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">10. Kemaksiatan penyebab kehinaan pelakunya di hadapan Allah dan manusia</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Al-Hasan al-Bashri, ”Mereka menghinakan Allah, maka mereka bermaksiat kepada-Nya. Seandainya mereka memuliakan-Nya, niscaya Dia akan menjaga mereka. Dan apabila seseorang menghinakan Allah dengan bermaksiat kepada-Nya, maka tidak akan ada seorang pun yang memuliakannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“…Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya….” </em> <strong>(al-Hajj: 18)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>11. Meremehkan dosa pertanda kehancuran</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Apabila seseorang tidak henti-hentinya melakukan dosa hingga dirinya menganggap kecil dosa yang dilakukannya, maka hal tersebut merupakan tanda kehancuran dirinya oleh karena dosa, manakala dianggap kecil oleh manusia, justru semakin besar di hadapan Allah SWT. Rasulullah saw. Bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya, orang mukmin melihat dosa seolah-olah dia berada di bawah gunung. Dia merasa ngeri apabila gunung itu menimpanya. Adapun orang jahat melihat dosa seolah-olah lalat yang hinggap di batang hidungnya. Maka, dia mengatakan dengannya demikian hingga lalat itu terbang.” </em><strong>(HR Bukhari)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>12. Dosa membuat pelakunya dilaknat Allah dan Rasul-Nya</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Sesungguhnya, dosa memaksa pelakunya untuk masuk dalam laknat Allah dan Rasul-Nya. Allah melaknat pencuri, peminum khamar, pemberinya, pemerasnya, penjualnya, pembeli, pemakan harga, pembawanya, dan setiap pihak yang membantu terjadinya kemaksiatan khamar. Allah juga melaknat orang yang menghardik kedua orang tuanya dan pelaku dosa-dosa lainnya. Rasulullah saw. pun telah melaknat pelaku dosa seperti melaknat laki-laki yang menggunakan pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian lakai-laki, pemberi suap dan yang menerima suap, serta perantara yang menimbulkan pelanggaran berupa suap-menyuap, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="color: #ff0000;">13. Terhalang dari doa Rasulullah saw. dan doa para malaikat yang mulia</span> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya, Allah SWT telah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memintakan ampun bagi orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), ‘Ya, Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. Ya, Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara  bapak-bapak  mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya, Engkaulah Yang Mahaperkasa  lagi Mahabijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang- orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar.’”</em> <strong>(al-Mukmin: 7-9)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Inilah doa para malaikat Allah bagi orang-orang mukmin yang bertobat dan mengikuti kitab-Nya dan sunnah Rasulullah, yang tidak ada petunjuk selain keduanya. Maka, orang-orang yang tidak memiliki sifat yang didoakan di atas, termasuk pelaku kemaksiatan, tidak berhak mendapatkan kebaikan doa para makhluk Allah yang mulia itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>14. Terjadinya kehancuran di muka bumi </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apabila skala pembangkangan semakin meluas, maka skala akibat yang akan terjadi dari pembangkangan itu pun menjadi luas. Lihatlah, betapa banyak bencana yang terjadi di darat, di laut, dan di udara. Kita pun ikut merasakan itu semua sebagai pengaruh dan akibat para pelaku kejahatan yang sudah memperluas radius kejahatannya. Oleh sebab itu, Allah SWT menjelaskan semua kehancuran yang ada di atas planet bumi ini akibat ketidakcocokan perilaku pengurusnya dengan keinginan Allah SWT. Allah berfirman,</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan  manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” </em><strong>(ar-Ruum: 41)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai, kaum Muhajirin, ada lima hal yang aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemukannya. Tidaklah perzinaan merajalela dalam suatu kaum sehingga mereka melakukannya dengan terang-terangan, kecuali mereka akan ditimpa oleh bermacam-macam penyakit yang belum pernah terjadi pada kaum pendahulu mereka. Dan tidak ada suatu kaum melakukan kecurangan dengan mengurangi ukuran dan timbangan, kecuali akan ditimpakan kepada mereka keadaan paceklik dan mahalnya harga kehidupan, dan akan diangkatnya pemimpin yang zalim. Dan tidaklah suatu kaum menahan kewajiban harta mereka, kecuali mereka tidak akan diberi curah hujan dari langit. Seandainya saja tidak ada binatang ternak, niscaya tidak akan ada curah hujan. Dan tidaklah mereka melanggar perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan mengirim musuh dari selain mereka dan merampas sebagian yang mereka miliki. Seandainya para pemimpin mereka tidak mau berhukum dengan apa yang diturunkan Allah di dalam kitab-Nya, kecuali Allah akan menjadikan perseteruan dan pertempuran di antara mereka sendiri.” </em><strong>(HR Ibnu Majah)</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Itulah beberapa akibat pelanggaran yang sangat mengerikan dan menakutkan dikarenakan sifatnya luas menjangkau seluruh manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>15. Kemaksiatan memadamkan api cemburu serta menghilangkan rasa malu </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kecemburuan laksana pemanas insting bagi kehidupan seluruh badan. Cemburu adalah panasnya tubuh yang bisa menimbulkan sifat busuk dan tercela, sebagaimana menghilangkan kotoran dari emas perak dan tembaga. Adapun orang yang paling mulia dan paling tinggi keinginannya adalah orang yang paling memiliki kecemburuan terhadap dirinya dan umumnya manusia. Oleh sebab itu, Nabi adalah orang yang paling cemburu atas umatnya, dan Allah SWT lebih pencemburu lagi daripada Nabi-Nya. Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Apakah kalian terkejut melihat kecemburuan Sa’ad? Sesungguhnya aku lebih pencemburu darinya dan Allah lebih pencemburu daripada aku.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits sahih lainnya, Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah SWT ketika hamba-Nya laki-laki berzina dan hamba-Nya yang wanita berzina.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Adapun sifat malu adalah sesuatu yang inheren dengan keimanan. Di kala keimanan masih menempel pada diri seseorang, maka yakinlah rasa malunya masih bisa ditemukan. Akan tetapi, di kala salah satu dari keduanya hilang, maka jangan diharapkan yang lainnya bisa ditemukan. Rasulullah saw. bersabda,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>“Dari sebagian yang didapatkan manusia dari perkataan kenabian yang pertama adalah, ‘Apabila kamu tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuai dengan keinginanmu.’”</em> <strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>III. </strong><strong>Penutup </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah memberikan pertolongan dan kekuatan  kepada kita untuk senantiasa mampu melawan setan dan kemaksiatan: dengan memberikan ilmu, ketenangan jiwa, kekuatan hati dan menyinari dengan cahaya-Nya yang tak pernah redup. Semoga taufiq dan hidayah-Nya juga senantiasa melimpah, agar kita mampu untuk melakukan segala bentuk ketaatan demi memperoleh kebaikan, keberkahan, dan keridhaan Allah <em>Rabbul ’Alamin</em>. <em>Amiin</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Waallahu a’lam bish-shawwab</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">
<div class='wpfblike' style='height: 40px;'><fb:like href='http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pengaruh-dosa-dalam-kehidupan.html' layout='default' show_faces='true' width='400' action='like' colorscheme='light' send='true' /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.almanar.co.id/artikel-asatidzah/pengaruh-dosa-dalam-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

